Walaupun bukan seorang Taipan papan atas, Rahadinata Kusuma merupakan salah satu Pengusaha yang terbilang sukses. La Sola merupakan salah satu merek sepatu yang terkenal selama lebih dari 20 tahun dan memiliki outlet sendiri di hampir setiap kota besar di Indonesia.
And being a daughter of such established man with its gigantic empire obviously comes with its own price for Ayura.
Hubungan Ayura dengan Ayahnya hanya sebatas formalitas sopan santun yang harus dijaga antara anak dan orang tua. Sejak perceraian kedua orang tuanya 20 tahun yang lalu, ia menjadi pribadi yang tertutup dan hanya berinteraksi seperlunya. Ia belum bisa memaafkan perselingkuhan ayahnya bahkan setelah puluhan tahun berlalu. Ayura tidak percaya dengan cinta, kesetiaan dan hal-hal lainnya yang terkait dengan romansa rasa antara pria dan wanita. Baginya sebuah hubungan itu tidak lebih dari sekedar kontrak kepentingan. Itulah sebabnya hingga di usianya yang ke 35, Ayura masih sibuk dengan dunianya sendiri. Ia tidak merasa punya kepentingan yang mendesak untuk menjalin sebuah hubungan and god forbid sebuah pernikahan.
Tapi belakangan ini sejak kesehatan ayahnya menurun, pria yang bahkan mungkin hanya ditemuinya dua bulan sekali karena jadwal makan malam keluarga itu, jadi sering menghubunginya dan membicarakan soal pendamping hidup untuknya. Ayura selalu menghindari topik ini dan mengabaikannya. Ayura percaya hubungan percintaan itu hanya akan mengundang banyak masalah. Ayah Ibunya sendiri saja tidak dapat mempertahankan hubungan mereka yang sudah terikat pernikahan. Dan Kakak perempuannya, Hana, menikah dengan pria yang bahkan tidak memberi kebebasan baginya untuk memilih baju apa yang harus dikenakannya. So, why bother?Kenapa ia harus capek-capek menukar hidupnya yang tenang dengan sebuah kekacauan.
Ayura sudah menjalankan hidup sesuai dengan apa yang diinginkannya. Mendapatkan beasiswa keluar negeri dengan usahanya sendiri. Hidup mandiri selama bertahun-tahun terpisah dari hiruk pikuk drama keluarga yang tidak perlu. Dan bekerja diluar bayang-bayang dinasti perusahaan keluarganya. Ia membentuk karir, hidup dan nasibnya sendiri. Dan mengambil semuan keputusan-keputusannya sendiri.
Acara makan malam keluarga bulan ini agak sedikit berbeda dari biasanya. Mereka biasanya berkumpul di kediaman Ayahnya atau di rumah Hana. Alasannya sederhana karena ini merupakan acara keluarga jadi akan lebih pas diadakan di rumah, dimana mereka bisa dengan santai mengobrol dan bertukar cerita. Ayura biasanya hanya menjadi pendengar yang baik, sesekali bicara soal kerjaannya dan biasanya selalu menjadi yang pertama meninggalkan tempat.
Tapi khusus untuk malam ini ini ayahnya mengadakan makan malam di Restaurant, sekaligus merayakan keberhasilan La Sola selama 20 tahun terakhir. Hari ini memang bertepatan dengan diresmikannya outlet pertama La Sola. Bahkan ibunya juga turut hadir malam ini. Terlepas dari perceraian mereka yang penuh drama, memang baik Ayah maupun Ibunya masih tetap berusaha berkomunikasi dengan satu sama lain dan membesarkan anak-anak bersama. Tapi buat Ayura semua tidak akan pernah lagi sama. Tidak ada kehangatan lagi disana baginya. Semua hanya formalitas. Ayah dan Ibunya sudah menikah lagi dan masing-masing memiliki keluarga sendiri. Dari serpihan keluarganya, buat Ayura yang tersisa hanya kakak perempuannya Hana. Tapi, Hana sendiripun saat itu masih sangat muda dan bingung dengan semua yang terjadi. Terlebih sejak menikah, Ayura jarang bertemu dengan Hana dan hanya sesekali berkirim pesan atau mengobrol di telpon. Walaupun memiliki saudara tiri baik dari Ayah maupun Ibunya, Ayura tidak terlalu berhubungan dengan mereka. Di matanya, Keluarganya hanya sebatas eksistensi tanpa memiliki ikatan yang berarti.
