---
Langit di atas Nexus berdenyut pelan, seperti jantung dunia yang kelelahan. Di bawahnya, tanah retak menyebar lebih luas, menciptakan pola spiral ke segala arah. Efek temporal mulai menjalar keluar dari Nexus, menembus akar pohon, merayap ke perbatasan benua.
“Ini baru permulaan,” gumam Orion. “Ketika waktu kehilangan pusatnya, seluruh dunia akan ikut membelah.”
Olydia berdiri menatap Anomali Primer dari kejauhan. Makhluk itu masih dalam kepompong cahaya, tidak menyerang, tidak bergerak. Tapi semua di dalam tahu: itu hanya soal waktu.
Renan menghampiri dari belakang. “Kau… kelihatan goyah.”
“Aku goyah,” jawab Olydia, jujur. “Setiap langkah yang kuambil membawa kita lebih dekat ke kehancuran.”
Renan duduk di sampingnya. “Tapi itu juga langkah mendekat ke jawaban.”
“Jawaban… yang mungkin tak ingin kudengar.”
---
Di tempat lain dalam Nexus, Kael memeriksa tepi lingkar pengaman. Waktu mulai melengkung, dan dia tahu: Nexus tak bisa ditahan lama. “Kita harus menghancurkannya sekarang,” katanya pada Eiri.
Eiri menentang. “Kau akan menghancurkan satu-satunya tempat yang menyimpan catatan masa lalu. Jika kita hilangkan Nexus, semua jejak sejarah… lenyap.”
“Dan kau pikir sejarah lebih penting daripada orang yang masih hidup?” balas Kael, tajam.
Eiri menegang. “Kau pikir aku tak kehilangan siapa-siapa?”
“Kalau begitu kau harusnya tahu perasaan ingin menghentikan sesuatu yang tak bisa dipahami, sebelum itu memakan semuanya hidup-hidup.”
“Justru karena itu kita harus memahaminya dulu!”
Perdebatan makin panas. Orion menengahi. “Cukup. Nexus tak akan menunggu kalian sepakat.”
---
Olydia memandangi tangan kanannya. Retakan tipis seperti garis sihir muncul, menyala biru. Ia menyadari: waktu mulai menempel padanya. Bukan hanya waktu eksternal—tapi kenangan yang belum terjadi. Ia mulai mengalami kilasan masa depan:
Dirinya… berdiri di atas puing Sinthralis, dikelilingi salju yang berhenti turun.
Renan… menghilang dalam pusaran waktu, meninggalkan liontin di tangan Olydia.
Suara ibunya… berkata: “Jangan pilih aku… pilih dunia.”
“Kenapa… kenangan ini muncul sekarang?” bisiknya.
Eiri muncul dan mendekat. “Karena Nexus melihatmu sebagai bagian darinya. Kau tidak hanya ‘penyebab’, Olydia. Kau adalah penerusnya.”
“Tidak.” Suara Olydia bergetar. “Aku tidak mau jadi bagian dari kehancuran ini.”
“Tapi kau juga bisa jadi penyelamatnya.”
---
Malam di dalam Nexus bukan benar-benar malam—lebih seperti senyap yang menelan cahaya. Olydia dan Renan duduk berdampingan, hanya ditemani gema halus waktu yang berderak perlahan.
“Apa kau pernah takut jadi monster?” tanya Olydia lirih.
Renan tak langsung menjawab. Ia menatap ke arah pusat Nexus. “Setiap hari. Tapi aku lebih takut tidak melakukan apa pun.”
Mereka saling pandang. Untuk pertama kalinya, Olydia merasa… waktu di sekitarnya tidak bergerak. Seolah dunia berhenti untuk memberi mereka ruang.
“Jika kita gagal…” bisik Olydia, “apa yang tersisa?”
Renan menjawab tenang, “Kita.”
---
Olydia menuruni lorong spiral kaca di bagian terdalam Nexus, tempat yang disebut Orion sebagai Ruang Asal. Di dinding-dindingnya mengalir ukiran waktu—fragmen peristiwa yang pernah dan belum pernah terjadi.
Tangannya menyentuh permukaan kaca.
