Sinar matahari pagi merayap masuk lewat celah tirai kamar utama di apartemen Hannam-dong, membawa kehangatan yang kontras dengan embusan angin luar bulan Oktober. Jeon Yuna mengerjap perlahan, merasakan lengan kokoh yang melingkar erat di pinggangnya. Kepalanya masih bersandar sempurna di lekuk bahu Junwoo.
Yuna bergerak perlahan, berniat melepaskan diri dari dekapan itu untuk bersiap menuju studio. Namun, gerakan kecilnya justru membuat Junwoo mempererat pelukannya tanpa membuka mata.
“Lima menit lagi,” gumam Junwoo dengan suara serak khas baru bangun tidur, dagunya merapat di puncak kepala Yuna.
“Aku harus bangun, Junwoo,” balas Yuna lembut, tersenyum kecil. “Kau sendiri yang bilang waktu itu, aku boleh pergi sejauh yang kuinginkan.”
Junwoo membuka matanya, menatap lurus ke arah langit-langit kamar sebelum menunduk menatap Yuna. “Pergi bekerja bukan berarti pergi jauh, Jeon Yuna.”
Sebelum Yuna sempat membalas, layar ponsel di atas nakas bergetar menampilkan notifikasi dari grup obrolan LUNE Studio. Junwoo melirik sekilas ke arah layar tersebut, sudut bibirnya sedikit menegang.
Yuna menyadari perubahan mikro pada ekspresi pria di hadapannya. Ia mengangkat sebelah alisnya menggoda. “Kau sedang mengawasi ponselku atau mengawasiku, Tuan Kim?”
Junwoo mengerjap, lalu melonggarkan pelukannya meski tangannya tetap berada di pinggang perempuan itu. “Aku sedang melihatmu. Ponselmu hanya mengalihkan pandanganku.”
Pukul delapan lewat sepuluh menit, atmosfer LUNE Studio sudah dipenuhi kesibukan ritmis khas pagi hari. Yuna berdiri di dekat meja panjang bersama Sora, Sooyoung, dan Eunseo untuk menyeleksi portofolio kandidat model kampanye editorial bulan depan.
Sooyoung menggeser beberapa lembar cetak foto ke hadapan Yuna. “Dari agensi utama, nama ini yang paling menonjol untuk konsep modern-minimalis kita. Lee Dohyun.”
Yuna meneliti lembar demi lembar foto tersebut. Pose-pose yang ditampilkan bersih, terkontrol, dan memiliki pemahaman luar biasa terhadap jatuhnya cahaya pada anatomi wajah.
Sora ikut membungkuk, memperhatikan detail foto. “Dia punya insting kamera yang bagus. Tidak kaku, dan tahu bagaimana mengisi frame tanpa terlihat berlebihan.”
“Setuju,” timpal Eunseo dari balik laptopnya. “Dan ulasan dari agensi sebelumnya menyatakan dia sangat disiplin di lokasi.”
Yuna mengetukan penanya pelan di atas meja, lalu mengangguk mantap. “Jadwalkan test shoot untuknya sore ini. Kita lihat apakah kemampuannya di foto sama kuatnya saat berhadapan langsung dengan kamera medium format kita.”
Sora menatap Yuna dengan senyuman penuh arti. “Kau terlihat sangat bersemangat ketika membahas pencahayaan dan komposisi foto, Chief.”
“Karena kita sedang membicarakan pekerjaan, Sora,” balas Yuna santai, meski sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman geli.
Menjelang sore, pintu kaca LUNE Studio berderit terbuka. Lee Dohyun melangkah masuk dengan senyuman ramah,mengenakan jaket bomber hitam sederhana yang langsung membuatnya tampak selaras dengan estetika industri kreatif.
Begitu melihat Yuna di balik meja penyuntingan, Dohyun membungkuk hormat. “Selamat sore, Nona Jeon. Suatu kehormatan bisa datang ke LUNE Studio.”
Yuna bangkit dari kursinya, menyambut uluran tangan pria itu dengan jabat tangan yang mantap dan profesional.“Selamat sore, Dohyun-ssi. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk test shoot hari ini.”
Sesi perkenalan berlangsung singkat dan efisien. Yuna tidak membuang waktu untuk berbasa-basi yang tidak perlu. Ia langsung membawa Dohyun ke area panggung utama, menjelaskan konsep pencahayaan, sudut pandang kamera, serta emosi yang ingin ia tangkap dari lensa.
Dohyun mendengarkan dengan penuh perhatian, mengangguk paham tanpa menunjukkan gestur berlebihan. Begitu lampu kilat studio mulai menyala, dinamika kerja di antara mereka langsung terbentuk dengan mulus. Dohyun bergerak secara intuitif mengikuti arah lensa Yuna, sementara Yuna memberikan instruksi tegas namun tenang.
