Cahaya pagi Seoul merayap perlahan melintasi tirai tipis di apartemen minimalis kawasan Gangnam, menyapu permukaan meja kerja tempat Kim Junwoo duduk tenang. Tablet di tangannya menampilkan grafik saham dan laporan kuartalan, tetapi sesekali pandangannya beralih ke arah kamar tidur.
Di dalam, Jeon Yuna masih berkejaran dengan waktu. Suara langkah kakinya yang terburu-buru terdengar samar di balik pintu kamar mandi yang setengah terbuka.
Junwoo melirik jam tangan mewahnya. Pukul tujuh lewat sepuluh.
Pintu kamar terbuka. Yuna muncul dengan mantel wol hitam dan tas kerja kulit yang disampirkan di bahu kiri, napasnya sedikit terengah-engah. Ia melangkah cepat menuju pintu depan tanpa sempat menoleh ke arah meja makan.
“Jeon Yuna,” panggil Junwoo tenang, suaranya rendah namun cukup menghentikan langkah perempuan itu di ambang pintu.
Yuna menoleh dengan ekspresi bersalah yang dibuat-buat. “Aku harus cepat, Junwoo. Sesi pemotretan pagi ini dimajukan setengah jam karena modelnya ada jadwal penerbangan sore.”
Junwoo bangkit dari kursinya. Ia berjalan menghampiri Yuna dengan langkah pasti, tatapannya menyapu penampilan perempuan itu dengan teliti. Tanpa sepatah kata, tangannya terulur merapikan kerah mantel wol Yuna yang sedikit terlipat ke dalam.
“Sarapan dulu. Setidaknya teh hangat dan satu potong roti,” ujar Junwoo, nadanya tidak memberi ruang untuk perdebatan,meski sudut bibirnya melengkung tipis membentuk senyuman kecil.
“Aku bisa beli kopi di jalan,” protes Yuna ringan, meski ia tidak menolak saat Junwoo menuntunnya lembut menuju meja makan. Di sana, sepiring avocado toast segar dan secangkir teh hijau sudah tersaji rapi.
“Kopi lambung kosong bukan sarapan, Yuna-ya,” balas Junwoo, menarikkan kursi agar perempuan itu bisa duduk. “Aku tidak mau fotografer andalan LUNE Studio pingsan di tengah studio hanya karena terlalu ambisius.”
Yuna mendengus pelan, namun ia tetap duduk dan memotong kecil rotinya. “Kau selalu berhasil membuatku merasa seperti anak kecil yang harus diawasi.”
“Bukan diawasi,” koreksi Junwoo, berdiri di sampingnya sambil merapikan sehelai rambut Yuna yang jatuh menutupi mata. “Dijaga. Ada bedanya.”
Yuna menengadah, menatap mata pria itu yang selalu memancarkan kehangatan khusus hanya untuknya. Rasa aman itu nyata—begitu nyata hingga ia kadang lupa betapa mudahnya kenyamanan berubah menjadi belenggu. Sebelum beranjak,Yuna mencium pipi Junwoo dan berpamitan.
“Terima kasih untuk sarapannya, CEO Kim. Aku berangkat.”
Dua jam kemudian, suasana di LUNE Studio berada di ambang kesibukan yang terkendali. Lensa kamera medium formatberklik pelan di sudut ruangan, menangkap setiap pergerakan model di bawah pencahayaan studio yang dramatis.
Yuna berdiri di belakang kamera, jemarinya sigap mengatur fokus sementara matanya menatap tajam ke layar monitor di hadapannya. Ekspresinya memancarkan otoritas penuh—tenang, perfeksionis, dan tidak mentoleransi celah kesalahan.
“Bagus. Tahan pose itu. Pertahankan sudut dagunya,” instruksi Yuna tegas. Jepretan terakhir berbunyi, diikuti anggukan puas dari sang fotografer. “Okay, wrap for this look. Good job, everyone.”
Begitu lampu kilat padam, ketegangan di wajah Yuna melunak. Ia meletakkan kamera di atas meja kerja dan meraih botol air mineral. Di sudut ruangan, Sora, Sooyoung, dan Eunseo tengah membereskan peralatan pencahayaan serta memeriksa catatan jadwal klien di tablet.
Sooyoung berjalan mendekati meja Yuna dengan senyuman lebar, membawa sebuah map tebal berwarna hitam berlogo elegan.
“Yuna-unnie, kau harus melihat ini sebelum istirahat siang,” kata Sooyoung antusias, meletakkan map tersebut di hadapan Yuna.
