Staycation. Aku nggak tahu sejak kapan bahasa ini jadi terkenal banget. Maklum hari-hari kuhabiskan untuk memburu hantu atau kalau nggak ya beres-beres rumah. Tinggal dengan tiga laki-laki memberiku banyak sekali pekerjaan sampai aku lupa kapan terakhir liburan.
Steve mengajak staycation berdua saja. Nginep di hotel berbintang lima dengan fasilitas mewah. Tentu saja itu menyenangkan walaupun kata Steve staycation artinya kita nggak akan kemana-mana. Cuma menikmati liburan di hotel.
Wes rapopo daripada cuma di rumah aja berteman sama hantu-hantu yang ada di kuburan.
“Bunga, aku senang sekali akhirnya bisa pergi berduaan sama kamu….” Steve memelukku erat, membuatku tertawa sambil geleng-geleng.
Aku sendiri sampai lupa kapan terakhir bertemu Steve. Karena Peter lebih sering menguasai tubuh itu sejak kami membuka layanan berburu hantu di pinggiran Surabaya.
Perjalanan ini akan sangat menyenangkan sebab kami bawa mobil menuju tempat itu. Berada di sebuah pulau yang nggak jauh dari pulau yang dimiliki ghost hunter.
“Aku bawa sabun busa beraroma mawar yang kamu suka, Bunga. Nanti kita mandi bersama ya. Aku gosok punggungmu, kamu gosok punggungku,” kata Steve yang akhirnya memacu mobil.
Steve membawa mobil dengan sangat lambat, bahkan bisa saingan sama pesepeda pancal. Ini luar biasa, sebab saat Peter menyetir, laju kendaraan bisa lebih cepat daripada harimau yang lagi lari.
Aku mendesah sambil geleng-geleng kepala. Apalagi Steve nggak fokus sama jalanan. Tangannya berada di pahaku, mengelusny dari lutut sampai pangkal paha.
“Steve, pliss deh. Ntar aja napa,” seruku. Kalau begini terus, bisa-bisa staycationnya pindah ke hotel di Surabaya nih.
“Incip dikit aja, Hon. Pemanasanlah,” ujarnya sambil terkikik bikin aku melirik tajam padanya.
Aku menepis tangannya yang sudah kembali ke kakiku bahkan meremasnya karena gemas. Kalo nggak ada kangen, kalo ada duh baru inget kalau Steve seomes ini.
“Perjalanan kita masih sebelas jam lagi!” Bahkan bisa jadi dua puluh empat jam kalau mobilnya selambat ini. Aku yakin dua hari lagi baru sampai kalau kita mampir hotel.
Steve tertawa kegirangan, bikin aku mencubit pipinya karena gemas. “Cium bibir dong, kok cubit pipi sih,” godanya bikin aku memukul lengannya.
Seperti yang kuduga, perjalanan yang bisa ditempuh sebelas jam menjadi sangat ngaret karena Steve mengendarai mobilnya lebih lambat dari siput. Ini saja masih baru setengah perjalanan. Tapi Steve sudah kelelahan jadi kami harus menginap di hotel.
Seperti yang kuduga, nggak mungkin bisa istirahat kalau sudah masuk kamar. Apalagi Steve itu otaknya gesrek, pikirannya cuma itu-itu mulu.
“Duh, Steve, katanya capek. Gimana sih,” seruku waktu dia mulai melepas pakaianku.
“Nggak ada capek kalau urusan begini, Hon. Ayo-ayo, uda nggak tahan nih!” serunya sambil melepas T-shirtnya.
Aku hanya bisa memutar bola mata dan menerima semua yang ia lakukan padaku dan kalau aku melayani Steve artinya aku harus melayani Peter. Karena aku nggak tahu kenapa kalau mantab-mantab keduanya bisa kompak minta jatah.
Duh badanku berasa rontok. Kalau begini terus tulangku apa kabar?
***
Aku menikmati berendam air hangat untuk melemaskan badan yang kaku setelah pagi tadi kembali harus melayani mereka berdua. Pintu kamar mandi sengaja kukunci biar otak Steve nggak kemana-mana.“Hon, aku kebelet nih. Nggak tahan, buka dong!” rajuknya bikin aku mendecak.
Masa bodohlah, mau kebelet nganu kek, kebelet pips kek, kebelet e*k kek, aku ngga mau tahu.
