“Ki Mengkis!” Aku langsung mendekati Ki Mengkis yang sudah seperti superman. Kehadirannya pasti bisa mengatasi masalah ini.
“Ki, sebenarnya apa yang terjadi sampai seperti ini?” tanyaku sambil membuntutinya masuk.
Pak Parman menyambut kehadiran Ki Mengkis dan menjabat tangannya dengan erat. “Beberapa hari yang lalu sebelum kejadian ini terjadi, saya bermimpi tentang ini semua dan akan ada laki-laki yang datang menolong saya dan warga saya. Orang itu adalah anda, Pak,” ujarnya dengan wajah sumringah. Seperti sudah menyelesaikan ini semua padahal belum.
“Terimakasih anda percaya dengan mimpi anda. Tapi saya datang kesini tidak menjamin masalah akan selesai seperti yang kita inginkan. Ya, bisa saja kita semua kalah,” ucapan Ki Mengkis sontak membuat orang-orang jadi khawatir.
“Ki, sebenarnya apa ini? Kenapa orang-orang itu seperti zombie,” ujarku sambil mendekati Ki Mengkis.
“Apa mereka kena virus, seperti dalam film?” Kalau pertanyaan itu keluar dari mulut Steve, aku pasti tertawa. Tapi aneh rasanya kalau pertanyaan aneh itu keluar dari bibir Peter dengan wajah serius pula.
Ki Mengkis memandang Peter beberapa lama kemudian dia menggeleng. “Kamu kebanyakan nonton film.” Tuh kan, Ki Mengkis juga mikirnya sama denganku.
Ki Mengkis duduk bersama Pak Parman, aku dan Peter. Sementara orang-orang yang sedang nggak ngapa-ngapain, memperhatikan kami agak jauh.
“Semua ini berawal dari kiriman dukun sakti yang sudah kita bekuk beberapa waktu lalu,” ujar Ki Mengkis membuatku bertanya-tanya. Kenapa dan ngapain?
Pak Parman mengangguk-angguk, seakan mengerti sesuatu. “Sudah saya duga,” ujarnya.
“Jadi sebenarnya kenapa bisa ini semua terjadi?” tanyaku akhirnya membuat dua orang yang sejak tadi saling memperhatikan pun mengalihkan perhatiannya.
Cerita dimulai dari beberapa tahun yang lalu saat warga tak suka dengan Mbah Tarno yang diusir warga sebab dianggap telah melakukan ilmu santet kepada salah satu warga di desa ini.
Padahal Mbah Tarno juga tinggal di desa ini. Para warga sudah tahu siapa Mbah Tarno yang sudah tinggal di desa ini sejak ia masih kecil. Semua orang di desa ini juga tahu bahwa kerjaan Mbah Tarno adalah dukun santet dan pelet.
Semua orang nggak ada yang peduli meskipun Mbah Tarno dukun pelet dan santet, tapi selama ini nggak pernah membuat ulah. Jadi kehidupan berjalan dengan normal.
Namun suatu hari, Mbah Tarno mendapatkan pasien dari luar kota. Orang itu memintanya untuk mengirim santet kepada salah satu warga desa. Seharusnya Mbah Tarno menolak, karena nggak baik menyerang tetangga sendiri. Tapi kenyataannya, dia malah mengirim santet sampai orang itu meninggal dunia.
Warga marah. Mereka melaporkan masalah ini kepada pak kepala desa. Meminta agar Mbah Tarno dipenjara dan dihukum seberat-beratnya.
“Bagaimana warga desa bisa tahu kalau orang itu meninggal karena disantet?” tanyaku, kan bisa saja kena hal lain.
“Saya pembantunya Pak Hartawan. Beliau itu pengusaha pasir terkenal. Bahkan sampai dikirim keluar provinsi. Orang itu saingan bisnisnya Bapak. Saya saksi hidup bagaimana Pak Hartawan tib-tiba muntah dan keluar ulat gede-gede. Mana ada penyakit normal yang kayak gitu,” terang perempuan paruh baya gemuk yang memakai terusan warna hijau.
Aku mengangguk-angguk mengerti tapi tetap saja apa benar kalau Mbah Tarno yang melakukannya.
“Sebelum kejadian itu, saya melihat sendiri orang itu cekcok sama Pak Hartawan, sebab mengira kalau Bapak sudah menyikutnya,” imbuhnya.
“Menyikut bagaimana?” tanya Peter pasti karena penasaran juga alasannya.