Yuna mengangkat sebelah alisnya. “Apa ini? Bukankah jadwal minggu ini sudah penuh dengan klien reguler?”
“Lebih dari sekadar reguler,” timpal Sora yang baru saja bergabung, menyandarkan pinggulnya ke tepi meja. “Ini tawaran promosi Fall/Winter dari salah satu mode terkenal di distrik Cheongdam.”
Yuna membuka map tersebut. Lembar pertama menampilkan konsep visual yang bersih, elegan, dan menuntut standar estetika tinggi. Namanya tercantum jelas sebagai creative director sekaligus fotografer utama jika LUNE terpilih. Ini bukan sekadar proyek biasa; ini adalah lompatan terbesar dalam sejarah LUNE Studio sejak didirikan tiga tahun lalu.
Yuna membaca setiap detail persyaratan dengan saksama. Ada binar ambisi di matanya, namun nalurinya sebagai pemilik bisnis langsung bekerja menghitung risiko.
“Konsepnya brilian, dan skalanya luar biasa,” ucap Yuna pelan, menutup map tersebut. Ia menatap rekan-rekan setimnya satu per satu. “Tapi ingat standar mereka. Satu kesalahan kecil dalam eksekusi bukan cuma berarti penolakan...”
Yuna terdiam sejenak, helaan napasnya terdengar tipis sebelum melanjutkan dengan suara tegas:
“Atau menghancurkannya kalau kita tidak cukup bagus.”
Suasana ruang kerja pribadi Yuna terasa lebih tenang dibanding lantai utama studio. Di atas meja kayu jati, proposal promosi Fall/Winter terbentang terbuka di samping tumpukan portofolio LUNE.
Sooyoung mengetuk pintu kaca sebelum masuk membawa dua cangkir kopi hitam. Ia meletakkan salah satunya di dekat tangan Yuna.
“Unnie, ada satu hal lagi mengenai klien utama di balik merek fashion itu,” ujar Sooyoung, suaranya sedikit merendah.
Yuna mendongak dari dokumen kontrak. “Ada apa? Bukankah itu perusahaan mode independen di bawah payung konglomerat?”
“Benar. Tapi setelah kulihat struktur kepemilikannya yang baru diakuisisi bulan lalu...” Sooyoung menarik napas pendek.“Perusahaan induknya adalah salah satu anak perusahaan langsung dari Kim Group.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Jantung Yuna berdetak sedikit lebih cepat. Nama Kim Group langsung memicu resonansi instan di kepalanya—bukan sekadar entitas bisnis raksasa di Korea Selatan, melainkan dunia tempat Kim Junwoo bernaung sebagai pemegang kendali tertinggi.
Sora yang menyusul masuk ke ruangan mengamati ekspresi Yuna dengan kepekaan tajam. “Bagaimana, Yuna? Proyek impian kita ternyata bersinggungan langsung dengan tempat kekasihmu memegang kendali.”
Yuna menelan ludah, jemarinya mengetuk pelan permukaan meja. Ia tahu persis apa yang dikhawatirkan Sora. Di industri kreatif Seoul, rumor bisa menjadi pisau bermata dua. Hubungannya dengan Junwoo bukan rahasia di lingkaran terdekat mereka, tetapi Yuna selalu menjaga batasan profesional yang ketat. Ia tidak pernah mau reputasi LUNE dikaitkan dengan bayang-bayang kekasihnya.
“Kita tetap memasukkan proposal ini,” ucap Yuna mantap, tatapannya kembali tajam menatap Sooyoung dan Sora.
“Tapi, Unnie—bagaimana kalau orang-orang berpikir—” Sora ragu-ragu.
“LUNE bisa sampai di titik ini karena kualitas portofolio kita, bukan karena siapa yang kukenakan di rumah setiap malam,” potong Yuna tegas, menegaskan prinsip yang dipegangnya sejak hari pertama mendirikan studio tersebut.
Di belahan kota yang berbeda, puluhan lantai di atas jalanan Gangnam yang sibuk, ruang rapat utama Kim Group diselimuti keheningan yang kaku.
Kim Junwoo berdiri di ujung meja rapat panjang berlapis marmer hitam. Di hadapannya, para direktur divisi dan kepala departemen mendengarkan tanpa berani mengalihkan pandangan.
“Saya tidak menerima alasan keterlambatan laporan logistik,” suara Junwoo rendah, dingin, namun berbobot penuh otoritas. “Jika divisi distribusi tidak bisa menyelaraskan kecepatan dengan target kuartal ini, saya akan merombak ulang strukturnya sebelum akhir bulan.”
