Seharusnya aku ingat, Arjuna sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Dia ingin menemuiku tapi justru pagi itu, aku menahan Dito dalam apartemen.
Tidak banyak yang bisa kutawarkan selain semangkok sereal instan dengan potongan pisang dan kacang almond. Aku menyeduh satu untuk dimakan berdua.
Dito tidak terlalu menyukai sereal karena menurut dia itu makanan bayi.
"Emang lo biasa makan apaan kalau pagi? Roti?" tanyaku pada suapan terakhir. Aku lebih banyak makan ketimbang dia.
Kalau tidak salah, dia hanya menyuap ke mulutnya satu kali, itu pun wajah Dito langsung menggembung seperti ingin muntah.
"Nggak, gue biasanya makan nasi. Orang Indonesia banget. Suka makan berat sekalian."
"Hhmm ... mau masak nggak?" Tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirku dengan lancang.
Bagaimana bisa aku mengajak Dito memasak, satu-satunya keahlianku cuma membuat sereal, serta mengukus sayuran dan juga d**a ayam.
"Masak? Boleh! Tapi gue nggak bisa bikin masakan Western, yang biasa-biasa aja. Masakan Indonesia. Tumis, mungkin." Dito mengulum bibirnya sampai basah sambil mengingat-ingat sesuatu.
"Gue juga bisa masak sup ayam, deh." Laki-laki itu melanjutkan kata-katanya.
"Enak kali punya suami bisa masak, jadi tugas istri nggak terlalu berat gitu." Aku menimpali perkataan Dito sambil bersiap untuk ke super market lantai dasar, guna berbelanja keperluan memasak.
Lemari es dengan empat pintu milikku hanya berisikan buah, jus, s**u plain dan yogurt. Manusia jahat yang bernama Wulan itu selalu menyingkirkan mie instan, coklat, bahkan pasta instan dari sana.
Sayur-sayuran yang berwarna hijau sebagian sudah mengering, menempel pada rak-rak bagian bawah. Kotor sekali, tapi bukan tugasku membersihkannya.
Enak saja.
"Kita belanja sekarang?" Aku berputar sejenak di depan Dito. Laki-laki itu hanya mengangguk dan mematikan televisi, bersiap-siap untuk pergi.
Mengenakan rok tutu warna abu-abu dan kaos oblong, penampilanku memang tabrak lari tapi biarlah, Dito juga nampaknya terkesima melihatku. Senyum segaris yang selalu menjadi ciri khasnya tersungging dengan rona wajah bersemu.
Aku dan Dito berjalan berdampingan menyusuri lorong panjang menuju lift, menunggu sesaat sampai pintu geser itu terbuka. Sepanjang perjalanan, Dito sering menarik tanganku setiap kali berpapasan dengan orang-orang supaya tidak bertabrakan.
Sejujurnya, aku menyukai sentuhan-sentuhan Dito yang begitu posesif tapi sama sekali tidak arogan. Dia juga mendorong troli belanjaan, menemani memilih sayuran dan sesekali menggodaku. Satu hal lagi yang sangat langka dilakukan oleh Arjuna, berada di loss sayur dan buah-buahan.
Dito bahkan menunggu di sampingku saat aku sibuk memilih buah dan sayur. Sesekali dia mengusulkan sesuatu untuk dibeli, seperti baby corn, jamur dan juga tomat.
“Kita mau masak apa sih?” Aku tertawa kecil ketika Dito mengambil satu pack telur organik.
“Nggak tahu, banyak banget belanjanya.”
"Enak kali punya suami bisa masak, jadi tugas istri nggak terlalu berat gitu." Kuulangi kata-kataku sebelumnya. Saat kami berdua masih berada di apartemen.
“Mungkin, tergantung sih. Kalau istrinya nggak doyan masakan suami gimana dong?”
“Ya, kenapa harus nggak doyan. Emang ada gitu?”
Dito mendorong troli menuju ke kasir, namun berhenti sesaat ketika melewati lorong bahan makanan mentah untuk mengambil sebotol kecap manis.
“Ada. Dulu mantan gue nggak doyan makan. Selalu marah kalau gue bawain makanan, bahkan coklat pun dia nggak mau nyentuh. Dia bilang, gue cowok toxic yang ngeracunin dia supaya jadi gendut.”
“Idih. Emang dia model? Sini sungkem sama gue!” Dengan angkuhnya, aku menaikkan wajah seakan ingin menantang.
Dito tertawa kecil sambil menutup mulutnya, “Sudahlah, dia udah bahagia sekarang. Kenapa jadi kita yang sewot. Kadang gue merasa sudah ngasih apa aja buat membahagiakan seseorang padahal bukan itu yang dia butuhkan, lucu sih, tapi gue jadi bisa belajar menahan diri untuk nggak sok tahu sama orang lain sekarang.”
“Sakit banget ya?” Aku bertanya lirih sambil meletakkan belanjaan satu persatu di meja kasir.
“Dulu iya, sekarang sudah nggak asal jangan diingetin lagi.”
Oh, baiklah. Aku tahu sekarang.
Dito seperti memiliki luka yang begitu dalam di hatinya meski tak secara gamblang ia menceritakan kepadaku. Dia membayar belanjaan kami yang totalnya mencapai lima ratus ribu dengan uang cash.
Tumben. Biasanya dia sangat jarang membawa uang tunai, menurut informasi yang kudengar. Beberapa paper bag berbagai isi akhirnya kami gendong bergotong royong, sampai-sampai Dito siku menggunakan siku ketika menekan tombol lift.
