“Tunggu, tunggu. Aku ikut, Nam,” pinta Rofi sambil membuka sisi pintu mobil yang lain. Merasa tidak perlu menunggu persetujuan Anam.
Ada rasa khawatir pada dirinya hendak membiarkan Anam memawa teman senasib sepenanggungannya itu pergi. Tengah malam, di bawah amukan hujan yang sempat membadai. Rofi takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak lagi. Mereka berdua pergi dengan pikiran kacau. Apalagi Anam, bagaimana kalau sampai lelaki itu melakukan hal yang lebih jauh lagi. Pembunuhan misalnya. Tidak. Gegas Rofi menggeleng. Menepis pikirannya yang mulai ngelantur.
Anam mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Rasa was-was membuat Rofi lantas memeluk Naya yang hanya terdiam. Mata cekungnya kosong menatap jalanan luar yang sepi. Hanya temaram lampu yang sesekali membuat wajah sembab itu tampak menyeramkan.
“Pelan-pelan, Nam,” komentar Rofi di tengah keheningan. Namun, tidak ada jawaban apa pun dari Anam. Begitu juga Naya. Seolah keduanya pasrah dengan hidup dan mati.
“Anam! Pelan-pelan!” teriak Rofi semakin kencang.
“Diamlah, Rof! Kita harus segera sampai.”
“Sampai di mana maksudmu? Alam kubur?” bentaknya sambil mulai ikut menangis. Ikut merasa tertekan dengan semua beban ini.
“KUA mana pun sudah tutup jam segini, Mas. Kau akan membawa kami ke mana?”
“Sudahlah diam saja, Nay.”
Sejenak Naya menatap Rofi sambil mengangguk. Memintanya diam dan menurut saja pada Anam. Meski sejujurnya dia sendiri sama takutnya dengan Rofi. Sebelumnya, Naya mengenal Anam sebagai lelaki yang ramah, lembut, dan baik. Terlampau baik malah. Sama sekali tidak kalah jika dibandingkan dengan kang santri yang selalu dibangga-banggakan Abahnya. Namun, hari ini, semenjak test pack itu menunjukkan dua garis biru, semenjak Anam menceritakan semua kejadian memalukan itu, seluruh rasa percayanya seolah runtuh seketika.
“Sudahlah, Nay, sudah. Jangan menangis lagi, ya,” hibur Rofi sembari mendekapnya erat. Menghapus bulir-bulir bening yang semakin merembes itu.
“Kenapa, Rof? Kenapa semua ini harus terjadi padaku?”
“Karena kita memang harus menikah, Nay,” sahut Anam dingin. Pandangannya masih menatap tajam pada jalanan yang berliku. Menghindari aspal-aspal yang rusak. Berusaha secepat mungkin mencapai tempat yang dituju. Malam ini juga dirinya harus menikahi Naya bagaimanapun caranya. Baik dengan atau tanpa restu kedua orang tuanya. Dari pihak keluarga Anam sendiri, mamanya tidak pernah melarang dirinya dekat degan perempuan mana pun sejauh gadis itu dapat dinilai baik.
Tidak seperti keluarga Naya yang baginya terlalu membeda-bedakan. Memandang kasta. Bukan trah kiai, mungkin itu yang membuat pengasuh Pesantren Nurul Kawakib itu berkali-kali menampik lamarannya mentah-mentah. Padahal dirinya yakin seisi penjuru kota ingin menjadikannya menantu. Dunia memang kadang sebercanda itu.
“I-ini di mana, Nam?” protes Rofi lagi setelah setengah jam perjelanan Anam menghentikan kendaraan roda empat itu di sebuah pekarangan luas. Hampir seluruhnya tertutup rumput jepang yang tumbuh dengan rapi. Menyisakan jalan setapak tepat di tengah yang menghuubungkannya langsung ke pintu utama.
Melihat pohon-pohon tinggi menjulang di kanan kirinya, Rofi dan Naya sepemikiran bahwa mereka telah jauh dari wilayah kampus dan kontrakan-kontrakan yang padat penduduk. Rinai gerimis beradu dengan nyanyian katak dan kerikan jangkrik. Ditambah lagi dengan suara burung hantu yang membuat bulu kuduknya meremang. Tempat apa ini?
“Sudahlah jangan banyak tanya. Ayo turun!”
“Kau tidak akan membuang kami di hutan, ‘kan, Nam?” tanya Rofi ragu sembari memandangi pekat malam dari sela-sela semak belukar yang meninggi. Sejenak ia bergidik ngeri. Berpikir bagaimana kalau Anam nekat melakukan hal-hal gila. Tengah malam, tidak ada satu pun manusia yang lewat. Siapa yang akan menolong?
“Sudah kubilang aku mau menikahi Naya. Kamu mau ikut atau tinggal di mobil?” bentak Anam sambil membuka pintu samping. Menggandeng Naya dan membimbing gadis itu mengekor langkahnya.
Selepas menyeberangi padang rumput itu, Anam berdiri di muka pintu sembari menghela napas panjang. Seolah ingin mengambil ancang-ancang.
“Assalamualaikum,” ucap Anam sembari menggedor pintu agak kuat. Dapat dipastikan seluruh penghuni rumah sudah terlelap di jam-jam itu. Pukul setengah satu malam. Kurang etis sebenarnya untuk bertamu, tetapi Anam tidak punya pilihan lain.
“Assalamualaikum,” ulangnya lagi ketika tak kunjung mendapat jawaban. Tepat setelah ketukan ketiga suara dari dalam terdengar. Setengah berteriak meminta mereka untuk menunggu sebentar.