Tidak ada rayuan, tidak ada tatapan di luar batas profesional, dan tidak ada ketertarikan personal dari pihak Yuna.Semuanya murni urusan estetika dan kolaborasi visual.
Di lantai atas menara pusat Kim Group, Junwoo sedang meneliti laporan keuangan bulanan bersama Jaehyun.
Jaehyun menutup tablet di tangannya setelah menyampaikan beberapa poin penting. “Oh, omong-omong, Direktur, saya mendapat laporan singkat dari divisi pemasaran bahwa kampanye LUNE Studio berjalan sangat lancar. Hari ini mereka sedang melakukan test shoot dengan model utama.”
Junwoo menghentikan gerakan penanya, mengangkat dagunya sedikit. “Siapa modelnya?”
“Dari data agensi, namanya Lee Dohyun,” jawab Jaehyun tanpa curiga.
Junwoo terdiam. Nama itu langsung memicu memori tentang percakapannya dengan Yuna beberapa hari lalu di restoran.Ia tidak mengatakan apa-apa, ekspresinya tetap datar, namun cengkeramannya pada pena di antara jemarinya mengeras sesรับ.
Ia tidak meminta timnya untuk membatalkan atau mencampuri urusan pemilihan model LUNE—ia tahu persis batasan yang telah ia tetapkan untuk tidak mengintervensi profesionalisme Yuna. Namun, kenyataan bahwa seorang pria asing kini berdiri begitu dekat dengan Yuna di ruang kerjanya sendiri mulai mengusik ketenangan pikiran Junwoo.
Pukul lima sore, sebuah pesan masuk ke ponsel Junwoo.
Sebuah foto digital beresolusi tinggi dikirimkan langsung oleh Yuna. Di dalam foto tersebut, siluet Dohyun tampak berdiri di bawah pencahayaan dramatis berwarna kebiruan, memancarkan ekspresi tajam ke arah kamera. Di latar belakang yang sedikit buram, bayangan tubuh Yuna yang memegang kamera terlihat jelas, mencerminkan kolaborasi yang erat.
Junwoo memperbesar gambar di layar ponselnya, mengamati sorot mata sang model yang mengarah lurus ke arah lensa—ke arah tempat Yuna berdiri.
Ia mengetik balasan singkat: Model baru?
Beberapa detik kemudian, balasan Yuna masuk: Ya. Namanya Dohyun. Dia sangat cepat memahami arahan pencahayaan.
Tanpa sadar, Junwoo langsung mendial nomor Yuna. Sambungan terhubung dalam sekali dering.
“Ada apa, Tuan Kim?” suara Yuna terdengar di ujung sana, diiringi suara samar peralatan studio yang sedang dibereskan.“Apakah foto itu kurang tajam?”
“Tidak,” jawab Junwoo dingin. “Kenapa kau mengirimkan fotonya secara khusus?”
Yuna terdiam sejenak di ujung sambungan, laluhela napas pelan terdengar. “Junwoo... itu hanya foto hasil test shootpekerjaan kami. Jangan mulai mencari-cari alasan untuk cemburu.”
“Aku tidak cemburu,” sangkal Junwoo cepat, meski nadanya terdengar kaku. “Aku hanya bertanya.”
“Nada bicaramu sama sekali tidak terdengar seperti sedang bertanya, melainkan sedang menginterogasi,” balas Yuna lembut namun tegas. “Dan aku sedang bekerja.”
Junwoo terdiam. Ia tahu Yuna benar, tetapi sensasi tidak nyaman di dadanya menolak untuk pergi begitu saja.
Malam harinya, sebuah mobil sedan berwarna hitam yang dikemudikan sopir pribadi melaju membelah jalanan Gangnam yang mulai diterangi lampu kota. Di kursi belakang, Yuna dan Junwoo duduk berdampingan dalam keheningan yang sarat akan ketegangan kecil.
Yuna sibuk merapikan tabletnya ke dalam tas, lalu melirik sekilas ke arah Junwoo yang menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras.
“Kau masih memikirkan foto sore tadi?” tanya Yuna, suaranya terdengar sabar.
Junwoo menoleh sekilas, lalu membuang pandangan ke luar jendela. “Dia berdiri terlalu dekat denganmu di foto itu.”
Yuna menghela napas pelan, menutup tasnya dan meletakkannya di pangkuan. “Junwoo, dia seorang model. Dan aku seorang fotografer. Jarak adalah hal mutlak jika kami ingin mendapatkan sudut pengambilan gambar yang pas.”
“Aku tidak suka caramu menyebut namanya dengan begitu santai,” aku Junwoo akhirnya, suara baritonnya rendah dan sarat akan ketidaknyamanan yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.
