Bagi sebagian orang, memiliki kekasih seperti Arjuna adalah surga dunia. Tampan, mapan, punya jabatan ditambah lagi pembawaannya yang romantis, tapi di balik itu semua, Arjuna tetaplah laki-laki pada umumnya.Tidak tahan jika melihat wanita cantik mempesona meskipun dia hanya sales minuman berenergi, seperti sore itu.
Ketika kami berdua selesai bersepeda ria bersama di lapangan Merdeka. Kota Balikpapan."Sarah, kamu lihat nggak cewek-cewek itu?" Arjuna menunjuk ke arah tiga orang wanita muda dengan pakaian super ketat, terlihat asyik bercakap-cakap dengan beberapa pria setengah baya.
"Hm ... kenapa? Teman kamu, Jun?" tanyaku sekilas."Idih, kok kamu nuduh."Beberapa pesan penting terkait jadwal pemotretan produk skin care yang baru saja dilaunching oleh perusahaan papaku, masuk begitu saja silih berganti di ponsel.
Membuat konsentrasiku pecah seketika.Mulai dari bagian make up artis, kostum dan fotografer. Mereka memintaku segera berangkat ke Jakarta untuk melakukan pemotretan bersama produk-produk di katalog.
"Aku harus ke Jakarta, Juna. Besok lusa. Ada pemotretan, kamu nggak apa-apa, kan?" Aku menoleh dan kulihat Arjuna melambaikan tangan pada salah satu gadis yang tadi kami bicarakan.
"Arjuna! Kamu dengerin aku nggak sih?" sentakku yang membuatnya sedikit berjingkat.
"Denger, ya ampun. Sarah, desahan hatimu aja aku tahu, bahkan semilir angin sering membisikkan rindumu yang terlalu kepadaku."Arjuna menangkup kedua pipiku dengan jemari dan mengeratnya sangat gemas. M
ungkin dia takut aku marah jika sampai mendapati dirinya memperhatikan wanita lain, padahal, iya, aku memang kesal.Pacarku itu memang mata keranjang dan aku sudah lelah memberinya ratusan maaf selama satu tahun bersama. Hanya saja, setiap aku meminta berpisah, dia bersumpah akan menjomlo selamanya, tapi mungkin lebih baik, aku benar-benar mencobanya.
Meninggalkan Arjuna untuk memberikan sebuah pelajaran."Sayang, kamu jangan nggak balas pesanku. Jangan nggak aktifin centang biru, aku nggak bisa dibuat khawatir," ucap Arjuna saat mengantarkanku ke bandara Sepinggan, Balikpapan.
"Hm ...." Aku hanya berdeham menjawabnya."Jangan ngelirik cowok lain, apalagi cowok orang. Aku sayang kamu." Arjuna memelukku sangat erat dan hangat seperti biasanya.
"Iya, Arjuna.""Aku nggak suka kamu manggil aku gitu."
"Oke, Beibs."Arjuna mengantarkanku hingga ke pintu menuju ruang tunggu keberangkatan. Wajahnya sangat sendu melepas kepergianku, entah itu pura-pura atau reaksi sesungguhnya, namun aku yakin bahwa laki-laki itu sudah punya cadangan wanita lainnya.
Pagi itu Arjuna menyempatkan mengantarkanku ke bandara meski di sela-sela jam kerja. Jabatannya sebagai direktur keuangan di perusahaan konstruksi berskala besar sebenarnya cukup menggiurkan, namun sayang, kecerdasan Arjuna bukan dalam bidang pekerjaan saja.
Dia juga pandai menyimpan cintanya yang lain, tanpa sepengetahuanku. Celakanya lagi , kota Balikpapan ini tak sebesar Jakarta. Sebagian wanita-wanita muda sepantaran kami pasti saling berhubungan.Sesama alumni sekokah, mantan teman les, teman berkumpul di pantai Melawai atau pernah bertukar mantan.
Aku juga tahu saat ini Arjuna sedang dekat dengan seorang wanita bernama Gendis, yang di ponselnya diberi nama Zainal.Suatu hari, saat kami berenang di sebuah hotel berbintang, kawasan Balikpapan Super Block, Zainal tak henti-hentinya menelpon.
Kebetulan saat itu, aku sedang mengambil minuman, sehingga kujawab saja telpon itu karena berdering berkali-kali.
"Jun ... tanen ...." What the ... sejak kapan Zainal menjadi perempuan!
Ya ampun, ini bukan Zainal tapi Ziarah. Satu-satunya alasanku untuk tetap diam dan bertahan adalah aku mencintai Arjuna. Iya, aku mencintainya meski ternyata itu saja tak cukup untuk hatiku memaafkannya kali ini.