“Kamu!” seru hantu cewek berpakaian lusuh yang mukanya kotor dan matanya putih dengan titik hitam kecil di tengahnya, memandangku dengan begitu marah tanpa sebab yang jelas.
Aku mau pura-pura nggak melihat, tapi sudah terlanjur ketahuan sebab tadi aku dan dia sempat bertatap muka. Walau begitu, aku tetap melengos dan dia lagi-lagi berdiri di depanku sambil tersenyum. Aku melengos lagi dan dia tahu-tahu sudah di depanku.
“Nggak usah pura-pura. Aku tahu kamu bisa melihat aku,” ucapnya sambil meringis untuk memamerkan gigi-giginya yang runcing dan hitam semua.
“Ya sudah kalau begitu. Memang kenapa kalau aku bisa melihat kamu?” tanyaku setengah menantang.
Kalau dikira aku melakukannya karena takut, jelas dia keliru. Satu-satunya hal kenapa aku pura-pura nggak bisa melihatnya adalah biar ak