Aku nggak tahu hewan atau makhluk apa yang bikin penasaran itu karena suara itu akhirnya menghilang begitu saja waktu aku menyadari keberadaannya. Antara dia membelok atau karena takut denganku, walau nggak yakin juga dia takut sama aku yang terlihat feminim dan lemah lembut.
Berjalan terus menyusuri sungai sambil sesekali berteriak memanggil nama lima anak itu, aku merasakan hawa yang perlahan mulai berubah. Perasaanku jadi nggak enak sebab hari sudah mulai senja.
“Sebaiknya kita kembali,” ujar Pak Trisno sambil putar balik.
Semua orang menurut tanpa protes karena siapa yang berani mewalan ketua tim yang memiliki badan gempal. Meski perutnya agak buncit tapi lengannya berotot dan aku yakin masih bisa bikin klenger kalau dia menyerang dengan bogem mentah.
Semua orang berjalan di belaka