Aku kembali ke tempat dimana orang-orang yang terhipnotis mengumpulkan uang ke sebuah rumah tua dimana seorang dukun dan hacker bekerja sama.
Aku, Ki Mengkis dan Peter harus bisa mengungkap kasus itu sebelum semakin banyak memakan korban.
“Aku sudah hubungi POLIKHUSTRAL. Mereka akan tiba sekitar tiga jam lagi,” ujar Peter membuatku mendelik.
“Harus selama itukah?” tanyaku heran.
“Aku juga nggak tahu kenapa hari ini mereka mendapatkan banyak sekal kasus,” ujar Peter membuatku tepok jidat.
Jumlah POLIKHUSTRAL memang tak banyak jadi mereka harus bekerja keras dalam menangani kasus yang berhubungan dengan keghoiban dan supranatural. Jadi sangat wajar kalau mereka mempercayakan tugas-tugas ini kepada anggotanya. Mereka datang untuk membersihkan kekacauan dan membuat alibi supaya kasus bisa menjadi masuk akal bagi orang awam yang tak mengerti dunia seperti ini.
Waktu menunjuk angka satu malam saat kami tiba. Mobil harus disembunyikan agak jauh supaya ngga ketahuan.
Berjalan dalam kegelapan masih diterangi oleh cahaya bulan purnama. Banyak sekali hantu berdatangan seakan minta tolong untuk dibantu.
“Kenapa polisi sampai nggak tahu?” Aku merasa heran aja. Ini kasus besar tapi nggak ada satu orang pun yang melaporkan masalah ini.
“Aku yakin sawah dan kebun seluas ini milik mereka. Masuk akal kalau nggak ada orang yang datang. Paling mentok orang lewat itu juga kalau nekat,” jawab Ki Mengkis.
Aku mengangguk mengerti. Dengan uang sebanyak itu, jangankan sawah dan kebun, gunung pun pasti bisa dibeli.
Tiba-tiba Ki Mengkis menahan langkah kami dan menyuruh kami untuk bersembunyi di kebun pisang. Membuatku bertemu si pocong yang berdiri di sampingku. Mengembuskan bau busuk dari mulutnya yang rusak.
Astaga, hal pertama yang membuatku muak dengan urusan ini adalah soal bau. Kemarin bau mayat, sekarang bau pocong. Nanti bau apalagi?
“Pergi sebelum kutendang lagi pantatmu,” bisikku pada pocong yang akhirnya menutup mulutnya.
Pasti nggak mengira kalau aku berani mengancamnya. Ya kali kalau aku cewek biasa. Aku nih murid Ki Mengkis yang cantik, baik hati, tidak sombong dan pandai menabung. Meskipun aku enggan melihat mukanya yang hancur, bukan berarti aku takut kepadanya.
“Ssst, jangan berisik. Abaikan saja dia,” ujar Ki Mengkis yang membuatku mengunci rapat mulutku.
Gantian pocong yang tertawa lebar hingga mengembuskan asap berbau busuk dari mulutnya.
Karena nggak tahan dengan bau mulutnya yang 1000X lebih bau dari jigong manusia normal, aku segera mengeluarkan ajian bola api kuning seukuran kelereng lalu kulempar ke mulutnya.
Pocong pun roboh lalu menghilang.
“Kamu sinting, Bunga!” ujar Peter karena tindakanku tadi malah membuat orang-orang yang membuat kami sembunyi kini menyorot kami dengan senternya.
“Siapa kalian?” tanya satu diantara empat orang itu.
“Kami sedang nyari … nomer togel,” jawab Ki Mengkis sekenanya.
“DIa bule,” ujar pria lainnya.
“Apa bule nggak boleh nyari nomer togel?” tanyaku heran. Duh kurang jauh mainnya kalian, Pak.
Ke empat orang itu saling berpandangan membuat aku, Ki Mengkis dan Peter ikut saling berpandangan sambil berharap mereka percaya omonganku.
“Nggak mungkin,” ujar salah satu dari empat pria itu.
Wah, ternyata omonganku nggak dipercaya nih. Aku harus siaga dengan apapun yang akan terjadi dan benar saja. Mereka berempat langsung berlari mendekat dan menahan tangan kami.