Ayura memarkir mobilnya dan memasuki restaurant bernuansa rumah kolonial yang megah, beratap tinggi dengan lampu kristal besar di beberapa sudutnya. Jendela gebyok ukir besar menjulang anggun, dan beberapa foto Jakarta Tempo dulu menghiasi dindingnya yang berwarna putih. Motif klasik tegel Talavera dengan bunga biru kuning dan merah bata memberikan kesan kuno nan cantik. Pelayan restaurant tersebut dengan ramah menunjukkan ruangan khusus yang dipesan oleh Ayahnya.
Saat Ayura memasuki ruangan, Ayah, Ibu dan kakaknya sudah asyik ngobrol dan menikmati makanan mereka. Ia memang terlambat 45 menit karena banyak yang harus diselesaikannya terlebih dahulu di kantor. Dan Jakarta seperti biasa, selalu menyapa dengan kemacetannya yang melegenda. Ayahnya tersenyum menyambutnya dan Ayura menghampirinya.
"Pasti kamu sibuk sekali hari ini." Kata Ayahnya saat Ayura menarik kursi di sebelah Hana.
"Biasa. Ada video conference dengan Kantor di New York tadi." Ayura meresponnya datar. Ayura berpaling ke arah Ibunya yang terlihat anggun menggunakan dress tunik batik pekalongan berwarna biru dengan bunga bunga lembut sewarna pastel di sisinya,
"Mama sehat?" tanyanya.
Ibunya tersenyum, nampak lesung pipi yang dalam menghiasi wajah ayunya, yang juga diwarisi oleh Hana dan Ayura. "Mama sehat. Yah, sehatnya orang sudah tua. Kadang-kadang kaki sakit semua kalau bangun pagi. Kadang pusing-pusing. Tapi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab ibunya lembut.
Hana menawarkan sepiring udang mayonnaise kepada Ayura, "Nggak lagi dietkan?" Ujarnya.
"Nggak sih." Sahut Ayura. "Tapi, belakangan suka agak pusing kalau makan udang." Lanjutnya.
"Sudah cek kolesterol?" Tanya Ibunya. "Atau mungkin kamu alergi?"
Ayura menggeleng, "Belum. But, it's fine. Nothing serious it seems." Jawabnya. "Anyway..." Ayura melanjutkan sambil menuang teh ke cangkirnya, "Kok hanya kita berempat? Yang lain nggak bisa datang?" tanyanya. Biasanya walau tidak semua hadir, acara makan malam keluarga selalu cukup ramai. Ia bahkan tidak melihat suami Hana dan Ibu tirinya. "Bukannya ini sekaligus perayaan La Sola?" lanjutnya dengan perasaan sedikit aneh.
Ayahnya tersenyum dan mengangguk, "Malam ini Ayah memang hanya ingin merayakannya dengan kalian. Justru karena bertepatan dengan hari pertama kali dibukanya outlet La Sola." Jawabnya. "Kalian, adalah yang mendampingi Ayah berjuang di awal-awal La Sola berdiri." Ia menjelaskan.
Ayura mengernyitkan keningnya, "Tumben Ayah jadi melankolis." Sahutnya sarkastis.
"Ayura..." Ibunya menegurnya halus dan menyiratkan pandangan agar Ayura bicara lebih sopan.
"Ya aku nggak expect this thing will happen aja." sahutnya acuh tak acuh. Sepasang matanya yang tajam menatap Ayahnya dengan dingin, "Karena biasanya orang akan menjaga sesuatu yang dianggapnya berharga dengan sangat baik,... bukan memecahkannya..membuangnya dan menggantinya dengan yang baru."
"Ayura!" Suara Ibunya meninggi memperingatkannya kembali.
Ayahnya tersenyum rapuh, ada luka dan rasa sedih juga kekecewaan terbersit di wajahnya yang semakin terlihat lelah dan menua, "Terlepas dari apapun yang terjadi dalam keluarga kita..."
Ayura menyela, "Keluarga..." ucapnya dengan nada jengkel yang tidak bisa disembunyikan.
