Setibanya di Jakarta, setelah menempuh waktu kurang lebih dua setengah jam, aku memang sengaja tidak langsung menyalakan ponsel.
Kutunda demi bisa memberikan sedikit waktu untuk Arjuna berkencan dengan pacar-pacar lainnya.Dia tak perlu berpura-pura peduli padaku, untuk apa? Kasihan? Sudahlah, aku bukan anak kecil ingusan yang butuh sorot mata mengiba saat menatapku. Aku memang mencintainya dan ini waktu yang tepat mempertegas, apakah dia juga memiliki rasa yang sama terhadapku.
"Ini ponsel sudah lengkap dengan kartunya, Sarah. Kenapa harus membeli ponsel dan nomer baru?" tanya Wulan, Managerku.
Dia yang mengurus kontrak-kontrak kerjaku di Jakarta.Siapa client-ku berikutnya, berapa honor dan kapan jadwal pemotretan dilakukan, Wulan mengetahui itu semua. Oh iya, dia juga mengurus aset-asetku di Jakarta dan kulihat, beberapa kali dia mencoba menggoda Arjuna.
"Lo banyak tanya, ya. Itu jadi tugas lo juga nanya-nanya urusan pribadi gue?"
"Bukan gitu, Sarah. Tadi sepuluh menit yang lalu, Arjuna telpon gue nanyain lo. Gue disuruh infoin dia kalau lo udah sampe."Wulan mengambil alih koper-koperku sambil menelpon supir untuk menjemput kami di terminal kedatangan.
Sedangkan beberapa pria terlihat menatapku dengan sorot mata lapar, atau lebih tepatnya rakus. Untung saja mobil yang menjemput kami berdua tiba tepat waktu, karena kulihat beberapa dari pria-pria itu berjinjit bergerak ke arahku.
Entah untuk meminta berfoto, tanda tangan atau hendak menjambret."Kita langsung ke apartmen. Sarah istirahat dua jam, kemudian lanjut pemotretan untuk iklan kosmetik dan skin care, malam hari ada pertemuan dengan salah satu pihak dari agen perjalanan yang mau endorse buat liburan ke PrahaLalu ...."
"Stop ... stop! Mules gue, kita makan dulu aja yuk."
"Berarti jatah istirahat lo tinggal sejam!"
"Iya ... iya."Sedetik kemudian ponsel Wulan berdering dari Arjuna dan segera dijawab dengan nada yang sangat diatur selembut mungkin.
"Pak Arjun? Oh, iya sudah mendarat. Lagi ...."Aku melambaikan tangan dan menutup wajah dengan bantal.
Isyarat bahwa aku sedang tak ingin berbicara dengan Arjuna, namun pacarku itu memang keras kepala. Kedengarannya dia mengumpat dan marah-marah sampai Wulan harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
Begitulah Arjuna, dia sangat posesif dan egois.Wajah Wulan sudah lemah sehingga membuatku iba melihatnya meringis mendengar sentakan keras dari bibir Arjuna.
"Sini. Biar gue yang ngomong." Aku meraih ponsel Wulan dan menyapa Arjuna.
"Baby, what happen?" tanyaku sambil mengucak mata.
"Sarah, aku akan nyusul kamu pakai penerbangan terakhir malam ini. Tunggu." Arjuna terdengar gusar ketika berbicara di seberang sambungan telpon.
"Arjuna. Kamu apa-apaan sih? Aku kan kerja, bukannya liburan."Wulan mengambil minyak gosok dan mengurut pelipisku.
Dia pasti memahami, jika aku bertengkar dengan Arjuna maka moodku akan memburuk dan sesi pemotretan mungkin tidak akan berjalan dengan baik.Aku harus tersenyum lepas tanpa beban, banyak produk kecantikan berwarna cerah yang harus kupromosikan, juga skin care dengan beberapa rangkaian.
"Sarah, aku sampai nggak makan nasi loh dari tadi. Mikirin kamu aja nih, cuma ngemil roti sama mie instan aja dua bungkus. Kamu kan tahu kalau aku tuh nggak bisa dibikin khawatir."
"Iya, Jun. Maaf. Aku nyalain handphone sekarang ya, bye."Kuserahkan ponsel itu kepada Wulan dengan satu instruksi, agar dia memblokir nomer Arjuna.
Bisa ditebak apa reaksinya, gugup, cemas, takut-takut, tapi aku memaksa. "Sarah, ini client kita ganteng deh. Coba lihat, nih. Mirip artis, namanya Pak Dito. Dia punya villa yang baru saja rampung dan menyewa lo buat bikin promosinya di Youtube.
"Dito ? Nama yang unik."Coba lihat!"
"Belum difoto, kan nunggu deal."
"Ngomongin apa sih kita, Lan?"
"Villanya, toh?"
"Dito-nya! Gue mau lihat."
"Aishh ... nih."Wulan menyodorkan sebuah foto dan ya, namanya Dito Ramadhan. Tampan, muda dan terlihat berkelas. Dia akan memakai jasaku untuk mempromosikan villa baru miliknya.
