Renan: Api yang Tak Padam
Di selatan dunia, matahari tak pernah benar-benar tenggelam. Ia hanya redup sesaat sebelum membakar langit kembali. Di sinilah letak Valkeor, benua bergunung berapi dan hutan tropis purba yang tak pernah diam. Panas dan uap belerang menguap dari tanah, menyatu dengan aroma kayu tua dan logam perang.
Dari tengah-tengah hutan lebat yang menyimpan rahasia ribuan tahun, berdiri Benteng Zareth, markas para panglima tertinggi Valkeor. Di sanalah Renan Rexander Altair menjalani hari-harinya—bukan sebagai seorang pangeran, tapi sebagai prajurit yang dibentuk oleh darah, api, dan tanggung jawab yang tak pernah ia minta.
Renan berdiri di arena latihan terbuka. Keringat menetes dari pelipisnya, namun tatapannya tetap setajam busur yang ia rentangkan. Satu tarikan napas… dan anak panah melesat tepat menembus bayangan ilusi, membelah proyeksi makhluk aneh yang berpendar ungu.
Ia menghela napas. “Lagi.”
“Panglima Altair,” terdengar suara berat dari belakang. Seorang prajurit tua datang dengan wajah gelisah. “Ada laporan baru dari perbatasan barat laut. Tiga regu pengintai menghilang. Tanpa jejak.”
Renan menyipitkan mata. Itu bukan sekadar laporan biasa. Dalam seminggu terakhir, laporan seperti itu terus berdatangan—prajurit yang hilang, hutan yang berputar arah, dan waktu yang terasa “menyimpang”. Beberapa penduduk mengaku melihat matahari terbit dua kali sehari. Sementara di desa pinggiran, seorang anak ditemukan dalam kondisi koma… tubuhnya tetap anak-anak, tapi rambutnya memutih.
"Itu bukan sihir," pikir Renan. "Itu... sesuatu yang lain."
---
Di ruang perang yang dikelilingi peta dunia dan proyeksi tiga dimensi medan, Renan berdiri di tengah rapat bersama Jenderal Kaesor, pemimpin tertinggi Valkeor.
“Ini bukan perang yang bisa dimenangkan dengan pedang,” ucap Jenderal Kaesor. “Ini perang melawan waktu itu sendiri.”
Renan mengepal tangan. “Lalu mengapa kita hanya mengirim regu-regu kecil tanpa peralatan?”
“Karena kita tak tahu apa yang kita hadapi. Dan karena rakyat butuh ketenangan, bukan kepanikan.”
Lalu Jenderal Kaesor menatapnya tajam.
“Kau berbeda, Renan. Kau... adalah hasil dari generasi yang lahir setelah Ledakan Arcanis. Darahmu tahan terhadap sihir—dan itu membuatmu satu-satunya kandidat.”
Renan tahu, penugasan ini bukan kehormatan. Ini uji nyali. Ia akan dikirim ke wilayah yang sudah mulai ‘terhapus’ dari peta waktu, tanpa kepastian bisa kembali. Tapi wajah-wajah yang terus menghantui mimpinya—anak-anak, orang tua, dan keluarganya yang dulu mati dalam tragedi—membuatnya tak bisa menolak.
“Beritahu aku ke mana harus pergi.”
---
Malam itu, Renan berdiri di tebing tinggi yang menghadap ke lembah api. Di bawahnya, lava mengalir perlahan di celah tanah, memantulkan cahaya merah ke langit. Ia melepaskan sarung tangan besinya dan menatap tangannya—penuh bekas luka, tapi juga kekuatan yang tak pernah ia banggakan.
Dalam pikirannya, ia terus bertanya:
"Apa gunanya kekuatan jika aku hanya bisa melihat mereka mati satu per satu?"
"Dan apa sebenarnya yang terjadi di batas dunia ini?"
Angin panas meniup rambut hitamnya yang panjang. Di kejauhan, seekor burung chrono, makhluk langka yang hanya muncul saat anomali waktu aktif, terbang menembus kabut. Suaranya seperti gema dari masa depan.
Renan menyadari:
Ini bukan lagi soal kehormatan militer. Ini soal kebenaran... dan kemungkinan penebusan.
---
Keesokan harinya, ia mengenakan jubah perangnya yang hitam dan perak, lambang panglima dengan lis api. Saat ia hendak pergi, seorang prajurit muda memberikannya gulungan perintah:
“Panglima Altair, tujuan Anda adalah perbatasan utara. Batas antara Valkeor dan Sinthralis.”
Renan tersenyum miris. Dua dunia yang bertolak belakang… dan sekarang dipertemukan oleh sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh sihir maupun teknologi.
---
Dan di sanalah, api dan salju akan bertemu.