Cahaya pagi merayap masuk melalui celah tirai kamar utama di apartemen Hannam-dong, menyapu sisi tempat tidur yang sudah kosong. Kim Junwoo membuka matanya perlahan, merasakan dingin sisa tubuh Yuna di sebelah bantalnya.
Di atas nakas, layar ponselnya menyala menampilkan pesan singkat yang dikirimkan perempuan itu sepuluh menit lalu:Jangan lupa sarapan, CEO Kim. Aku berangkat lebih awal karena ada briefing klien.
Junwoo tersenyum tipis. Jari-jarinya mengetik balasan singkat sebelum bangkit dari tempat tidur.
Saat duduk di meja makan untuk menikmati kopi hitamnya, pandangannya secara refleks beralih ke kursi kosong di seberang meja dan cangkir teh hijau berlogo minimalis yang biasa digunakan Yuna. Kehadiran perempuan itu telah meresap begitu dalam ke dalam setiap jengkal rutinitas paginya, mengubah tempat tinggal mereka bukan sekadar unit apartemen mewah, melainkan sebuah rumah yang hidup.
Beberapa jam kemudian, di lantai atas menara pusat Kim Group, Jaehyun berdiri di samping meja kerja Junwoo sambil membawa map agenda harian.
“Direktur, rapat koordinasi dengan tim investasi Singapura dijadwalkan pukul tiga sore ini,” lapor Jaehyun profesional.
Junwoo yang sedang meneliti berkas anggaran mendongak sekilas. “Geser ke pukul empat. Saya harus keluar kantor lebih awal.”
Jaehyun menghentikan gerakan tangannya di atas tablet. “Ada urusan mendadak dengan anak perusahaan, Direktur?”
“Bukan,” jawab Junwoo tenang tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya. “Saya ingin menjemput Nona Jeon.”
Jaehyun menahan senyum tipis di balik ekspresi datarnya. “Baik, Direktur Kim. Saya akan atur ulang jadwalnya.”
Tepat pukul satu siang, suasana ruang rapat divisi keuangan mendadak hening ketika presentasi proyek triwulan sedang berlangsung. Di tengah paparan grafik dari kepala divisi, getaran pelan dari ponsel di atas meja marmer memecah konsentrasi.
Junwoo melirik layar ponselnya. Nama Yuna tertera di sana.
Tanpa ragu, ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar presentasi dihentikan seketika. Seisi ruangan menahan napas saat CEO mereka mengangkat sambungan telepon.
“Ada apa?” suara Junwoo terdengar jauh lebih lembut, kontras dengan ketegasan yang biasa ia tunjukkan di ruang rapat.
Di ujung sambungan, suara Yuna terdengar ringan diiringi suara bising kecil dari studio. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mendengar suaramu sebentar di tengah hari. Dan... pastikan kau benar-benar makan siang, Junwoo.”
“Aku sedang melakukannya,” jawab Junwoo, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang membuat para direktur di ruangan itu saling berpandangan dalam keheningan. “Jangan terlalu lelah. Aku akan menjemputmu malam ini.”
“Baiklah. Semangat rapatnya, CEO Kim,” tawa kecil terdengar sebelum sambungan terputus.
Junwoo meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, lalu menatap kepala divisi keuangan dengan sorot mata yang kembali tajam. “Silakan lanjutkan presentasinya.”
Menjelang sore, setelah rangkaian rapat selesai, Han Taehyun—rekan bisnis sekaligus salah satu direktur senior di Kim Group—menyempatkan diri mampir ke ruang kerja Junwoo untuk membahas dokumen investasi luar negeri.
Sambil menyerahkan berkas terakhir, Taehyun melirik sekilas ke arah meja kerja Junwoo yang bersih dari urusan kantor yang tidak perlu, kecuali sebuah bingkai foto kecil berukuran paspor milik Yuna yang diletakkan di sudut tersembunyi.
“Kau benar-benar menempatkan posisinya di atas segalanya, ya?” komentar Taehyun dengan nada setengah kagum,setengah memperingatkan. “Menggeser jadwal investor asing hanya demi menjemput kekasihmu tepat waktu.”
Junwoo bersandar di kursinya, menutup map dokumen dengan gerakan tenang. “Aku mengatur waktuku sendiri,Taehyun.”