"Kapan kita ketemu?"
"Pak Dito?"
"Ehem."
"Nanti malam sesudah ketemu pemilik agen perjalanan."Waktu yang kami miliki benar-benar padat, efisien dan teratur. Pemotretan berjalan dengan sempurna dan sejujurnya aku sangat lelah. Bagaimana tidak, ada sekitar sepuluh produk yang harus tampil dalam pemotretan bersamaku."Sarah ... pose!"
Kudengar kata-kata itu puluhan kali dengan lampu blitz berkilat-kilat. Senyum yang terus kupaksakan hingga gigiku rasanya mengering, tapi begitulah profesionalitas tanpa batas. Suka tidak suka, mau tak mau semua itu harus kujalani, lagi pula ini produk perusahaan milik papaku sendiri.
Aku akan meminta bayaran lebih kepadanya.Semua jadwalku sudah diatur saat tiba di Jakarta, sampai-sampai aku memutuskan mengirim asisten Wulan untuk menemui pemilik agen perjalanan untuk bernegosiasi.
"Kita ketemu Pak Dito sekarang," ucap Wulan bergegas meraih ponsel dan menghubungi supir.Dalam keadaan lelah, aku sampai tertidur di dalam mobil sepanjang perjalanan. Sampai pada satu ketika tubuhku terasa diguncang perlahan.
"Sarah, nih minum. Ngunyah permen karet bentar biar mulut lo nggak basi." Wulan langsung cekatan memberikan sebotol air mineral, kemudian permen mint untuk aku kunyah beberapa kali.Dia selalu begitu, setiap kali akan bertemu client, Wulan memastikan penampilanku sempurna.
Tubuh yang wangi dengan napas segar seperti habis menyikat gigi.Wulan juga memeriksa penampilanku saat turun dari mobil dan bersiap untuk masuk ke dalam salah satu restoran di daerah Mangga Dua.
"Pak Dito? Lima menit lagi kami sampai di hadapan Bapak, artisnya ikut jadi konsepnya bisa kita bahas langsung nanti." Wulan berjalan lebih dulu dari pada aku, membuka pintu, memastikan semua aman sebelum aku masuk ke sana.Langkah kami tertahan saat seorang pria kekar bertatto menghentikannya,
"Selamat malam, Mbak Wulan?"
"Saya Wulan." Mereka saling mengkonfirmasi satu sama lain, menurutku ini sedikit berlebihan. Entah sepenting apa orang yang bernama Dito ini, lagaknya sudah seperti orang terkaya di muka bumi saja.Laki-laki itu menyingkir dan membuka jalan untuk kami berdua.
Ternyata satu ruangan VIP telah di booking dan pelayan sudah menunggu di depan pintu geser untuk menyambut kedatangan kami.
"Silahkan," ucapnya sambil menunduk.Saat pintu dibuka, pemandangan di dalamnya membuatku terhenyak. Jika pemilik vila setampan ini, kenapa bukan dia saja yang menjadi artisnya.
"Selamat malam, Pak Dito." Wulan mengulurkan tangan untuk berjabatan, kemudian aku pun melakukan hal yang sama.
"Artisnya?" Dito menunjuk ke arahku.
"Artisnya." Wulan mengkonfirmasi sambil menyentuh lenganku.Kami duduk dalan satu meja bundar yang ukurannya tidak terlalu besar. Kebetulan posisinya Wulan di tengah-tengah antara aku dan Dito.
Kudengar mereka berbasa-basi mengenai konsep yang akan kami sepakati kemudian.
"Cantik sekali." Dito tersenyum simpul, ya ampun dia tampan sekali. Benar-benar pemandangan menyegarkan di malam hari.
"Terima kasih." Wulan tertawa kecil.
"Artisnya yang cantik." Dito menatapku sebentar, kemudian kembali fokus pada layar di Ipad-nya.Sebagai seorang pengusaha muda, Dito sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda mata keranjang. Dia benar-benar seorang yang profesional, serius dan tahu bagaimana menempatkan diri. Seandainya saja Arjuna seperti dia, fokus pada karir juga pekerjaan.
Tapi sayangnya Arjuna-ku sangat genit dan senang memancing pertengkaran. Lebih anehnya lagi selalu curiga bahwa aku memiliki pria lain, padahal berkali-kali dialah yang ketahuan berselingkuh.
"Wanita itu seperti bunga, tahu cara memperlakukan bunga? Jangan kasar atau kelopaknya akan berguguran." Aku terhenyak mendengar kata-kata Dito. Dia sedang menjelaskan alasan mengapa vila barunya memiliki taman bunga dan juga labirin. Dito sangat tahu bahwa wanita akan senang berfoto dan dia menyediakan spot-spot terbaik di vila yang akan kupromosikan.
"Apakah semua laki-laki berpikiran seperti anda, Pak Dito?" tanyaku.Pria tampan berwajah sendu itu mengawang, "Seharusnya."Dalam beberapa detik, kami saling menatap dan melempar senyum. Baiklah, ini sangat mendebarkan.Bersambung ....