“Karena ada pembeli yang awalnya pesan ke orang itu, tapi tahu-tahu pindah ke Pak Hartawan. Nilainya nggak main-main, sampe mendekati M-M an. Siapa juga yang nggak marah,” terang perempuan itu lagi.
"Sudah Yuk La?” tanya Pak Parman membuat perempuan yang dipanggil Yuk La itu terdiam.
“Intinya, setelah kejadian itu Mbah Tarno diusir dari desa. Karena beliau ini sudah sepuh, kalau dipenjara paling umurnya setahun dua tahun,” kata Pak Parman membuat kedua alisku terangkat.
“Ya kali, kalau hidupnya cepat. La kalau awet hidup gimana?” tanyaku secara spontan yang bikin Ki Mengkis berdehem supaya aku diam.
“Jadi dia membalas dendam dengan mengirim ilmu hitam kesini?” tanyaku.
Ki Mengkis yang sedari awal duduk tenang, mengelus jenggot panjangnya yang putih sambil mengangguk-angguk pelan.
“Ini masalah yang tidak main-main. Kalau kalian belum pernah nonton film zombie kukasih tahu. Zombie itu brutal seperti hewan buas yang kelaparan. Kalian jangan sampai lengah, kalau nggak kalian bisa….” Ki Mengkis membuat gerakan seolah-olah sudah jadi zombie. Bikin anak-anak yang murung tiba-tiba tertawa, padahal mereka bisa saja jadi korban.
***
Aku, Ki Mengkis dan Peter akan mencari persembunyian para zombie. Bersama warga yang selamat yang ternyata terpencar di beberapa rumah, kami semua saling membantu mencari zombie-zombie itu.
“Cari di tempat yang gelap dan tersembunyi. Mereka takut cahaya,” kata Ki Mengkis mengingatka orang-orang.
Desa ini termasuk cukup besar. Dengan jalanan khas pegunungan yang naik turun. Dikelilingi hutan jati dengan satu jalan dari jalan utama sampai ke ujung dimana ada hutan belantara. Artinya, jalan utama desa ini buntu. Makanya nggak banyak orang yang tahu tempat ini karena nggak ada jalan lain dan tembusannya nggak ada.
Mayoritas rumah disini merupakan rumah tua peninggalan kakek nenek bahkan mungkin buyut mereka. Hanya beberapa rumah yang mengalami renovasi dan tampak indah, salah satunya rumah Pak Hartawan dan rumah Pak Parman.
Seorang perempuan memakai daster selutut, berlari kencang dengan wajah yang begitu tegang. Hingga akhirnya berhenti di depanku. “Tolong, disana ada zombie tertidur!” ujarnya sambil menunjuk ke rumah terbesar di desa ini.
“Rumah Pak Hartawan,” ujar Pak Parman sambil mengajak Ki Mengkis untuk mendekatinya.
Kami semua bergegas mendatangi rumah itu tapi hanya aku, Ki Mengkis dan Peter yang masuk. Sementara yang lainnya hanya perlu bersiaga di depan karena ini terlalu berbahaya bagi mereka.
Ki Mengkis tak mau kalau sampai sesuatu terjadi pada warga. Siapa tahu aja zombie yang bersembunyi disini melakukan perlawanan kan.
Masuk ke rumah yang sangat besar dengan tangga melingkar dari lantai dasar ke lantai dua. Ubin dan tangganya terbuat dari marmer. Kursi besar berwarna merah dan kuning emas menambah kemewahannya.
Rumah ini seperti rumah mewahnya artis-artis ibukota yang pernah kulihat. Hanya saja kotor dan berdebu bahkan ada bau kotoran hewan dan bau busuk menyengat khas mayat.
“Kita harus menyebar. Aku ke lantai dua dengan Bunga, Ki Mengkis cari di lantai satu,” perintah Peter membuat Ki Mengkis menghentikan langkah.
Ki Mengkis berdiri di sebelah pintu kamar (mungkin) jadi kupikir mungkin dia mau membuka dan siapa tahu zombienya ada disana tapi ternyata….
“Enak saja. Kamu yang sendiri, aku sama Bunga. Orang tua kok disuruh nyari sendirian. Secara tenaga, aku sudah nggak sekuat dulu,” ujarnya yang bikin aku keki banget.
Akhirnya Peter pun naik ke lantai dua, sementara aku dan Ki Mengkis menyisir lantai satu.
Aku membuka sebuah kamar yang ternyata kamar anak-anak. Seluruh kamar di cat merah muda dengan stiker hello kitty dimana-mana. Wah, tiba-tiba aku merasa merinding.
