Setiap masalah datang menghampiri hidupnya- yang sering sekali dalam 4 tahun terakhir ini- Rafael selalu mengingat nasihat para motivator dan orang bijak bahwa manusia pasti akan diuji dengan berbagai macam kekurangan dalam hidup, namun Tuhan tidak pernah memberikan ujian atau cobaan kepada manusia diluar batas kemampuannya. Dan selama manusia terus berusaha juga berdoa, mencoba dan memberikan yang terbaik, akan ada jalan untuk merubah nasibnya.
Tapi kali ini, seberapa besarpun energi positif dan penghiburan yang biasanya ia dapatkan dari kata-kata bijak itu, semuanya terdengar seperti angin lalu. Rafael menatap buku tabungannya dengan nanar. Cetakan angka-angka kecil di kolom debit kredit yang biasanya membuatnya senang setiap akhir bulan itu, sekarang terlihat seperti amar putusan hakim pengadilan yang berisi vonis hukuman seumur hidup.
Seminggu yang lalu, saldo rekeningnya masih mengukir angka cantik sebesar 50 juta rupiah. Tapi sekarang yang tersisa di buku tabungannya tinggal 1.5 juta saja. Perut Rafael menjadi mulas dan kepalanya sakit, buku yang biasanya membuat senyumnya merekah seperti matahari pagi itu mendadak berubah menjadi alasan air matanya tumpah ruah seperti buku yasinan in memoriam.
Rafael masih meringkuk pasrah di sofa apartemen mungilnya, seolah tenggelam dalam jurang keputusasaan yang dalam, sehingga tidak menyadari pintu kamarnya dibuka. Seorang perempuan berdiri sambil menatapnya dengan iba. Ia berjalan menghampiri Rafael perlahan sambil membawa tentengan belanjaan dari mini market.
"Rafael.. Raf.." panggilnya hati-hati. "Ayo makan, aku beli mie ayam bakso kesukaanmu loh!" lanjutnya.
Rafael menoleh ke arah suara itu, Kirana, temannya dari kecil sekaligus pacar yang putus nyambung selama 10 tahun terakhir dengannya, tapi selalu menjadi sahabatnya itu, terlepas dari seperti apapun bentuk hubungan mereka, tersenyum manis sambil meletakkan belanjaannya di meja dapur.
Aroma mie ayam bakso yang menggoda menari-nari memenuhi ruangan,ternyata cukup ampuh untuk membuat perutnya tersadar dari depresi, memainkan orkestra lapar dan menariknya kembali ke alam kehidupan. Rafael kemudian memaksa dirinya untuk bangun sambil menghapus air matanya, dan meletakkan buku tabungannya ke meja.
"Terima kasih." Ucapnya lirih dengan mata yang sembab, "You don't have to treat me lunch like this. Aku pasti akan menggantinya nanti." katanya lagi, namun ingatan tentang uangnya yang lenyap kembali membuatnya disergap rasa depresi.
Kirana menghela nafas, "Kau ini bicara apa sih?!" sepasang mata coklat mudanya menatap tajam pada pria yang sangat disayanginya itu, "I'll take care of you even when you don't want to." tegasnya,"Sudahlah! Sebaiknya kita makan dulu saja baru ngobrol yang lain, nanti keburu mienya dingin dan melar. Mie Ayam bakso kan paling enak di makan panas-panas pakai sambal pedas."
Rafael memaksakan sebuah senyuman kecil, di dunianya yang saat ini terasa begitu suram dan menyedihkan, kehadiran Kirana seperti secercah sinar matahari pagi pertama yang membawa harapan.
Rafael menyeka bekas airmatanya, kemudian mengambil cangkir di lemari kecilnya, "Sepertinya di kulkas masih ada sirup Vanila. Kau mau es teh vanilla?" Rafael menawarkan.
Kirana menggeleng, "Aku nanti ambil minum sendiri aja seperti biasa." tolaknya halus. "Just sit and eat with me now!" pintanya.
"Kau sudah membeli makanan kesukaanku, menyemangatiku, jadi sebagai bentuk rasa terima kasih,setidaknya aku bisa membuatkan minuman favoritmu ." Rafael bersikeras.
Kirana tersenyum dan menatap Rafael dengan gemas," Perhatianmu terhadap hal-hal kecil, seperti apa yang aku suka dan tidak ini, yang menjadi sebagian alasan, kenapa aku nggak bisa ninggalin kamu atau menyerah terhadap hubungan kita begitu saja." Ujarnya melankolis.