Yuna menatap pria di sampingnya dengan tatapan lembut namun serius. “Kau cemburu pada seorang model profesional yang bahkan baru kulihat dua hari?”
Junwoo terdiam cukup lama sebelum menoleh, menatap mata Yuna lurus-lurus. “Ya. Aku tidak menyukai cara dia menatap ke arah kameramu... seolah-olah dia bisa melihatmu di baliknya.”
Yuna tertegun sejenak. Mendengar kejujuran yang langka itu, alih-alih merasa tertekan, ia justru melihat betapa dalamnya rasa takut kehilangan yang bersemayam di balik dinding dingin CEO Kim Group itu.
Begitu tiba di apartemen Hannam-dong, suasana di antara mereka masih menyisakan keheningan. Junwoo melangkah ke arah dapur untuk meneguk air dingin, sementara Yuna mengikutinya dan bersandar di sisi meja pulau dapur.
“Junwoo,” panggil Yuna pelan.
Junwoo meletakkan gelasnya, menoleh menatap kekasihnya.
“Apakah kau benar-benar percaya padaku?” tanya Yuna, suaranya tenang namun menusuk tepat ke dalam nurani pria itu.
“Aku percaya padamu, Yuna,” jawab Junwoo tanpa ragu sedetik pun. “Aku tidak pernah meragukanmu.”
“Kalau begitu,” lanjut Yuna, menatap tajam mata hitam pria itu, “jangan membuatku merasa harus terus-menerus menjelaskan setiap orang yang bekerja bersamaku. Kepercayaan berarti membiarkan aku bernapas di dalam duniaku sendiri.”
Kalimat itu menghantam Junwoo telak. Ia menyadari bahwa cemburu butanya perlahan-lahan mulai berubah menjadi belenggu yang tidak diinginkan oleh perempuan yang paling dicintainya. Junwoo melangkah mendekat, merengkuh bahu Yuna dan membenamkan wajahnya sejenak di ceruk leher perempuan itu.
“Aku minta maaf,” bisik Junwoo serak. “Aku tidak bermaksud mengekangmu. Hanya saja... rasanya sulit melihat duniamu begitu luas sementara aku ingin memilikimu seutuhnya.”
Yuna membalas pelukan itu, melingkarkan tangannya di punggung Junwoo dan mengusapnya lembut. “Aku milikmu,Junwoo. Tapi LUNE adalah identitasku. Kau tidak harus menyukai setiap orang yang bekerja denganku, tapi kau harus percaya bahwa hatiku tetap di sini.”
Junwoo mengangguk pelan dalam dekapannya. “Aku akan mencoba... aku sedang belajar.”
Beberapa puluh menit kemudian, suasana di ruang makan apartemen telah kembali hangat. Sepiring sup kimchi dan nasi hangat tersaji di atas meja, ditemani alunan musik jazz pelan dari speaker sudut ruangan.
Yuna menceritakan kejadian lucu hari itu—bagaimana Eunseo hampir menjatuhkan lampu studio karena terlalu bersemangat mengatur properti. Junwoo mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tersenyum kecil menanggapi cerita kekasihnya.
Namun, di penghujung makan malam, saat Yuna menyebutkan agenda esok hari, sebuah refleks spontan kembali lolos dari bibir Junwoo.
“Apakah besok kau akan bertemu lagi dengan... orang itu?” tanya Junwoo hati-hati, meski nada penasarannya masih jelas terdengar.
Yuna menghentikan suapannya. Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap Junwoo dengan sebelah alis terangkat dan senyuman penuh arti.
Junwoo langsung menyadari reaksinya sendiri. Ia mengangkat kedua tangan menyerah sambil tersenyum tipis. “Baiklah,baiklah. Aku menarik pertanyaanku.”
Yuna tertawa renyah, menggelengkan kepala melihat sisi posesif kekasihnya yang perlahan melunak. “Kau benar-benar tidak bisa berhenti ingin tahu, ya?”
Junwoo menatap Yuna dengan sorot mata yang dipenuhi kehangatan dan ketulusan mutlak. “Sudah kubilang, Yuna-ya...aku sedang belajar.”
Bagi Junwoo, malam itu menjadi pelajaran berharga pertama tentang cinta yang dewasa: bahwa mencintai tidak berarti menggenggam hingga hancur, melainkan belajar melepaskan tangan dengan ikhlas agar orang yang dicintai bisa terbang tinggi di langitnya sendiri.
Namun, jauh di lubuk hatinya, bayangan tentang betapa mudahnya dunia luar merebut perhatian Yuna tetap meninggalkan bara kecil yang sewaktu-waktu bisa menyala kembali.