“Iya ada. Kamu mau nginep di sana? Mama sharelok.”
Sebuah pesan segera masuk tidak lama setelah telepon diputus. Lekas Anam membuka lokasi yang terkirim dan melajukan mobil ke sana.
Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di sebuah bangunan bergaya kuno dengan dinding-dinding dari kayu jati itu. Hujan masih lebat ketika Anam membopong Naya keluar. Disambut oleh sang penjaga villa yang langsung mengenali Anam.
“Loh, Den. Tumben kok malam-malam. Oh, mau nginap, ya? Ini siapa?” cerocos satpam villa yang memang sudah akrab dengannya. Laki-laki paruh baya itu dipindah tugas ke sana setelah tiga tahun lebih dipekerjakan Mama di rumah.
“Jangan banyak tanya, Pak. Tolong siapkan kamar!”
Lelaki berseragam satpam itu lantas berlarian menuju resepsionis. Terdengar perbincangan singkat sebelum akhirnya lelaki di sana menyerahkan satu kunci. Anam membuntuti langkah satpam itu hingga sampai di hadapan sebuah kamar.
“Silakan, Den. Kalau butuh apa-apa telepon saya barangkali resepsionis sibuk.”
Anam hanya mengangguk lantas menerobos masuk. Terlebih dahulu ia mengambil dua handuk dari kamar mandi dan membentangkannya di sofa. Sebagai alas Naya yang kemudian dibaringkan di sana.
Sejenak Anam duduk di tepi ranjang. Menetralkan deru napasnya. Langkah jenjangnya kemudian beranjak selepas meminum sebotol minuman dari lemari pendingin. Ketika sampai di tempat parkir, Anam bergegas membuka mobil dan mengeluarkan kresek hitam pemberian pemilik ruko tadi. Dia sendiri paham bahwa baju Naya harus segera diganti. Oleh karena itu, tujuannya sekarang adalah ke resepsionis. Concierge mungkin akan bisa membantunya.
“Concierge perempuan tolong ke kamar nomor 3. Saya butuh bantuan,” ucap Anam sembari membuka ponsel dan mengabari mamanya bahwa dia telah sampai.
“Maaf, Pak. Tapi tidak ada concierge perempuan di sif malam.”
Sontak Anam mendongak. Memelototi petugas di depannya. Sedang lelaki berseragam itu hanya menunduk dalam. Sudah memprediksi kemungkinan bos besarnya itu akan murka.
“Siapa manager kalian? Telepon sekarang juga. Bilang aku mau bicara. Bagaimana bisa villa ternama pelayanannya seburuk ini.”
Semua yang ada di sana terdiam, hanya bisa bungkam. Para tamu yang semula berlalu lalang seketika menghentikan aktivitas masing-masing dan menyingkir dari sana. Anam sendiri kemudian berlalu. Sambil tetap megomel sepanjang jalan. Langkahnya kemudian kembali ke kamar dengan membuka kresek hitam dan membeber sebuah gamis. Bagus, Anam suka warnanya peach-nya. Kalem dan tidak mencolok. Apalagi ketika pakaian itu ditempelkannya ke tubuh Naya. Gadis yang masih tergolek lemas itu bertambah semakin manis.
“Siapa yang akan mengganti? Aku?” tanya Anam sambil menunjuk dirinya sendiri. Sempat dia merebahkan punggung pada sandaran sofa. Mengacak-acak rambutnya dan mengusap kasar muka. Debar jantungnya mulai menjadi-jadi ketika manik matanya menatap lekat tubuh Naya.
“Sayang … Nay …,” panggilnya berulang kali sambil berusaha membangunkan gadis yang masih terpejam rapat itu. Normalnya orang pingsan akan siuman dalam waktu kurang dari satu jam. Apakah terjadi sesuatu dengannya?
Tanpa berpikir lagi, Anam mulai menyentuhkan jemarinya pada jilbab yang masih merembeskan air. Sambil mengangkat dagu, dilepaskannya benda kecil yang menautkan jilbab di leher. Tampak rambut kecokelatan milik Naya lurus tergerai. Menguarkan aroma sampo yang entah kapan dikenakan olehnya. Semakin Anam menggosok rambut itu dengan handuk, semerbak wangi menelusup semakin dalam melalui rongga-rongga d**a, membuat jiwa kelelakiannya berdesir. Apalagi ketika tangannya mulai membuka satu per satu kancing gamis Naya dan benar-benar melucutinya. Tubuh putih mulus itu membuat hasratnya semakin sulit untuk dikendalikan.
