Hutan yang mereka masuki berbeda dari hutan biasa. Pepohonannya tak hanya tumbuh, tapi berulang. Ranting yang patah tumbuh kembali, lalu patah lagi. Daun yang jatuh, melayang ke atas, lalu gugur lagi. Semua seperti video yang diputar dan dikembalikan.
Olydia mengaktifkan sihir perlindungan waktu di sekelilingnya dan Renan. “Jangan sentuh apa pun. Di sini, satu langkah bisa membuatmu bertambah usia sepuluh tahun, atau kembali ke usia lima.”
Renan menyipitkan mata ke sekeliling. “Bagaimana kau tahu semua ini?”
“Aku… membaca catatan ayahku. Ini yang mereka sebut Zona Lantai Bayangan, perimeter terluar dari Nexus.”
Semakin dalam mereka melangkah, udara menjadi lebih tebal. Suara di sekitar mereka terdistorsi—teriakan jauh yang bergema seperti gema ribuan tahun. Lalu terdengar suara dari balik semak kabut:
“Langkahmu berat, waktu tahu kau orang asing.”
Renan langsung menarik pedangnya. Olydia membentuk lingkar sihir. Namun dari balik kabut, muncul sosok kurus dengan jubah rusak, rambut panjang perak, dan mata satu tertutup penutup kulit. Ia membawa tongkat bercahaya ungu.
Orion Trell.
“Jangan khawatir. Jika aku mau membunuh kalian, waktu sudah memberiku cukup kesempatan.”
Olydia maju. “Kau siapa?”
“Penjaga yang terlambat. Aku pernah menjaga Nexus… sebelum ia menjadi luka di tubuh dunia.”
---
Orion membawa mereka ke tempat perlindungan kecil di balik akar pohon besar, tersembunyi dari distorsi waktu. Di dalamnya, waktu lebih stabil. Di sana juga mereka bertemu dua orang lain:
Eiri Vanneth, perempuan berambut merah gelap, matanya peka, tangannya penuh tato sihir. Ia bisa “membaca” masa lalu benda atau orang lewat sentuhan.
Kael Draven, bertubuh besar dengan wajah keras, bekas luka di leher, dan lencana prajurit Valkeor yang disobek setengah.
Mereka semua… penyintas Nexus. Masing-masing kehilangan sesuatu karena efek waktu yang menyimpang. Dan semua memiliki alasan untuk tetap tinggal, mengamati, dan melindungi dari jauh.
---
Olydia mendekati Eiri. “Kau berasal dari Sinthralis?”
Eiri mengangguk. “Dulu aku murid akademi waktu. Tapi aku kehilangan ayahku… karena waktu membawanya ke tahun yang belum ada.”
Renan menatap Kael. “Dan kau dari Valkeor. Mengapa kau ada di sini?”
Kael menatapnya dingin. “Karena sistem kita sama busuknya. Aku tidak percaya siapa pun… termasuk kau.”
Renan mencengkeram gagangnya, tapi Olydia menyela. “Kita semua punya luka. Tapi kalau tidak bekerja sama, kita akan terkubur di bawah anomali ini.”
Orion menyela. “Nexus sudah bangkit. Kalian tak bisa lagi menunggu.”
---
Zona tengah Nexus dikenal sebagai Jantung Retakan—wilayah yang tidak memiliki pagi atau malam. Langitnya selalu abu-abu, dan pohon-pohon di sini tumbuh dengan arah berputar. Jam tidak bekerja, dan bahkan tubuh manusia bisa lupa bagaimana cara bernafas secara otomatis.
“Pegang tanganku,” kata Olydia pada Renan. “Kita butuh jangkar stabil.”
Renan menoleh sekilas, agak enggan. Tapi ia menurut. Dan saat mereka saling bersentuhan, waktu di sekitar mereka menyesuaikan. Stabil. Seimbang. Seperti dua energi yang saling melengkapi, meski enggan mengakuinya.