“Aku tidak meragukan efisiensimu,” balas Taehyun tersenyum tipis. “Tapi ingatlah, seorang perempuan seperti Jeon Yuna membangun studionya dengan keringatnya sendiri. Ia punya dunia yang tidak akan pernah sepenuhnya berputar mengitarimu. Jangan sampai caramu mencintainya justru terasa seperti kurungan.”
Junwoo terdiam sejenak. Kalimat itu tidak memancing kemarahannya, melainkan meninggalkan gema sunyi di benaknya—sebuah pengingat bahwa di balik rasa cinta yang besar, selalu ada garis batas tipis antara melindungi dan mengekang.
Di belahan kota yang berbeda, suasana di LUNE Studio dipenuhi kesibukan peninjauan foto katalog majalah fashion lokal.
Sora berjalan mendekati meja kerja Yuna sambil membawa dua cangkir kopi panas. Ia memperhatikan wajah sahabatnya yang tampak jauh lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya.
“Ada apa dengan senyuman itu?” goda Sora, meletakkan cangkir di dekat tangan Yuna. “Baru saja menerima kabar baik dari klien besar, atau baru selesai ditelepon seseorang?”
Yuna menutup layar tabletnya, tertawa kecil. “Tahu saja.”
“Pasti Tuan CEO yang dingin itu lagi,” lanjut Sora, menyandarkan pinggulnya ke tepi meja. “Jujur saja, Yuna, bagaimana bisa pria yang kelihatan seperti tidak pernah tersenyum di majalah bisnis bisa bersikap semanis itu padamu?”
Yuna menyesap kopinya, manik matanya memantulkan kebahagiaan yang tulus. “Karena dia tidak perlu bersikap manis pada dunia. Cukup padaku... itu sudah lebih dari cukup.”
Sore beranjak senja. Suasana di LUNE Studio mendadak dilanda kepanikan kecil ketika Yuna meraba saku mantelnya dan tidak menemukan dua memory card penting yang berisi cadangan foto klien utama untuk sesi esok hari.
“Sooyoung, apa kau melihat pouch kecil tempat penyimpanan memory card hitamku?” tanya Yuna, nadanya mulai menunjukkan sedikit kecemasan saat membongkar isi tas kerjanya.
Sooyoung ikut mencari di atas meja kerja, namun hasilnya nihil. “Tidak ada di sini, Unnie. Apakah tertinggal di apartemen?”
Sebelum kepanikan itu membesar, pintu utama studio berderit terbuka. Sosok tinggi berjas gelap melangkah masuk membawa sebuah pouch kulit hitam di tangannya.
Yuna dan Sooyoung menoleh bersamaan.
Junwoo berjalan mendekat, meletakkan pouch tersebut tepat di atas meja di hadapan Yuna. “Kau meninggalkan ini di konsol tengah mobilku semalam,” ucapnya tenang.
Yuna tertegun, menatap pouch itu lalu beralih menatap mata Junwoo. “Aku... aku bahkan tidak sadar tertinggal di sana.Bagaimana kau bisa tahu aku membutuhkannya hari ini?”
“Karena aku tahu jadwalmu,” jawab Junwoo sederhana. Ia merapikan sehelai rambut Yuna yang lepas dari ikatan. “Aku tahu kau punya sesi penting besok pagi dan tidak akan tenang jika benda ini tidak ada di tanganmu.”
Tanpa memedulikan kehadiran Sooyoung yang langsung memalingkan wajah pura-pura sibuk merapikan berkas, Yuna melingkarkan kedua tangannya ke leher Junwoo, memeluk pria itu erat-erat sebagai wujud rasa terima kasih yang teramat sangat.
Junwoo membalas pelukan itu, mendekap Yuna erat di dadanya sebelum melepaskannya perlahan. “Aku harus kembali ke kantor untuk rapat evaluasi anggaran pukul lima. Tapi aku akan menepati janjiku untuk menjemputmu nanti malam.”
Malam semakin larut ketika pesan masuk dari Yuna diterima oleh Junwoo di apartemen Hannam-dong: Pekerjaanku masih harus diselesaikan, sampel foto terakhir butuh revisi warna. Jangan menungguku, tidurlah lebih dulu.
