Sudah sepuluh hari sejak altar penjaga itu kosong.
Langit di atas Nexus tetap biru. Dunia tampak berjalan seperti biasa. Tapi bagi Renan, setiap detik terasa kosong. Hening yang menggema terlalu dalam.
Ia masih berdiri di ruangan yang sama setiap pagi. Memandang liontin biru retak yang tergantung di ruangannya—satu-satunya benda yang tidak terhapus.
Ia tidak tahu kenapa masih mengingat Olydia.
Tapi ia yakin… itu karena Olydia mengizinkannya.
---
Suatu malam, Renan bermimpi.
Ia berada di tengah hutan bersalju—hutan yang tak pernah ia kunjungi.
Di sana, ada cahaya biru menyala lemah. Dan di tengahnya, seorang gadis berdiri membelakanginya, rambutnya putih keperakan tertiup angin.
"Jangan biarkan Nexus memilih akhir ini," bisiknya tanpa menoleh.
Saat Renan mencoba mendekat, tanah di bawahnya retak. Dunia pecah dalam warna-warna buram.
Dan ia terbangun… dengan tangannya memegang es kristal kecil.
---
Ishan memeriksa kristal itu di laboratorium pribadi.
“Ini… partikel dari ruang luar waktu. Tapi bagaimana bisa kau membawanya ke sini?”
Renan hanya menggeleng. “Mungkin karena aku masih mengingatnya.”
Ishan termenung. “Kalau kau bisa membawanya ke sini, mungkin kita bisa menciptakan jendela balik.”
Ia menunjukkan rancangan alat baru: Chrono Mirror — cermin waktu yang bisa memantulkan jalur ingatan terdalam, dan membuka pintu satu arah menuju entitas yang tersimpan dalam memori kolektif.
Tapi untuk itu, mereka butuh bahan khusus: partikel jiwa yang tidak terikat oleh realitas.
---
Di tengah eksperimen, Nexus mulai menunjukkan gejala aneh.
Waktu di sektor barat tiba-tiba mundur 17 menit.
Di pusat arsip, seluruh catatan berubah bahasa… menjadi bahasa yang tidak dikenal.
Dan di layar pemantauan temporal, muncul satu frasa:
“Penjaga telah meninggalkan pos. Keseimbangan menurun.
Protokol 'Reklamasi Eksistensi' akan segera dimulai.”
Renan menatap layar itu tajam. “Kalau waktu mulai mereklamasi realitas… itu artinya Nexus akan memanggil kembali mereka yang telah diserap… atau menghancurkan seluruh jalur mereka.”
---
Malam itu, Renan kembali bermimpi.
Tapi kali ini, ia tidak sendirian.
Seorang wanita bersayap transparan, berwajah setengah cahaya dan setengah bayangan, berdiri di depannya.
“Namaku Seraphyne,” katanya.
“Aku penjaga celah terdalam waktu.”
Ia memandang Renan dengan mata yang seolah melihat ke masa depan dan masa lalu sekaligus.
“Aku bisa membuka jalan ke tempat Olydia berada. Tapi dunia tak mengizinkan kekosongan. Jika dia kembali… seseorang dari sini harus menggantikannya.”
Renan membeku.
“Kau harus memilih, Renan Altair. Antara cinta… atau kestabilan.”
---
Laboratorium bawah tanah kini diubah menjadi ruang isolasi realitas. Di tengahnya, Chrono Mirror perlahan dibentuk: lapisan kaca bening bercahaya ungu, dikelilingi rangka besi bercampur partikel dimensi.
Ishan berdiri mematung, memegang tabung kecil berisi partikel dari ingatan yang hampir lenyap: sejumput memori suara tawa Olydia.
Ia menatap Renan. “Kalau ini gagal… kita bisa membuka lubang ke masa yang belum ada. Kita bisa kehilangan semua yang tersisa.”
Renan menjawab pelan, “Aku sudah kehilangan cukup banyak.”
---
Saat aktivasi awal dilakukan, pantulan pertama muncul.
Cermin tidak menampilkan wajah Olydia—tapi pantulan Renan yang sedang berbicara… dengan dirinya sendiri.
“Kau pikir ini demi dia? Atau demi dirimu sendiri?”
“Apa yang akan kau lakukan… jika dia menolak kembali?”
Gambar bergeser cepat, menunjukkan Olydia duduk di ruang putih, menyanyikan nada yang hanya terdengar dalam mimpi Renan.
Ishan tertegun. “Cerminnya… menyerap realitas alternatif. Dia benar-benar di luar waktu.”
---
Sementara itu, Nexus mulai berontak terhadap dirinya sendiri.
Waktu di Menara Selatan berhenti.
Seorang tabib lupa bahwa ia sedang menyembuhkan pasien… dan menghilang di depan mata muridnya.
Anak-anak mulai menggambar simbol yang belum pernah diajarkan—simbol yang sama dengan dinding ruangan Olydia dulu.
