Kejadian yang kami alami kemarin membuat Peter kesal sekali. La wong dibuat muter-muter nggak jelas selama berjam-jam siapa juga yang nggak jengkel.
Kejadian itu ternyata nggak cuman kami alami. Ada banyak pengendara yang ternyata memiliki pengalaman yang sama. Bahkan ada yang jauh lebih buruk daripada kami.
Ada yang mengaku kalau melihat hantu perempuan duduk di jok belakang seperti yang kami alami kemarin. Bahkan ada yang mengaku bonceng hantu anak-anak padahal sebenarnya sendirian. Ada juga yang diikuti satu keluarga di dalam mobil padahal hanya berdua.
Ada yang sampai melihat mobil sedan itu masuk jurang. Membuat korban berhenti untuk melihat kejadian tapi nggak ada apa-apa karena pas mereka melongok jurang, mobil dan pengendara sedan itu malah ikut melihat ke jurang.
Yang lebih parah, ada yang diisengin waktu ada orang yang memutuskan berhenti untuk beristirahat. Katanya diajak ngobrol satu keluarga tapi ujung-ujungnya ditakut-takutin dengan suara tawa khas kuntilanak. Membuat orang itu berlari kencang meninggalkan motornya, tapi pas berhenti untuk mengatur napas, dia balik ke posisi dimana motornya berada.
Ada pula seorang bujangan bawa motor seorang diri. Lewat jalan itu karena memang ada bapak-bapak yang bilang kalau lewat jalan itu lebih cepat. Jalanan saat itu macet parah dan ia sedang buru-buru. Akhirnya mengikuti petunjuk bapak-bapak itu untuk lewat jalur alternatif yang katanya cukup lurus saja nanti tembus kota sebelah.
Kondisi bahan bakar motor menipis, sementara POM bensin masih tiga kilometer lagi. Jadi dia pun memilih belok karena percaya ucapan pria itu. Nggak tahunya, motornya jadi mogok kehabisan bensin karena muter-muter di jalan itu hingga sekitar satu jam.
Dia harus menuntun motor dan harus muter-muter di satu tempat. Dia sadar setelah ambil jalan bercabang yang bila ke kanan balik ke tempat awal, dimana ada pohon beringin yang sangat besar. Waktu ambil jalan ke kiri pun tetap kembali ke pohon beringin itu.
Hingga akhirnya dia duduk diam karena kelelahan. Dia didatengin dua anak, laki dan perempuan bawa termos es. Anak-anak itu menjajakan es mambo yang segar. Dia pun membelinya karena sudah kehausan. Nggak kepikiran kalau gimana ada anak-anak jual es mambo di tempat kayak gitu, udah malam lagi.
Tapi sudah apesnya, waktu meminum es mambo itu ternyata rasanya aneh dan bau amis darah. Dia pun muntah-muntah dan anak-anak hantu itu pun tertawa terbahak-bahak lalu menghilang begitu saja.
Dia baru bisa keluar saat ada ambulan yang menyuruhnya mengikuti mereka. Orang dalam ambulan membantunya mengikat motor di belakang. Jadi dia bisa keluar dari hutan nggak kasat mata itu setelah ditarik ambulan sampai jalan raya yang ia ketahui.
Dan masih banyak lagi cerita-cerita tentang kejadian kesasar di jalur hantu, begitu orang-orang mengatakannya.
Aku jadi tertarik untuk memburu hantu-hantu itu, siapa tahu mereka ternyata hantu dari jin botol. Meskipun belum ada buktinya, tapi namanya juga usaha kan.
“Mereka ternyata cukup meresahkan ya,” ujarku kepada Steve yang duduk di sebelahku.
Kami berada di ruang makan untuk menikmati makan malam yang lezat. Sate ayam dua puluh tusuk untuk Steve serta sepiring nasi dan sepuluh tusuk sate untukku dengan satu bungkus lontong. Sambil menonton TV yang menempel di dinding.
“Mereka satu keluarga yang mati kecelakaan masuk jurang. Kasihan ya, konon katanya ada bagian tubuh mereka yang belum ditemuin, Hon,” ujar Steve bikin aku mengangguk-anggukkan kepala.