Tiba-tiba matanya terbuka lebar. Ia melihat ibunya—masih muda—bersama sekelompok ilmuwan dan penyihir dari dua benua. Mereka berdiri di depan Nexus yang masih belum aktif. Dan di antara mereka…
Ayah Renan.
Ia tidak hanya ilmuwan. Ia adalah arsitek utama Nexus.
Olydia mundur, terengah. “Ini… tak mungkin.”
Suaranya bergetar. “Nexus bukan kesalahan negara. Ini… kesepakatan. Dua keluarga. Dua pewaris. Aku… dan Renan.”
---
Sementara itu, Kael menyusun rencana. Ia mencuri komponen sihir dari menara pelindung, membentuk Kristal Pemutus, alat yang dapat meruntuhkan pusat Nexus dan menghapus semua yang berhubungan dengannya.
Eiri memergokinya. “Apa yang kau lakukan?”
“Aku takkan duduk diam menunggu waktu meledak di atas kepala kita,” desis Kael.
“Kalau kau ledakkan Nexus tanpa persiapan, kita semua akan terjebak dalam putaran waktu tak berujung!”
“Lebih baik itu… daripada dunia yang terus berulang dan tak pernah sembuh!”
Mereka bertarung. Kilatan sihir dan panah energi meledak di lorong atas. Olydia dan Renan mendengar dari bawah dan segera berlari.
---
Ketika mereka tiba, Eiri sudah terluka ringan. Kael berdiri dengan kristal di tangan. “Beri jalan. Aku akan mengakhirinya.”
Olydia melangkah maju. “Aku tahu siapa yang membuat Nexus. Ayahku… dan ayah Renan. Mereka menciptakan ini… untuk memanipulasi sejarah.”
Semua terdiam.
Renan membeku. “Apa maksudmu?”
Olydia menatapnya. “Mereka ingin membangun masa depan… dengan membuang masa lalu. Siapa pun yang tidak sesuai dengan rencana, dihapus dari sejarah. Termasuk… keluargamu, Kael.”
Kael mengepalkan tinju. “Dan sekarang kau ingin menyelamatkan warisan iblis itu?”
“Tidak.” Olydia menggenggam kristal itu dari Kael. “Aku ingin menghentikannya… tapi tidak dengan menghancurkan semuanya tanpa sisa. Aku ingin mengakhiri waktu yang salah—bukan semua waktu.”
---
Orion muncul, suaranya berat. “Kalau begitu, kalian harus melakukan Ritual Pembalik. Tapi itu akan mengubah kalian. Salah satu dari kalian akan lenyap dari ingatan sejarah… untuk menstabilkan waktu.”
Renan melangkah maju. “Aku yang akan melakukannya.”
Olydia menoleh cepat. “Tidak! Aku penyebab awalnya. Aku—”
Renan memotongnya. “Tapi aku yang tumbuh dalam kebohongan. Ini tanggung jawabku juga.”
Orion menggeleng. “Tak bisa dipilih oleh kalian. Nexus… yang memilih.”
Dan Nexus bergetar.
Satu nama mulai muncul di udara, perlahan mengukir diri dengan cahaya: "O-L-Y-D-I-A."
---
Semua hening.
Olydia menggenggam tangan Renan. “Kalau aku hilang… siapa yang akan menjagamu?”
Renan menggigit bibir. “Aku tak akan lupa.”
Tapi Eiri menatapnya dengan kesedihan. “Kalau kau lenyap… dunia akan melupakanmu. Hanya Nexus yang akan mengingat.”
---
Ritual dimulai.
Orion menggambar lingkar waktu di tengah Nexus, menggunakan tinta dari air jam kuno yang hanya bisa ditemukan di inti ruang temporal. Olydia berdiri di tengah lingkaran, mengenakan jubah putih pemberian Eiri. Wajahnya tenang, tapi jemarinya gemetar.
“Begitu ritual ini aktif,” bisik Orion, “kau akan ditarik keluar dari garis waktu utama. Dunia akan disusun ulang tanpamu di dalamnya.”
