Salju turun di Sinthralis—tapi tak lagi terasa sama.
Olydia berdiri di tepi balkon istana es yang dulunya ia sebut rumah. Bangunannya masih megah, namun suasananya… datar. Tanpa warna. Ia mengenakan jubah pelindung waktu, berkamuflase sebagai peneliti keliling dari wilayah netral.
Tak ada yang mengenalnya. Tak ada yang memanggil namanya.
“Begitulah jika kau dihapus dari sejarah,” gumamnya.
Namun, anehnya, beberapa bangunan retak halus. Jam di menara pusat kota berdetak tidak stabil—maju tiga menit, lalu mundur satu. Olydia tahu: anomali belum benar-benar hilang. Ia hanya... terkubur.
---
Ia menyelinap ke arsip kota, menyamar sebagai peneliti “Veira.” Ia membuka kembali peta lama, catatan ekspedisi waktu, dan menemukan hal ganjil: Nexus tidak pernah tercatat. Bahkan kata “waktu” tak pernah dicatat sebagai sihir.
Dunia ini bukan hanya menghapus Olydia… tapi juga menghapus konsep waktu sebagai kekuatan.
Namun ketika ia menyentuh bagian bawah salah satu gulungan, tinta tak terlihat muncul:
“Apa yang diputar, pasti meninggalkan jejak.”
Matanya menyipit. Itu… kalimat ibunya.
---
Sementara itu, di benua Valkeor…
Renan Rexander Altair berdiri di medan latihan. Pakaian hitam merah, pedang panjang di punggung, dan tatapan tajam yang sama. Tapi ia tak lagi menyandang gelar Panglima. Ia kini hanya pelatih elit—penuh kemampuan, tapi tanpa pengaruh besar.
“Kenapa kau tak ambil posisi jenderal?” tanya salah satu murid.
Renan menghela napas. “Karena aku tak ingat kenapa aku harus memimpin.”
Ada kekosongan dalam dirinya. Seperti… ada bagian hidup yang pernah berarti, tapi kini hilang bentuknya.
Setiap malam, ia bermimpi tentang perempuan berambut perak di salju. Wajahnya kabur. Suaranya tak terdengar.
Namun Renan bangun setiap pagi dengan d**a sesak—dan tanpa tahu kenapa.
---
Olydia menyusup ke Perpustakaan Aetheria—bangunan larangan di bawah istana Sinthralis. Di sana, ia berharap menemukan jejak ibunya. Tapi yang ia temukan bukan nama ibunya… melainkan nama dirinya sendiri.
Di salah satu lemari batu yang sudah tak dibuka bertahun-tahun, tergores tulisan:
“Olydia Ahvi Sovanna – Variabel K.”
Dan di bawahnya:
“Fraktura belum selesai. Jika kau membaca ini, waktu telah menolak hasilmu.”
Tubuh Olydia melemas. Dunia ini tidak hanya salah—dunia ini menolak perubahan.
---
Di tempat lain, di tengah reruntuhan menara jam tua, sesosok pria berdiri. Rambut panjang, jubah hitam ungu. Di tangannya… liontin biru milik Olydia.
Ia tersenyum samar.
“Kau memang memilih untuk dihapus, Olydia. Tapi waktu… selalu menulis ulang siapa yang pantas dikenang.”
---
Olydia kembali ke reruntuhan Menara Hibernal, tempat dahulu para pelindung sihir waktu dilatih secara rahasia. Kini tak lebih dari puing bersalju. Tapi di bawah lantainya, lorong bawah tanah masih hidup.
Ia menyalakan bola cahaya kecil dari batu jam yang ia temukan—dan simbol di dinding menyala perlahan.
Suara samar terdengar. “Kode identifikasi?”
Olydia mendekat. “Veira-Null… Variabel K.”
“Terdeteksi. Aktivasi ulang pengarsipan Fraktura.”
Lorong terbuka. Di dalamnya, kristal berbentuk spiral menggantung, memancarkan cahaya biru lembut. Di dekatnya, sosok berjubah pendek menunggu.
Namanya Ishan, anak muda berusia sekitar 18 tahun, mantan murid penjaga waktu yang berhasil selamat dari penghapusan sejarah. Ia ingat Olydia… meski samar.
“Kau… yang kusebut dalam mimpi.”
Olydia menatapnya dalam. “Mimpi-mu bukan ilusi. Waktu mencoba mengembalikan benang yang terputus.”
---
Sementara itu di Valkeor…
Renan mendapat perintah langsung dari Dewan Bayangan: memburu penyusup sihir yang menyusup ke wilayah netral. Target disebut-sebut membawa “residu sihir waktu” dan mengacaukan stabilitas teknologi benua.
Renan tidak tertarik—sampai ia melihat gambar yang buram.
