Selain menunjukkan ruangan dapur kepada kami, Pak Bambang juga mengajak kami pergi berkeliling sampai akhirnya kami kembali ke ruangannya. Aku dan Peter duduk bersebelahan, sementara Pak Bambang duduk di seberang kami.
“Silakan diminum dulu. Santai saja di sini, anggap saja rumah sendiri ya,” candanya, kemudian meraih cangkir berisi teh lemon di meja dan mengangkatnya. “Ini minuman kesukaan saya dan Agus bikinnya enak. Ayo, silakan dicoba.”
Peter tersenyum sopan dan mengangguk patuh. “Terima kasih. Pak.”
Baru kemudian, aku mengikutinya.
“Jadi …,” Pria dengan matanya yang sipit khas keturunan China-Indonesia itu pun meletakkan kembali gelasnya ke atas meja.
“Apakah penampakan itu benar-benar ada di sini?” tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
Peter lantas menyele