Di ruangan bawah tanah terdapat sebuah tempat yang mirip sama kantor. Ada bilik-bilik dengan petugas yang menghadap laptop. Di hadapan mereka terdapat kursi yang diduduki orang-orang yang membawa tas besar. Ada perempuan memakai baju merah yang kemarin siang kami buntuti. Dia membawa sebuah tote bag yang berisi tumpukan duit ratusan ribu.
Total biliknya ada lima belas dan semuanya terisi seorang pegawai dan satu lagi yang membawa uang. Tapi semuanya sama-sama seperti zombie. Hanya saja waktu melihat kami, mereka nggak menyerang apalagi gigit leher untuk minum darah.
Perlahan aku melangkah namun tiba-tiba ada dua orang yang menodongkan senjata laras panjang tepat di dahiku dan dahi Peter. Spontan aku angkat tangan sambil berjalan mundur hingga naik tangga.
Dua orang itu memakai kaos hitam, celana panjang hitam, sepatu hitam dan jaket hitam. Juga memakai topeng badut tapi nggak pakai hidung merah dan nggak punya rambut warna-warni keriting khas badut.
Aku mengeluarkan ajian untuk membuat bola api di tangan. Perlahan membesar mengikuti langkah mundur menaiki tangga. Hingga akhirnya….
“Rasain lo!” ujarku sambil melemparkan bola api itu tepat di lehernya.
Sontak orang itu mengaduh sambil menyentuh leher yang kuserang. Luka bakar serius tampak jelas di lehernya.
Ternyata Peter juga melakukan hal yang sama, hanya saja tiba-tiba ia tersandung hingga akhirnya ia jatuh berguling-guling dan mendarat di atas badan orang yang ia serang.
“Untung ada landasan, kalau nggak tepos pantatku yang keren ini!” ujarnya yang membuatku langsung paham kalau yang menguasai tubuh suamiku adalah Steve.
Steve langsung membuka tangan sambil tersenyum senang. Bikin aku langsung masuk ke pelukannya yang hangat dan rinduku padanya pun terobati.
“Lama nggak jumpa, Hon. Gara-gara Peter sok keren itu selalu merasa kalau dia lagi ada misi penting. Baru juga dua kali ini. Aku juga bisa kaliii,” protesnya membuatku tertawa.
“Steve, Honey-ku!” Aku menjinjit biar bisa mencium bibirnya yang lembut. Menikmati sentuhannya yang hangat dan memabukkan bikin badanku pengen di mantap-mantap.
Aih, kalau ketemu Steve pasti otaknya jadi gesrek deh.
“Kalian ini sintig atau stress. Kita bukan lagi di hotel ini!” seru Ki Mengkis yang turun dengan sangat menyedihkan.
Aku dan Steve sontak tertawa, meski tawaku nggak lama kemudian hilang waktu melihat Ki Mengkis yang tangannya terluka hingga darahnya banyak yang keluar.
“Ki, kamu nggak papa?” tanyaku heran.
Aku langsung mendekatinya untuk melihat kondisi tangannya yang sobek sekitar 10 CM.
“Aku nggak papa, kamu tenang saja,” ujar Ki Mengkis meskipun aku tahu dia pasti sangat kesakitan.
Waktu perhatianku nggak lagi pada Ki Mengkis, aku baru menyadari kalau ternyata kami bertiga entah sejak kapan sudah jadi pusat perhatian.
“Ehm, sebenarnya mereka sudah ngumpul disini sejak kita berciuman, Hon. Aku ingin bilang tapi karena kamu menciumku seganas itu dan mereka juga diem aja lihatin kita ciuman. Ya udah, lanjut deh!” ujar Steve yang bikin aku tepok jidat.
“Steve, serius dikit napa!” Salahku sendiri yang terbawa suasana padahal kami sedang bertugas di sebuah tempat yang harusnya masih berbahaya.
“Tenang saja! Aku bisa mengurus orang-orang ini,” ujar Ki Mengkis sambil melangkah mendekat.
Orang-orang yang melihat tanpa ekspresi itu malah melangkah mundur waktu Ki Mengkis mendekat. Membuat Ki Mengkis dengan mudah mengobati orang yang berdiri paling dekat dengannya.
Sebuah ajian dibaca pelan lalu Ki Mengkis menempelkan telapak tangannya ke orang itu. Nggak lama kemudian, orang itu terjatuh lalu menggelepar seperti lele yang jatuh ke lantai. Hingga akhirnya orang itu terdiam, kaku lalu perlahan melemas dan mata yang tampak kosong pun akhirnya bercahaya.
“Dimana aku?” tanyanya sambil berusaha berdiri. Badannya gemetar hebat, memandang ke sekeliling sambil mengusap tengkuknya.
Aku segera mendekati orang itu dan menuntunnya mendekati tangga. “Silakan duduk! Nanti akan saya jelaskan kenapa anda ada disini. Sekarang lebih baik anda menenangkan diri,” ujarku waktu melihat tubuhnya masih gemetar hebat.