Sosok berkerudung perak. Wajah tak jelas. Tapi jantung Renan berdetak lebih cepat tanpa alasan.
“Siapa ini…?”
Tak ada yang bisa menjawab. Tapi batinnya tahu: misi ini akan membuka sesuatu yang lama ia cari, bahkan jika ia tak sadar sedang mencari.
---
Di perbatasan antara Sinthralis dan wilayah netral, Olydia dan Ishan tiba di desa kecil bernama Argelith. Desa ini tidak ada di peta resmi, tapi eksis di catatan waktu lama—tempat pertemuan dua garis sihir: waktu dan ingatan.
Mereka bertemu dengan seorang perempuan tua bernama Sahra, mantan penjaga gerbang dimensi waktu.
“Fraktura tidak hanya terjadi di Nexus,” kata Sahra. “Waktu sekarang memecah dunia… menjadi cabang kemungkinan. Kau pikir kau menyelamatkan dunia, Olydia. Tapi sebenarnya… kau membaginya menjadi dua.”
Olydia terdiam.
Sahra menyerahkan kunci temporal—artefak berbentuk segitiga melayang.
“Kau hanya bisa menstabilkan satu garis waktu. Yang lain akan runtuh.”
---
Malam tiba. Di luar desa Argelith, pasukan Valkeor mengepung desa tanpa suara. Renan berdiri paling depan. Tangan menggenggam pedang, mata menyipit ke arah cahaya yang menyala samar di pondok tengah desa.
Dewan mengatakan ini hanya penyusup biasa.
Tapi hati Renan… bergetar.
Dan ketika Olydia membuka pintu pondok—
Mata mereka bertemu.
Renan tak mengenalnya. Tapi tubuhnya membeku. Seolah jiwanya sendiri menarik napas dalam-dalam.
Olydia tak berkata apa pun. Tapi suara hatinya berbisik: “Ini kau. Tapi bukan ‘kau’ yang kukenal.”
---
“Identifikasikan dirimu!” seru Renan.
Olydia tetap diam. Ia tahu, sekali ia sebut namanya… dunia akan bereaksi. Waktu akan mencoba menyusun ulang kembali sejarah.
Jadi ia hanya berkata:
“Aku bukan musuhmu, Renan.”
Renan menegang. “Bagaimana kau tahu namaku?”
Detik itu juga, semua anak buahnya mengangkat senjata.
Ishan menarik lengan Olydia. “Kita harus pergi.”
Tapi Olydia masih menatap Renan. Dalam sorot matanya, ada kesedihan yang tak bisa dijelaskan.
“Karena… aku adalah waktu yang tak kau ingat.”
---
Ishan membuka celah dimensi menggunakan kunci temporal yang diberikan Sahra. Cahaya biru keperakan menyambar seperti kilat, membelah udara di antara mereka dan pasukan Valkeor.
“Lompat sekarang!” teriak Ishan.
Olydia menatap Renan satu detik terakhir—dan masuk.
Celah menutup. Tapi sebelum hilang sepenuhnya, Renan melihat simbol jam spiral di udara. Seketika, dadanya berdenyut. Bukan secara fisik… tapi secara ingatan.
Ia melihat dirinya berdiri di tebing bersalju. Memandang perempuan yang menatapnya dengan luka di mata.
“Renan…” suara itu berbisik. “…aku tidak ingin kau lupa.”
Lalu semuanya gelap.
Renan jatuh berlutut. Anak buahnya mengelilinginya, bingung.
---
Di sisi lain celah dimensi, Olydia dan Ishan tiba di dunia antara: tempat waktu belum terikat. Tempat Nexus lama dulu terbentuk. Mereka berdiri di atas danau mengambang, langit penuh serpihan memori, dan udara yang tidak diam, tapi bergerak memutar.
Ishan gemetar. “Kita di pusat Fraktura.”
Olydia mengambil langkah maju. Di tengah danau, sebuah struktur kristal transparan berdiri—mirip dengan Nexus, tapi belum stabil. Belum sepenuhnya hidup.
“Ini… Nexus Baru,” katanya pelan. “Waktu menciptakannya kembali… karena aku menolaknya pergi.”
---
Sementara itu, di Valkeor, Renan kembali ke kamarnya. Ia memeriksa kembali dokumen-dokumen penyusup. Tak ada nama. Tak ada asal. Tapi ia mencoret bagian sampulnya dan menemukan… simbol keluarga Sovanna.
Tangannya bergetar.
Lalu… liontin biru muncul di laci mejanya—yang tak pernah ia letakkan di sana.
“Kenapa… aku merasa mengenalmu?” bisiknya.
Dan malam itu, ia bermimpi lagi. Tapi kali ini, ia tak hanya melihat Olydia.
Ia melihat dirinya sendiri… memeluknya. Dalam dunia yang runtuh.