Hana memegang pergelangan tangan Ayura, memberinya tanda untuk tidak melanjutkan ucapannya.
Saat Ayura akan berbicara lagi, Pintu ruangan mereka terbuka dan sesosok Pria yang tegap dengan penampilan smart casual berdiri disana. "Selamat malam." Ujarnya dengan suara berat yang penuh percaya diri.
"Maha.." Ujar Ayahnya kepada Pria tersebut, seketika ketegangan di wajahnya terhapus berganti dengan senyuman yang lebar. "Mari masuk." Katanya kemudian.
Maha tersenyum. Ayura memperhatikannya. Pria bernama Maha ini seperti model yang baru saja keluar dari papan iklan jam tangan pria mewah semacam Breitling. Tipe alpha male dan berkelas yang membuat perempuan berebut untuk sekedar berdiri di sampingnya. Tipe bos yang selalu menjadi buah bibir para karyawan perempuan di kantor ataupun saat mereka meeting diluar. Jenis pria yang berpotensi mematahkan dan meremukkan hati wanita berkali-kali dan masuk dalam daftar teratasnya sebagai double trouble yang harus dihindari.
Maha menarik kursi disamping Ayura dan ia bisa mencium perpaduan aroma vanilla, musk dan moss yang mengesankan kehangatan dan maskulinitas. A very alpha choice...Ayura membatin. Maha tersenyum kepadanya dan demi menjaga tata krama, Ayura pun membalas senyumannya.
"Maha adalah anak dari sahabat Ayah, Om Daniel." Ayahnya mengenalkan kemudian melihat ke arah mantan istrinya, " Kamu masih ingat kan Wid? Daniel teman kuliahku dulu." Ujarnya.
Ibunya berusaha mengingat sebentar lalu mengangguk "Ah, iya. Daniel." Kemudian tersenyum ramah kepada Maha, "Apa kabar Ayahmu? Apa masih di Sydney atau sudah pulang ke Jakarta?"
"Ayah sehat Tante dan sudah di Jakarta beberapa bulan yang lalu. Tapi memang sedang sangat sibuk sekali belakangan ini." Maha menjelaskan. "Ayah titip salam untuk semuanya." Jawabnya sopan.
"Oh ya Maha, ini anak-anak Om dari Tante Widya. Yang tertua, Hana dan yang disamping kamu, Ayura." Ayahnya memperkenalkan mereka.
Maha tersenyum ramah kepada Ayura dan Hana. Lelaki ini memiliki perpaduan wajah asia dan kaukasia yang sempurna. Seperti sebuah pahatan yang dipenuhi dengan kebahagiaan dan keberuntungan.
"Ayah dan Om Daniel sedang berkolaborasi untuk membuka cabang La Sola di Sydney. Dan Maha yang akan bertanggung jawab untuk projek ekspansi ini. Itu sebabnya, Ayah mengundang Maha kemari. Memperingati milestone pertama La Sola berdiri dan juga merayakan langkah pertama La Sola di luar negeri." Ujar Ayahnya dengan bangga.
"Itu keren sekali!" Ujar Hana "Selamat ya Ayah, semoga La Sola semakin maju ke depannya." Ia menyelamati ayahnya, kemudian tersenyum pada Maha, "Thanks for supporting us." Ujarnya.
Maha tersenyum ramah, "It's our pleasure to partner with a Masterpiece work like La Sola."
Ayura tidak berkomentar apa-apa dan kembali meminum tehnya, kemudian mengambil makanan di depannya. Berusaha mengabaikan percakapan yang sedang berlangsung. Toh, ia tidak pernah terlibat dan tak mau tahu juga dengan bisnis yang dijalankan ayahnya. Walaupun akhir-akhir ini, entah kenapa, ayahnya mulai sering berbicara tentang La Sola kepadanya.
"Ayo, silahkan dinikmati makanannya." Ujar Ibunya dengan ramah.
"Terima kasih tante. Saya akan sangat menikmatinya. Kebetulan masakan peranakan seperti ini memang kesukaan saya." Jawab Maha bersemangat.