Di ruang kendali, Lazriel melihat indikator paling berbahaya:
“Memori kolektif tidak sinkron.”
“Dunia mulai mengingat hal yang tidak pernah terjadi.”
---
Seraphyne muncul kembali, kali ini dalam bentuk fisik yang lebih utuh. Ia berdiri di depan Renan dan Ishan di dalam ruang cermin.
“Aku bisa membukakan celah. Tapi hanya jika satu nama ditawarkan.”
Renan bertanya, “Siapa?”
Seraphyne menyentuh permukaan cermin. Dua nama muncul:
1. Renan Rexander Altair
2. Kael Virellion – teknisi waktu yang pernah membantu Fraktura, namun kini hidup di daerah terpencil, terlupakan.
Ishan menegang. “Kael… dia mungkin satu-satunya yang masih punya koneksi dengan dimensi luar. Tapi… mengorbankannya artinya kita kehilangan akses penyeimbang struktur.”
Renan bergumam, “Dan kalau aku yang pergi…?”
Seraphyne menjawab datar, “Dunia akan terus berjalan. Tapi tanpamu, keseimbangan emosional di sekitar Nexus… runtuh lebih cepat.”
---
Ishan menatap Renan. “Kau tahu dia tak akan setuju kau menghilang lagi.”
Renan mengepalkan tangan. “Tapi aku juga tahu… dia tak pernah menginginkan siapa pun terluka karena dirinya.”
Di luar ruangan, kilatan cahaya merah muncul di langit. Sebuah retakan vertikal mulai membelah awan.
Dunia mulai menolak realitas yang tidak seimbang.
Waktunya memutuskan.
---
Chrono Mirror mulai bergetar pelan, cahaya ungu berganti menjadi biru kehijauan. Seraphyne berdiri di tengah pusaran, sementara nama-nama di cermin memudar, lalu hanya tersisa satu.
Renan Rexander Altair
Renan maju perlahan, tapi Ishan menghadangnya.
“Kalau kau pergi, Nexus bisa kehilangan satu-satunya penjaga emosi kolektif. Dunia sudah goyah. Kau adalah jangkar terakhir.”
Renan hanya berkata pelan, “Tapi dia adalah alasan dunia ini layak diseimbangkan.”
---
Seraphyne membentangkan tangannya, membuka celah menuju ruang luar waktu. Kabut biru pekat menyelimutinya, seperti kabut mimpi yang tak selesai.
Tepat saat Renan hendak melangkah, pantulan cermin menampilkan sesuatu yang tak terduga:
Olydia. Tapi bukan seperti yang Renan ingat.
Matanya dingin. Pakaiannya berubah.
Ia berdiri di tengah Nexus… memimpin.
Cermin berbisik dalam suara gabungan banyak suara:
“Jika dia kembali… dia akan berubah. Ingatanmu bukan miliknya lagi.”
Renan mematung.
---
Di sisi lain, Olydia berdiri di ruang putih abadi. Ia menatap kosong ke hamparan cahaya, hingga tiba-tiba… suara familiar masuk ke ruang itu.
“Olydia.”
Ia menoleh, matanya penuh keheningan.
Renan berdiri di sisi lain cermin. Wajahnya penuh luka waktu, tapi tegas.
“Aku datang bukan untuk menyuruhmu pulang. Aku datang untuk mengingatkanmu siapa dirimu sebelum dunia memilih siapa kau seharusnya.”
---
Tangan Renan menyentuh permukaan cermin.
Olydia mendekat.
Saat jari mereka hampir bersentuhan… ruangan tempat Chrono Mirror berdiri mulai pecah.
Dunia tak bisa menanggung dua versi waktu dalam satu jalur.
Nexus memaksa pilihan.
Olydia menatap mata Renan. “Kalau aku kembali… aku tak lagi sama.”
Renan tersenyum pahit. “Kalau begitu… aku akan belajar mencintaimu dari awal.”
---
Cahaya meledak.
Chrono Mirror pecah, tapi bukan hancur—melainkan berubah menjadi jendela tetap yang menghubungkan realitas dan luar waktu… hanya satu arah.
Olydia kembali.
Tapi semua orang—termasuk Ishan dan Lazriel—tidak mengenalnya.
Hanya Renan yang mengingat.
Bagi dunia, Olydia adalah penasihat baru Nexus, cerdas dan kuat, tapi asing.
Bagi Renan, ia adalah alasan untuk mulai dari awal—dengan ingatan yang hanya ia miliki.
---
Di halaman terakhir bab ini…
Renan menulis di buku kecil yang selalu ia simpan:
> “Hari ini aku bertemu dengannya lagi.
Dia tidak ingat aku.
Tapi dia menatapku lebih lama dari yang lain.
Mungkin… waktu juga merindukannya.”
Dan di balkon atas Nexus, Olydia berdiri menatap langit.
Angin meniup rambut peraknya perlahan.
Ia menyentuh liontin biru baru yang tak ia tahu dari mana asalnya.
Dan tanpa sadar, ia tersenyum.
---