“Baik, Direktur Kim,” jawab salah satu kepala divisi dengan cepat, membungkuk hormat.
Satu per satu eksekutif meninggalkan ruangan dengan langkah cepat. Begitu pintu tertutup rapat, tersisa Jaehyun,sekretaris pribadinya, yang berdiri di dekat proyektor membawa beberapa berkas tambahan.
Jaehyun melangkah mendekati meja Junwoo. “Direktur, ini laporan akhir untuk kurasi vendor promosi Fall/Winter anak perusahaan kita yang baru.”
Junwoo menerima map tersebut, membolak-balik lembarannya dengan gerakan tenang. Matanya memindai daftar agensi dan studio kreatif yang menjadi kandidat utama. Di antara nama-nama agensi besar berstandar internasional, satu nama mencuri perhatiannya.
LUNE Studio.
Junwoo menghentikan gerakan jarinya di atas nama tersebut. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia tahu betul berapa banyak keringat yang ditumpahkan Yuna untuk membangun studio itu tanpa menerima bantuan finansial darinya.
Jaehyun memperhatikan ekspresi atasannya sejenak sebelum bersuara hati-hati. “Apakah Anda ingin saya memberikan catatan khusus pada tim evaluasi agar LUNE diprioritaskan?”
Junwoo menutup map itu perlahan. Ia mendongak, menatap Jaehyun dengan tatapan tajam yang langsung membungkam sang sekretaris.
“Tidak,” jawab Junwoo tenang. “Biarkan mereka menilai berdasarkan portofolio dan standar profesional.”
Jaehyun mengangguk patuh.
Bagi Junwoo, mencampuri urusan profesional Yuna bukan bentuk dukungan, melainkan bentuk penghinaan terselubung. Ia bangga pada kemampuan perempuan itu, dan ia memegang prinsip kuat. “Yuna membangun studionya dengan kerja kerasnya sendiri. Biarkan LUNE menang karena kualitas mereka.”
Malam telah sepenuhnya turun ketika Yuna membuka pintu apartemen mereka. Udara malam kota Seoul terasa dingin,namun kehangatan dari dalam apartemen langsung menyambut indranya.
Junwoo berdiri di dekat pulau dapur, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sebatas siku, sedang menuangkan air hangat ke dalam gelas. Mendengar suara pintu terbuka, ia menoleh dan melangkah menyambut Yuna.
“Kau pulang lebih lambat dari biasanya,” ucap Junwoo, mengambil alih tas kerja dari tangan Yuna dan meletakkannya di rak dekat pintu.
Yuna menghela napas panjang, membiarkan tubuhnya bersandar sejenak pada d**a bidang pria itu saat Junwoo melingkarkan kedua lengannya di pinggangnya, memberikan pelukan selamat datang yang selalu berhasil meredakan ketegangan hari itu.
“Hari yang panjang,” gumam Yuna di balik pundak Junwoo. “Ada proyek besar yang baru saja masuk ke studio. Peluang terbesar LUNE tahun ini.”
Junwoo melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap wajah Yuna dengan senyuman lembut. Ia menuntun Yuna duduk di sofa ruang keluarga, lalu menyerahkan segelas teh hangat.
“Proyek apa? Ceritakan padaku,” kata Junwoo, duduk di sampingnya dan merangkul bahu Yuna agar perempuan itu bisa bersandar nyaman.
Yuna menceritakan semuanya—tentang promosi Fall/Winter, antusiasme timnya, hingga peluang besar yang ada di depan mata. Namun, ia sengaja menahan satu detail kecil tentang siapa pemilik perusahaan di balik merek tersebut.
Junwoo mendengarkan dengan saksama, mengangguk pada setiap poin yang dijelaskan Yuna, menunjukkan dukungan tulus terhadap ambisi kekasihnya.
“Aku tahu kau akan berhasil mendapatkannya,” puji Junwoo, jemarinya mengusap lembut rambut Yuna. “Standar kerjamu selalu di atas rata-rata.”
“Terima kasih,” balas Yuna tersenyum tipis.
Junwoo menatapnya lekat-lekat—tatapan yang terlalu intens, seolah ia sedang membaca setiap inci ekspresi di wajah Yuna. Jemarinya yang tadi mengusap rambut kini turun, menyentuh rahang perempuan itu dengan lembut namun menahan pergerakannya agar tetap menatap lurus ke matanya.