"Oh, itu bagus sekali. Ayura sangat pandai memasak hidangan seperti ini." Kata Ayahnya kemudian. "Kapan-kapan mainlah ke rumah. Nanti, Ayura akan membuatkan masakan yang lebih enak dari ini." Sahut Ayahnya lagi dengan riang.
Ucapan ayahnya membuat Ayura tersedak, kemudian terbatuk-terbatuk. Sejak kapan ia pernah memasak di rumah ayahnya, batinnya. Maha dengan cepat menuangkan minuman dan memberikan kepadanya, "Are you ok?" tanyanya.
Ayura berdehem, "Terima kasih. I'm fine. Chili oilnya agak pedas." Ayura berkilah mencari-cari alasan.
Maha menatapnya dalam untuk sesaat dan tersenyum, kemudian berkata kepada ayahnya, "Saya akan senang sekali berkunjung dan menikmati masakan Ayura nanti." Ujarnya. "Homemade meals are one of life's valuable treasures." Ia melirik Ayura.
Ayahnya tertawa senang, "Tentu saja. Akhir pekan nanti sekalian setelah kita meeting, kita bisa makan siang di rumah. Kamu juga tidak ada acarakan Yura?" belum sempat Ayura menjawab, ayahnya segera menambahkan, "Kalaupun ada, diatur saja untuk mengosongkan jadwal beberapa jam." Lanjutnya.
Perasaan Ayura tidak enak. Sepertinya Ayahnya punya maksud tertentu untuk mendekatkan Ia dan Maha.
***
Karena tidak bisa meninggalkan anak-anaknya terlalu lama, Hana pamit terlebih dahulu. Tak berapa lama kemudian ibunya juga dijemput oleh Suaminya. Ayura tadinya akan pergi sebelum Hana, tapi Rahadi meminta Ayura untuk tinggal karena ada yang ingin ia bicarakan berdua saja dengan putrinya itu.
Maha juga pamit setelahnya. Dan berkata pada Ayura bahwa akan sangat menyenangkan untuk bertemu lagi dan mencicipi masakannya akhir pekan ini, dan berharap mereka bisa ngobrol dengan lebih santai. Ayura berbasa-basi dan mengatakan tentu saja, sampai jumpa dan hal standar lainnya yang lazim diucapkan sebagai bentuk sopan santun saat mengakhiri sebuah pertemuan.
Setelah semua orang pergi.Rahadi meminta Ayura untuk duduk di sampingnya. Ayura merasakan atmosfer yang familiar, situasi yang pasti akan tidak menyenangkan untuknya.
"Yura.." Rahadi memulai percakapan, "bagaimana menurutmu tentang Maha?" tanyanya.
Ayura menarik nafas dalam-dalam ia sudah menduga percakapan ini akan berjalan ke arah mana.
"Ayah, aku tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan siapapun untuk saat ini." Ujarnya. "Maha pria yang, sekilas saja melihatnya, pasti membuat perempuan terpesona. It's very obvious he can get anyone he wants." Ayura menatap ayahnya serius, "Aku tidak ingin membahas soal ini." Tegasnya.
"Ayah dan Om Daniel beberapa waktu yang lalu sempat bicara soal ini." Katanya mengabaikan statement Ayura, "Maha juga sudah banyak tahu tentang dirimu..." Rahadi melanjutkan.
Deg. Jantung Ayura berdegup tidak nyaman, ia segera menyela, "Apa yang Ayah bicarakan dengan Om Daniel? Dan apa maksudnya Maha sudah banyak tahu tentang aku? Dia tahu dari mana? Kami bahkan belum pernah bertemu sebelumnya." Selidiknya beruntun dengan sedikit marah.
Rahadi menuangkan teh ke cangkirnya, meminumnya perlahan dan menghirup aromanya, lalu berkata, "Di usia yang tepat...daun teh mengeluarkan rasa dan aroma yang sangat istimewa. Tapi kalau sudah melewati batas waktunya, rasanya menjadi berubah dan berkurang," katanya lagi.
Ayura berdecak kesal, mengetahui maksud dari metafora yang disampaikan ayahnya. "Wine taste better with age, Ayah tentu juga sangat familiar dengan istilah itu'kan?!." balasnya.
Rahadi menatap putri cantiknya yang keras kepala itu, "Om Daniel bercerita pada Ayah bahwa Maha sedang mempertimbangkan untuk mencari Pendamping lagi. Ia bercerai dua tahun yang lalu."
