Sejak kejadian di apartemen, aku tak pernah lagi mendengar kabar dari Dito. Dia pergi berpamitan pulang dengan sangat sopan saat Arjuna tak menggubris keberadaannya.
Dito, keheningan yang ia tinggalkan terasa begitu mengerikan. Seolah-olah dia pergi ke dimensi lain dan tak pernah sama sekali membalas pesan-pesan dariku.
Pesan itu dibiarkan centang dua berwarna abu-abu sampai sangat lama. Pernah dua kali aku coba menelpon, namun dia tidak menjawabnya. Sampai akhirnya aku bertanya pada Wulan, adakah sesekali dia bicara dengan Dito.
"Ada, waktu itu. Gue ketemu di Senayan, makan." Wulan sedang membereskan koper-koperku sekembalinya kami dari Praha.
"Hah! Lo ngapaian makan?" Wulan menoleh sambil tersenyum jahat ala-ala ibu tiri.
"Karena gue lapar, lo pikir apa alasannya manusia butuh makan? Iseng?"
Wulan terus saja mondar - mandir merapikan semua kekacauan di apartemenku, padahal aku juga tahu dia lebih lelah karena harus mengurus dan memastikan barang-barang semua aman dan tidak ada yang hilang.
Wulan juga sempat membuatkanku s**u almond hangat sebelum pulang. Memerintahkan agar segera mandi, agar dia bisa sedikit memijit bahuku sebelum pulang.
"Lusa gue booking tiket ke Balikpapan, lo bisa libur empat hari tapi kalau tiba-tiba ada kerjaan, handphone jangan di silent apalagi dimatikan. Nomer gue juga jangan diblock karena urusan kita pasti tentang duit, jelas?" Wulan mengoleskan butter di kulitku saat memijitnya.
"Tapi waktu lo di Senayan makan sendirian apa makan sama Dito sih, Lan. Lo, mata-matain Dito, ya?" Wulan menghentikan sentuhan tangannya.
Tiba-tiba saja dia menoyor kepalaku dari belakang. Aku berbalik untuk membalas tapi dia buru-buru berdiri, memasang kuda-kuda ala pemain kungfu yang ingin mengajakku berkelahi.
"Eits, jangan noyor pala gue, ntar lo kualat."
Aku menjejakkan kaki sangat kesal karena tidak bisa membalas perlakuan Wulan. Wanita itu tiba-tiba mendekat dan mencapit hidungku.
"Pak Dito sama ceweknya, Neng. Udah, ah. Gue pulang. Lo tidur sekarang dan jangan keluyuran. Oke?"
Wulan bergegas begitu saja, meninggalkanku dalam kebingungan tentang kata-katanya. Tentang kalimat Dito sana ceweknya, benarkah? Apa aku terlalu lama membiarkan dia kecewa? Harusnya begitu Arjuna kembali, saat itu aku langsung menghubungi dia.
Tak perlu selama ini menunggu sampai akhirnya ada wanita lain yang mengisi hatinya, meski aku juga tidak tahu apakah ada aku di sana.
Malam itu mataku tak juga bisa terpejam. Pikiran tentang Dito yang tak lagi sendiri benar-benar membuat hatiku gundah. Aku meraba laci di samping ranjang untuk mengambil obat tidur dalan botol kaca warna coklat, sialnya ternyata habis.
Dulu, aku sering menelan dua butir jika insomnia datang menyerang, tentu atas resep dokter dan hanya kukonsumsi kalau kondisiku benar-benar membutuhkan itu.
Segala cara telah kugunakan, namun mata ini tak juga bisa terpejam. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi mencari udara segar. Hanya melapisi setelan baju tidur dengan jaket, mengenakan masker dan kain tipis menutupi kepala.
Aku berputar-putar sejenak sampai akhirnya kuputuskan singgah ke sebuah mini market untuk membeli mie instan cup dan beberapa kebutuhan pribadi. Cukup menghibur karena tiba-tiba saja aku merasa senang bisa berbelanja seorang diri tanpa ada yang mendikte.
