Cahaya lampu studio menyorot tajam ke arah latar belakang putih bersih, menciptakan bayangan tipis yang membingkai sosok model di tengah ruangan. Di balik kamera medium format-nya, Jeon Yuna menyipitkan mata, memperhatikan setiap detail pencahayaan yang jatuh pada objek rekamannya.
“Tunggu,” gumam Yuna pelan, menurunkan kameranya. Ia melangkah mendekati model tersebut. “Pencahayaan dari sisi kiri terlalu keras. Hasilnya menghilangkan tekstur alami pada kain gaunnya.”
Sora, yang berdiri di dekat meja kontrol lampu, menghela napas sambil melipat tangan di d**a. “Yuna, kita sudah mencoba tiga pengaturan berbeda sejak pagi. Ini sudah batas maksimal untuk tipe lampu ini.”
“Kita coba sekali lagi,” jawab Yuna tenang namun tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. “Konsep editorial ini menuntut kesan yang jujur, bukan kilau buatan yang berlebihan.”
Sooyoung, yang sibuk memeriksa ponsel di sudut meja, mendongak cepat. “Unnie, pihak agensi klien baru saja mengirim pesan. Mereka meminta revisi kecil agar hasilnya terlihat lebih elegan dan... lebih konvensional.”
Yuna menggeleng pelan. “Kesan konvensional akan membuat LUNE tenggelam di antara ratusan studio lain di Gangnam.Ubah sudut lampunya menjadi soft box 45 derajat. Kita kejar emosi fotonya, bukan sekadar tampilannya.”
Dengan arahan yang tegas dan terukur, Yuna kembali ke balik lensa. Jepretan demi jepretan berbunyi ritmis, memecah kesunyian studio di bawah kendali penuh sang pemilik.
Sora memperhatikan ketelitian sahabatnya dari balik monitor komputer. Begitu sesi pemotretan jeda sejenak, ia berjalan mendekati Yuna sambil membawa dua botol air mineral.
“Kau benar-benar tidak pernah memberi ampun pada dirimu sendiri, ya?” goda Sora, menyodorkan salah satu botol.“Bahkan model kita hampir kehabisan napas mengikuti standar sempurnamu.”
Yuna menerima botol itu, meneguk airnya perlahan sebelum tersenyum tipis. “Kalau aku tidak teliti, siapa lagi yang akan menjaga kualitas LUNE? Tim harus mendengarkan arahannya agar hasil akhirnya tidak mengecewakan.”
Di meja seberang, Eunseo merapikan tumpukan properti dengan wajah cemas. “Unnie... bagaimana kalau suatu hari nanti aku melakukan kesalahan fatal saat pemotretan penting dengan klien besar?”
Yuna menoleh, lalu berjalan menghampiri staf mudanya itu dengan langkah santai. Ia menepuk pelan pundak Eunseo.“Kalau kau membuat kesalahan, kita perbaiki bersama. Kalau masih salah, kau ulangi sampai benar. Jangan takut pada kesalahan, takutlah pada rasa malas untuk memperbaikinya.”
Suasana tegang di studio seketika mencair, digantikan oleh tawa ringan dari para staf.
Menjelang sore, sesi pemotretan dinyatakan selesai. Perwakilan klien yang datang langsung ke studio memandang hasil di layar monitor dengan mata berbinar. “Luar biasa, Nona Jeon. Ini jauh melampaui ekspektasi kami.”
Sora menepuk punggung Yuna bangga begitu klien meninggalkan studio. “Kerja kerasmu terbayar lagi, Kepala Jeon.”
Yuna menggeleng pelan, merapikan tali strap kameranya. “Keberhasilan LUNE bukan milikku sendiri. Ini hasil kerja kita bertiga—aku, kau, dan seluruh tim.”
Di belahan kota yang berbeda, puluhan lantai di atas jalanan Gangnam yang sibuk, Kim Junwoo duduk di balik meja kerja kaca di kantor pusat Kim Group. Layar laptop di hadapannya menampilkan laporan keuangan kuartal ketiga, tetapi perhatiannya teralih sejenak pada jam tangan mewahnya.
Pintu ruang kerja terketuk dua kali sebelum Jaehyun melangkah masuk membawa tablet.
“Direktur, konfirmasi rapat virtual dengan divisi regional Singapura sudah dijadwalkan pukul tiga sore,” lapor Jaehyun profesional.
Junwoo mendongak, matanya menatap kalender digital di layarnya. “Geser ke pukul empat sore. Saya memiliki urusan malam ini.”
