--
Kabut ungu pucat menyelimuti perbatasan dua dunia—tempat di mana salju berhenti turun, dan tanah mulai menghembuskan panas. Garis Retakan, begitu orang menyebutnya, adalah area yang dulunya menjadi jalur dagang, namun kini ditinggalkan karena waktu di sana tak lagi stabil. Langkah seseorang bisa berarti hari… atau detik. Tak ada peta yang bisa dipercaya di sana, hanya intuisi dan keberanian.
Olydia menarik napas panjang. Ujung jubahnya mulai mengembun, dan sihir pelindung suhu yang melingkari tubuhnya memancarkan cahaya lembut biru muda. Di tangannya, tongkat sihir perak dengan kristal waktu berdenyut pelan—terhubung dengan denyut bumi. Ia menunduk pada tanah di depannya. Rumput beku di satu sisi, tanah hangus di sisi lain.
“Aku sudah sampai.”
Langkahnya tenang saat ia memasuki kabut. Arah waktu di tempat ini berdenyut aneh, seperti jantung dunia yang tak lagi sinkron. Beberapa batu memantulkan bayangan dirinya… tetapi dalam posisi berbeda. Dalam satu pantulan, ia berdiri mengenakan jubah putih pernikahan. Dalam pantulan lain, ia sendiri… berdarah.
“Ilusi temporal.” Ia mengabaikan. “Jangan percaya apa pun yang kau lihat.”
Tapi suara langkah lain membuatnya berhenti. Bukan bayangan. Bukan ilusi. Itu nyata.
---
Renan menarik busur panjangnya dan membidik sosok berjubah biru di kabut. Matanya menyipit.
Sihir… dari Sinthralis.
Ia belum tahu siapa perempuan itu, tapi aura yang dipancarkan cukup kuat untuk membuat tanah di sekitarnya membeku perlahan. Ia melangkah maju.
“Siapa kau?”
Olydia mendongak, tatapannya tenang namun tajam. “Aku yang seharusnya bertanya. Tanah ini berada di perbatasan wilayah sihir. Kau bukan bagian dari penjaga waktu.”
Renan tidak menurunkan busurnya. “Dan aku bukan orang yang suka menjawab pertanyaan dari orang asing bersenjata sihir.”
Sekejap, udara di antara mereka mencekam. Dua pribadi berbeda: satu seperti badai dingin yang mematikan dalam keheningan, satu lagi seperti bara panas yang siap meledak kapan saja.
---
Di detik berikutnya, tanah di sekitar mereka bergetar. Kabut menebal. Olydia dan Renan sama-sama refleks: sihir aktif, senjata terangkat. Dari balik kabut, suara serak dan lengking terdengar… seperti gema dari masa lalu yang belum pernah terjadi.
“Waktu… kembalikan waktu kami…”
Mereka berdua mundur bersamaan saat sosok hitam memanjang muncul—makhluk tinggi tanpa wajah, dengan tubuh seperti asap bergerigi. Ia meluncur cepat, dan dalam sekejap membelah bayangan pohon di dekat mereka menjadi dua waktu yang berbeda: satu layu, satu segar.
Phantom Echo.
Makhluk temporal yang hanya muncul di zona rusak. Legenda mengatakannya sebagai 'sisa dari masa depan yang ditolak'.
Olydia mengangkat tongkatnya. “Jangan terlalu dekat! Makhluk itu tidak bisa dibunuh dengan senjata biasa!”
Renan memutar busurnya, mengeluarkan anak panah berintikan kristal merah. “Bagus. Karena senjataku tidak biasa.”
Panahnya menembus tubuh makhluk itu, menyebabkan tubuh kabutnya bergetar dan berteriak. Tapi ia tidak hancur. Justru semakin banyak bayangan muncul di sekeliling mereka—serupa, namun memiliki bentuk berbeda-beda… seolah masing-masing berasal dari 'versi masa depan yang berbeda'.
---
Olydia mengaktifkan lingkar pelindung sihir. Ia menoleh ke Renan. “Kau bukan penyihir, tapi kau tak terguncang. Siapa kau sebenarnya?”
Renan menangkis serangan kabut dengan pedang pendek yang diselipkan di balik mantel. “Orang yang lebih suka bertanya nanti.”
Olydia menyipitkan mata. “Maka kita bertahan dulu. Nanti kau akan menjawab.”
Lingkar sihir menyelimuti mereka berdua. Untuk pertama kalinya, kekuatan salju dan api berpadu dalam medan yang terdistorsi waktu. Makhluk-makhluk itu melolong, berputar, dan akhirnya menghilang dalam ledakan cahaya biru saat Olydia menghantamkan tongkatnya ke tanah. Waktu sekitar mereka melambat, lalu kembali normal. Hening.
