“KI MENGKIS!” teriakku untuk meminta bantuan darinya.
Aku masih ragu apakah harus memusnahkan mereka sekarang atau menunggu Ki Mengkis yang mungkin memiliki cara untuk menyembuhkan mereka, misalnya.
Tapi Peter nggak mau menunggu lama. Ia langsung mengeluarkan bola api dari tangannya dan menyerang zombie-zombie yang ada di dalam. Tapi tindakan itu justru membuat zombie-zombie itu keluar dari tempat persembunyiannya.
Jika awalnya kupikir mereka takut sinar matahari, ternyata itu nggak benar. Zombie-zombie yang ada di depan memang terbakar dan jadi kelojotan layaknya manusia yang terbakar. Sementara Zombie yang belakang terus menerobos keluar hingga akhirnya satu persatu zombie itu menyerangku dan juga Peter.
Sebagian lagi melarikan diri tapi untung ada Ki Mengkis yang langsung menutup pintu. Seenggaknya zombie itu nggak bisa keluar dan menyakiti orang-orang yang ada di luar.
Padahal awalnya aku pikir mereka takut sinar matahari tapi seharusnya aku ingat kalau kemarin Siti juga keluar sore saat matahari belum tenggelam.
“Peter, Bunga. Masukkan mereka ke kamar-kamar dan bawa satu saja siapa tahu ada cara buat nyembuhin mereka!” ujar Ki Mengkis membuatku dan Peter segera melaksanakannya.
Nggak mudah membekuk zombie yang sudah seperti hewan buas. Mereka berusaha menggigit apapun dan bagaimanapun caranya. Mereka nggak menyerang layaknya manusia, tapi dengan serangan serampangan ini malah menjadi sangat sulit.
Aku menangkap satu zombie sementara Peter menahan yang lainnya. Kami saling menjaga satu sama lain supaya tetap aman.
Memasukkan satu zombie ke kamar lalu Ki Mengkis membuat kunci dengan kanuragan yang ia miliki. Membaca ajian sambil mengeluarkan jurus-jurus untuk menciptakan pintu tak kasat mata.
“Kumpulin semua disini. Aku akan menahan mereka semua,” kata Ki Mengkis yang membuatku dan Peter saling bahu membahu menghadapi zombie yang bisa dimasukkan kamar satu persatu.
Zombie itu nggak bisa keluar dari pintu yang sebenarnya nggak terkunci. Mereka berusaha menggapai-gapai seakan-akan sedang di dalam teralis besi.
Seperti yang diminta Ki Mengkis, aku sengaja menahan satu zombie untuk dijadikan kelinci percobaan.
Peter dan aku menahan tubuh zombie yang berusaha menyerang kami tapi karena aku menahan tangannya di jarak yang aman. Dia hanya bisa menggigit udara. Dia juga mencoba untuk menyerang Ki Mengkis, tapi nggak bisa. Karena aku dan Peter terus menahannya sekuat tenaga.
Ki Mengkis membuat ajian beserta bergerak dengan jurus-jurus yang handal. Beberapa lama aku dan Peter hanya bisa menunggu sampai ajian itu selesai.
Saat selesai, Ki Mengkis langsung menempelkan telapak tangannya ke dahi perempuan berbadan agak gemuk itu. Yang membuat perempuan itu terdiam lalu matanya tertutup rapat.
“Sepertinya berhasil!” seruku waktu perempuan yang tubuhnya kaku banget itu tiba-tiba melemas.
Tapi rupanya perkiraanku salah. Perempuan itu tiba-tiba bangun dengan mata melotot, mulutnya terbuka lebar dan terus berusaha menggigit dengan tenaga yang luar biasa besar.
Meski nggak bernapas karena dadanya nggak pernah mengembang dan mengempis seperti layaknya manusia atau makhluk hidup lainnya, tapi zombie itu mengeluarkan bau busuk seakan terjadi saat manusia bernapas.
Bau bangkai layaknya mayat hidup membuat genggamanku sedikit merenggang. Dia menyadari hal itu dan langsung hendak menggigitku, untung dengan sigap bisa katahan lalu Peter pun menarik kepalanya dengan kuat hingga zombie itu berbalik ingin menyantapnya.
Ki Mengkis selesai membacakan ajian dan langsung menempelkan telapak tangannya ke dahi zombie itu. beberapa lama tindakan ini dilakukan tapi hasilnya nol besar.
Zombie itu tetap saja menyerang bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ia bahkan nggak hanya menggerakkan tangan untuk berusaha lepas tapi kedua kaki juga menendang-nendang serampangan. Membuatku semakin sulit menahan tangannya.
“Ini nggak akan berhasil,” kata Peter.