Aku menyabuni badan dengan busa yang harum dan bikin kulitku lembut. Berasa seperti bintang iklan sabun mandi khusus perempuan berkulit coklat ini.
Aku baru selesai mandi setelah kulitku sudah mengeriput. Mengenakan bathrobe lalu keluar kamar mandi sambil menggosok rambut yang basah dengan handuk.
Begitu di luar kamar mandi, aku mencium bau kotoran yang bikin aku mual pengen muntah. Steve berdiri sambil memegangi pantatnya dengan kedua kaki agak ditekuk.
“Hon, kamu tega banget sih,” serunya sambil berjalan cepat dengan langkah aneh masuk kamar mandi.
“STEVE, JOROK!” seruku.
10 menit kemudian Steve keluar memakai bathrobe sambil membawa celana kotor yang baunya langsung semerbak.
“STEVE, BUANG KE SAMPAH IH!” seruku sambil menutup hidung.
Duh, aku juga lupa kalau Steve itu selalu bikin senewen. Tapi kok ya sempat-sempatnya aku kangenin.
Steve mengambil kresek laundry yang ada di lemari lalu memasukkan celana kotornya.
“Mau kamu bawa kemana?” tanyaku penasaran.
“Mau di dry cleaninglah!” ujarnya dengan muka sok suci.
“Busyet dah. Buang Steve, jangan bikin malu. Astaga!” Aku langsung merebut dan melemparnya ke bak sampah yang ada di dekat pintu.
“Duh, Hon. Kok dibuang! Aku belinya mahal itu. Itu merk asli.” Steve hendak mengambil celananya tapi aku mendorongnya mundur.
“Trus kamu bikin orang mabok gara-gara nyuci celana bekas e’ekmu. Ampun deh, Steve. Kamu nih nggak punya malu ta?” kataku sambil berkacak pinggang.
“Terus aku masak keluar kayak gini,” ujarnya sambil menunjukkan dirinya hanya pake bathrobe.
“Enak dong, adem, semriwing,” godaku sambil cekikikan.
Steve mengangkat satu alisnya dan tiba-tiba melepas tali bathrobe yang bikin jantungku kebat-kebit. Duh tulangku bisa lepas kalau Steve mau hajar aku lagi.
“Ayo keluar! Aku laper nih,” ujarku mumpung tuh dedeknya masih berdiri malu-malu.
“Hon, tega bener kamu. Masak suamimu yang ganteng ini keluar nggak pake celana. Kalau dilirik orang gimana. Duh, juniorku teriak pengen masuk nih,” ucapnya nggak nyambung banget antara bahas malu dan junior yang minta masuk.
Alamak. Nih orang emang nggak ada puasnya ya. Udah dikasih ati kok minta brutu (pantatnya ayam).
Aku langsung keluar dari kamar gitu aja, ngacir kayak orang abis mencuri telor. Daripada dikerjai dua orang yang suka banget bikin aku nggak berdaya.
Sialnya, sampe depan aku ketemu sama noni-noni Belanda yang cakep banget. Kenapa aku tahu dia noni-noni? Karena dia memakai baju khas negeri kincir angin itu.
“Goedemorgen,” sapanya bikin alisku naik satu. Dia cantik sekali, kulitnya putih kemerahan khas bule. Matanya biru dan rambutnya kuning keemasan. Apalagi senyumnya aduhai, indah sekali.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi memang hanya ada aku jadi pasti dia menyapaku.
“Halo, maaf saya nggak bisa bahasa Belanda,” ujarku sambil mengangkat kedua tangan.
“Oh, sorry. Can you speak in English?” tanyanya.
“Little-little lah,” jawabku.
Dia tersenyum lagi sambil mengangguk, bikin aku merasa senang karena ketemu orang asing yang ramah.
Di saat kami saling bertukar senyum, ada hantu noni-noni Belanda muncul di belakang perempuan itu. Matanya menjorok ke dalam, dengan lingkaran hitam mengelilingi bola matanya yang kecil. Kulitnya mengelupas parah di sekujur tubuhnya, bahkan lapisan kulitnya bergerak-gerak karena tertiup angin.
Hantu itu meniupkan asap tipis di bagian tengkuk perempuan itu. Membuat noni-noni itu mengusap tengkuknya. Ada sinar biru kehijauan keluar dari tubuh perempuan itu dan nggak lama kemudian perempuan itu terjatuh nggak sadarkan diri.
“Apa yang sudah kamu lakukan?” tanyaku dengan mata melotot.