Namun, Junwoo mengabaikan pesan itu. Ia tetap duduk di sofa ruang keluarga, membaca laporan bisnis sambil sesekali melirik jam dinding yang terus berdetak menuju tengah malam.
Hampir pukul dua belas malam, pintu utama terbuka. Yuna melangkah masuk dengan langkah gontai, bahunya turun menanggung kelelahan yang luar biasa.
Begitu melihat Junwoo berdiri di dekat pintu mengambil alih tas kerjanya, Yuna menghela napas panjang. “Sudah kubilang jangan menungguku. Kau pasti lelah.”
“Aku tidak lelah,” jawab Junwoo lembut, menuntun Yuna duduk di sofa dan menyerahkan segelas air hangat yang sudah ia siapkan. Ia berlutut di hadapan perempuan itu, melepas sepatu hak tinggi Yuna dengan telaten dan memijat pelan pergelangan kaki yang kaku.
Yuna menatap punggung kepala pria itu dengan mata berkaca-kaca karena terharu. “Junwoo... kenapa kau selalu memilih menungguku seperti ini? Kau bisa tidur lebih dulu.”
Junwoo mendongak, menatap lurus ke dalam mata Yuna. “Karena aku ingin menjadi orang pertama yang melihatmu pulang setelah hari yang panjang.”
Yuna tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di bahu Junwoo begitu pria itu bangkit dan duduk di sampingnya. “Besok adalah jadwal seleksi akhir kampanye Kim Group. Aku gugup memikirkannya.”
Junwoo merangkul bahu Yuna, jemarinya mengusap lengannya menenangkan. “Siapa saja yang akan hadir dari pihak agensi dan klien?” tanyanya dengan nada santai—meski di balik ketenangannya, ada insting protektif yang langsung siaga.
Yuna mendongak, menyipitkan mata menggoda. “Kau sedang bertanya sebagai kekasih yang mendukungku, atau sebagai CEO yang ingin memastikan anak buahnya tidak macam-macam?”
Junwoo balas menatap tanpa rasa bersalah. “Aku hanya bertanya.”
“Kau selalu bilang begitu kalau mulai ingin tahu terlalu banyak,” cibir Yuna lembut, meski ia tidak merasa terganggu. Ia tahu persis betapa besarnya perhatian pria itu.
Menjelang dini hari, di dalam kamar utama yang temaram, Yuna berbaring miring menghadap Junwoo. Jemari Junwoo dengan sabar memainkan helaian rambut di dahi perempuan itu.
“Junwoo,” panggil Yuna pelan. “Bagaimana jika suatu hari nanti pekerjaanku membuatku harus sering bepergian ke luar kota... atau bahkan ke luar negeri?”
Gerakan tangan Junwoo terhenti sejenak. Sorot matanya berubah teduh, menyimpan gelombang perasaan yang tidak ingin ia tunjukkan sepenuhnya. “Aku akan merindukanmu setiap hari. Tapi aku tidak akan pernah melarangmu pergi.”
Ia mencondongkan wajahnya, mengecup kening Yuna lembut sebelum membisikkan kalimat yang telah menjadi janji suci di antara mereka:
“Pergilah sejauh yang kau mau. Tapi pulanglah kepadaku.”
Yuna merasa begitu aman, tenggelam dalam kehangatan dekapan itu hingga napasnya perlahan menjadi teratur dan ia jatuh tertidur.
Junwoo tetap terjaga di dalam gelap. Ia menggeser kepala Yuna dengan sangat hati-hati agar bersandar sempurna di lekuk lengannya, lalu memandangi wajah damai perempuan itu dalam diam.
Baginya, menunggu bukanlah sebuah beban. Itu adalah hak istimewa.
Namun, di balik keheningan malam itu, bayangan samar tentang ketakutan kehilangan—tentang kemungkinan dunia Yuna tumbuh begitu luas hingga suatu hari nanti ia tidak lagi mampu menjangkaunya—mulai merayap pelan di lubuk hatinya.Junwoo belum menyadari bahwa rasa takut itu kelak akan mengubah cara ia menggenggam cinta, mengubah pelukan hangat menjadi cengkeraman yang perlahan-lahan menyesakkan.