Dalam sekejap, keranjangku hampir penuh dengan barang-barang dan saat mengantre di kasir, seorang pelanggan terlihat kebingungan mencari-cari sesuatu di dompetnya.
Jarak kami terpaut dua orang, namun jelas sekali, pelanggan itu hanya membeli obat kumur dan beberapa bungkus keripik kentang.
"Maaf ya, Pak. Bisa mundur dulu? Sambil dicari uang tunainya. Kebetulan transaksi non tunai sedang gangguan," ucap laki-laki yang bertugas sebagai kasir.
Laki-laki itu akhirnya bergeser dan berbalik.
"Dito!" sentakku.
Dito nampak tampan malam itu dengan kaos berkerah warna putih dan celana jeans selutut. Dia mengulas senyum, kemudian mendekat ke arahku. Melihat ke dalam keranjang belanjaan.
"Bisa numpang dibayarin dulu, Sarah? Gue lupa bawa uang tunai." Wajah Dito memelas.
"Boleh ... boleh, apa mau gue pinjemin sekalian? Gue ada kalau cuma dua juta, nih."
"Nggak ... nggak. Gue cuma butuh buat bayarin jajanan gue aja, nih."
Aku mengangguk dan membiarkan Dito meletakkan barang-barangnya dalam keranjang milikku. Kami bahkan mengantre berdua dan Dito membantuku meletakkan bungkusan-bungkusan itu di atas meja kasir.
Akhirnya ada empat kantong plastik meskipun tiga di antaranya kepunyaanku sendiri.
"Parkir di mana? Nanti gue transfer ke rekening Wulan, ya, buat gantiinnya."
"Di sana." Aku menunjukkan mobil milikku yang parkir agak jauh.
Dito mengantarku sampai ke mobil dan langsung berbalik begitu saja, namun aku mencekal tangannya.
"Dito, gue mau bicara. Bisa?" tanyaku dengan tegas.
"Bisa. Ada apa, Sarah?"
Kami sama-sama menebar pandangan untuk mencari suatu tempat mengobrol, sampai akhirnya Dito mengajakku untuk singgah ke sebuah warung tenda yang menjual sate.
"Gue belum makan dan nggak punya uang, malam ini lo yang traktir ya, Sar." Dito memohon dengan wajah sayu yang beberapa waktu ini begitu kurindu.
"Kasihan banget sih nih orang." Aku terkekeh melihat reaksi wajahnya.
Ya ampun, Dito. Aku kangen.
Kami duduk bersebelahan setelah dia memesan sate dan dua gelas jeruk hangat.
"Gue nggak makan," ucapku.
"Terus ngapain?" Dito mengernyit.
"Nemenin orang kelaparan tapi nggak punya duit."
Dito mengangkat kedua tangan tanda menyerah, "Iya, gue emang nggak punya duit. Tapi gue punya hati."
"Masa sih, hati yang mana?" Kesempatan mencecarnya.
Dito tertawa kecil, "Hati ... ya, hati. Emang lo nggak punya?"
"Punyalah." Aku mengalihkan pandangan ke arah lain untuk mengurangi rasa canggung.
Sial. Kenapa jadi aku yang dicecar olehnya.
"Punya siapa?" Dito balik mengejar, mambuatku sungguh-sungguh merasa malu.
"Punya gue sendiri," cetusku mengakhiri keganjilan di antara kami berdua.
Dito mengangguk karena bersamaan dengan itu pelayan meletakkan dua gelas besar jeruk panas yang asapnya masih mengepul tipis-tipis. Gerakan kami berdua serempak, mencengkeram gagang, kemudian meniup-niup sesaat sebelum menyesapnya perlahan-lahan.
"Kok kita bisa sama'an sih?" tanyaku sambil tertawa.
"Iya, gerakannya bisa barengan gitu, kayak udah janjian." Dito mengulas senyum.
"Digerakkan sama semesta, mungkin. Makanya kita bisa ketemu, lo nggak bawa uang, ada gue dan sekarang kita di sini setelah sekian lama lo menghilang dan nggak pernah balasin pesan-pesan gue. Gue nggak tahu salah gue apa tapi yang lo lakukan itu ... jahat!"
