Pak Bambang bersuara lagi. “Apa kita mau ke dapurnya saja?”
“Boleh, Pak,” jawab Peter. Namun sebelum kami melanjutkan perjalanan, Peter justru menyadari gerakan badan Mas Agus yang terlihat nggak nyaman di sana.
“Mas Agus, kenapa?” Peter menepuk pelan Pundak lelaki itu.
Dia tersentak lagi. “Hah? Oh, enggak, Mas. Hehe, saya cuma kedinginan aja. Nggak biasa keluar malam begini soalnya,” kilahnya.
“Maaf ya saya buat kamu jadi melembur ekstra malam ini,” tukas Pak Bambang merasa bersalah.
“Nanti saya tambahkan uang lembur kamu, ya.” Pak Bambang menepuk Pundak Mas Agus sambil tersenyum.
“Nggak apa-apa, Pak,” katanya.
Namun aku nggak terlalu menggubrisnya dan memilih untuk pergi ke dapur terlebih dahulu, sementara para pria itu mengikutiku dari belakang. Mataku langsung berpendar ke sek