Pagi pertama setelah dunia bergabung tidak membawa hujan maupun matahari.
Langit di atas Sinthralis tampak jernih, tapi anehnya… waktu terasa berat.
Beberapa orang bangun tanpa tahu siapa mereka.
Beberapa lainnya mengingat terlalu banyak hal sekaligus.
Di lorong-lorong Istana Nexus Baru, para peneliti sibuk mengkaji gelombang temporal yang memancar dari pusat ruang sihir. Dan di ruang observasi utama, Olydia berdiri diam, menatap jam raksasa yang baru dibangun ulang.
Jarumnya bergerak… tapi sedikit tersendat.
“Waktu belum menerima bentuk barunya sepenuhnya,” gumamnya.
Renan masuk ke ruangan, membawa laporan.
“Enam desa di sisi timur mengalami ‘ingatan lompat’. Orang-orang bermimpi tentang masa depan mereka sendiri.”
Olydia menatapnya. “Nexus memakan sesuatu. Tapi bukan energi. Ia menyerap kemungkinan.”
---
Di tempat lain—di bawah reruntuhan menara tua yang tak tercatat dalam peta mana pun—sekelompok sosok berjubah gelap duduk melingkar. Di tengah mereka, sebuah batu sihir berwarna merah tua berdenyut perlahan.
Kelompok itu dikenal sebagai Astra Noctis.
Mereka bukan sisa dari Fraktura. Mereka adalah pengamat waktu yang tidak tersentuh, menyimpan diri di luar pusaran dimensi. Dan kini, bagi mereka, penyatuan realitas adalah kecelakaan fatal.
“Mereka mengacaukan struktur waktu yang paling stabil,” kata salah satu pemimpin, bersuara dalam dan gemetar.
“Kita harus kembalikan realitas… bahkan jika itu berarti menghapus mereka.”
Kristal merah bersinar—menunjukkan wajah Olydia, lalu Renan.
Target telah ditentukan.
---
Di Nexus Baru, Ishan mulai curiga dengan hasil perhitungan di ruang bawah tanah.
“Angka ini tidak stabil,” katanya pada teknisi dari Valkeor. “Ini seperti… waktu membakar sesuatu yang tidak nyata.”
Teknisi itu mengangkat alis. “Apa maksudmu?”
Ishan menunjuk grafik: laju energi temporal meningkat, tapi sumbernya… bukan dari dunia nyata.
“Seolah-olah… Nexus menyedot memori dari kemungkinan masa depan.”
Teknisi menatapnya takut. “Kalau benar… maka setiap detik yang kita lalui bisa jadi menghapus hal-hal yang belum terjadi.”
---
Renan mengawasi pelatihan pasukan gabungan. Ia melihat anak-anak muda dari dua benua—dulu musuh, kini saling bahu-membahu. Tapi ia juga tahu… kedamaian semacam ini rapuh.
Di tengah pelatihan, seorang prajurit muda jatuh pingsan—mengigau dalam bahasa kuno.
Renan memanggil tabib, tapi sebelum dibawa, anak itu berteriak:
“Astra Noctis! Mereka datang dari masa yang seharusnya punah!”
Renan langsung menegang. Nama itu tidak muncul dari sembarang tempat. Hanya orang-orang yang memiliki “jiwa terfragmentasi”—jiwa yang pernah hidup di dua realitas—yang bisa menyebut nama itu secara alami.
---
Olydia dan Renan bertemu malam itu.
Mereka berdiri di balkon Nexus Baru, melihat langit yang kini dihiasi garis-garis samar biru seperti retakan tipis.
“Kau tahu,” kata Renan pelan, “aku mulai merasa kita belum benar-benar keluar dari bahaya.”
Olydia menjawab, “Karena bahaya kali ini bukan datang dari waktu… tapi dari orang-orang yang ingin waktu tak berubah.”
Dan di bawah cahaya redup itu, bayangan hitam melintas cepat di belakang mereka. Tak terdengar. Tak terlihat.
Tapi jauh di ruang bawah, Ishan tak kembali dari ruangan analisanya.
Yang tersisa… hanya bekas jejak darah hitam di dinding kaca.
---
Ruangan analis utama Nexus kini dikunci total. Di dalamnya, hanya tersisa layar-layar data temporal yang mengedip kacau… dan bekas energi hitam tak dikenal.
Olydia berdiri menatap simbol berbentuk lingkaran retak tiga cabang yang terbakar di lantai.
Simbol itu… tidak muncul dari sihir, teknologi, atau kombinasi keduanya.
Tapi dari sesuatu yang tak tercatat.
Renan masuk, membawa potongan logam hitam yang ditemukan dekat ruang pengawasan. Ukirannya halus, melingkar—dan di baliknya terukir kata kuno: "Vessamar."
Olydia membaca dengan suara pelan.
“Bayang-bayang dari kemungkinan yang ditinggalkan…”
---
Di lorong bawah Nexus, Olydia menemui Thalean, mantan peneliti waktu dari era sebelum penyatuan realitas. Pria itu hidup terasing, dengan tubuh setengah tertutup perisai temporal akibat terjebak di antara dimensi selama Fraktura.
“Vessamar…” gumam Thalean saat mendengar kata itu. “Kau tak seharusnya menyebutnya.”
“Aku ingin tahu,” kata Olydia tegas. “Seseorang menculik Ishan. Jejaknya… seperti bekas dimensi terkompresi.”
Thalean gemetar.
“Astra Noctis… bukan manusia, bukan makhluk. Mereka adalah kehendak dari realitas yang ditolak. Mereka hidup dalam ‘sela waktu’—tempat yang tak diakui oleh sejarah maupun masa depan.”
