Aku dan Dito saling melempar senyum pasca obrolan kami yang absurb. Rasanya aku sangat gegabah mengatakan itu, dan membuatku benar-benar terlihat sangat bodoh.
"Jalan-jalan ke padang pasir, " ujar Dito malah berpantun.
"Cakep ...." sahut pelayan yang sedang mengantarkan minuman. Membuat sebagian pembeli dan Paklek bagian meracik bumbu ikut terbahak.
"Adek bisa aja bikin hati berdesir," sambung Dito.
"Mantep."
Kupukul lengan Dito dengan keras karena rasanya sangat malu tiba-tiba menjadi pusat perhatian, kenapa juga dia harus berpantun.
Duh!
Rasanya wajahku jadi panas saat terdengar sahutan demi sahutan dari para pembeli lain yang justru menyemangati Dito. Cepat-cepat, dia memintaku membayar makanan kami dan mengajak meninggalkan warung tenda itu.
Wajahnya begitu sumringah dan penuh gairah seperti habis menang lotre. Dito mengajakku menuju mobil. Mobilku dan meminta kunci karena hendak menyetir.
"Mau ke mana, sih. Udah malem, lo bawa-bawa anak gadis orang, Dit." Aku mengerucutkan bibir berpura-pura kesal.
"Alhamdulillah, gue ditembak cewek cantik." Dito mengulas senyum menyebalkan.
"Siapa? Kok lo nggak cerita?" tanyaku penasaran.
"Ada tadi tiba-tiba ngajak nikah. Belum gue jawab sih, takut dia khilaf, nunggu diulangi. Kalau dua kali baru yakin. Lagi dong."
"Idih. Bokis nih orang."
Dito mengajakku berputar-putar keliling kota, melihat-lihat banyaknya hilir mudik kendaraan dan orang-orang berpakaian kerja yang sedang menunggu di halte busway.
Sebenarnya aku sudah mulai mengantuk ketika Dito memutar lagu-lagu nostalgia melalui siaran radio. Tembang-tembang lawas seperti gelas-gelas kaca, hatimu hatiku terdengar syahdu mendayu-dayu malam itu.
Mengantuk tapi masih ingin bersama Dito, serba salah. Sampai-sampai akhirnya tak sadar kedua mataku mengatup dan gelap.
Aku tidak tahu sudah berapa lama tertidur sampai-sampai terdengar suara ketukan lumayan keras di kaca. Seorang laki-laki mengenakan jaket kulit warna hitam berambut ikal, menempelkan wajahnya di sana.
Rasanya aku terkejut bukan kepalang apalagi saat menoleh, ternyata Dito juga terlelap menghadap ke kaca sebelah kanan. Disertai suara mendengkur yang lumayan keras.
"Dit! Dito, bangun." Aku mencoba membangunkan Dito dengan menggerakkan tubuhnya tapi tetap saja dia bergeming.
Akhirnya kuberanikan diri membuka pintu sedikit untuk sekedar bertanya apa keperluan laki-laki menyeramkan itu. Takut-takut tapi karena di sekitarnya kulihat banyak warga berlalu-lalang, pikirku cukup berteriak jika terjadi situasi darurat.
"Iya, Bang. Ada apa?" tanyaku ragu-ragu.
"Ini wilayah gue, lo kudu bayar kalau mau skidipapap di mobil. Ce pek, sini!" Laki-laki itu ternyata seorang preman yang sengaja memalak kami berdua, padahal kami tidak melakukan apa-apa di dalam mobil.
Aku tak ingin memperpanjang, jadi kuberikan saja apa yang dia mau agar masalah cepat selesai. Beberapa saat ketika mengambil uang di dalam dompet, dan hendak memberikannya tiba-tiba preman kurang ajar itu menyusupkan kepalanya di sela kaca jendela yang terbuka.
Dia langsung mendaratkan ciuman di pipiku tanpa permisi. Seketika itu juga aku berteriak tak terima dengan tingkah dan ingin memukul balik dengan tanganku sendiri.
Kemarahan itu membuatku tak sadar sehingga membuka pintu dan mengabaikan fakta bahwa kondisiku mungkin sedang dalam bahaya. Benar saja, ketika pintu mobil terbuka, preman itu langsung menarik tanganku dengan kasar.
Membuatku berteriak sekuat tenaga.
"Diam! Di sini daerah kekuasaan gue. Lo mau apa? Minta tolong siapa?" Preman itu mendengus kasar sambil menarikku menuju sebuah gang sempit.
Aku merasa begitu panik sekaligus ketakutan.
Baru beberapa langkah tiba-tiba bahuku rasanya dicekal sangat kuat dan ketika menoleh ternyata Dito. Syukurlah.
"Bang, ini ada apa?" Dito bertanya dengan sopan.
Astaga! Seharusnya dia langsung saja berteriak memaki orang kurang ajar yang telah lancang mencium pipiku ini. Kenapa harus bertanya ada apa. Ya ampun, Dito. Ck!
"Ada apa? Elo yang ada apa?" Preman itu malah balik bertanya.
