Sisa ketegangan dari malam sebelumnya belum sepenuhnya lenyap dari udara kamar. Saat Yuna merapikan manset kemejanya di depan cermin lemari, pantulan bayangan Junwoo tampak berdiri di ambang pintu kamar mandi, melipat tangan di d**a dengan ekspresi yang menyiratkan sisa-sisa perdebatan mereka soal batas profesionalisme.
“Kau masih memikirkan hal itu?” tanya Yuna tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang menggelitik.
Junwoo melangkah mendekat, berhenti tepat di belakang Yuna dan menaruh kedua tangannya di atas meja rias,mengurung tubuh perempuan itu dalam ruang pribadinya. “Aku tidak memikirkannya. Aku hanya sedang mengevaluasi caramu menghadapi rekan kerja laki-laki tanpa melibatkan perasaanku.”
Yuna berbalik, memutar tubuhnya menghadap sang CEO dengan kepala tegak. “Karena memang tidak ada perasaan apa pun yang harus dilibatkan, Junwoo. Keberadaan rekan kerja di studio tidak akan pernah mengubah tempatku berpulang.”
Junwoo menatap lurus mata perempuan itu, membaca ketulusan yang terpatri di sana. Meski sisa kegelisahan di dadanya belum sepenuhnya sirna, ia mengangguk pelan. Hubungan mereka memang semakin erat, tetapi percakapan itu menjadi pengingat sunyi bahwa bagi pria seperti Junwoo, melepaskan kendali atas rasa takut kehilangan adalah pelajaran paling melelahkan di dunia.
Suasana di LUNE Studio siang itu dipenuhi dering telepon dan ketukan kibor yang sibuk. Di ruang kerja utama, Sora meletakkan sebuah map merah tebal di atas meja Yuna dengan sorot mata yang memancarkan binar kemenangan tertahan.
“Yuna, kau harus membaca ini sekarang juga,” kata Sora, mengetuk sampul map tersebut.
Yuna mengangkat sebelah alisnya, menghentikan kegiatannya memeriksa file foto. “Apa ini? Bukankah jadwal pameran lokal kita sudah penuh?”
“Ini jauh lebih besar dari sekadar pameran lokal,” timpal Sooyoung yang ikut bergabung, merapikan kacamatanya dengan tangan sedikit bergetar. “Sebuah agensi mode regional di Paris baru saja mengirimkan undangan resmi. Mereka ingin LUNE memegang proyek kampanye internasional untuk koleksi musim gugur mendatang.”
Eunseo yang berdiri di dekat mesin cetak menyembunyikan senyum lebarnya. “Paris, Unnie. Skalanya langsung melompat ke kancah global.”
Yuna membuka map tersebut, membaca setiap klausul penawaran dengan napas tertahan. Proyek itu menuntut kehadirannya secara langsung di Eropa selama kurang lebih lima hingga tujuh hari untuk memimpin pengarahan kreatif di lokasi pemotretan utama.
Ini bukan sekadar lompatan karier; ini adalah bukti nyata bahwa kerja keras timnya telah diakui melampaui batas teritorial Korea Selatan.
Tanpa keraguan yang berlebihan, Yuna menutup map itu dan menatap rekan-rekannya satu per satu. “Kita ambil proyek ini. Hubungi agensi di Paris dan konfirmasi kesiapan kita.”
Beberapa jam kemudian, di sebuah kafe tersembunyi berkonsep minimalis di kawasan Hannam-dong, Yuna duduk berhadapan dengan Junwoo. Aroma kopi panggang menggantung di udara sementara cangkir porselen putih tetap utuh di hadapan pria itu.
Yuna baru saja merampungkan penjelasannya mengenai tawaran proyek di Paris dan durasi perjalanannya selama seminggu penuh.
Junwoo terdiam cukup lama. Jemarinya yang memegang sendok kecil tidak bergerak menyentuh cangkir. Ada kilat keterkejutan yang berkelebat di balik manik hitamnya, disusul oleh hening yang terasa berat.
“Kau akan pergi ke Eropa,” ucap Junwoo datar, memastikan ulang informasi tersebut.
“Ya,” jawab Yuna tenang, menatap lurus kekasihnya. “Aku tahu ini mendadak, dan durasinya tidak sebentar. Jika kau merasa keberatan...”
“Kenapa aku harus keberatan?” potong Junwoo cepat, meski suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. Ia menarik napas perlahan, mencoba menjinakkan badai kecil yang mendadak bergejolak di dadanya. “Itu adalah pencapaian besar untuk LUNE. Kau sudah bekerja keras untuk sampai di titik ini, Yuna.”
Yuna mengerjap, merasakan kelegaan yang hangat merayap di dadanya. “Kau tidak marah karena aku harus pergi jauh?”
Junwoo menggeleng pelan, meski ada kejujuran pahit di sudut bibirnya. “Marah tidak. Khawatir? Tentu saja. Aku tidak terbiasa membayangkan jarak sejauh itu di antara kita. Tapi aku tidak akan pernah meminta suamimu—atau kekasihmu—menahan impianmu hanya karena rasa tidak aman milikku.”