Olydia menatap satu per satu. Eiri, dengan mata berkaca-kaca. Kael, yang kini diam, menunduk. Dan Renan—yang wajahnya keras, tapi matanya penuh luka.
Renan maju. “Beri aku waktu satu menit saja dengannya. Sendiri.”
---
Di dalam ruang waktu pribadi, hanya mereka berdua.
“Jadi… ini perpisahan?” tanya Olydia.
“Tidak,” jawab Renan. “Ini adalah titik awal yang hilang.”
Olydia mendekat. “Renan… kalau nanti kau tak lagi mengingatku—”
“Aku akan tetap mencarimu. Bahkan jika aku tak tahu kenapa.”
Tangannya menggenggam tangan Olydia, erat. “Dan jika dunia tak lagi punya tempat untuk kita berdua… aku akan menciptakan satu.”
---
Kembali ke Nexus, Ritual Pembalik mencapai puncaknya. Lingkaran menyala, membentuk pilar cahaya. Olydia mulai terangkat perlahan. Retakan waktu mengelilinginya, menarik kenangan-kenangan kecil: senyum masa kecil, pelukan ibunya, suara tawa di aula Sinthralis.
Tapi sebelum energi mencapai puncaknya… Nexus mengganggu sendiri.
Bayangan masa depan muncul—bukan ilusi. Kali ini, semua bisa melihatnya:
Renan dan Olydia saling berhadapan… dalam duel maut.
Olydia mengenakan jubah gelap Nexus. Renan berdarah-darah, dengan mata dipenuhi kebencian.
“Kau berubah,” kata Renan di masa depan.
“Tidak,” jawab Olydia. “Aku hanya akhirnya memilih—dan dunia tak kuat menerima pilihanku.”
Gambaran itu menghilang.
Orion tersentak. “Itu bukan masa depan tetap. Itu kemungkinan yang mulai terbentuk karena konflik hati kalian!”
Ritual terguncang. Energi melesat keluar dari kendali.
---
Renan, tanpa pikir panjang, melompat ke dalam lingkaran.
“Renan, jangan!” seru Olydia.
Tapi terlambat. Begitu ia masuk, waktu di sekitar mereka runtuh seketika. Semua terhempas—Eiri, Kael, bahkan Orion. Nexus meledak dalam cahaya putih kebiruan, dan—
Hening.
---
Olydia membuka matanya.
Ia berdiri di sebuah tempat asing. Tanpa warna. Tanpa langit. Hanya dataran kosong.
Di hadapannya, sebuah jam raksasa melayang… dengan dua jarum: satu atas namanya. Satu lagi, Renan.
“Kau diberi pilihan ulang,” bisik suara tak terlihat.
“Hapus dirimu… dan selamatkan dunia. Atau simpan Renan… dan biarkan waktu tetap rusak.”
Tangannya bergetar.
“Kenapa… selalu aku yang harus memilih?”
---
Sementara itu, di dunia luar, Eiri dan Kael bangkit perlahan. “Mereka… ke mana?” tanya Kael.
Orion membuka mata dengan berat. “Nexus telah membawa mereka… ke lapisan terdalam waktu. Tempat di mana pilihan… menjadi kenyataan.”
Eiri menggenggam d**a. “Kalau mereka tak kembali…”
“Dunia akan tetap berjalan.” Orion menatap langit yang mulai stabil. “Tapi tanpa mereka, ia akan berjalan tanpa arah.”
---
Di ruang waktu putih, Olydia akhirnya berkata:
“Aku… akan memilih bukan untuk menyelamatkan siapa pun… tapi untuk mengingat.”
“Agar aku tahu… kesalahan mana yang harus kuperbaiki.”
Dan ia memutar jarum jam… ke tengah.
---
Ledakan cahaya terakhir menutup babak itu.
Ketika Olydia membuka matanya lagi… ia berada di tempat berbeda.
Sinthralis. Tapi lebih sepi. Lebih asing.
Dan Renan… berdiri di sana. Menatapnya… tanpa mengenalnya.
“Maaf, apakah kita pernah bertemu?”
tanya Renan.
Olydia tersenyum tipis. “Belum. Tapi kita akan bertarung bersama. Lagi.”
---