“Kapan jadwal pertemuan pertamanya?” tanya Junwoo, nadanya terdengar tenang namun mutlak. “Dan siapa saja yang akan hadir dari pihak agensi dan klien?”
Yuna mengerjap perlahan. Ia merasakan keheningan sesaat yang janggal di udara. Cangkir teh di tangannya terasa sedikit mendingin.
“Kau sedang menginterogasi aku?” tanya Yuna, mencoba mencairkan suasana dengan senyuman kecil, meski ada rasa tidak nyaman yang mulai merayap di dadanya.
Junwoo tidak ikut tersenyum. Tatapannya tidak bergeming. “Aku hanya ingin tahu siapa saja yang berada di ruangan itu bersamamu.”
“Kau selalu bilang begitu kalau mulai ingin tahu terlalu banyak, Tuan Kim,” balas Yuna lembut, mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan di rahangnya dan mencubit pelan lengan pria itu.
Junwoo membiarkannya, namun lengannya langsung melingkar kembali ke pinggang Yuna, menarik perempuan itu sedikit lebih dekat hingga jarak di antara mereka hampir hilang. Ia tidak membantah. Karena jauh di dalam benaknya,rasa ingin tahu itu bukan sekadar kepedulian—melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk memastikan bahwa dunia Yuna tetap berada dalam radius yang bisa ia awasi dan lindungi. Terlalu lindungi.
Menjelang tengah malam, apartemen itu kembali jatuh dalam ketenangan total.
Di atas ranjang besar mereka, cahaya lampu tidur berpendar lembut, menyinari siluet ruangan yang tertata rapi. Yuna berbaring miring, menghadap ke arah Junwoo yang juga terjaga dalam keheningan.
“Junwoo,” panggil Yuna pelan. “Menurutmu... apakah aku terlalu ambisius?”
Junwoo merapikan selimut yang menutupi bahu perempuan itu. Jemarinya dengan telaten menyelipkan helaian rambut Yuna ke belakang telinga. “Ambisi bukan hal buruk, Yuna-ya. Aku mencintai perempuan yang tahu apa yang ia inginkan dan tidak takut memperjuangkannya. Aku ingin melihat semua hal hebat yang kau bangun dengan tanganmu sendiri.”
Yuna tersenyum, merasa begitu aman dan terlindungi. Selama lebih dari empat tahun, kehidupan yang mereka bangun bersama terasa sempurna. Ia percaya sepenuhnya bahwa Junwoo adalah tempat kepulangan terbaiknya.
Yuna memejamkan mata, perlahan jatuh tertidur dalam dekapan hangat pria itu.
Namun di balik dekapannya, mata Junwoo masih terbuka menatap kegelapan kamar. Ia menikmati setiap jengkal kehidupan yang mereka bangun bersama, namun tersimpan ketakutan sunyi di dasar hatinya—ketakutan bahwa suatu hari nanti, ambisi dan kemandirian Yuna akan membuatnya berjalan terlalu jauh hingga ia kehilangan kendali atas perempuan yang paling dicintainya.
Yuna belum sepenuhnya menyadari bahwa mempertahankan cinta dan mempertahankan identitas dirinya akan segera menjadi dua hal yang harus ia perjuangkan sekaligus.
Pukul tujuh pagi berikutnya, layar ponsel di atas nakas bergetar pelan.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari Jaehyun di ponsel Junwoo, mengonfirmasi bahwa jadwal presentasi kurasi tahap pertama LUNE Studio telah dimajukan ke sore hari ini.
Junwoo membaca kabar tersebut sekilas saat Yuna masih tertidur pulas di sampingnya. Sebagai CEO, ia memiliki kekuasaan mutlak untuk mengetik satu kalimat perintah dan memastikan LUNE melenggang mulus tanpa hambatan.
Namun, ia memilih mematikan layar ponselnya.
Junwoo meletakkan kembali perangkat itu ke atas nakas, lalu membiarkan jemarinya mengusap lembut pipi Yuna. Ia memilih mundur selangkah, memberi ruang bagi kekasihnya untuk melangkah dan menghadapi badai profesionalnya sendiri.
Keputusan itu menjadi bukti awal bahwa ia ingin mendukung Yuna sebagai seorang mitra yang mencintainya, bukan sebagai penguasa yang mengambil alih dunianya.
Namun, di balik kehangatan pagi yang masih utuh itu, roda takdir telah mulai berputar. Dunia profesional mereka telah bersinggungan—dan persinggungan itu, cepat atau lambat, akan mengubah segalanya.