Yuna tersenyum, menyentuh lembut punggung tangan Junwoo di atas meja. Di momen itu, ia tahu bahwa pilihan yang ia ambil tidak akan mengorbankan hubungan mereka.
Malam harinya, di ruang kerja pribadi apartemen Hannam-dong, layar laptop Junwoo menampilkan dokumen portofolio dan jadwal rinci kampanye internasional LUNE Studio yang dikirimkan Yuna.
Ia membaca setiap detail lini waktu, jadwal penerbangan, hingga daftar tim yang akan mendampingi Yuna di Paris.Pikirannya mulai bekerja di luar batas nalar rasional seorang pebisnis. Ia membayangkan Yuna mendarat di kota asing,dikelilingi oleh profesional asing, dan menghadapi situasi dinamis di mana ia—sebagai pria yang terbiasa melindungi perempuan itu—berada di zona waktu yang berbeda dan ribuan kilometer jauhnya.
Selama bertahun-tahun, Junwoo memegang kendali atas hampir setiap variabel di dalam hidupnya. Namun memikirkan Yuna di luar jangkauan pengawasannya menghadirkan sensasi asing yang tidak nyaman: ketidakberdayaan.
Junwoo menutup layar laptopnya dengan gerakan pelan. Ia bersandar di kursi kerjanya, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut, lalu mengingatkan dirinya sendiri dengan tegas: Percayalah padanya. Dia bukan seseorang yang bisa diatur oleh rasa takutmu.
Di ruang keluarga, Yuna merentangkan beberapa lembar moodboard digital dan cetak foto di atas meja kopi rendah.Begitu Junwoo melangkah masuk dari ruang kerja, perempuan itu langsung melambai antusias.
“Lihat ini,” seru Yuna berbinar-binar. “Tim di Paris mengirimkan referensi lokasi kastil tua di pinggiran kota. Aku berencana memadukan estetika klasik Eropa dengan sentuhan modern khas LUNE.”
Junwoo berlutut di samping karpet, ikut mengamati lembar-lembar rancangan visual tersebut. Ia mendengarkan setiap penjelasan teknis dan artistik yang meluncur dari bibir Yuna dengan penuh kesungguhan. Tidak ada nada meremehkan; sebaliknya, ia mengajukan beberapa pertanyaan tajam mengenai efisiensi logistik peralatan fotografi di luar negeri.
Melihat pancaran mata Yuna yang begitu hidup saat membicarakan dunianya, Junwoo merasa dunianya sendiri ikut melebar.
“Kau benar-benar mencintai ini semua, ya?” bisik Junwoo pelan, jemarinya terulur menyentuh rahang Yuna dengan kelembutan yang teramat sangat.
Yuna menatapnya lekat-lekat. “Sangat. Dan aku senang kau tidak meminta aku berhenti.”
Menjelang dini hari, setelah seluruh lampu apartemen dipadamkan dan deru napas Yuna di sampingnya mulai terdengar teratur, Junwoo masih terjaga dalam pekatnya malam.
Ia menatap langit-langit kamar, memikirkan perjalanan yang akan segera mengubah ritme kehidupan mereka.Ketakutannya bukanlah pada kemungkinan Yuna berpaling—ia tahu persis integritas perempuan itu. Ketakutan terbesarnya adalah kenyataan bahwa dunia Yuna semakin luas, sementara ia menyadari bahwa dirinya tidak akan pernah bisa memiliki kendali penuh atas setiap jengkal kehidupan kekasihnya.
Junwoo memiringkan tubuhnya, menatap wajah damai Yuna yang tertidur lelap. Ia tahu, rasa cinta yang sehat tidak boleh diracuni oleh keinginan untuk mengurung.
Dengan sangat hati-hati, ia menarik selimut wol hingga menutupi bahu Yuna, lalu mendaratkan satu ciuman ringan di keningnya. Pergilah, batinnya sunyi. Aku akan belajar berdiri di batas ini tanpa mencoba menahanmu.
Dua hari berselang, layar laptop Yuna di studio memuat sebuah surel resmi dari Paris Fashion Week Executive Committee.
Yuna membaca baris demi baris kalimat di layar tersebut sampai tiga kali untuk memastikan ia tidak salah tangkap: LUNE Studio resmi dikonfirmasi sebagai mitra kreatif utama untuk kampanye global musim gugur.
Kemenangan itu terasa begitu nyata hingga bulu kuduknya meremang. Seketika itu juga, ia meraih ponselnya, berniat mendial nomor Junwoo. Namun, urung. Ia memilih mengirimkan pesan singkat terlebih dahulu untuk meredakan debar di dadanya.
Yuna: “Junwoo-ah, aku punya kabar.”
Di lantai atas menara Kim Group, ponsel di atas meja kerja Junwoo bergetar pelan. Melihat nama pengirimnya, sudut bibir Junwoo terangkat membentuk senyuman tulus. Ia tahu persis berita apa yang sedang dibawa oleh perempuan itu.
Jarak mungkin akan segera membentang di antara mereka, tetapi di bawah langit Seoul yang mulai meredup sore itu,Junwoo menarik napas dalam-dalam dan bersiap menghadapi dunia baru di luar batas genggamannya.