Ketika kami sampai di depan sebuah rumah bergaya sederhana dengan cat dindingnya yang berwarna keunguan dan putih, Bapak Sarjimin nggak langsung masuk ke dalam rumah dan menemui sang pemilik seperti saat berkunjung ke rumah Bapak Mamat tadi. Karena ketika Bapak Sarjimin baru saja meletakkan helmnya di atas spion, suara telpon yang nyaring mengusik ketenangan kami bertiga.
Kedua alis pria yang usianya telah hampir mencapai setengah abad itu berkerut, lalu kemudian ia mendongak dan menatapku bingung. “Dari Ibu, Mbak.”
“Ibu Sari?” Pertanyaan yang seharusnya nggak perlu dijawab, pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku. Dasar.
Bapak Sarjimin mengangguk. “Ini saya angkat dulu ya.” Dan tanpa menungguku memberi respons, pria itu sudah lebih dahulu menekan symbol terima di layar dan mene