“Tumben bawa uang tunai.”
“Iya, tadi pas beli bunga, di sana nggak bisa nge-swipe. Jadi ke ATM, sekalian deh. Jaga-jaga aja mau ngapel masa sih nggak bawa duit.”
“Ecie. Ngapelin siapa sih?”
Dito menunduk malu-malu dan menjawab lirih, “Ngapelin lo.”
“Apa, Dit? Ulangi!” Padahal aku sudah mendengar, hanya ingin menggodanya saja.
“Ngepel lantai, Sar, Ehlah, kuping.”
Aku menginjak kaki Dito sambil tertawa kecil dan bersama-sama keluar dari lift saat pintu geser itu terbuka.
Setibanya di dapur, kami bekerja sama untuk memasak sesuatu. Aku bagian mengupas dan dia memotong.
Terkadang dia memukul bawang-bawang di atas tatakan sampai gepeng, gara-gara di apartemenku tidak ada cobekan untuk menghaluskan bumbu.
Tangan Dito sangat gesit dan terlatih mengolah makanan dengan cepat.
Tingkat kematangan dari olahan itu juga pas, tidak sepertiku dan Wulan yang setiap kali memasak apapun pasti berakhir di tempat sampah.
“Lo belajar masak begini dari mana sih, Dit. Iri gue sebagai perempuan.”
“Kakak gue itu dulu koki, nyokap juga punya usaha catering jadi sering lihat jadi belajar sedikit-sedikit. Apalagi waktu kuliah, jauh dari rumah, kadang kangen masakan kampung, jadi gue belajar yang menu-menu kesukaan gue aja sih.”
“Oh, jadi ini menu favorit lo ya?”
“Iya, kenapa? Lo nggak suka makan cap cay?”
“Kok lo ngomong kasar sih, Dit? Nggak nyangka gue!”
Lagi-lagi aku sengaja mengganggu Dito. Membuat laki-laki itu mencubit pipiku dengan gemas.
“Itu jijay, Sar. Lo lama-lama gue taburin garem juga nih ya.” Dito tertawa sambil mengencangkan ikatan celemek di tubuhku yang melorot.
Membuat jarak kami menjadi sangat dekat, sampai-sampai kupikir, aku dan Dito akan memasak sambil memanaskan yang lain, tapi ternyata salah.
Dito benar-benar sangat sopan dan menghargaiku. Dia bahkan memintaku untuk menyiapkan meja makan selagi tiba di fase menggoreng karena takut kulitku terkena cipratan minyak goreng.
Mencuci sendiri peralatan bekas memasak sebelum akhirnya menyiapkan hidangan yang sudah matang di atas meja makan.
Kami duduk berhadapan dengan sepiring cap cay, telur goreng dan ayam empat potong ayam tepung di tengah-tengah meja. Dari aromanya saja sudah enak, apalagi makan sambil menatap kokinya.
Duh, nikmat mana lagi yang ingin kuingkari saat ini.
Dito memintaku mencicipi dulu masakannya. Makan sambil terkurung dalam sorot mata romantis darinya, sudahlah. Lidahku langsung mati rasa.
“Enak banget, lo bakat jualan makanan nih, bikin tenda sono di jalan Sabang.” Aku bukan hanya mencicip, tapi mengambil lagi dan lagi.
“Setuju, gue yang masak. Lo yang joget.”
Kami saling menendang di bawah meja.
Terkadang semudah itu seseorang menunjukkan perhatiannya dan aku menerima dengan baik sinyal-sinyal asmara yang dikirimkan oleh Dito.
Dia benar-benar bisa membahagiakan tanpa mengambil kesempatan meski beberapa kali aku sengaja memancingnya.
Tiba-tiba pintu apartemenku diketuk dari luar, tapi Dito menahanku saat akan beranjak.
“Gue aja, lo lanjuti makannya.” Dito beranjak menuju ke pintu dan menarik kenopnya.
“Arjuna?”
“Eh, Dito. Lo ngapain di sini?” Arjuna menghambur menabrak tubuh Dito dan langsung menghampiriku. Matanya berpindah-pindah dari satu piring ke piring lain di atas meja.
Tangannya begitu cekatan mengambil piring milik Dito dan membuangnya ke tempat sampah.
Iya, dia langsung membuangnya padahal kami masih di pertengahan makan saat itu. Arjuna menatapku sangat marah, kemudian mencekal tanganku.
“Jadi ini penyebabnya kamu berubah? Dia!” Arjuna mengunciku dalam tatapannya.
“Arjuna.” Dito mengisyaratkan agar Arjuna jangan kasar mengerat tanganku. Namun seperti yang sudah-sudah, Arjuna selalu dibutakan amarah saat sedang cemburu.
Suasana benar-benar menegangkan.
Arjuna melepaskan cekalan tangannya dan mengambil posisi berdiri di tengah-tengah antara aku dan Dito. Dari yang kulihat, dia sedang berusaha keras menaklukkan amarahnya.
“Sorry, aku kebawa emosi. Aku sudah menelponmu ratusan kali, Sarah.” Arjuna menurunkan nada bicaranya.
“Ponselku … di kamar.” Terbata-bata rasanya suara ini saat membayangkan bagaimana perasaan Dito.
Arjuna mendekatiku, "Aku kangen kamu, Sarah."
Tanpa aba-aba, Arjuna langsung menarik wajah dan mencium bibirku sangat panas. Melumatnya tanpa ampun di depan mata Dito.
Aku sudah berusaha mengelak, tapi tangan Arjuna terlalu keras mengurungku dalam pelukannya.