Jaehyun menghentikan langkahnya sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat terkontrol.“Urusan pribadi, Direktur? Atau agenda menjemput seseorang di distrik selatan seperti biasanya?”
Junwoo menatap sekretaris pribadinya dengan tatapan datar tanpa ekspresi. “Jaehyun, pekerjaanmu adalah mengurus jadwal perusahaan, bukan memantau kehidupan pribadi atasannya.”
“Baik, Direktur Kim. Saya akan mengatur ulang jadwal Singapura,” jawab Jaehyun patuh, meski ia tahu persis bahwa Junwoo selalu memastikan agendanya sendiri bersih demi bisa tepat waktu menjemput Yuna.
Malam telah sepenuhnya membungkus kota ketika Junwoo tiba di LUNE Studio. Ia melangkah masuk tanpa menimbulkan suara berarti, sengaja tidak ingin mengganggu detik-detik terakhir kesibukan di dalam ruangan.
Dari sudut ruangan yang temaram, Junwoo berdiri diam, memperhatikan Yuna.
Perempuan itu mengenakan kemeja linen longgar, rambutnya dicepol asal dengan beberapa helai yang jatuh di sekitar wajah. Di bawah pencahayaan hangat studio, Yuna tampak begitu hidup—berdiskusi dengan Sora, memberikan instruksi terakhir pada staf, dan memeriksa hasil jepretan di layar dengan binar mata yang memancarkan kepuasan sejati. Bagi Junwoo, pemandangan itu jauh lebih indah daripada laporan laba rugi mana pun di perusahaannya.
Sora yang pertama kali menyadari kehadiran pria berjas gelap di sudut ruangan langsung menyenggol lengan Yuna. “Ada pangeran yang datang menjemputmu, Chief.”
Yuna menoleh. Matanya langsung menangkap sosok Junwoo yang berdiri sabar menunggunya. Ia meletakkan tablet di meja dan berjalan menghampiri kekasihnya.
“Kau sudah lama menunggu?” tanya Yuna, napasnya sedikit terengah karena kelelahan seharian.
“Belum lama,” jawab Junwoo lembut, tangannya terulur merapikan helaian rambut Yuna yang berantakan. “Aku datang untuk menjemputmu seperti yang sudah kujanjikan.”
“Aku masih harus merapikan beberapa file foto terakhir,” kata Yuna merasa tidak enak.
Junwoo tersenyum tipis. “Silakan selesaikan. Aku akan menunggumu di sini.”
Anggota tim LUNE satu per satu pamit meninggalkan studio, menyisakan keheningan malam yang nyaman di dalam ruangan luas tersebut.
Yuna duduk di kursi kerjanya, jemarinya lincah menyortir folder foto di komputer, sementara Junwoo duduk bersandar tenang di sofa panjang sudut studio sambil memperhatikannya.
“Kau benar-benar tidak bosan menungguku bekerja seperti ini?” tanya Yuna tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor.
“Tidak,” jawab Junwoo tenang. “Menunggu seseorang melakukan hal yang paling dicintainya tidak pernah melelahkan.”
Yuna menoleh, tersenyum hangat. Ia memutar kursinya menghadap Junwoo dan melambaikan tangan. “Kemarilah. Ada satu foto yang ingin kutunjukkan padamu.”
Junwoo bangkit, berjalan mendekat dan berdiri tepat di belakang kursi Yuna, mencondongkan tubuhnya untuk melihat layar monitor. Di sana, potret close-up seorang model menampilkan ekspresi yang begitu dalam dan jujur.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Yuna antusias.
Junwoo mengamati foto itu lekat-lekat, lalu melirik sekilas ke arah Yuna. “Fotonya bagus. Tajam, penuh emosi, dan menangkap karakter objeknya dengan sempurna.”
“Lalu?”
“Tapi ada satu hal yang tidak terlihat di dalam foto ini,” lanjut Junwoo dengan nada rendah.
Yuna mengerjap, mendongak menatap pria itu. “Apa?”
“Aku tidak melihatmu di dalam foto itu,” jawab Junwoo lembut. Jemarinya terulur menyentuh bahu Yuna. “Kau selalu berada di balik lensa, melihat dunia melalui kamera, tapi kau jarang melihat dirimu sendiri—betapa kerasnya kau bekerja dan betapa indahnya saat kau menciptakan semua ini.”
Yuna tertegun. Kalimat itu meluncur begitu tulus, menyentuh bagian paling rapuh di dalam dadanya. Ia menyadari bahwa di balik sikap protektif dan tenangnya, Junwoo adalah satu dari sedikit orang yang benar-benar memahami jiwa senimannya.