Ki Mengkis melakukan hal yang sama kepada orang-orang yang masih saja berdiri tanpa ekspresi macam robot. Satu-persatu mereka sadar dan kukumpulkan di dekat tangga. Hingga tiba-tiba mata orang-orang yang tadinya nggak bercahaya malah berubah putih semua.
“KI!” seruku waktu menyadari ada yang janggal.
Ki Mengkis pun juga merasakan hal itu. Yang tadinya sedang mengobati ibu-ibu yang berbaju merah itu sekarang malah mundur karena ibu-ibu itu melangkah maju dengan dua tangan siap mencekik leher Ki Mengkis.
“Bawa orang-orang yang selamat keluar dari sini!” seru Ki Mengkis.
Aku memutar badan, tapi rupanya ada orang yang sedang berdiri dengan membawa laptop. Orang itu memakai baju serba hitam seperti dua orang yang masih tergeletak tak sadarkan diri.
Orang-orang yang tadinya sudah sembuh pun tiba-tiba matanya ikut menjadi putih. Mereka berjalan kaku dan seperti robot, melewatiku begitu saja padahal aku sudah bersiap melakukan perlawanan kalau diperlukan.
Mereka mendekati Ki Mengkis dan mengerubunginya.
Di luar dugaan, di belakang orang itu terdapat hantu anak kecil yang cuma pake pempes. Badannya kurus kering, seperti tulang terbungkus kulit. Seluruh kulitnya putih pucat bahkan bibirnya juga putih pucat. Ada lingkaran hitam mengelilingi matanya.
“Tuyul!” gumamku yang malah membuat tuyul itu meringis seakan senang karena ada yang menyadari keberadaannya.
Gigi-gigi tuyul yang awalnya biasa tiba-tiba jadi runcing semua. Ia berteriak dengan suara yang sangat menyakitkan. Aku sampai harus menutup kuping saking nggak enak suaranya.
Satu persatu tuyul sepertinya mendadak muncul. Satu, dua, tiga dan terus bertambah. Mereka semua tertawa terbahak-bahak seperti ada yang lucu saja.
Membuat kupingku semakin sakit akibat suara yang terlalu kuat menyerangku. Aku sampai jatuh terduduk saking sakitnya.
Steve jongkok di dekatku dengan dua tangan memegang pundakku. “Bentar, Hon. Biar aku beresin mereka!” ujarnya lalu bangkit dan membuat sebuah ajian yang bikin kedua tangannya menyala lalu mengeluarkan bola api merah dari kedua tangannya.
Sebuah serangan dilayangkan Steve ke laki-laki yang memakai topeng wajah putih dengan kumis tipis di atas bibirnya. Tapi diluar dugaan, serangan itu malah diserap oleh laki-laki yang memakai jaket bertudung itu.
Steve menghentikan serangannya tapi kedua tangannya masih mengeluarkan cahaya merah yang menyala seperti bara api.
Tuyul-tuyul nggak tahu diri itu mendekatiku dan mengerubungiku. Tertawa sambil menari mengelilingiku bikin aku kesal dan muak. Nih kalau bisa mengeluarkan api dari mulutku, udah kusembur mereka biar kepalanya yang botak jadi tumbuh rambut.
Aku melihat Steve yang masih bertarung sama laki-laki nggak tahu diri itu. Sementara Ki Mengkis dikerubungi orang-orang yang sekarang malah menyerang Ki Mengkis.
Ki Mengkis membaca ajian dan menempelkan tangannya ke kepala orang-orang itu. Satu persatu orang-orang itu jatuh nggak sadarkan diri setelah mendapat pengobatan dari Ki Mengkis.
Aku berusaha berdiri tapi suara nggak enak itu benar-benar bikin aku nggak bisa ngapa-ngapain selain menutup kuping kuat-kuat.
“Hon, are you OK?” tanya Steve yang bikin aku mengangkat jempol, meskipun sebenarnya kupingku masih sakit banget.
Aku bahkan nggak tahu apakah Ki Mengkis berhasil menyadarkan orang-orang itu. Apakah orang yang sedang bertarung dengan Steve sudah kalah. Baru kali ini aku nggak berdaya melawan bocil-bocil tuyul tak tahu diri.
Aku mengangguk pelan dengan mata tertutup rapat. Tapi nggak lama kemudian, telingaku yang sakit tiba-tiba ilang begitu saja secara Ajaib. Aku langsung melepaskan tangan dari telinga dan mataku terbuka lebar.
Tuyul-tuyul itu sudah nggak ada dan aku nggak tahu bagaimana Steve membuat mereka pergi dari sini.
Steve membantuku berdiri dan menahan tubuhku yang masih lemas. Sepertinya efek menahan sakit tadi.
Orang-orang yang merupakan korban, baik yang menjadi pegawai maupun yang membawa uang kini telah sadar dan bingung apa yang terjadi dengan mereka.
Dan apa yang terjadi kemudian membuatku ingat sama film-film yang pernah kutonton.
Puluhan POLIKHUSTRAL masuk dengan memakai baju anti serangan yang bentuknya seperti rompi kawat. Mereka kira lagi berhadapan dengan zombie beneran kali. Padahal masalah sudah diatasi oleh kami.
CHASING GHOST