Sumpah perasaan ini bikin aku nggak nyaman sampai pikiran kemana-mana. Aku sempat berpikir kalau yang masuk rumah adalah seorang pembunuh berantai yang akan menjadikanku korban pembunuhan lalu dimutilasi.
Astaga, sepertinya aku kebanyakan nonton film pembunuhan.
“Steve, kamu jangan ngagetin dong!” seruku waktu tahu ternyata yang masuk rumah adalah Steve.
Steve melihatku dengan dua alis terangkat, terlihat keheranan melihatku sekaget ini. “Kamu kenapa, Hon?” tanyanya sambil lalu.
Aku mengikutinya melangkah sampai dapur lalu duduk di kursi. Memperhatikan Steve yang mengambil piring di rak lalu meletakkannya di atas meja.
“Nggak papa. Kayaknya aku kebanyakan nonton film,” ungkapku bikin dia menatapku dengan mata sedikit menyipit.
“Habis gimana lagi, pemainnya cakep-cakep jadi nggak bis