"Are you selling me, Dad?" Sela Ayura dengan kesal ia ingin segera pergi saja dari tempat ini.
"I'm introducing you. Putting you into pictures. Informing them about you." Ayahnya meluruskan.
Ayura menggeleng, "Ayah sharing my personal information to other people without my prior consent, it's a breach of privacy."Ujarnya dengan gusar.
"You're my daughter." Sahut Rahadi tanpa menggubris protes Ayura. "Maha tertarik untuk mengenalmu lebih jauh. Setidaknya kamu bisa memberi kesempatan pada Maha dan juga dirimu sendiri. You're already 35, Ayura. Sudah waktunya untuk membangun hubungan yang lebih permanen dengan seseorang." Ia menekankan.
Ayura menarik nafas dalam-dalam, "An advice comes from a man who can't even get a hold of his own marriage and family."
kecamnya. "Such a joke..." Ujarnya lirih kemudian melanjutkan, "I don't think you have a right untuk menasehati bagaimana caranya membina sebuah hubungan yang baik." Tandasnya, kemudian mengambil tasnya dan berdiri, "I'm leaving." Katanya dengan dingin.
Walaupun kata-kata Ayura menyakiti hatinya. Rahadi tahu Ayura sangat kecewa dengan perceraiannya dari Widya. Itulah sebabnya ia menahan diri dengan tidak meladeni kemarahan Ayura.
"Ayura!" Panggilnya sebelum putrinya keluar meninggalkan ruangan. "Walaupun kau tidak menyukai ayah dan semua keputusan yang ayah buat, tapi Ayah tetap menginginkan kebahagiaan dan pria yang terbaik untukmu." Ungkapnya sepenuh hati.
"Jangan mencampuri kehidupanku. Dengan begitu aku akan sangat bahagia dan berterima kasih." Ayura menegaskan, kemudian berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi.
"Temui Maha dan berikan ia kesempatan!" Seru Rahadi sambil memandang punggung putrinya yang berjalan menjauh pergi.
Rahadi menghela nafas kemudian mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Widya. "Dia mewarisi sifat keras kepalaku. Ayura." Tulisnya.
Tak berapa lama ia menerima balasan, "Apa kau sedang mencoba menjodohkannya dengan Pria muda yang tampan itu?" kemudian pesan lain dari Widya muncul dibawahnya, "Kau mau aku bicara pada Ayura? Mencoba meyakinkannya agar ia mau sedikit merubah pendiriannya?"
Rahadi segera membalas, "Mungkin kau lebih tahu cara melunakkan hatinya sebagai Ibunya."
Widya mengirimkan gambar emoji tersenyum kemudian mengetik balasan, "Maha sepertinya pria yang sopan. Aku menyukainya." dan berkomentar lagi, "Aku akan coba bicara dengan Ayura. Tapi tidak akan menjamin hasilnya."
Rahadi tersenyum, kemudian menjawab "Terima kasih. That's' more than enough."
***
Maha tidak pernah punya masalah dengan memilih perempuan sebagai kekasihnya tentu saja. Apalagi hanya untuk berkencan. Ia punya banyak teman wanita yang bisa dihubungi kapanpun dan mereka pasti bersedia untuk menemaninya. Tapi perceraiannya dengan Alice mengajarkannya tentang banyak hal tentang sebuah hubungan dan komitmen. Kecantikan, kesuksesan, kecerdasan dan banyak kualitas keren lainnya yang biasanya menjadi alasan untuk membangun sebuah hubungan dengan seseorang, tidak ada artinya tanpa kecocokan, kenyamanan dan kesediaan untuk berkompromi.
Di mata banyak orang Maha dan Alice adalah the Power Couple. A relationship goal. Sempurna. They have everything people dream of. But as time goes Maha menyadari bahwa they don't really have something in common.Atau sebenarnya lebih tepat kalau dibilang mereka begitu mirip, sehingga seperti dua kutub yang sama, it just won't work.