Sepuluh menit kemudian, mereka meninggalkan studio dan memilih sebuah restoran bergaya kontemporer yang tenang di kawasan Gangnam. Aroma makanan panggang dan alunan musik instrumental bernada rendah menyambut kedatangan mereka di meja sudut yang privat.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka membicarakan dinamika kerja hari itu.
“Tadi aku sempat berdebat kecil dengan Sora soal pencahayaan,” cerita Yuna sambil tersenyum geli. “Dia pikir aku terlalu keras kepala.”
Junwoo menyesap air hangat di gelasnya. “Sora hanya khawatir kau kelelahan. Tapi kurasa kepala batu adalah syarat mutlak untuk menjadi pemilik LUNE Studio.”
Yuna mendengus pura-pura tersinggung. “Hei, itu pujian atau hinaan terselubung?”
“Keduanya,” jawab Junwoo tenang dengan sudut bibir terangkat.
Percakapan mengalir santai hingga makanan disajikan. Di tengah suapan, Yuna kembali teringat pada jalannya sesi pemotretan sore tadi.
“Oh, ngomong-ngomong, model pria yang bekerja sama dengan kami hari ini cukup profesional,” ujar Yuna tanpa beban.“Namanya Dohyun. Gerakannya luwes dan cepat memahami arahanku tanpa banyak instruksi.”
Gerakan tangan Junwoo yang memegang garpu terhenti sepersekian detik. Suasana di sekitar meja mendadak terasa sedikit merapat.
Junwoo mengangkat dagunya perlahan. “Dohyun?” ulangnya, nadanya datar namun berbobot. “Model itu... apakah kau sudah mengenalnya sebelumnya?”
“Tidak,” jawab Yuna santai, fokus pada makanannya. “Kami baru pertama kali bertemu di studio tadi.”
Junwoo menatap Yuna lekat-lekat. “Apakah dia akan kembali bekerja di LUNE untuk proyek berikutnya?”
Yuna menghentikan makannya, mendongak dan menyadari ada perubahan nada yang sangat halus pada diri kekasihnya.Ia menatap Junwoo dengan sebelah alis terangkat, lalu terkekeh pelan.
“Kau sedang apa, Kim Junwoo? Kenapa nadamu seperti sedang menginterogasi manajer agensi?” tanya Yuna,menggelengkan kepala geli.
Junwoo kembali melanjutkan makannya, ekspresinya kembali netral meski ketegangan kecil tertinggal di rahangnya.“Aku hanya bertanya. Tidak ada salahnya mengetahui siapa saja yang bekerja di dekatmu.”
Yuna menganggapnya sebagai bentuk perhatian khas dari kekasihnya yang terkadang terlalu memperhatikan detail hidupnya. Ia meraih tangan Junwoo di atas meja dan mengusap punggung tangannya lembut. “Dia hanya rekan profesional, Junwoo. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Menjelang tengah malam, mobil yang dikemudikan sopir pribadi memasuki area parkir basement apartemen mereka.
Begitu pintu apartemen terbuka, Yuna langsung menjatuhkan tas kerjanya di atas sofa dan merentangkan tangan,meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. “Hari ini benar-benar menguras energi.”
Junwoo berjalan ke dapur, menuangkan segelas air hangat, lalu membawanya untuk diberikan kepada Yuna. “Duduklah.Jangan langsung memikirkan pekerjaan besok.”
Yuna menerima gelas tersebut, lalu duduk di sofa dengan punggung bersandar nyaman. Junwoo duduk di sampingnya,merangkul bahu perempuan itu agar bisa bersandar di dadanya.
“Junwoo,” bisik Yuna pelan, menikmati kehangatan dekapan itu. “Aku bekerja keras bukan karena ingin membuktikan apa pun pada dunia luar. Aku melakukannya karena aku benar-benar mencintai LUNE... dan fotografi.”
Junwoo mengecup puncak kepala Yuna pelan. Ia tahu persis betapa berharganya dunia kecil itu bagi kekasihnya. “Aku tahu, Yuna-ya. Dan aku tidak pernah berniat mengambilnya darimu.”
Yuna menutup matanya, merasakan kedamaian yang selalu berhasil diberikan oleh pria di sisinya. Namun, di balik kehangatan pelukan itu, benih kecil kecemburuan yang sempat terpancing oleh sebuah nama sore tadi menyisakan satu tanda tanya sunyi di benak Junwoo—sebuah cerminan dari betapa dalam dan berbahayanya rasa takut pria itu jika suatu saat ia harus berbagi dunia Yuna dengan orang lain.