Zombie kecil yang rambutnya dikuncir dua itu dikurung bersama zombie-zombie yang lain. Kami bertiga pun keluar rumah dan berdiri di depan rumah yang ternyata sudah dipenuhi warga yang penasaran.
“Jangan pernah mendekati tempat ini apalagi sampai masuk! Di dalam ada zombie yang bisa menggigit kalian,” ujar Ki Mengkis yang membuat beberapa orang mundur beberapa langkah.
“Kamu, kamu dan kamu. Jaga tempat ini jangan sampai ada yang masuk!” perintah Ki Mengkis kepada tiga orang yang kebetulan ada di depannya.
Kami bertiga melangkah menuju rumah Pak Parman untuk mencari kejelasan soal siapa dalang dari semua ini. Karena Mbah Tarno takkan bisa melakukan ini semua sendiri. Dari bukti-bukti yang ada, sudah jelas ada kaki tangan yang membantunya.
***
Berada di rumah Pak Parman, kami duduk bersila di atas tikar yang terbuat dari daun bambu. Hanya ada kami ber empat karena semua orang masih sibuk. Rumah yang kemarin kotor setelah diserang zombie, kini telah bersih.
Beberapa anak-anak mengintip di balik pintu kamar yang ada di sebelah kanan. Ada rasa penasaran dari bocah-bocah yang masih belum terpengaruh dengan dunia luar.
“Jadi menurut anda, ada kaki tangan Mbah Tarno yang melepas dan memasukkan zombie-zombie itu?” tanya Pak Parman yang tampak nggak percaya.
Emang susah dipercaya sih, karena mereka bukan ternak yang bisa dikeluarkan dan dimasukkan seenak hati. Tapi mau nggak percaya juga nggak bisa karena sudah jelas-jelas buktinya.
“Apa Mbah Tarno punya sanak family?” tanya Ki Mengkis membuat Pak Parman menerawang.
Beberapa lama Pak Parman terdiam hingga akhirnya ia menggeleng, “Saya nggak tahu, Ki. Saya kan termasuk orang baru disini. Meskipun Kepala Desa, tapi sejujurnya saya kurang tahu soal sanak family warga saya satu-satu,” ujarnya.
Ki Mengkis mengangguk-angguk mengerti. Suasana kembali menjadi hening. Anak-anak yang tadinya mengintip pun sekarang sudah sibuk bermain.
Peter mengkodeku untuk meninggalkan Ki Mengkis dan Pak Parman. Kami kembali jalan-jalan ke desa. Para laki-laki sibuk membuat senjata, sementara para perempuan sibuk mengurus makanan. Tidak ada anak-anak berkeliaran karena mereka pasti disuruh tetap di dalam rumah.
Jam menunjuk angka dua belas siang. Hari yang cukup panas karena matahari bersinar sangat terang. Dedaunan sedikit bergoyang karena tertiup angin yang sepoi-sepoi.
“Semoga saja zombienya hanya di rumah Pak Hartawan,” ujarku.
“Aku juga berharap begitu,” ujar Peter sambil memandang rumah yang ada di sebelah rumah Pak Hartawan.
Kami mendekati rumah itu dan berdiri terdiam sambil mengamati seorang pria yang tampak diam. Padahal yang lainnya sibuk membuat senjata untuk melindungi diri.
“Ini rumah anda?” tanya Peter kepada pria baya yang rambutnya plontos dan beruban.
“Saya sudah tua, punya senjata pun tetap nggak akan bisa bertarung,” ujarnya dengan suara gemetar.
Ucapannya membuatku melihat ke sekeliling. Desa ini ternyata memiliki banyak warga yang sudah tua sepertinya. Secara tenaga jelas akan kalah tapi menjadi zombie dia tetap sangat berbahaya.
Aku mengajak Peter untuk kembali jalan supaya kami bisa membicarakan masalah ini dengan tenang.
“Kurasa kita harus mengumpulkan orang-orang yang tersisa di sebuah tempat,” ujarku meskipun aku sendiri nggak tahu tempatnya dimana.
Tadi pagi saat kupikir orang di des aini hanya tersisa di rumah Pak Parman, ternyata masih ada beberapa orang yang bersembunyi di rumah-rumah mereka.
“Sampai kapan kami harus mengalami masalah ini?” tanya seseorang secara tiba-tiba sampai membuatku terlonjak kaget.
Seorang nenek tua dengan rambut panjang beruban berjalan dengan punggung bongkok.