Di usianya yang menginjak 39 tahun, Maha menginginkan sebuah hubungan yang stabil. Sebuah hubungan yang memberikan kenyamanan daripada sebuah visual pasangan yang hebat. Tentu saja satu setengah tahun ini ia sudah berkencan beberapa kali namun belum ada yang membuatnya merasa benar-benar klop. Tapi, ia yakin, suatu saat nanti pasti ia akan menemukan seseorang dimana ia dapat berbagi kehidupan tanpa berubah menjadi sebuah kompetisi dan persaingan.
Ayura sebenarnya cukup mengusik minatnya. Bukan karena kecantikannya, karena ada banyak perempuan cantik di sekelilingnya. Maha sudah mendapat banyak informasi tentang Ayura dari ayahnya maupun ayah Ayura. Dan dari pertemuannya beberapa waktu lalu ia dapat melihat dengan jelas bahwa Ayura adalah perempuan yang mandiri dengan pemikiran yang kuat. Agak mirip dengan Alice sebenarnya, Tapi bedanya,Alice lives on her family big name sementara Ayura malah memilih untuk berdiri di jalannya sendiri. Hal ini membuatnya menjadi sebuah pribadi yang menarik bagi Maha.
Dan bahwa Ayura kemudian menghubunginya terlebih dulu untuk bertemu hanya sehari setelah acara makan malam sederhana perayaan La Sola bersama keluarganya, makin membuat Maha penasaran.
Maha tiba lebih awal dan memesan tempat duduk dekat jendela di lantai dua. Tepat jam 3 sore, ia melihat Ayura berjalan masuk ke dalam restaurant. Ayura terlihat charming dan profesional dengan setelan blazer celana pendek berwarna merah muda, kemeja putih, nude pump heels dan leather tote bags berona peach. Ayura berpostur ideal tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu kecil. Ia memiliki kaki yang jenjang dan kulit kuning langsat yang menyegarkan mata. Rambutnya yang bernuansa coklat karamel tergerai indah hampir menyentuh pinggangnya yang ramping. Ia memiliki kecantikan alami yang merupakan perpaduan antara kelembutan dan ketegasan.
"Hai!" Sapa Maha sambil tersenyum saat Ayura menghampiri mejanya.
"Hai." Sahut Ayura kemudian menarik kursi dan duduk di hadapannya.
"Mau pesan makanan atau kopi?" Maha menawarkan sambil memberikan buku menu kepada Ayura.
Ayura mempelajari sekilas buku menu dan memutusan bahwa ia hanya akan memesan minuman, "I'll have Hazelnut Coffee." Jawab Ayura kemudian menutup buku menunya.
Maha melambaikan tangan ke arah waiter untuk memesan minuman mereka. Kemudian menoleh kembali ke Ayura, "How's your day?" tanyanya membuka percakapan.
"Pretty much ok, still surviving." Ayura tersenyum agak canggung. Dia tidak pernah merasa terbiasa dan nyaman untuk berbasa-basi walaupun ia melakukannya dengan luwes saat bekerja.
Maha memandang Ayura, menikmati pesona wanita dihadapannya, kemudian tersenyum, "Well, you look fabulous for a survivor." pujinya.
Ayura berdehem berusaha mengabaikan senyuman Maha yang menawan, kemudian membulatkan tekadnya untuk mengatakan apa yang sudah direncanakannya. "Look, Maha aku minta bertemu hari ini untuk mengatakan bahwa, aku saat ini belum tertarik untuk menjalin hubungan dengan siapapun." Ayura mengamati raut wajah Maha sesaat, tapi tak menemukan ekspresi yang cukup berarti disana, kemudian ia melanjutkan, "Jadi, apapun yang para ayah kita diskusikan atau rencanakan, sebaiknya we're not going with it." tegas Ayura.
Kopi pesanan mereka tiba dan Maha mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang mengantarkannya. Ia tidak langsung menanggapi pernyataan Ayura dan memilih untuk menikmati kopinya. Kemudian dengan tenang berkata, "Most of men love black. Tapi aku paling suka Caramel Machiato." ujarnya. "Selain masakan Indonesia dan peranakan, I'm doing good with Pasta and Sushi." ia menambahkan. "Dan warna kesukaanku adalah biru langit." sambungnya lagi. "Oh and I also love marvel movies." imbuhnya sambil tersenyum. "And my fave getaway is obviously beach walking."