"Ini ... engh, istri saya lagi hamil muda. Tolong, Bang. Anak pertama soalnya."
Preman itu langsung menghempaskan tanganku dan memicingkan matanya. Antara percaya dan tidak, namun Dito benar-benar bisa mengendalikan keadaan.
Dia meminta uangku sebanyak tiga lembar dan memberikan pada preman itu sebagai tanda pertemanan.
What the ... siapa juga yang mau berteman sama laki-laki kasar dan tak punya sopan santun seperti itu. Kulihat, Dito malah bersalaman dan berkata kapan-kapan akan pergi memancing bersama.
Ada-ada saja.
Cepat-cepat kami pergi dari tempat itu karena saat berbalik, di dekat mobil sudah berdiri orang-orang serupa dengan preman sebelumnya. Hanya saja Dito pamit dengan sopan, sehingga kami bisa lolos tanpa adanya kekerasan.
"Dito, tadi apa?" tanyaku dengan bibir bergetar.
"Lo kenapa malah mau diajak masuk dalam gang sih, Sarah. Teriak, kek." Dito menggerutu.
Aku memukul bahu Dito dengan geram. Bisa-bisanya dia menanyakan hal seperti itu. Siapa yang mau diajak masuk ke dalam gang sama preman menyeramkan pula. Idih!
"Elo tuh tidur udah kayak orang mati suri," geramku.
"Kan gara-gara lo tidur, gue jadi dicium preman, kan!" Aku terus-menerus mengomel.
"Hah! Lo dicium sama preman? Kok lo nggak ngelawan sih. Bisa-bisanya ... ah!"
Akhirnya aku menceritakan tahapan-tahapan sampai preman itu akhirnya mencium pipiku dengan lancang. Rasanya aku jijik dan ingin segara mencuci wajahku. Seharusnya aku membuat laporan ke polisi sebagai tindakan pelecehan.
Kemudian aku juga kesal dengan sikap Dito yang begitu lunak terhadap preman itu, malah bersalaman dan memberikan uang.
"Sarah, nggak semua bisa kita hadapi dengan kekerasan. Apalagi keadaan kayak tadi. Mereka cuma butuh uang dan kita butuh waktu sesegara mungkin untuk pergi dari sana." Dito mencoba menjelaskan dengan retorikanya yang bagus.
"Lo nggak bisa berantem emang?" tanyaku penasaran.
"Satu lawan satu, bisa. Tapi gue berani taruhan, sekali gue gebug, selusin temen-temennya yang lain pasti datang bantuin dan elo? Apa?"
"Ya, gue ... teriak-teriak palingan, minta bantuan."
"Harusnya waktu lo dicium tadi teriaknya, Sarah."
"Dari sekian banyak topik perdebatan, kenapa dari tadi baliknya pada masalah dicium sih, Dit? Cuma di pipi doang juga."
Kami malah bertengkar gara-gara membahas aku yang menurut Dito terlalu pasrah ketika dicium preman. Itu lagi ... itu terus sampai tak sadar, kami tiba di tempat semula.
Daerah seputaran tenda sate, di mana tak jauh dari situ mobil Dito berada. Sebelum turun lagi-lagi Dito menyalahkanku yang tidak melakukan perlawanan apa-apa dan aku juga balik mengatakan bahwa sesungguhnya dia hanya takut berkelahi.
"Kalau gue berkelahi dan orang sampai tahu gara-garanya elo, siapa yang rugi? Lo publik figur, Sar. Lo ngerti, nggak sih?" Dito mulai tersulut emosi.
"Halah ... kenapa juga lo mesti bilang, gue lagi hamil. Bilang aja apa adanya."
"Kalau lo nggak hamil dan lo bakal diseret, diculik, dibawa ke galaksi hitam berisikan roh-roh jahat. Iya, begitu? Dan Arjuna bakal nyalahin gue!"
Kami sama-sama terdiam di titik saat dia menyebut nama Arjuna. Sekilas aku mengingat bahwa jika kejadian ini menimpaku saat bersama Arjuna, mungkin dia langsung akan berkelahi.
Iya, Arjuna memang jarang bisa bernegosiasi karena pada prinsipnya, jika bisa selesai dengan otot, kenapa harus mempersulit cara kerja otak.
"Kok lo bawa-bawa Arjuna sih, ini nggak ada hubungannya sama dia!" sergahku.
"Gue emang nggak ada, tapi elo?"
"Oh gitu. Oke, fix."
Aku berbalik menuju ke mobil dan bersiap untuk pulang. Sekilas kulihat dari kaca spion, Dito berlari kecil menuju ke mobilku.
Tuh, kan. Menyesal.
Dito pasti mau minta maaf, merayu dan berusaha membuat moodku membaik. Jadi, saat dia mengetuk pintu kaca, lebih baik aku pura-pura marah saja.
"Sarah."
"Apa!"
Dito mendekatkan wajahnya. Membuat jantung ini hampir copot saat kurasakan hembusan napasnya di wajah.
"Jadi total uang lo yang gue pake tadi berapa?" bisiknya.
Bahuku langsung merosot. Dasar laki-laki nggak peka!
Bersambung ....