Tahun-tahun setelah itu berjalan seperti sungai yang sudah menemukan muaranya — tenang, dalam, dan penuh dengan kehidupan yang tidak perlu lagi membuktikan apa-apa.
Arka tumbuh menjadi anak tiga tahun yang, menurut deskripsi resmi keluarga, 'persis Danu dalam hal strategi dan persis Mitha dalam hal hati'. Ia sudah punya rutinitas sendiri dengan kakeknya: catur sungguhan tiap sore — dengan aturan yang dimodifikasi untuk umur tiga tahun, yang intinya adalah Arka boleh menggerakkan bidak ke mana saja dan Gunawan selalu kalah dengan dramatis. 'Kakek sengaja mengalah,' kata Dara suatu kali. 'Kakek tidak pernah sengaja mengalah pada siapa pun,' bantah Gunawan serius. 'Ini strategi jangka panjang. Aku sedang membangun kepercayaan dirinya — nanti umur sepuluh tahun baru Kakek hajar habis-habisan.' 'Jadi Kakek mengalah?' 'Kakek sedang berinvestasi.'
Laraswati — dipanggil Lara, atas keputusan bulat keluarga yang menolak nama sepanjang itu untuk pemakaian sehari-hari — tumbuh menjadi anak satu setengah tahun yang menguasai seluruh rumah dengan dua kata andalannya: 'Tidak' dan 'Lagi'. Bisma, yang dulu ditakuti kolom gosip dua benua, sekarang menjadi ayah yang bisa menenangkan balita tantrum dengan nyanyian-nyanyian ciptaannya sendiri — dan menolak dengan keras setiap tawaran pekerjaan yang mengharuskannya bepergian jauh. 'Dua puluh tahun aku berkeliling dunia mencari sesuatu,' katanya pada Danu di satu sore. 'Ternyata sesuatu itu beratnya dua belas kilogram dan memanggilku Papa. Dunia bisa menunggu.'
Dan di tahun ketiga pernikahan mereka, Danu dan Mitha menyambut anak kedua mereka: Kirana Larasati Abisatya — perempuan, lahir di pagi yang tenang, dengan proses yang menurut Mitha 'jauh lebih sopan dari kakaknya'. Nama keduanya dipilih Mitha tanpa perlu dirundingkan: Larasati, utuh, tidak dipotong-potong. 'Waktu Arka lahir, aku memberinya nama ayahku karena aku pikir laki-laki yang harus membawa nama itu,' kata Mitha pada Danu. 'Lalu aku sadar: nama mama juga pantas dibawa seorang anak — dan perempuan, seperti mamanya, seperti neneknya. Dua anak kita membawa dua nama itu sekarang. Wijaya dan Larasati. Lengkap.' Gunawan, saat pertama menggendong cucu ketiganya, hanya berkata satu kalimat dengan suara yang tidak stabil: 'Larasati, kamu akhirnya punya penerus yang memakai namamu lengkap. Dan dia cantik — persis seperti neneknya dulu di redaksi.'
Dan di antara semua kehangatan itu, satu perkembangan datang dengan pelan dan tanpa gembar-gembor — seperti semua hal baik dalam keluarga ini: Bram menemukan seseorang.
Namanya Larasati — ironi yang membuat seluruh keluarga membaca ulang pesannya dua kali — seorang guru sejarah di salah satu sekolah tempat Bram rutin berceramah. Mereka bertemu bukan karena takdir yang dramatis, tapi karena guru itu mengangkat tangan setelah ceramahnya dan bertanya dengan sopan tapi tajam: 'Pak Bram, Anda bercerita tentang harga dendam. Tapi Anda tidak pernah bercerita bagaimana rasanya memaafkan diri sendiri. Apakah Anda sudah?' Dan Bram — lima puluh tahun, pernah mengguncang dua keluarga besar — berdiri di panggung itu tanpa jawaban untuk pertama kalinya dalam ceramah-ceramahnya.
Mereka menikah dua tahun kemudian, di acara kecil yang hanya dihadiri keluarga — dan di acara itu, Ratna menangis paling keras dari semua orang, memeluk menantunya dan berkata: 'Empat puluh tahun aku menunggu anak laki-lakiku pulang dari lobi itu. Hari ini dia resmi pulang. Terima kasih sudah membukakan pintunya.'
Saraswati sendiri berdiri di samping kakaknya sepanjang acara dengan senyum yang tidak hilang-hilang, dan di akhir malam berkata pada Mitha: 'Keluargaku akhirnya lengkap lagi, Mit. Ibu bahagia, kakakku pulang, dan aku...' ia menatap taman tempat anak-anak bermain, '...aku akhirnya berhenti menjadi anak sebelas tahun yang dibangunkan tengah malam. Butuh waktu tiga puluh lima tahun. Tapi akhirnya berhenti.'
Sementara itu, buku 'Tiga Puluh Satu Tahun' terus berjalan melampaui halaman-halamannya: diangkat menjadi film layar lebar oleh sutradara terbaik negeri itu — dengan satu pasal kontrak yang diajukan Mitha dan diterima tanpa perdebatan: tidak ada satu adegan pun yang boleh dibuat untuk sensasi, dan kedua keluarga punya hak baca naskah. Filmnya tayang dua tahun kemudian dan menjadi film paling dibicarakan tahun itu — tapi yang lebih penting bagi keluarga itu: filmnya ditonton Hendra Kusuma di pemutaran khusus, dari kursi rodanya di barisan depan, dan lelaki delapan puluh empat tahun itu berdiri di akhir film — dibantu dua orang, tapi berdiri — untuk bertepuk tangan.
'Sempurna,' katanya malam itu, sebelum terbang pulang ke Bandung. 'Sekarang saya boleh benar-benar pensiun. Cerita sudah selesai diceritakan dengan benar, di semua medium yang ada. Redaksi resmi tutup buku.'
Dan setiap tahun, di tanggal yang sama, keluarga besar itu berziarah ke dua nisan sejajar di bawah pohon rindang — tradisi yang tidak pernah dilewatkan satu tahun pun, yang makin lama makin ramai: ada Arka yang mulai bisa membaca nisan-nisan itu dengan susah payah, ada Lara yang belum mengerti tapi ikut meletakkan bunga dengan serius, ada Gunawan dan Om Aji yang berjalan makin pelan tapi tidak pernah absen, dan ada dua keluarga besar yang dulu bermusuhan, berdiri dalam satu barisan, di depan dua nama yang menyatukan mereka semua.
Di antara tahun-tahun itu juga lahir tradisi-tradisi kecil yang tidak pernah direncanakan tapi dijaga seperti pusaka: makan malam bersama tiap Minggu malam di rumah besar — bergilir antara tuan rumah keluarga Danu dan keluarga Bisma, dengan aturan tunggal bahwa tidak ada yang boleh membahas pekerjaan lebih dari sepuluh menit (aturan yang dilanggar Danu dan Bisma secara bergantian dan didenda satu lagu oleh Dara); perjalanan tahunan keluarga besar ke Melbourne untuk mengunjungi Ratna, yang oleh anak-anak disebut 'mudik ke rumah Nenek Ratna' dan oleh Ratna disebut 'minggu tersibuk dan terbaik dalam tahun saya'; dan satu hari khusus tiap tahun ketika Bram dan istrinya datang ke makam ayahnya — makam Hardjono yang akhirnya dipindahkan ke tempat yang layak, yang diziarahinya bukan lagi dengan dendam, tapi dengan kabar-kabar: tentang Saraswati, tentang yayasan, tentang anak-anak yang tumbuh tanpa membawa apa pun dari masa lalu itu.