Kael menatap itu dari belakang. Tak berkata-kata, tapi wajahnya mencurigai sesuatu.
---
Dalam perjalanan, Eiri mendekati Olydia. “Boleh aku lihat?” katanya pelan, sambil menunjuk liontin biru di leher Olydia.
Olydia ragu. “Ini milik ibuku. Dia hilang saat ekspedisi waktu dulu.”
Eiri menyentuh liontin itu. Matanya berubah. Ia melihat kilatan masa lalu—gadis muda (Olydia) menangis dalam ruang kristal, tangan ibunya menjauh dalam dimensi yang runtuh. Tapi yang lebih mengejutkan: di balik ibunya… terlihat sesosok pria dari Valkeor. Mata tajam. Rambut hitam. Wajahnya… mirip Renan.
Eiri tersentak. Ia melepas sentuhan itu. “Olydia… kau tahu siapa pria di misi ibumu dulu?”
Olydia menggeleng perlahan. “Aku… tak pernah melihat arsipnya.”
Eiri menatapnya lekat. “Karena dia mungkin bukan dari Sinthralis. Mungkin… proyek awal itu dilakukan bersama Valkeor.”
Renan mendengar percakapan itu. Tapi sebelum ia bisa bertanya, Kael menimpali dengan suara tajam:
“Tentu saja. Karena semua ini disebabkan oleh eksperimen gila dua negara kalian.”
Olydia menoleh cepat. “Kau tak tahu apa yang terjadi sebenarnya—”
“Tapi aku tahu akibatnya!” bentak Kael. “Istriku… dan anakku… lenyap dari catatan dunia. Tak ada yang ingat mereka pernah hidup kecuali aku. Itu bukan sihir. Itu… penghapusan waktu!”
Renan maju selangkah. “Kalau begitu berhenti menyalahkan semua orang dan fokus ke masalah yang di depan mata.”
Kael mendekat, siap melawan. Tapi Orion menahan mereka dengan tongkatnya. “Cukup! Anomali tak menunggu pertengkaran manusia.”
---
Tiba-tiba, tanah bergetar. Suara dentuman seperti lonceng tua terdengar dari dalam tanah. Lalu dari balik kabut, muncul Phantom Echo yang berbeda—lebih padat, bentuknya seperti siluet manusia… berwajah Olydia.
Olydia tertegun. “Itu…”
Makhluk itu menatap langsung ke arahnya. Tapi tidak menyerang. Ia hanya mengangkat tangan, dan dalam suara berbisik yang terdistorsi, berkata:
“Kau pernah menyentuh waktu… kau akan melakukannya lagi…”
Renan berdiri di depan Olydia, bersiap menyerang. Tapi makhluk itu menghilang begitu saja, menyatu dengan tanah retak.
Hening menggantung. Semua mata tertuju pada Olydia.
Orion, dengan suara pelan, bertanya, “Apa yang pernah kau lakukan… dan belum kau ceritakan?”
---
Olydia berdiri diam. Semua perhatian tertuju padanya setelah kemunculan Phantom Echo yang menyerupai dirinya.
“Jawab, Olydia,” desak Kael. “Apa yang pernah kau lakukan?”
Ia membuka mulut, tapi tak langsung menjawab. Wajahnya pucat. Tatapannya kosong, seolah sedang melihat kembali sesuatu dari masa lalu—sesuatu yang selama ini dia kunci rapat-rapat.
“Delapan tahun lalu…” suaranya lirih. “Aku pernah masuk ke ruang sihir waktu milik ayah. Tidak seharusnya. Aku hanya anak-anak. Tapi aku penasaran. Ada pintu terlarang… dan aku membukanya.”
Renan perlahan berjalan mendekat. “Dan apa yang kau lihat?”