Anam menelan ludah. Memejamkan rapat mata berusaha meluruskan hati pada tujuan awal. Dibopongnya lagi Naya menuju kamar mandi mengingat dirinya telah mengisi penuh bath up dengan air hangat tadi. Namun, ketika b*******a itu tak sengaja menempel padanya, Anam seperti lepas kendali.
Langkahnya kemudian berbelok. Urung menuju kamar mandi. Dibaringkannya tubuh itu pada ranjang. Menarik selimut sampai menutupi setengah badan mereka berdua. Tangan kekar itu lantas merengkuh tubuh telanjang di hadapannya. Mencumbuinya mesra, menikmati setiap jengkal tubuh telanjang itu dengan penuh gairah.
“Menjijikkan kamu, Mas!” teriak Naya sembari menutup rapat telinganya. Tidak ingin lagi mendengarkan penjelasan Anam yang memuakkan. Begitu juga Rofi yang kemudian meraba tubuhnya sendiri dan bergidik ngeri. Masih seolah tidak percaya Anam bisa melakukan itu. Lebih ingin tidak percaya lagi dengan dua garis biru yang terpampang nyata pada test pack Naya.
“Apa kamu tidak bisa menyuruh resepsionis-resepsionis itu memanggil dadakan concierge perempuan, Mas? Apa kamu tidak bisa membawaku ke rumah sakit saja waktu itu? Tidak kurang perawat di sana yang bisa menolongku.”
Lagi, Anam terdiam. Membenarkan apa yang Naya katakan. Entah mengapa rumah sakit tidak ada di pikirannya waktu itu. Padahal dalam perjalan mereka menuju villa, gedung-gedung itu tinggi menjulang berdampingan dengan pelayanan-pelayanan publik lain. Mau bagaimanapun dia merutuk hari ini, tetapi tetaplah nasi sudah menjadi bubur. Sudah terlanjur peristiwa itu terjadi. Sudah terlanjur benih itu tertanam di rahim Naya.
“Gugurkan saja kandunganmu, Nay,” ujar Rofi kemudian. Keduanya serempak menengok. Terperangah dengan ide yang begitu saja terlontar itu.
“Gila kamu, Rof,” komentar Naya. Tidak menyangka mahasiswa jurusan kebidanan itu akan menyarankan hal yang terang-terangan dilarang oleh medis. Lagipula meski masih janin, melakukan aborsi juga sama saja hakikatnya dengan membunuh manusia. Betapa malunya anak dalam kandungannya ketika mengetahui kebiadaban orang tuanya nanti.
“Lalu apa yang mau kalian lakukan?” tanyanya lagi. Anam hanya memandangi Naya tanpa mengatakan apa pun. Baginya, saran Rofi bisa dipertimbangkan. Namun, dirinya yakin kali ini Naya benar-benar tidak akan mau sepakat. Kesalahan juga ada pada Anam. Bagaimanapun, dia tidak bisa memaksa.
“Kenapa kalian diam? Apa yang akan kamu lakukan, Nay? Menikah? Bagaimana dengan Abah dan Umimu? Sudah berkali-kali bukan? Apakah mereka memberi restu? Kali ini pun akan begitu, Nay. Kecuali kalian sanggup menceritakan semua ini,” imbuh Rofi lagi. Berusaha meyakinkan bahwa ide pertamanya tadi sebenarnya sudah mutlak benar. Dia lantas melirik Anam yang hanya diam. Tangannya memegangi kepala, pusing dan mungkin semakin frustasi.
Menit selanjutnya, Anam bangkit. Menggandeng pergelangan tangan Naya dan memaksanya berdiri. Tanpa penjelasan apa pun, ia kemudian berlalu dengan sedikit menyeret gadis yang berjalan tertatih-tatih mengekorinya, meninggalkan Rofi yang juga segera beranjak dan lekas menyergah.
Namun, geraknya kalah cepat dibandingkan dengan langkah lebar Anam. Teriakan-teriakan darinya juga tidak mendapat respon. Tubuh tinggi tegap itu lantas membuka pintu. Membawa Naya menerobos hujan lalu masuk pada mobil yang terparkir asal di halaman.
“Naya … Nay. Nam, Anam. Kamu mau bawa Naya ke mana?”
“Ke KUA. Dengan atau tanpa restu orang tua Naya, aku akan tetap menikahinya.”