Gagasan itu lahir di meja makan keluarga, di salah satu malam Minggu yang biasa — dan seperti biasa pula, gagasan terbaik keluarga itu selalu datang dari orang yang paling tidak disangka.
'Kenapa tidak ada penghargaan jurnalistik atas nama mereka?' kata Dara, tiba-tiba, di tengah pembicaraan tentang rilis kelima Unit Konten. 'Maksudku — kita menulis buku tentang Larasati dan Raka. Kita memakamkan mereka berdampingan. Tapi jurnalisme investigasi di negeri ini masih berjuang dengan cara yang sama seperti tiga puluh satu tahun lalu: kekurangan dana, ditekan sana-sini, tidak dihargai. Mama kamu dan ayah kamu—' ia menatap Mitha, '—mereka mati untuk pekerjaan itu. Bukankah cara terbaik menghormatinya adalah memastikan tidak ada lagi jurnalis yang berjuang sendirian seperti mereka dulu?'
Meja itu hening sebentar — lalu Danu meletakkan cangkirnya pelan-pelan. 'Itu gagasan terbaik yang pernah keluar di meja ini. Dan meja ini sudah mendengar banyak gagasan bagus.'
Maka lahirlah, delapan bulan kemudian, **Penghargaan Larasati–Raka untuk Jurnalisme Kebenaran** — dikelola yayasan independen, didanai keluarga Abisatya dengan syarat tertulis bahwa keluarga tidak punya suara dalam penjurian, dengan dewan juri yang diketuai Hendra Kusuma ('selama beliau masih kuat, dan beliau memastikan akan tetap kuat untuk ini') dan beranggotakan nama-nama paling dihormati di dunia jurnalistik negeri itu. Bukan hanya penghargaan untuk karya terbaik — tapi juga beasiswa penuh untuk jurnalis-jurnalis muda dari daerah, dan dana perlindungan hukum untuk jurnalis yang menghadapi ancaman karena tulisannya.
'Bagian terakhir itu permintaan khusus dari saya,' kata Bram, saat yayasan itu disusun. 'Perlindungan hukum. Larasati dan ayah saya sama-sama berdiri sendirian saat badai datang. Tidak boleh ada lagi orang yang berdiri sendirian di pekerjaan ini. Itu syarat saya ikut mendanai — dan ya, saya ikut mendanai, dan tidak, ini tidak bisa ditolak. Keluarga Wirawan punya utang pada profesi ini. Biarkan kami membayarnya dengan cara ini.'
Struktur yayasannya sendiri dirancang dengan pelajaran dari semua badai yang pernah mereka lewati: dana abadi yang tidak bisa diutak-atik siapa pun, dewan pengawas lintas pihak, dan satu pasal yang ditulis Mitha sendiri — bahwa setiap keputusan yayasan harus bisa diumumkan terbuka tanpa ada yang perlu disembunyikan. 'Rumah yang transparan tidak bisa diancam dengan batu,' katanya, mengutip suaminya sendiri, dan Danu di sebelahnya hanya tersenyum mendengar kalimatnya dikutip balik. Dalam enam bulan pertama, dana perlindungan hukumnya sudah dipakai dua kali: sekali untuk seorang jurnalis daerah yang digugat pencemaran nama baik oleh pejabat yang ditulisnya (yayasan menang, tulisannya terbukti benar), dan sekali untuk membiayai keamanan seorang whistleblower muda yang terancam karena laporannya. 'Dua orang yang tidak perlu berdiri sendirian,' lapor ketua yayasannya di rapat pertama. 'Persis seperti amanatnya.'
Malam penganugerahan pertama digelar setahun kemudian — di aula yang sama tempat buku 'Tiga Puluh Satu Tahun' diluncurkan, dengan dua foto besar berdiri di panggung: Larasati muda dengan pena di tangannya, dan Raka muda dengan kemeja lengan digulung di depan rumah kecilnya.
Pemenang pertamanya adalah seorang jurnalis dua puluh enam tahun dari media kecil di timur Indonesia — perempuan, seperti Larasati dulu — yang tulisannya tentang penyimpangan dana desa membuatnya diancam, dipecat, dan akhirnya dibuktikan benar oleh waktu. Ceritanya sendiri seperti kutipan dari buku yang diberikan penghargaan itu: delapan bulan menyelidiki sendirian, dua kali pindah kos karena diikuti orang, dan satu malam ketika ibunya menelepon sambil menangis memintanya berhenti. 'Saya tidak berhenti,' katanya di atas panggung itu, 'tapi bukan karena saya berani. Karena saya membaca bahwa Larasati juga takut — takut itu tertulis di suratnya — dan dia tetap menulis. Ternyata berani bukan tidak takut. Berani adalah takut tapi tetap menandatangani naskahnya.' Ia menerima penghargaannya dari tangan Mitha dengan tangan yang gemetar hebat, dan pidatonya hanya satu kalimat yang diucapkannya sambil menangis: 'Saya hampir berhenti bulan lalu. Saya sudah menulis surat pengunduran diri saya. Lalu saya membaca buku itu, dan saya merobek suratnya — karena kalau Larasati saja tidak berhenti dengan nyawanya sebagai taruhannya, saya tidak punya alasan berhenti dengan gaji sebagai taruhannya.'
Satu aula berdiri.
Dan tahun-tahun berikutnya, malam penganugerahan itu tumbuh menjadi salah satu malam paling dihormati dalam kalender jurnalistik negeri itu — tapi satu hal tidak pernah berubah sejak malam pertamanya: di pintu masuk aula, selalu terpasang dua foto itu, dan di bawahnya satu baris yang dibaca setiap penerima penghargaan sebelum naik ke panggung, seperti ikrar kecil yang diwariskan dari dua orang yang tidak pernah sempat berdiri di panggung mana pun: *'Takut, tapi tetap menandatangani naskahnya.'*
Dan di barisan keluarga, Gunawan Abisatya menatap panggung itu dengan dua foto besar di atasnya, dan berbisik ke Om Aji di sebelahnya: 'Lihat itu, Ji. Tiga puluh satu tahun kita kira cerita itu selesai di makam. Ternyata cerita itu cuma menunggu jadi benih.'
'Mekar sekarang, Pak,' jawab Om Aji. 'Mekar di mana-mana.'
Mitha menutup malam itu dengan pidato terakhir — pendek, seperti selalu, karena ia belajar dari pengalaman bahwa kata-kata terbaik tidak pernah panjang:
'Penghargaan ini bukan tentang dua orang yang sudah tiada. Penghargaan ini tentang semua orang yang masih hidup dan masih menulis — di meja-meja kecil, di media-media kecil, dengan gaji kecil dan ancaman besar. Larasati dan Raka tidak butuh piala. Mereka sudah mendapatkan hadiahnya: kebenaran yang mereka perjuangkan masih hidup, dan malam ini berdiri di ruangan ini dalam bentuk orang-orang yang meneruskannya. Terima kasih sudah memastikan bahwa di negeri ini, tidak akan pernah ada lagi jurnalis yang berdiri sendirian di lobi.'
Dan di luar aula, di malam yang cerah itu, dua nama yang dulu terkubur tiga puluh satu tahun berdiri menyala di papan nama gedung acara — bukan sebagai nama yang dikasihani, bukan sebagai nama yang ditakuti.
Sebagai nama yang di atasnya orang-orang muda berbaris untuk menerima amanat.