---
Di sisi lain, Renan menyusuri kembali Arsip Kehidupan, ruang tersembunyi dalam perpustakaan Valkeor yang menyimpan catatan eksistensi makhluk-makhluk lintas realitas.
Ia menemukan lembaran yang disebut “Entitas Tertinggal”.
Di antaranya:
Eidras: roh masa lalu yang kehilangan tubuh fisik
Lucion: penjaga dimensi lenyap
Noctis: bayangan waktu yang meniru jejak jiwa manusia
Dan di catatan kaki, tertulis:
“Jika Astra Noctis bangkit, Nexus akan menjadi mangsa pertama mereka. Karena Nexus adalah tempat di mana semua realitas berusaha menjadi nyata.”
---
Sementara itu, Ishan… tidak sepenuhnya lenyap.
Ia terbangun di ruang tak bernama—serupa gelembung memori yang tak pernah ada. Dindingnya terbuat dari cahaya abu-abu, dan suara di sekelilingnya bukan suara… tapi gema dari pemikiran orang lain.
“Kau adalah pecahan dari kemungkinan yang kami tolak.”
“Kau membawa kehendak bebas, dan itu adalah virus bagi kestabilan.”
“Kini kau akan menjadi jembatan bagi kehendak kami.”
Ishan mencoba melawan, tapi tubuhnya tak bergerak. Ia melihat di sekelilingnya: bayangan tak bernama, semua mengenakan wajah orang-orang yang ia kenal—tapi dengan ekspresi hampa.
---
Olydia berdiri di puncak menara pengawasan Nexus, menatap langit malam yang mulai berubah warna.
Sebuah bintang merah—yang tak pernah ada sebelumnya—muncul perlahan.
“Itu… sinyal pertama. Dunia sedang dilubangi dari dalam,” katanya pelan.
Renan berdiri di sisinya, memegang simbol “Vessamar” yang kini bersinar lemah.
“Kau yakin kita siap untuk melawan… sesuatu yang bahkan tak memiliki bentuk?”
Olydia mengangguk.
“Kalau mereka berasal dari realitas yang ditolak, maka kita akan buktikan bahwa dunia yang kita pilih… pantas untuk bertahan.”
---
Renan, Olydia, dan tim kecil dari Valkeor dan Sinthralis bergerak menuju reruntuhan Ravernox, tempat terjadinya pecahan waktu pertama saat Fraktura. Di sanalah catatan tua menunjukkan adanya gerbang tersembunyi—sisa dimensi “sela waktu”.
Namun tak ada pintu. Hanya cekungan tanah, datar dan kosong.
Sampai Renan meletakkan simbol Vessamar di tengahnya.
Tanah berdenyut.
Udara bergetar.
Dan sebuah lubang tanpa cahaya terbuka perlahan—diam, tapi dalam.
Mereka masuk.
---
Di dalam, mereka tak menemukan dinding, langit, atau tanah. Hanya hamparan putih kelabu. Di kejauhan, berdiri menara tunggal, terbuat dari bayangan yang membeku. Di puncaknya, terlihat sosok Ishan—membeku dalam waktu, seperti patung hidup.
Tapi saat mereka mendekat… Olydia melihat dirinya sendiri muncul dari sisi kanan.
“Terlambat. Kami sudah memilih,” kata bayangan Olydia itu.
Renan reflek mengangkat senjata. Tapi suara bayangan itu tetap lembut, menyerupai Olydia sepenuhnya.
“Di dunia kami, Ishan sudah memilih kami. Kau… hanya pecahan.”
---
Olydia maju perlahan. Ia tahu tempat ini tak bisa dilawan dengan sihir atau senjata. Tempat ini adalah struktur dari ilusi dan keraguan. Astra Noctis menyerang lewat keretakan dalam jiwa.
Bayangan Olydia menyentuh wajahnya. “Berapa banyak keputusan yang kau sesali? Berapa banyak orang yang kau korbankan untuk jalanmu?”
Gambar-gambar melintas cepat: Ayahnya saat terakhir, Kael, masa kecilnya yang ia lupakan karena menyatu dengan Ahvi.
Ia bahkan tak yakin siapa dirinya lagi.
Tapi di tengah itu semua… Renan menggenggam tangannya.
“Kau adalah Olydia… karena kau memilih. Dan semua luka itu adalah milikmu, bukan untuk dihapus.”
---
Dengan kekuatan itu, Olydia menghancurkan bayangannya sendiri.
Menara bergetar hebat. Ishan mulai bergerak. Tubuhnya berpendar dengan kilatan gelap—berusaha mengambil alih oleh entitas Noctis.
Olydia mengangkat tangan.
“Ishan. Ini aku. Kau tak sendiri.”
Bayangan hitam di tubuh Ishan meraung. Tapi tubuhnya meledak dalam cahaya biru saat Nexus Baru memancarkan sinyal sinkronisasi waktu penuh. Cahaya itu menjangkau sela dimensi—membakar retakan, menutup celah.
Ishan jatuh ke pelukan Olydia. Hidup. Tapi tak sepenuhnya sadar.
---
Mereka kembali ke dunia nyata dengan luka.
Tapi saat kembali ke Nexus, mereka mendapati satu hal yang lebih menakutkan.
Jam utama di Nexus Baru tak lagi menunjukkan waktu.
Jarumnya… mengarah ke dua arah sekaligus.
Olydia menyadari satu hal:
Astra Noctis tidak datang dari masa lalu…
…mereka datang dari kemungkinan masa depan—yang ingin membatalkan keputusan saat ini.
---
Di ruangan rahasia bawah Nexus, sebuah batu merah yang direbut dari Ravernox mulai berdenyut.
Di dalamnya, terdengar suara yang pelan… namun jelas:
“Kami adalah sisa dari dunia yang kalian tolak. Dan kami… tidak akan tinggal diam.”
---