“Aku melihat… diriku sendiri. Di masa depan. Berdiri di tempat seperti ini. Dikelilingi oleh kehancuran waktu. Aku panik. Aku memanggil ibuku. Dia berusaha menutup portal itu… tapi terhisap ke dalam.”
Napasnya tercekat. “Dan ayah… menyalahkan diriku. Tapi dia juga… menyembunyikan semuanya dari dunia.”
Hening.
Eiri meletakkan tangannya di bahu Olydia, lembut. “Itu bukan salahmu.”
Tapi Kael hanya memalingkan wajah. Orion menatap langit. Waktu di sekitar mereka mulai mempercepat. Langit kini terpecah menjadi dua rona: keperakan dan merah darah. Tanda bahwa Nexus telah terbuka sepenuhnya.
---
Inti Nexus tidak terlihat seperti apa pun yang pernah mereka lihat. Sebuah dataran datar, tanpa horizon, dengan arsitektur melayang. Bangunan kaca yang memutar diri dalam spiral waktu. Di tengahnya, sebuah jam raksasa yang tidak berdetak, namun setiap putarannya membuat tanah bergetar dan ingatan mereka terguncang.
Olydia memegang kepala. “Waktu di sini mencoba meresap ke dalam pikiran kita…”
Renan berjalan cepat dan menopangnya. “Kau harus keluar.”
“Tidak. Kita sudah sampai sejauh ini. Aku harus tahu… apa yang sebenarnya terjadi di Nexus.”
Orion, yang berjalan paling lambat, mengangkat tongkatnya. “Kalian akan melihat… apa yang belum terjadi.”
Dan seketika itu, dunia berubah.
---
Semua terpisah. Dalam sekejap, mereka masing-masing terjebak dalam “gelembung waktu” yang menunjukkan kemungkinan masa depan mereka:
Renan melihat dirinya berdiri di tengah kota Valkeor yang hancur, memimpin pasukan hantu melawan monster waktu, tapi… sendirian. Tanpa Olydia.
Olydia melihat dirinya… duduk di singgasana Nexus. Di sekelilingnya, dunia membeku. Semua orang diam. Ia sendiri, tapi damai. Lalu bayangan ibunya muncul, berkata: “Kau bisa menyelamatkan dunia… atau menciptakan yang baru.”
Eiri melihat dirinya kecil, berdiri di depan makam ayahnya, lalu makam itu menghilang—seolah ayahnya tak pernah ada.
Kael melihat istrinya hidup kembali… lalu lenyap, lalu hidup lagi, terjebak dalam lingkar waktu yang menyakitkan.
Masing-masing ditarik kembali ke kenyataan dengan satu ledakan cahaya biru dari Orion.
“Kalian semua… sudah melihat apa yang waktu inginkan. Tapi yang penting bukan masa depan… tapi pilihan.”
---
Saat mereka mulai pulih, tiba-tiba tanah retak. Dari tengah Nexus, muncul benda berbentuk bola bercahaya—Inti Nexus. Di dalamnya, tampak sosok humanoid yang belum sepenuhnya hidup. Separuh tubuhnya transparan. Separuhnya… menyerupai gabungan wajah Renan dan Olydia.
Olydia mundur. “Apa itu…?”
Orion menjawab pelan. “Itu hasil dari semua percobaan waktu. Semua kemungkinan yang gagal, terkumpul menjadi satu. Kita menyebutnya…”
"Anomali Primer."
Dan sebelum mereka bisa bergerak, Anomali itu membuka mata. Dunia di sekitarnya mulai bergoyang. Bayangan dari berbagai masa bermunculan—diri mereka sendiri dalam versi berbeda.
“Waktu,” bisik Anomali itu, “bukan untuk dipulihkan. Tapi untuk diulang.”
Tatapan Olydia dan Renan yang saling bertaut—untuk pertama kalinya, bukan karena curiga, tapi karena mereka tahu… hanya bersama, mereka bisa bertahan.
---