Hari sudah beranjak malam saat motor kami menembus jalanan yang seharusnya sangat panjang dan lama. Hampir sama seperti kemarin waktu Peter membelok ke kiri sesuai dengan petunjuk bapak-bapak yang menunjukkan jalan alternatif.
Tapi nyatanya perjalanan yang kami lewati nggak sampe 30 menit sudah tembus pertigaan. Melewati jalanan curam dengan pemandangan kanan hutan jati dan kiri jurang yang dalam.
Sebuah pohon beringin yang bikin mobil muter-muter berjam-jam ternyata hanya lima menit dari ujung pertigaan.
Setelah keluar dari jalanan aneh itu, aku dan Steve memilih berhenti di depan gerobak bakso yang sepi. Aku sudah sangat lapar karena sejak pagi belum makan.
Aku dan Steve berada di sebuah warung bakso yang ada di pinggir jalan. Warung bakso sangat sederhana. Dijual dalam gerobak bakso yang mangkal setiap hari di tempat yang sama. Terdapat tenda dengan atap yang terbuat dari terpal oranye. Dua buah meja dengan empat bangku panjang ada di bawahnya.
Aku menerima semangkok bakso yang masih mengepulkan asap. Dalam satu mangkuk terdapat satu bakso besar, tiga bakso kecil, mi suun dan mi kuning, satu tahu bakso dan satu siomay. Kuahnya bening tapi rasanya sangat gurih. Bakso takkan lengkap kalau nggak ditambahi sambel yang banyak, saus yang banyak dan kecap manis yang banyak.
Kuah bakso yang awalnya bening pun menjadi merah pekat dan keruh. Aku menyeruput kuah yang masih panas. Merasakan gurih dan pedas yang sangat enak di lidah.
Sementara itu, bakso Steve hanya ditambahi sedikit sambal. Ia memang nggak begitu suka pedas tapi masih lumayan mau nambahi sambal. Sebelumnya Steve sama sekali nggak makan pedas.
Memasukkan bakso kecil ke mulut, aku nggak bisa konsen merasakan gurih dan kenyalnya bakso yang sedang kukunyah. Pikiranku masih bertanya-tanya kenapa kok nggak masuk ke jalan itu lagi?
“Apa mungkin karena nggak macet ya?” tanyaku sendiri.
Steve sibuk makan bakso dan nggak lama kemudian semangkok bakso sudah pindah ke perutnya. “Mas, nambah satu lagi,” katanya sambil mengangkat mangkok yang sudah kosong.
“Kamu tadi ngomong apa?” tanya Steve. Wah nih orang beneran nggak fokus pengen tahu masalah penampakan hantu keluarga yang suka nyesatinn orang.
“Sudah, makan sana! Kamu tuh pikirannya cuma makan saja!” ujarku sambil mendecak.
Steve terkekeh sambil garuk-garuk kepala belakangnya. Waktu mas-mas yang pakai baju salah satu partai politik itu menyerahkan semangkok bakso, Steve beneran makan baksonya dengan lahap. Sambil menahan panas karena dia makan dengan beringas.
Astaga!
Aku memandang ke jalan lalu mengaduk es jeruk yang rasanya asam manis menyegarkan apalagi esnya banyak sekali. Butiran halus yang ada di dasar gelas adalah gula pasir yang belum larut. Makanya harus diaduk supaya manisnya bertambah.
Merasakan kesegaran es jeruk yang masuk ke tenggorokan bikin aku puas. Rasa pedas yang menyiksa mulut pun sedikit terobati.
“Kita tunggu saja sampai macet kayak kemarin,” kata Steve saat mulutnya masih penuh.
“Lah kapan macetnya?” Jalanan jelas-jelas lengang kok menunggu macet. Macet darimana coba.
“Ya udah, kita cari penginapan disini,” ujar Steve membuatku geleng-geleng karena aku ingin masalah ini selesai sekarang juga.
Aku mendecak bikin Steve cekikikan. Kayak nggak ngerti isi otaknya dia aja. Selalu ada kesempatan dalam kesempitan. Nggak tahu kenapa kegilaan Steve seperti mandarah daging. Sekalinya serius eh malah alter egonya yang muncul.
