Angin di sekitar Nexus Baru terasa aneh pagi itu.
Tidak dingin. Tidak panas. Tapi… hampa.
Beberapa penjaga melaporkan kehilangan waktu tidur. Bukan karena begadang, tapi karena waktu tidurnya benar-benar tak pernah terjadi. Mereka tak lelah, tapi tak ingat pernah tidur.
Di aula utama, Olydia menerima laporan:
“Enam warga dari sektor utara… hilang. Tidak ada sisa pakaian. Tidak ada jejak sihir. Bahkan… catatan kelahiran mereka menghilang.”
Renan memandang heran. “Kau yakin mereka ada sebelumnya?”
Komandan tim itu menggigit bibir. “Istri saya… adalah salah satunya.”
---
Di ruang bawah tanah tempat batu merah disimpan, energi gelap mulai menjalar ke dinding. Simbol-simbol tak dikenal muncul seperti ukiran cahaya darah.
Ishan—yang belum sepenuhnya pulih—berdiri terhuyung sambil menatap batu itu.
“Aku mengenal suara itu… tapi bukan dari masa lalu. Suara itu… datang dari masa depanku yang tak pernah terjadi.”
Renan memasuki ruangan dengan alarm sihir aktif. Tapi begitu batu menyala, alarm langsung mati—seolah tak pernah dibuat.
“Kita harus mengisolasi tempat ini,” kata Renan.
Tapi sebelum mereka pergi, suara bergema keluar dari batu:
“Nexus telah memilih siapa yang layak dikenang… dan siapa yang tidak.”
---
Sementara itu, di tengah kota perbatasan, seorang pemuda berambut putih dan jubah lusuh tiba tanpa suara.
Ia tidak tercatat di daftar siapa pun. Tapi saat penjaga menginterogasinya, pemuda itu menyebut satu kalimat:
“Aku datang dari urutan ketiga garis waktu.”
Mata penjaga itu memutih… dan ia roboh.
Tak lama, pemuda itu menemui Olydia—langsung muncul di balkon ruangan pribadinya, tanpa sihir dan tanpa suara.
“Aku bukan musuh,” katanya pelan. “Namaku Lazriel. Aku utusan dari masa depan yang telah digugurkan oleh Nexus.”
---
Olydia dan Renan duduk di ruang pengamanan tinggi, berhadapan dengan Lazriel. Aura di tubuhnya seperti percampuran dari semua garis waktu: dingin dan panas, sihir dan teknologi, usia muda dan tua.
“Aku tidak datang untuk menyerang. Tapi untuk memperingatkan,” ucapnya. “Apa yang kalian lakukan di Babak Fraktura dan penyatuan realitas… menciptakan respon alamiah Nexus.”
“Nexus mulai memilih versi dunia yang paling stabil. Dan untuk mencapainya… ia akan mulai menghapus individu yang dianggap mengacaukan kestabilan.”
---
Olydia menyipit. “Dan siapa yang menentukan siapa yang stabil?”
“Nexus sendiri,” jawab Lazriel. “Kalian menciptakan entitas kolektif dari dua dunia, lalu membebaskan waktu dari relnya. Kini waktu ingin memperbaiki dirinya… dengan menghapus cabang yang terlalu rumit.”
Renan menatap Olydia. “Termasuk kita?”
Lazriel diam.
Diam… adalah konfirmasi.
---
Pagi berikutnya, Olydia bangun dengan firasat aneh.
Ia merasa lupa sesuatu. Atau… seseorang.
Ia berjalan menuju ruang dewan utama. Tapi ada kursi kosong—kursi yang sebelumnya… milik seseorang yang penting.
“Siapa yang duduk di sana?” tanyanya pelan.
Renan menoleh. “Kursi itu… memang kosong sejak dibangun, bukan?”
Olydia mematung.
Ia tahu seseorang pernah duduk di sana.
Ia tahu suara tertawanya.
Tapi… wajahnya hilang.
---
Di bawah Nexus, Ishan duduk terpaku menatap layar ingatan digital. Ia mencoba melacak riwayat koordinat komunikasi antar wilayah.
Dan di tengah pencarian, ia menemukan log pribadi dari seseorang bernama Elvra. Pesan-pesan, catatan harian, permintaan pelatihan, bahkan rekaman suara…
Tapi semua rekaman itu kini ditandai sebagai: [INVALID: SUBJEK TIDAK ADA]
Elvra. Salah satu penasihat.
Seseorang yang dulu ia ajak diskusi setiap malam.
Sekarang—tak ada satu pun orang yang mengingatnya.
---
Lazriel berdiri di tengah lorong waktu Nexus yang baru dibuka. Ia menunjuk satu simbol kristal biru pucat—bernama “Zona Netralisasi Identitas.”
“Nexus menyimpan ingatan sebagai data. Saat ia menentukan seseorang tidak relevan… ia akan menghapus mereka dari struktur sejarah dan memori, bahkan dari fisik,” jelas Lazriel.
Renan menatap kristal itu. “Lalu kalau kita terus melawan… kita juga bisa menghilang?”
“Tidak,” jawab Lazriel. “Kalian lebih parah.”
“Kalian bisa menjadi ‘bayangan tanpa jejak’—hidup, tapi dilupakan oleh dunia. Bahkan oleh satu sama lain.”
---
Di ruang pribadi, Olydia menatap cermin.