Peter menendang kaki orang yang ada di depannya lalu menarik tubuh orang yang sedang menahan kedua tangannya di belakang.
Ki Mengkis membenturkan kepala orang yang menahan tangannya lalu memukul mukanya.
Peter menarik orang yang sedang menahan tanganku dan menghajarnya. Aku menendang orang yang akan menghajar Peter.
Bertiga melawan empat orang bukan masalah yang sulit. Nggak butuh waktu lama, mereka langsung menyerah karena tak sadarkan diri.
Kami berlari meninggalkan empat orang itu menuju rumah yang sangat tertutup. Ada sebuah lampu neon yang ada di teras. Ada dua orang yang duduk di kursi yang terbuat dari kayu.
Melihat kedatangan kami, mereka langsung berdiri dan bergegas mendekati kami sambil membawa tongkat yang siap digunakan untuk memukul.
Dua orang itu pun dengan gampang dibekuk oleh Peter. Ki Mengkis dan aku hanya berdiri sambil melihat perkelahian mereka.
Setelah dua orang itu pingsan di tangan Peter, aku segera membuka pintu dan yang kulihat hanyalah sebuah ruangan kosong dengan seorang dukun yang sedang melakukan ritual dengan kemenyan di hadapannya dan bunga tujuh rupa yang kini sedang ditabur di atasnya.
“Siapa kalian main ikut campur urusan kami!” serunya.
Dukun itu memiliki wajah bulat dengan kumis tebal yang penuh dengan uban. Sesekali kumisnya bergerak-gerak yang bikin aku meringis.
“Dimana orang-orang itu?” tanya Ki Mengkis yang membuat wajah pria itu melotot dengan wajah yang kaku.
“Apa maksudmu?” tanyanya sok nggak tahu apa-apa.
“Jangan sok nggak tahu. Semalam aku melihat semuanya,” kataku yang mengalihkan pandangannya.
“Tolong. Tolong aku!” Suara minta tolong dari Daniar membuatku langsung memandang ke sumber suara.
Nggak pake ijin aku langsung mencari Daniar. Meskipun ia adalah hantu, tapi saat ini dialah yang bisa membantu. Tapi pada waktu aku membuka pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang setelahnya, ternyata ada sebuah tangga menuju bawah tanah.
Suara Daniar ada di bawah tangga itu. Waktu aku mau turun, dua orang tiba-tiba muncul dan mendorongku keluar.
“Ki, ada tangga disitu,” ujarku sambil menunjuk tangga.
Ki Mengkis langsung mendekatiku tapi tiba-tiba badannya terhempas ke belakang hingga keluar dari rumah.
Dukun itu membuat sebuah ajian lalu menggerakkan tangannya. Membuat Ki Mengkis terangkat dan melayang-layang di udara. Tapi nggak lama kemudian tubuh Ki Mengkis terhempas jatuh ke lantai yang dingin.
Peter menyerang dukun itu sementara aku langsung menyerang dua orang yang menahanku. Menggunakan tehnik silat yang sudah diajarkan padaku sejak lama.
Melawan menusia berbeda dengan melawan hantu. Aku bisa melawan hantu dengan kekuatan yang kupunya, tapi sayangnya kekuatan itu hanya bisa digunakan kepada hantu dan bukan kepada manusia.
Aku menendang satu orang yang ada di depanku dengan sangat kuat hingga ia terjatuh berguling-guling di tangga. Seorang lagi hendak menghajarku namun aku mengangkat tubuhnya dan membantingnya dengan keras ke arah tangga, membuatnya jatuh hingga mendarat di atas temannya yang masih belum bisa bangun.
Peter langsung melewatiku untuk mendekati dua orang yang masih telentang menahan rasa sakit setelah kena jurusku.
Peter menarik kerah baju orang yang paling atas tapi kemudian menjatuhkannya lagi saat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
Aku pun langsung turun untuk melihat apa yang sedang terjadi.
“Wuih, gile bener!” seruku waktu melihat ada puluhan orang yang sedang membuka tas mereka. Duduk di bangku yang berjajar seperti anak sekolah.
Semuanya tampak sama. Pucat dengan rambut putih karena kena debu. Berjalan pelan mendekati kami.
“Peter kenapa mereka?” tanyaku heran.