***
Setelah menikmati bakso yang enak sekali. Yang bikin aku pengen suatu saat balik lagi ke tempat itu. Aku dan Steve mencoba kembali melewati jalanan yang sama.
Tapi kemacetan kayak menghilang dari jalanan ini. Bener-bener lancar kayak jalan tol. Bikin aku menarik napas dalam-dalam.
Tapi tetap saja kami ambil jalur ke kiri sambil berharap kembali bertemu dengan keluarga hantu itu.
Sayangnya lagi-lagi 30 menit kemudian kami kembali ketemu pertigaan. Bikin aku minta Steve buat balik lagi, kali ini ambil jalur yang agak jauh sambil berharap muncul sebuah kemacetan biar ada bapak-bapak yang mengarahkan kami ke kiri.
Angin malam sangat dingin sampai menembus kulit. Aku mengeratkan pelukan di pinggang Steve untuk menghangatkan badan. Steve menyetir agak pelan untuk membunuh waktu.
Aku sudah mengantuk parah dan kalau ternyata masih juga belum ketemu sama keluarga hantu itu, kami terpaksa harus menginap semalam.
Saat sudah dekat dengan jalan ke kiri itu, aku merasa kalau kami beneran nggak bakal ketemu jalur misterius itu.
Tapi ternyata aku salah. Meskipun sebenarnya jalanan masih sangat lengang sampai-sampai berasa ini jalur pribadi, tapi ada bapak-bapak bawa bendera oranye yang mengarahkan motor kami ke kiri.
Sontak Steve langsung membelok ke kiri sesuai petunjuk bapak itu.
Dari spion aku melihat ke belakang dan bapak-bapak itu berdiri memandang kami dengan bibir tersenyum. Aku sadar kalau orang itu bukan manusia sejati melainkan hantu penasaran. Aku melihatnya lagi dari spion dan ternyata aku benar. Orang itu sudah menghilang padahal baru meleng beberapa detik saja.
Perjalanan jauh sekali lagi kualami meskipun sekarang kondisinya berbeda. Hawa dingin beneran bikin kulitku meremang. Aku mempererat pelukan seakan pengen menyatu dengannya.
Aku mengamati pepohonan yang ada. Hanya pohon jati yang tampak karena terkena sinar lampu. Selain itu hanyalah gelap gulita.
Aku membuka tas dan mengambil kompas untuk melihat apakah dia adalah hantu terakhir. Bisa saja kalau hantu terakhir itu sekeluarga kan.
Tapi kenyataan kalau jarum kompas diam nggak bergerak bikin aku kecewa. Padahal kupikir kalau mereka adalah hantu yang sedang kucari.
Aku kembali memasukkan jarum saat tiba-tiba ada perempuan pakai baju putih menghadang jalan bersama anak kecil cowok yang ia tuntun. Bikin Steve berhenti mendadak.
Tiba-tiba perempuan itu tersenyum dengan wajah ditutupi tangan agak matanya nggak silau. Awalnya kupikir begitu tapi waktu dia mendekat, tangannya diturunkan dan ternyata mukanya sudah rusak.
Alamak, aku kaget setengah mati. Bahkan meskipun bisa melihat hantu tapi melihat hantu-hantu macam ini bisa bikin jantungan juga.
Tapi bukan Bunga kalau melarikan diri hanya gara-gara melihat hantu yang suka menggoda manusia. Sebaliknya, aku langsung turun dari motor yang tadi mengerem mendadak gara-gara hantu ibu dan anak yang main nyerobot jalan orang.
“Woy, kamu ngapain!” seruku sambil mengejar hantu yang kakinya nggak napak aspal.
Hantu itu tahu-tahu pergi setelah bikin aku kaget dengan mukanya yang rusak. Aku nggak bisa tinggal diam. Aku melihat mereka menjauh hingga akhirnya jatuh ke jurang.
Meskipun aku nggak bakal masuk jurang, tapi aku segera mengikutinya sampai tepi jurang. Melongok ke bawah tapi nggak ada apapun selain kegelapan.
Waktu aku berdiri tegak dan mau memutar badan, tiba-tiba aku melihat bapak-bapak yang tadi mengarahkan untuk belok kiri. Memakai Tshirt coklat garis-garis merah, ia memamerkan senyum gak jelas yang bikin aku terheran-heran.