“Pasti kecelakaannya parah sampai ada yang hilang gitu,” ujarku sambil mengigit sate ayam.
Steve memasukkan sesendok penuh nasi ke mulutnya. Mengunyahnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Dalam berita itu disebutkan kalau kejadian kecelakaan terjadi tahun 1976, tahun dimana orang tuaku saja belum lahir. La wong mendiang ayahku lahir tahun 1979 dan mendiang ibuku lahir tahun 1980.
Kejadian itu memang nggak sampai merenggut nyawa orang, tapi masuk kesitu sangat menjengkelkan. Setiap orang memang memiliki cerita sendiri-sendiri tapi tetap berhubungan dengan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anak, perempuan dan laki-laki.
“Steve, ayo kesitu. Aku kepo nih,” ujarku sok manis.
“Yaelah ngapain kepo sih, Hon. Tempatnya jauh banget, bikin capek. Mending di rumah saja, kita bisa main di kamar,” ujarnya sambil main mata.
Duh aku sampai nepok jidat karena selalu gemes sama Steve yang kayak nggak ada puasnya buat naena. Kalau kayak gini mending Peter. Dia pasti semangat kalau diajak memburu hantu.
“Lagian nggak ada yang laporan minta ngurusi itu. Jangan buang waktu yang nggak menghasilkan duit, Hon,” ujar Steve.
Aku memutar kedua bola mata. Nih bocah kalau sudah bahas duit pasti beneran nggak mau.
“Ya udah, aku berangkat sendiri aja,” ujarku nekat.
Steve terkejut sampai sate yang masuk mulutnya menyembur keluar. Tapi aku kalo sudah penasaran sama sesuatu emang kudu diurus sampai selesai. Kalau nggak, bakal kebawa tidur dan jadi mimpi terus-terusan sampai aku melakukannya.
“Emang naik apa?” tanyanya seakan aku nggak bisa pergi tanpa siapa-siapa.
“Naik motorlah. Masak naik sepeda ontel,” ujarku sewot.
Steve tertawa terbahak-bahak bikin aku jadi kesel banget. Aku mencubit lengannya tapi dia balas aku dengan ciuman di pipi. Bibirnya yang belepotan bumbu kacang dari sate yang abis dia gigit pun menempel di pipiku.
“Jorok amat sih, Steve….” Aku memukuli tangannya beberapa kali yang bikin dia tertawa terpingkal-pingkal.
“Ya ampun, itu bumbunya ada sambel pula. Kalau mukaku panas karena cabe, awas saja ya!” seruku sambil buang muka karena sewot.
“Awas saja, aku hajar di ranjang nanti,” godanya sambil mengecilkan suara biar mirip sama suara perempuan.
Aku langsung menempeleng kepalanya pelan. Dasar bocah gemblung. Apa pikirannya cuma urusan ranjang saja. Hadew.
***
Akhirnya mau nggak mau Steve pun mengantarku ke tempat itu dengan naik motor. Sebab kalau naik mobil bisa lama banget. Adududuh, naik motor malah bikin suasana jadi romantis banget. Aku memeluk pinggangnya erat, karena kalau naik motor, Steve bisa agak ngebut.
Hari masih siang saat kami berangkat. Lagi panas-panasnya, makanya tanganku masuk ke saku jaketnya.
“Hon, kamu jangan gitu dong. Aku kan jadi pengen,” serunya membuatku langsung memukul pundaknya beberapa kali.
Ajegile bener nih orang. Kalau kayak gini, aku lebih butuh Peter daripada Steve. Alhasil tanganku jadi kepanasan karena nggak pake kaos tangan pula.
Setelah berjam-jam naik motor, kami pun tiba di jalan yang sudah bikin banyak orang mengalami pengalaman yang menyeramkan. Hari sudah petang, sama persis waktunya dengan waktu kami melewati jalur itu.
Membelok melewati jalanan yang nggak terdapat bapak-bapak, kami berdua naik motor melewati hutan jati yang ada di kanan dan kiri hingga akhirnya kami lewat jurang dimana terdapat sebuah pohon beringin. Tempat dimana bikin mobil kami kemarin berputar-putar nggak jelas.