"Cinta, maafin Rangga."
Aku menoleh dan ingin mencubit lengan Dito, tapi senyuman itu menahannya. Senyuman khas seorang Dito yang begitu tipis dan manis selalu berhasil membuatku terhipnotis.
"Gue tahu, kok. Emang kalau punya pacar baru suka gitu ya cowok-cowok?" Langsung saja kuberi dia serangan dobel kill.
"Cowok yang mana, pacar baru siapa?"
"Elo!"
"Kadang wanita itu lebih suka menerka ketimbang bertanya tapi nggak apa-apa. Emang begitu kodratnya."
"Laki-laki emang nggak pengertian. Nggak paham kalau datang cuma bikin nyaman trus menghilang, itu sama aja cuma ngasih harapan."
"Alhamdulillah, gue bukan tipe kayak gitu."
Pelayan lagi-lagi datang untuk mengantarkan pesanan. Satu porsi sate ayam dan dua piring nasi putih. Membuat mataku membulat membayangkan entah apa reaksi Wulan jika melihat ini semua.
Mungkin dia akan langsung kejang-kejang.
"Makan, Sarah. Ini enak deh. Bisa makan beginian, kan?" Dito mengambil satu tusuk dan meletakkan di piringku.
Tangannya sangat lincah melolosi potongan-potongan kecil daging ayam itu dari batang-batang lidi. Dia beralasan, jika aku makan langsung, akan membuat wajahku belepotan terkena bumbu-bumbu yang mungkin akan tertinggal dan menempel di pipi.
"Tapi gue nggak boleh makan nasi putih, Dit. Nanti gue ...." Aku menghentikan kata-kata saat Dito lagi-lagi membuat tubuhku lemah dengan tatapan sayu-nya.
"Lo takut gemuk atau emang nggak mau makan, sih?"
"Yang pertama. Nggak gemuk aja gue udah dicuekin apalagi gemuk."
"Dicuekin siapa? Arjuna? Nggak mungkin!"
"Gue nggak peduli sama Arjuna! Kalau perlu detik ini juga gue mau mutusin dia asal lo juga mutusin cewek lo."
Dito terkekeh, "Nggak bisa, Sarah."
"Kenapa? Lo nggak mau mutusin cewek lo, kan? Lo sayang sama dia trus datang buat gue ngerasa nyaman lalu pergi begitu aja. Begitu, kan?"
Aku terbata-bata mengatakannya. Sampai-sampai beberapa orang memperhatikan kami berdua tapi aku tak peduli. Masa bodoh, dia memang pantas menerima kemarahanku malam ini.
Dito menghela napas panjang, "Gue nggak bisa mutusin cewek karena gue jomlo."
"Bohong! Jadi siapa cewek yang waktu itu jalan sama lo di Senayan?"
"Oh! Ternyata Wulan biang keroknya. Padahal gue udah ngenalin kalau itu sepupu gue. Dia desain interior, jadi gue minta tolong dia buat bikinin gambaran buat rumah ibu gue. Just it."
"Bohong dosa!"
"Nuduh juga dosa!"
Dito berpaling meninggalkan perdebatan kami dan mulai makan dengan cepat. Dia memang terlihat lapar dan menular. Aku jadi ikut-ikutan lapar karena melihatnya makan.
Tidak ada percakapan apapun saat suapan demi suapan berlomba dengan bunyi cecapan. Kami berdua makan dengan tenang dan damai sentosa.
"Tadi emangnya serius ya?" Dito menyeka sisa makanan yang menempel di bibir saat nasi di piringnya habis tak tersisa.
"Yang mana?"
"Mau mutusin Arjuna."
"Serius! Gue ... ehm. Gue capek begini-begini terus."
"Ehem, sama. Gue juga. Pengennya langsung nikah cuma nggak tahu sama siapa. Jodohnya masih sibuk sama calon mantannya."
"Sama gue aja mau nggak?"
Shit.
Kenapa jadi aku yang nembak minta dikawinin, sih.
Bersambung ....