“Kami sedang berusaha mengatasi masalah ini,” ujar Peter membuat nenek-nenek yang wajahnya penuh kerutan itu mengangguk-anggukkan kepala.
Orang itu pergi begitu saja setelah mendapatkan jawaban, sungguh nenek-nenek yang aneh sekali. Aku sampe menoleh ke belakang untuk melihatnya sekali lagi, tapi orang itu ternyata sudah nggak ada.
Orang itu aneh sekali. Manusia tapi kayak hantu saja. Astaga, mungkin ini adalah tempat teraneh yang pernah kukunjungi.
“TOLONG. TOLONG ADA ZOMBIE!” teriak seorang lelaki yang berlari kencang dari ujung jalan yang tembus ke jurang.
Di belakang orang itu ada tiga zombie yang berlari mengejarnya. Seorang lelaki yang memakai baju lusuh, seorang perempuan yang memakai daster sobek-sobek dan anak laki-laki yang memakai kaos coklat dan celana pendek hitam.
Tiga zombie itu tadinya mengejar seorang pria yang sudah berlari sampai melewatiku, tapi karena melihat banyak orang mereka pun berpencar.
Zombie laki-laki menggigit leher seorang lelaki yang sedang membuat bambu runcing. Zombie itu menerkam dari belakang makanya orang itu nggak tahu kalau zombie itu mendekat.
Zombie perempuan mengejar perempuan yang membawa setumpuk daun papaya. Daun-daun di tangannya jatuh dan ia berteriak histeris waktu zombie menggigit lehernya.
Zombie anak-anak menggigit kaki seorang laki-laki.
Semua orang yang masih bisa berlari pun segera masuk rumah tetapi karena terlalu panik membuat mereka segera mengunci pintu dan membiarkan keluarganya terkunci dari dalam.
Suasana menjadi sangat kacau. Tiga orang yang digigit zombie menggelepar bersimbah darah. Badannya kejang-kejang hingga akhirnya tak sadarkan diri.
Beberapa perempuan berdiri di dekat zombie dan orang yang sudah tak sadarkan diri. Ketakutan sampai nggak bisa bergerak. Aku pun mendekati mereka dan menyeret mereka agar menjauh. Setelah sadar dari keterkejutannya, mereka pun lari tunggang langgang menjauhi zombie.
Suara desah serak khas zombie terdengar di telingaku. Aku pun segera memutar badan dan melihat zombie perempuan yang sedang mendekatiku dan hendak menggigitku. Aku menahan dari bawah lengannya lalu mendorongnya dengan punggung.
Kulakukan dengan cepat sebelum gigi-giginya yang kuat mengoyak dagingku.
Tiba-tiba laki-laki yang tadinya nggak sadarkan diri pun kembal kejang-kejang. Tubuhnya terpelanting ke kanan dan ke kiri hingga akhirnya bangun sebagai zombie.
Tiga zombie kini sudah menjadi enam zombie. Zombie-zombie itu mengejar orang-orang yang masih di luar.
Aku dan Peter berpencar untuk menolong orang-orang dari gigitan mereka. Tapi karena terpencar membuatku kalang kabut. Aku hanya bisa menolong satu dua orang, sementara yang lainnya pun akhirnya menjadi korban. Lehernya digigit di depan rumah, sementara anak dan istri melihat dari balik jendela kaca.
Kondisi benar-benar tidak bisa dikendalikan. Aku mengajak orang-orang yang selamat untuk menuju rumah Pak Parman. Hanya rumah kepala desa yang akan dibuka untuk memberi perlindungan bagi warga yang selamat.
Ada delapan orang yang berlari bersamaku. Dikejar zombie-zombie yang berjalan cepat dan kaku seperti robot.
“PAK PARMAN BUKA!” teriakku sambil menggedor pintu rumah Pak Parman.
Beberapa detik kemudian, pintu dibuka dan Pak Parman menyuruh orang-orang untuk segera masuk. Zombie-zombie yang jumlahnya semakin banyak, mendekatiku.
“BUNGA!” seru Pak Parman memintaku untuk masuk.
“APA PETER SUDAH MASUK, PAK?” tanyaku.
“BELUM. DIA BELUM DATANG. KI MENGKIS JUGA PERGI!” ujar Pak Parman.
Tapi saat ini aku nggak boleh masuk begitu saja. Aku harus melakukan sesuatu yang sangat penting bagiku.
Aku harus tahu dimana keberadaan Peter sekarang.