---
Kabut perlahan menipis, menyisakan serpihan kristal waktu yang melayang seperti debu bercahaya. Tubuh Olydia bergetar sedikit, bukan karena lelah… melainkan karena sesuatu yang aneh: detak waktu di sekitarnya mulai mengikuti ritme detak jantung Renan.
Ia segera menonaktifkan sihirnya dan mundur dua langkah. “Itu tidak seharusnya terjadi.”
Renan, yang kini bersandar di batang pohon retak, hanya mengangkat alis. “Apa?”
“Waktu kita… saling bersinggungan. Aku bisa merasakan waktu milikmu. Itu berbahaya.”
Matanya mengeras. “Kau tidak seharusnya ada di sini.”
Renan mengangkat bahu. “Aku bisa berkata sama untukmu. Kau tahu apa itu makhluk tadi?”
Olydia menatap tanah. “Phantom Echo. Fragmen masa depan yang gagal. Mereka muncul ketika ada ketidakstabilan waktu—dan seharusnya hanya bisa muncul jika seseorang dari masa depan… menginjak waktu yang bukan miliknya.”
Renan mendadak diam. Tak ada jawaban dari mulutnya, tapi sorot matanya berubah. Ada sesuatu yang ia sembunyikan—Olydia tahu itu.
---
Mereka berjalan menyusuri zona kabut bersama, meski tak satu pun dari mereka mengakui bahwa kini mereka sedang berjalan berdampingan. Hanya sihir pelindung waktu dari Olydia yang menjaga mereka tetap terikat di saat yang sama. Tanpanya, mereka bisa saja terpisah ke waktu yang berbeda.
Olydia sesekali menoleh ke Renan, mempelajarinya diam-diam. Ia bukan penyihir, namun auranya kokoh, tenang, dan… terlalu tahan terhadap distorsi waktu. Itu bukan hal biasa. Bahkan para penyihir pun bisa tersesat di zona kabut ini dalam hitungan menit.
"Manusia macam apa dia ini…?"
Renan, di sisi lain, sesekali mencuri pandang. Perempuan itu begitu tenang, seperti air beku yang menolak mencair. Tapi cara dia menatap, cara dia menggerakkan tongkat, bahkan bagaimana dia menahan lelah… menyiratkan satu hal: pernah terluka, terlalu dalam, tapi tidak hancur.
Mereka berhenti di sebuah reruntuhan pos penjaga tua. Sisa-sisa struktur dari masa perang dingin antara dua benua. Tanpa bicara, mereka duduk, menjaga jarak.
---
“Kenapa kau di sini?” Renan akhirnya bertanya.
Olydia menatap kosong ke reruntuhan. “Karena dunia ini sedang pecah, dan aku ingin tahu apakah keluarga kami yang menyebabkannya.”
Renan mengerutkan kening. “Keluarga?”
Olydia menoleh. “Ayahku… pernah memimpin proyek sihir waktu. Sebuah upaya menyatukan teknologi dan sihir. Proyek itu dilarang dan dihapus dari semua arsip. Tapi sejak anomali ini muncul… aku yakin itu belum sepenuhnya mati.”
Renan terdiam lama. Matanya menunduk.
“Kalau begitu… kita mungkin lebih mirip dari yang kita kira.”
Olydia menatapnya. “Apa maksudmu?”
Tapi Renan tidak menjawab. Hanya menggenggam kuat panah kristalnya. Tatapannya menembus kabut, seolah ada kenangan yang tidak ingin dia bawa ke dalam percakapan.
---
Tiba-tiba, jam pasir kecil yang tergantung di sabuk Olydia retak. Ia menoleh cepat dan memeriksa udara. “Waktu di sekitar kita bergeser.”
Langit di atas mereka berubah warna menjadi keperakan. Udara menjadi berat. Detak waktu melambat. Semua suara meredam.
Lalu… versi bayangan mereka sendiri muncul di seberang reruntuhan.
Olydia—lebih tua, berdiri dengan jubah yang koyak. Renan—lebih keras, dengan luka panjang di wajah dan tatapan kosong.
Bayangan itu tak bergerak. Hanya diam… seperti menonton mereka. Dan sebelum keduanya sempat bergerak, suara bisikan terdengar di pikiran mereka:
“Pilih jalanmu. Salah satu dari kalian… akan menghilang dari sejarah.”
Cahaya meledak. Bayangan itu lenyap. Dan waktu kembali normal.