Ayura menatap Maha dengan sedikit bingung, reaksi Maha diluar dugaannya. Ia berharap mendengar a simply cool Ok dari Maha. Jawaban singkat seperti itu lebih cocok dengan pembawaannya daripada sebuah perkenalan tentang dirinya seolah mereka setuju untuk berkencan, "I think I clearly said I'm not interested..."
Belum selesai Ayura bicara, Maha segera memotongnya."Not Interested Yet..." Maha menyela. Ia menyandarkan punggungnya dengan santai sambil kembali meminum kopinya dan menelusuri setiap ekspresi Ayura dengan seksama, lalu berkata, "Ayura, ayahku dan ayahmu mungkin ingin menjodohkan kita berdua, tapi apakah itu akan terjadi atau tidak, tentu tergantung bagaimana kita berdua akan menjalaninya." nada suaranya berubah menjadi lebih serius.
Ayura meletakkan cangkirnya dan menautkan jemarinya. "Sejujurnya aku tidak pernah memikirkan tentang sebuah hubungan apalagi pernikahan." ujarnya penuh kepastian "aku tidak ingin kita membuang-buang waktu percuma juga." tandasnya. "Aku sudah bilang pada ayahku untuk tidak lagi mencampuri kehidupan pribadiku. Jadi, sebaiknya kau juga menolak dan tidak meneruskannya."
Sepasang mata hitam Ayura yang indah membentuk ketegasan yang menyiratkan keteguhan hatinya. Maha sangat mengenali tipe keras kepala seperti ini yang apabila dibantah langsung hanya akan memperpanjang perdebatan, jadi ia hanya mengangguk kecil dan tersenyum simpul.
"Baiklah." sahutnya kemudian . "Tapi, aku masih ingin mencicipi masakan buatanmu yang sepertinya sangat lezat itu, akhir pekan ini." ia mengingatkan. "I'm very much enjoying a good homemade meal."
Ayura mengawasi Maha dengan sedikit sebal. Pria seperti Maha memang tidak akan mudah menyerah dan terlatih untuk bernegosiasi serta mendapatkan semua atau sebagian besar yang diinginkannya. Dengan cara yang hangat dan berkharisma. Mereka punya jam terbang yang sangat tinggi untuk menebarkan perangkap yang manis. Once you fall for him, it will be very hard to escape. Itulah mengapa Ayura sangat menghindari pria-pria yang penuh pesona seperti Maha.
"If I'm free, I will. Tapi, kita lihat saja nanti. Aku belum bisa memastikan." Ayura berusaha berkelit, melepaskan diri dari situasi dimana ia harus berinteraksi dalam konteks romantis dengan Maha.
"Ayura kau tidak perlu menghindariku. Aku tidak pernah memaksa seseorang untuk menjalin hubungan denganku. It takes two willingly and eagerly souls to tango." Maha tersenyum, "Kalau kau tidak ingin berteman atau bahkan tidak ingin bicara atau bertemu denganku lagi, it's also perfectly fine." Maha berhenti sebentar menelusuri air muka Ayura yang mulai terlihat sedikit merasa bersalah, kemudian meneruskan perkataannya, "Don't come next weekend then." tandasnya.
Ayura menyesap kopinya mencoba menutupi suasana hatinya yang tidak nyaman. Maha membuatnya merasa serba salah. Ia memang tidak ingin menjalin hubungan spesial dengan Maha atau pria manapun. Tapi, bukan berarti, mereka tidak bisa berteman atau memiliki hubungan professional lainnya.
"Aku bukannya ingin mencari-cari alasan untuk menghindar" Bantah Ayura berbohong tentu saja. "Seperti yang kubilang sebelumnya, I'll come if I'm free." ulangnya, "And it's just a simple lunch for 2 hours or so.." Ayura menyesap kopinya lagi, "Dan aku tidak punya masalah denganmu. Selama kita berinteraksi bukan dalam sebuah hubungan yang eksklusif, I'm good to go." Ia menegaskan.
Maha mengangguk setuju, "Sweet! sounds like a wrap! Cukup adil." Hatinya bersiul penuh kemenangan, cepat atau lambat Ayura pada akhirnya akan melakukan apa yang Ia inginkan.
He sets a subtle trap, and she fell right into his palm.
***