Bayangannya… terasa kabur. Tidak buram, tapi seperti bukan miliknya.
Ia menggenggam liontin birunya.
“Ahvi… kau masih di sana?”
Tapi tak ada pantulan.
Tiba-tiba, ingatannya menyeruak: Elvra—wanita dari Valkeor, pendekar energi waktu. Ia pernah menyelamatkan Ishan. Ia pernah… menyukai Renan.
Tapi saat Olydia menyebut namanya, tak ada yang tahu siapa yang ia maksud.
Ia berlari ke perpustakaan, membuka catatan misi. Nama Elvra masih tertulis di tinta samar.
Lalu… huruf-huruf itu menghilang di hadapannya.
---
Renan, yang tengah melatih pasukan, mendapati satu prajurit tiba-tiba pingsan. Tubuhnya utuh. Tapi saat bangun, ia tak mengenali siapa pun.
Prajurit itu menangis. “Aku tahu aku punya keluarga… tapi aku tak bisa ingat siapa pun. Namaku pun… tak terdengar akrab di telingaku.”
Renan menggenggam bahunya. Tapi saat ia menyebut nama pemuda itu—suaranya tercekat.
Tak ada nama yang muncul di lidahnya.
---
Olydia dan Renan bertemu di ruang observasi waktu. Lazriel berdiri bersama mereka.
“Ini baru awal,” katanya. “Nexus akan terus menyaring realitas hingga hanya tersisa satu yang ‘bersih’—satu tanpa konflik, tanpa potensi anomali.”
Renan bertanya, “Dan kalau kami melawan?”
Lazriel menjawab, “Kau akan tetap hidup… tapi tak akan pernah diingat.”
---
Lorong menuju inti Nexus adalah tempat yang tak pernah dipetakan. Olydia dan Renan turun bersama Lazriel melewati jalur tersembunyi yang bahkan tidak tampak di peta realitas.
Dinding lorong itu berlapis cahaya yang berubah warna mengikuti pikiran mereka. Di setiap tikungan, terlihat refleksi alternatif diri mereka:
– Olydia yang memilih Ahvi sepenuhnya, menjadi penguasa dingin tanpa belas kasih.
– Renan yang hidup tanpa belas kasihan, memimpin pasukan dengan tangan besi.
“Ini bukan ilusi,” kata Lazriel. “Ini versi kalian… yang ditolak oleh Nexus.”
---
Di inti Nexus, berdiri struktur kristal besar seperti jantung berdenyut. Namanya: Memorium.
Memorium menyimpan semua jejak kemungkinan.
Dari sanalah Nexus mengambil data—untuk menghapus atau mempertahankan eksistensi.
Olydia melihat ribuan jalur bercahaya di sekelilingnya—setiap jalur adalah seseorang. Tapi sebagian sudah mulai redup.
Ia berlari, mencari jalur bernama Elvra.
Tak ada.
Hanya serpihan. Dan pecahan cahaya yang tak bisa disatukan.
---
“Kalau kita hancurkan Memorium, Nexus tak bisa lagi menghapus siapa pun,” kata Renan.
“Tapi kalau dihancurkan,” jawab Lazriel, “semua ingatan yang belum diserap penuh akan musnah. Bahkan mereka yang nyaris dilupakan… akan benar-benar lenyap.”
Olydia terdiam. Ia menatap liontinnya, yang kini mulai retak.
Ahvi. Elvra. Masa kecilnya.
Apakah semua itu nyata… atau hanya jalur yang belum dipilih?
---
Lalu Memorium menyala terang. Sebuah pengumuman terdengar dari dalam Nexus:
“Satu entitas ditemukan tidak relevan secara temporal. Inisiasi penghapusan dimulai.”
Nama yang muncul di udara:
Renan Rexander Altair
---
Olydia menjerit. Ia memegang Renan—tapi tubuhnya mulai transparan.
Renan tersenyum tipis. “Aku… adalah panglima dari masa yang tak pernah seharusnya ada. Kau yang membuatku nyata.”
Lazriel berkata pelan, “Masih ada satu cara.”
“Jika seseorang bersedia menjadi Penjaga Ingatan, tinggal di luar waktu, maka Nexus akan menyimpan satu salinan eksistensi sebagai referensi… tanpa menghapusnya sepenuhnya.”
Risikonya: Penjaga Ingatan tidak bisa kembali. Tidak bisa bersentuhan dengan dunia. Tapi eksistensi yang dijaganya… tetap bertahan.
---
Tanpa ragu, Olydia melangkah ke altar penjaga.
Renan menggenggam tangannya. “Jangan… kau bisa dilupakan juga.”
Olydia menatapnya, tersenyum.
“Aku lebih memilih jadi kenangan abadi… daripada kehilanganmu sepenuhnya.”
Cahaya menyelimuti ruangan.
Renan kembali sepenuhnya. Tak lagi transparan.
Tapi ketika ia membuka mata… altar itu kosong.
---
Di dunia luar, semua orang masih mengenal Renan.
Tapi saat mereka menyebut nama Olydia… mereka hanya mengingatnya sebagai “pengawal waktu pertama.”
Tak ada wajah. Tak ada suara. Hanya bayangan samar.
Namun, di sudut ruang pribadi Renan, tergantung liontin biru retak.
Dan setiap malam, saat ia menutup mata…
…ia mendengar suara itu berbisik:
“Aku masih di sini. Selama kau mengingatku.”
---