Tiba-tiba zombie itu menjerit keras seperti kesakitan. Seluruh tubuhnya menegang hebat dan dari tangan yang dipegang Peter mengeluarkan asap.
“Jangan edan, Peter. Kamu bisa membunuhnya,” ujarku.
“Pada dasarnya dia sudah mati, Hon. Dia nggak bernapas. Artinya tubuhnya sudah nggak berfungsi,” ujarnya.
Ya jelas nggak berfungsi namanya juga nggak sadar. Ia menjadi hewan buas yang nggak bisa mikir. Tapi kalau sembuh aku yakin dia bisa normal lagi.
“Peter benar. Hakikatnya dia sudah mati. Dia memang nggak bisa ditolong lagi.” Ki Mengkis mendesah dan meminta kami untuk memasukkan zombie itu ke kamar dan disatukan dengan teman-temannya.
Jongkok bertiga di depan pintu yang sudah tertutup. Pintu yang disegel dengan kekuatan Ki Mengkis itu nggak akan bisa ditembus oleh hantu bahkan zombie.
“Harusnya aku kepikiran dari tadi,” gumamku.
“Apa?” Ki Mengkis dan Peter memandangku dan menunggu jawabanku.
“Mereka hantu,” jawabku yang membuat mereka berdua kompak mengembuskan napas berat sambil memutar bola mata.
Lah ya aku bener dong. Kalau mereka bukan hantu pasti bisa melewati pintu itu dengan mudah.
Pagar pembatas tak kasat mata buatan Ki Mengkis hanya bisa digunakan untuk menghadang hantu. Nggak bisa dipakai untuk manusia biasa sepertiku. Walaupun sebenarnya nggak guna juga mengetahui hal itu.
“Trus apa yang kita lakukan sekarang?” Peter akhirnya berdiri karena jongkok lama-lama itu menyakitkan.
Ki Mengkis dan aku pun ikut berdiri dan kembali memandang pintu yang di dalamnya terdapat suara-suara aneh. Suara-suara mayat hidup yang menginginkan darah manusia.
“Ngomong-ngomong, bagaimana mereka bisa masuk ke tempat itu dan bagaimana bisa mereka menutupnya? Mereka kan seperti hewan yang nggak bisa mikir?” tanyaku heran.
“Benar juga. Itu artinya ada orang yang sengaja membuat mereka seperti ini dan pasti punya kekuatan untuk membuat mereka menurut,” sahut Peter yang membuat Ki Mengkis manggut-manggut sambil membelai jenggot putihnya yang sepanjang leher.
“Itu artinya, orang itu ada disini. Membaur bersama kita,” ujar Ki Mengkis yang bikin aku bertanya-tanya siapa orangnya.
“Berarti ada hubungan antara Mbah Tarno dan orang ini,” gumam Peter.
Karena kami nggak tahu menahu dengan tempat ini kami harus mencari tahu ke Pak Parman selaku kepala desa.
“Kalian sudah memastikan pintu itu sudah kosong kan?” tanya Ki Mengkis membuatku nyengir kuda sementara Peter mengusap kepala belakangnya.
“Kalian ini gimana? Ceroboh banget!” seru Ki Mengkis membuatku dan Peter segera berlari mendekati pintu kayu persegi yang tadi membuat banyak zombie keluar paksa.
Peter membuka pintu itu dan untuk memastikan kalau nggak ada zombie yang tersisa adalah masuk ke dalamnya.
Dari pintu hanya tiga anak tangga yang terlihat setelah itu hanya ada kegelapan. Nggak ada lampu di dalamnya, Peter menggunakan bantuan senter dari HP untuk melihat seisi ruangan yang nggak terlalu luas tapi juga nggak terlalu sempit.
Bau busuk mayat dan apek membuat perutku mual. Tapi aku memaksakan diri mengikuti Peter masuk ke dalam. Melihat isinya yang sangat menjijikkan, perutku semakin terasa diaduk-aduk.
Aku juga menggunakan senter dari HP. Berada di tengah-tengah kamar, aku dan Peter saling memunggungi dan berjalan berputar untuk melihat ke sekeliling.
Ada sebuah pergerakan bayangan di bawah tangga. Membuatku terhenyak lalu kucolek pinggang Peter untuk menunjukkan kalau ada seseorang berada di bawah tangga.
Perlahan aku dan Peter mendekatinya. Berjalan mengendap-endap seperti hendak menangkap tikus. Aku sudah membaca ajian dan siap menangkap zombie yang bersembunyi di bawah tangga yang terbuat dari kayu.
Tiba-tiba zombie yang tingginya nggak sampai satu meter keluar dari persembunyiannya. Membuatku sangat terkejut sampai jatuh terduduk di depan zombie itu.