Mereka terengah. Mata mereka saling bertemu. Tidak ada yang berkata-kata.
Tapi untuk pertama kalinya, ada pengakuan diam di antara mereka: ini jauh lebih besar dari sekadar misi. Ini… pertarungan melawan nasib sendiri.
---
Setelah kejadian itu, mereka memilih diam cukup lama. Olydia duduk bersila di atas tanah, menggambar pola sihir pelacak menggunakan es dan kristal. Sementara Renan memeriksa peta temporal yang terus berubah arah setiap menitnya.
“Bayangan itu tadi…” Renan akhirnya bersuara. “Itu masa depan kita?”
Olydia mengangguk pelan. “Kemungkinan masa depan. Bisa terjadi, bisa tidak. Tapi kenyataan bahwa kita melihatnya berarti satu hal…”
Renan melanjutkan dengan suara rendah. “...Waktu sudah tidak mengalir dengan benar di sekeliling kita.”
Di atas mereka, langit perlahan menampakkan retakan tipis berkilau. Tidak terlihat oleh mata biasa, tapi bagi mata penyihir—itu adalah tanda pertama dari pecahnya lapisan waktu, yang dikenal dengan nama kuno: Chrono Veil.
---
Mereka menyusuri lembah retakan hingga tiba di menara pengamatan waktu—sisa peninggalan penjaga sihir kuno yang dibangun tepat di garis batas dua benua. Menara itu runtuh sebagian, namun masih menyimpan arsip temporal: kristal penyimpan data waktu yang hanya bisa dibuka oleh pemilik sihir jalur putih dan darah garis pemimpin. Olydia adalah keduanya.
Ia menempelkan tangannya di permukaan batu kristal, dan pantulan cahaya membentuk proyeksi kecil: peta dunia… dengan titik terang yang berdenyut di tengah hutan kabut.
“Apa itu?” tanya Renan.
Olydia menyipitkan mata. “Sesuatu yang aktif… inti dari percobaan lama ayahku. Disebut… Nexus.”
Renan menunduk. “Kami menyebutnya titik merah. Lokasi di mana semua jam gagal bekerja. Bahkan waktu lahir dan kematian tidak bisa dicatat di sana.”
Mereka saling pandang. Dan saat itu mereka tahu: mereka mencari hal yang sama.
Dari dua benua yang saling membenci. Dengan dua warisan yang bertolak belakang. Tapi satu tujuan.
---
Setelah malam turun, mereka mendirikan kemah sederhana dengan sihir pelindung waktu. Olydia berjaga, duduk di dekat lingkar sihir yang mengambang, membaca sisa pola anomali yang terus bergeser. Renan duduk tak jauh, membalut lukanya dengan air hangat.
Hening. Lama.
Sampai akhirnya, Olydia berkata, tanpa menatap langsung, “Kau tidak takut dengan semua ini?”
Renan menjawab lirih, “Takut, tapi lebih takut diam dan kehilangan lebih banyak orang.”
“Siapa yang kau hilangkan?”
Renan menghela napas. “Keluarga. Dalam tragedi Valorth. Kau tahu?”
Olydia membeku. Valorth… adalah lokasi percobaan sihir waktu rahasia yang gagal, beberapa tahun lalu. Dikatakan sebagai bencana alam. Tapi dia tahu… itu bukan alam. Itu ulah manusia.
“Maaf,” ucap Olydia akhirnya. Bukan karena formalitas, tapi dari hati yang paham rasa bersalah. “Mungkin… orang-orang dari tempatku punya andil dalam itu.”
Renan tidak menyahut. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, dia tidak berjaga dengan pedang di pangkuan. Dan Olydia tidak memasang dinding es di antara mereka.
---
Keesokan paginya, kabut sudah menipis. Tapi waktu terasa lebih cepat. Mereka menyadari: hari sudah berganti tiga kali sejak mereka tiba. Kronologi dunia tak lagi stabil.
Olydia merapikan tongkatnya. “Kita harus ke titik Nexus. Sebelum waktu benar-benar patah.”
Renan mengangguk. “Kau punya rencana?”
Olydia menatapnya. “Satu. Tapi aku butuh penjaga. Seseorang yang bisa bertarung tanpa memecah waktu lebih jauh.”
Renan menyeringai kecil. “Kau baru saja menggambarkan diriku.”
Dan begitulah. Tanpa sumpah, tanpa perjanjian—hanya berdasarkan kebutuhan dan rasa saling percaya yang tumbuh pelan-pelan, mereka melangkah bersama ke tengah misteri dunia yang mulai kehilangan detaknya.
---