Apalagi waktu melewati ranjang yang model jaman dulu, bukan springbed yang nggak bisa dipake buat sembunyi. Otomatis aku langsung membungkuk takutnya kalau ada yang sembunyi di tempat itu atau malah memegang kakiku lalu menggigitnya.
Wah bisa jadi zombie aku.
Aku pun langsung menunduk dari jarak yang aman. Ternyata aku benar, ada anak kecil telungkup di bawah ranjang.
Aku menelan ludah susah payah, antara nggak tega tapi aku tetap harus menangkapnya. Biar kata zombie kalau model anak-anak begini kan aku nggak tega. Tapi aku harus menangkapnya jadi aku memegang kakinya, seketika anak itu menoleh kepadaku dan berteriak sekuat tenaga.
Aku langsung menyeretnya keluar sampai kepalanya terantuk kepala ranjang. Dia berusaha mengelak dan berusaha menyerangku dengan dua tangan kecilnya.
“Lepaskan aku. Lepaskan aku!” serunya bikin aku sedih banget.
“Dia manusia biasa. Selamatkan dia!” perintah Ki Mengkis yang tiba-tiba masuk kamar.
“Tenang anak manis. Kami datang untuk menolongmu,” ujarku pada anak yang mungkin masih kelas 1 SD atau malah masih TK.
“Ayah, Ibu. Tolong!” teriaknya sambil menangis tersedu-sedu tapi tubuhnya sudah melemas.
Anak ini kurus sekali dan sepertinya kekurangan gizi. “Kamu sembunyi disini sudah berapa lama, Nduk?” tanyaku sambil berusaha menenangkannya.
Tenaga besarnya hanya bertahan nggak sampe semenit, tangisan kerasnya juga cuma sebentar dan sekarang dia malah pingsan.
Aku membawanya keluar rumah. Beberapa orang yang sedang berada di depan rumah Pak Hartawan histeris waktu melihatku menggendong anak kecil.
“Laila, Laila.” Yuk La, yang merupakan pembantu di rumah keluarga Pak Hartawan langsung mendekatiku dan mengambil Laila dari gendonganku.
“Bawa ke Bu Anis biar diperiksa,” ujar wanita lain dan tanpa membuang waktu Yuk La segera berlari membawa Laila.
Aku kembali ke rumah Pak Hartawan dan terus mencari keberadaan zombie ke semua tempat. Tapi sepertinya zombie yang diceritakan perempuan tadi mungkin sebenarnya Laila yang membutuhkan pertolongan.
Aku berdiri di dapur yang sudah kotor sekali bahkan ada tikus yang berjalan cepat melewatiku. Dasar tikus nggak tahu diri, berani-beraninya sama manusia.
Aku pun memperhatikan larinya tikus yang tiba-tiba masuk ke sebuah cela yang terbuat dari kayu. Ukurannya sekitar satu meter. Entah mengapa aku merasa penasaran dengan isi di dalamnya.
Pada kayu yang berbentuk persegi itu terdapat sebuah lingkaran yang terbuat dari besi, di sisi kiri terdapat dua engssel y ang membuatku yakin kalau itu adalah pintu. Semacam handel pintu. Aku nggak tahu arahnya kemana, soalnya pintu itu menempel di ubin, bukan di tembok.
Aku mengeluarkan tenaga yang banyak untuk membukanya. Pintu itu berat sekali. Benar-benar berat sampai aku nggak bisa membukanya.
“Ki!” seruku kepada Ki Mengkis yang masih mencari keberadaan zombie di bawah tangga. Di bawah tangga terdapat sebuah ruangan juga yang menembus gudang yang ada di sebelah rumah.
“Peter!” seruku kepada Peter setelah melihatnya berada di ruang tengah.
Peter mendekatiku dan melihat ke kotak kayu persegi yang merupakan sebuah pintu. Tanpa pikir panjang, ia pun berusaha membuka pintu itu dengan sekuat tenaga. Hingga akhirnya pintu terbuka dan ternyata ada tangga.
Ruangan itu sangat gelap karena cahaya nggak bisa masuk ke dalamnya. Aku dan Peter saling berpandangan sebelum akhirnya ia menyalakan lampu senter dari HP-nya.
Ada segerombolan zombie yang menoleh ke arah sumber cahaya. Mata mereka putih semua. Tubuh mereka bau busuk sebusuk mayat. Dan mereka pun tiba-tiba naik tangga secara bersamaan hingga kesulitan keluar karena mereka berjubel-jubel mau keluar semua.