---
Di Fraktura, Olydia berdiri di depan struktur Nexus Baru. Ia menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menstabilkan dunia tanpa harus menghapus siapa pun… adalah dengan membiarkan semua waktu hidup berdampingan.
Namun, itu berarti satu hal:
“Akan ada dua Renan. Dua aku. Dua versi sejarah… dan hanya satu yang bisa bertahan.”
Ishan menatapnya takut. “Apa kau yakin? Dunia bisa pecah.”
Olydia menjawab, “Dunia sudah pecah. Aku hanya memberinya pilihan untuk memilih dirinya sendiri.”
---
Dan malam itu, di dunia nyata dan Fraktura, retakan besar muncul di langit. Orang-orang mulai bermimpi tentang tempat dan orang yang tidak mereka kenal. Tentara mulai kehilangan ingatan di tengah misi. Anak-anak menyebut nama yang belum pernah diajarkan.
Waktu tidak hanya membingungkan. Ia mulai melawan.
---
Olydia berdiri di puncak menara kristal Nexus Baru. Ia menatap dunia yang perlahan berubah bentuk di bawahnya.
“Jika aku akan dilupakan lagi… setidaknya kali ini aku akan tinggalkan sesuatu yang tak bisa dihapus: kebenaran.”
Dan jauh di tempat lain…
Renan terbangun dengan satu kata di lidahnya.
“Olydia…”
---
Di ruang temporal antara, ketiga tokoh berdiri:
Olydia,
Ahvi,
dan Renan.
Ketiganya adalah simpul waktu yang saling bertabrakan. Dunia di sekitar mereka memudar—menjadi lapisan transparan dari ribuan kemungkinan: kota yang terbakar, dunia beku, dan langit yang retak.
Ahvi melemparkan cahaya hitam ke arah Renan.
“Dia tak semestinya ada di sini!” serunya.
Olydia menangkis serangan itu dengan pusaran sihir berwarna biru keperakan.
“Tidak!” bentaknya. “Dialah jangkar dunia yang ingin kau kendalikan.”
Ahvi meraung. “Cinta tak akan menyelamatkan waktu. Hanya kendali.”
---
Renan melangkah ke tengah. Sorot matanya tak lagi bingung—melainkan penuh keyakinan.
“Dulu… aku ingin mengingat karena ada yang hilang. Tapi sekarang aku tahu: aku ingin mengingat karena aku ingin memilih sendiri siapa aku.”
Tiba-tiba, Nexus Baru menyala terang. Dua sisi waktu—yang semula saling menolak—mulai beresonansi. Semua pilihan yang pernah dibuat Olydia… kini menuntut keputusan baru.
Menyatukan… berarti kehilangan sebagian.
Memisahkan… berarti terus berperang selamanya.
---
Ahvi menatap Olydia untuk terakhir kali.
“Kau pikir menyatu denganku akan membuatmu utuh? Kau akan kehilangan semua kendali yang kau perjuangkan.”
Olydia menggenggam liontin biru di dadanya.
“Kalau harus memilih antara kendali… dan menjadi manusia—aku pilih jadi manusia.”
Ia melangkah mendekat… dan memeluk Ahvi.
Sekejap, dua tubuh mereka bersinar kuat. Retakan di langit menutup perlahan. Dan saat pelukan itu memudar, hanya satu Olydia yang tersisa.
Rambutnya berubah: separuh perak, separuh hitam.
Matanya… membawa beban dua dunia.
---
Renan mendekat.
“Kau… masih Olydia?”
Ia tersenyum. “Aku… adalah semua versi dari diriku. Dan semua kesalahan serta kebaikan yang menyertai.”
Dunia mulai bergeser di sekeliling mereka. Pohon berubah bentuk. Kota membenahi diri. Jam mulai berdetak seragam.
Tapi tetap ada perbedaan kecil.
Orang-orang yang seharusnya mati… hidup.
Beberapa yang harusnya hidup… tak ada.
Fraktura tidak sepenuhnya hilang.
Tapi kini, ia terkendali.
---
Beberapa hari kemudian, di ruang tengah Nexus Baru yang kini berdiri di perbatasan Valkeor dan Sinthralis, Olydia dan Renan memimpin rapat lintas-benua pertama.
“Kita tak akan lagi membagi sihir dan teknologi,” kata Olydia. “Kita akan menyatukannya—dengan batasan.”
Renan menambahkan, “Karena sekarang kita tahu… waktu bukan alat. Waktu adalah cermin.”
---
Olydia duduk sendiri, menatap liontin di tangannya.
“Ahvi…,” bisiknya pelan.
“Terima kasih sudah jadi bagian dariku. Aku akan membuatnya layak.”
Dan saat ia berjalan keluar…
Bayangan waktu di belakangnya tersenyum.
---