“Waalaikumussalam. Loh, Nak Anam? Mari, mari, silakan masuk,” sambut seorang bapak berpeci yang tampil begitu pintu terbuka. Mempersilakan ketiga tamunya duduk di ruangan berdekorasi kuno. Beberapa pigura berisi foto orang-orang berblangkon terpajang di dinding. Tidak tertinggal beberapa tokoh wayang yang dijajar mengelilingi ruangan. Seolah kehadiran mereka sedang disaksikan puluhan pasang mata.
“Buk … ayo bangun. Ada tamu, buatkan minum.”
Kalimat itu terdengar begitu lelaki tadi membuka pintu kamar depan dan menyalakan lampu. Perempuan bergamis yang dimaksudnya lantas keluar sembari menyampirkan pashminanya asal. Denting-denting gelas kemudian mulai terdengar begitu salah satu lampu di belakang menyala.
“Nggak usah repot-repot, Pak.”
“Ah nggak apa-apa, Nak Anam. Nggak repot sama sekali. Oh iya Mama apa kabar?”
Sama persis dengan relasi-relasi Anam yang lain, pertanyaan itu selalu terlontar ketika mereka baru mulai bicara. Tak banyak yang Anam ceritakan mengingat kedatangannya bukan sekadar bersilaturahmi. Jawaban-jawaban tadi hanya menunggu jalan masuk yang tepat untuk bicara.
“Kasihan Mamamu selalu sendirian di rumah. Apalagi kamu selalu sibuk, ‘kan? Apa belum ada rencana untuk mencarikan menantu?”
Gelegak tawa kemudian menggema ke seluruh ruangan. Tepat. Tepat sekali untuk memulai bicara.
“Nah, itu maksud dan tujuan saya kemari, Pak,” sahut Anam dengan jantung yang mulai berdebar-debar. Ditatapnya lekat lelaki yang mulai berhenti tertawa itu.
“Maksudnya? Mau Bapak carikan calon?”
“Saya sudah ada, Pak.”
“Waduh. Siapa, Nak, kalau Bapak boleh tahu?”
“Ini,” tunjuk Anam pada Naya. Gadis itu semakin menunduk dalam ketika sang tuan rumah memperhatikannya lekat.
“Maaf kalau saya terpaksa mengganggu malam-malam, Pak. Tapi saya butuh pertolongan Bapak untuk menikahkan kami segera.”
Selama beberapa menit, bapak-bapak paruh baya itu tertegun. Masih menatap Anam tidak percaya. Selama berpuluh-puluh tahun menjadi pegawai di kantor urusan agama, baru kali ini sepasang pengantin mendatanginya tengah malam. Tanpa janji, tanpa persiapan, serba mendadak atas permohonan pernikahannya. Apalagi dirinya mengenal Anam sebagai tokoh besar. Pemuda hebat yang lantas dikenal seluruh penjuru kota atas keberhasilannya membangun kembali perusahaan moyangnya yang sudah hampir dua windu gulung tikar.
“Mendadak sekali, Nak.”
“Situasi sudah genting, Pak.”
Lelaki itu lantas memperhatikan Naya lagi. Fokusnya mengarah ke area perut yang memang belum terlihat seperti berisi. Namun, bagi orang tua seperti dirinya, hal itu sudah jelas tanpa harus diterangkan lagi.
“Kecelakaan?”
Anam hanya mengangguk pasrah sambil membenarkan rambutnya yang mungkin masih acak-acakan. Pasrah bagaimanapun prosedur yang akan dilakukan oleh lelaki itu nanti.
“Bisa, ‘kan, Pak?”
“Bisa, tapi mana walinya?”
Kerutan di dahi lelaki sepuh itu membuat Anam menghela napas panjang. Memang itu kendalanya sejak awal. Sampai-sampai kepalanya terasa mau pecah. Jika restu itu sudah didapat, mungkin kini Naya sudah berstatus istrinya, mereka tidak akan berada di sini sekarang. Anam tidak perlu repot meminta bantuan petugas senior KUA itu.
“Tidak bisa dan tidak akan pernah datang. Abah Naya tidak memberi restu.”
Lelaki yang biasa dipanggil Pak Ali itu menghela napas panjang. Mengerjap-kerjap sembari memandangi kepulan asap tah hangat. Tampak sekali berpikir keras.
“Tapi pernikahan tidak akan sah tanpa wali, Nak.”
Anam menata posisi duduknya dan menarik napas panjang. Bersiap mengeluarkan argumen yang sudah dirancangnya sejak tadi.
“Tapi bisa kan dengan wali pengganti? Wali adhal.”
Naya membeliak. Menatap Anam tak percaya. Benar yang lelaki itu ucapkan. Guru fiqihnya di pesantren pernah menjelaskan hal yang sama. Tanpa wali, memang pernikahan tidak akan bisa berlangsung, tetapi wewenang ini bisa diwakilkan dalam kondisi-kondisi tertentu. Seperti dalam kasus mereka. Wali menolak menikahkan anak perempuannya dengan lelaki yang sekufu sesuai permintaannya. Syariat menetapkan hukum penolakan wali tanpa alasan yang benar adalah haram. Maka bila begini kondisinya, pernikahan bisa dilangsungkan dengan wali hakim.
Sama seperti pak Ali, Naya manggut-manggut. Berpikir pengusaha muda itu tentulah jebolan pesantren juga sebelumnya. Satu hal yang bahkan belum Naya ketahui sampai detik ini.
“Bagaimana, Pak? Bisa”