Senyuman tipis menghias di wajah Rafael yang oval sempurna sambil menuangkan sirup Vanilla ke cangkir berisi es teh, "Justru sekarang sebenarnya saat yang tepat." tukas Rafael, Ia memandang Kirana dengan wajah sedih, "Aku sudah benar-benar bangkrut dan jatuh miskin." Lanjutnya menghela nafas, "I don't even know how I will survive next month."
Kirana berhenti makan, meletakkan sumpitnya dan meraih jemari Rafael. Beberapa tahun terakhir ini memang sangat berat bagi Rafael, dan Kirana sangat mengetahui hal itu.
Dalam 4 tahun terakhir Rafael harus berganti pekerjaan dua kali. Pertama karena ia sempat kecelakaan dan harus di rawat beberapa bulan dan yang kedua karena perampingan karyawan di perusahaannya, Lalu sekarang saat memutuskan untuk membuka bisnisnya sendiri, berinvestasi dalam membangun sebuah kedai kopi, rekan bisnisnya membawa kabur uang Rafael dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Tidak ada nomer yang bisa dihubungi juga. Semuanya mati. Mereka sudah lapor ke polisi tapi belum ada hasilnya. Kalaupun diketemukan, mungkin juga uang Rafael sudah terpakai dan tidak akan kembali. Sementara Rafael harus menanggung sebagian besar biaya hidup keluarganya selain hidupnya sendiri.
"Ini memang masa-masa yang sangat sulit dan sangat berat. Tapi, nanti semua pasti akan baik-baik saja. Kau pasti bisa melewati semua ini, Rafael." Hibur Kirana menggengam jemari Rafael lebih erat.
Rafael mengangguk kecil, "Nona Kirana, anda adalah sahabat terbaik. Terbaik yang pernah kumiliki." Ujarnya penuh kesungguhan, kemudian mengulurkan secangkir es teh vanilanya kepada Kirana.
Kirana mengambil minuman itu sambil pura-pura cemberut, "Jadi, setelah semua dukungan dan hal yang kulakukan untukmu, kau tetap hanya akan menganggapku sebagai sahabat? seriously?? Wah, hatiku benar-benar terluka kalau seperti ini."
Rafael akhirnya tertawa juga karena melihat akting kecewa Kirana yang sangat meyakinkan itu, kemudian membelai rambut Kirana, "I'll find you a better boyfriend. Bukan seorang pengangguran yang melarat seperti pria menyedihkan ini." Katanya kemudian.
Rafael duduk di samping Kirana dan mengaduk mie ayamnya. Kirana mengulum senyum, hatinya agak sedih melihat Rafael. Ia belum pernah melihat Rafael seperti ini. Rafael selalu optimis. Selalu tersenyum dan bersemangat.
Tak peduli betapapun sulitnya situasi yang ia hadapi bahkan saat ia pernah mengalami kecelakaan dahulu, Rafael selalu penuh semangat hidup. Kirana menyukai semua tentang Rafael. Saat Rafael tersenyum, matanyapun berbinar-binar seperti ikut tersenyum. Rafael kadang terlihat begitu menggemaskan seperti bocah kecil. Tapi saat sedang serius mengerjakan sesuatu atau menceritakan rencana-rencananya, ia berubah menjadi terlihat begitu dewasa dan dapat diandalkan.
Rafael mewarisi ketampanan mendiang ayahnya dan kecantikan Ibunya secara bersamaan.He's an ultimate beautiful man. Bukan hanya senyumnya yang menawan tapi ia juga diberkahi dengan postur tubuh yang tinggi, d**a bidang, bahu yang tegap dan garis rahang yang indah. Semua tentang eksistensi Rafael membuat jantung Kirana berdebar setiap kali mereka bersama. Diantara banyak perempuan yang mengejarnya sejak dahulu, Rafael hanya membuka dirinya sepenuhnya kepada Kirana.
Hubungan mereka memang tidak selalu mulus. Banyak hal yang terjadi. Seperti banyak pasangan,mereka bertengkar dan putus beberapa kali. Tapi, seberapapun jauhnya Rafael melangkah dan mereka terpisah, Ia pasti selalu kembali kepadanya. Jadi, selama itu menyangkut tentang Rafael, Kirana tidak akan pernah menyerah dengan mudah.
"I don't need another man." Sahutnya. "Aku paham kau punya banyak hal yang ingin kau raih. Masalah yang harus diselesaikan. Pekerjaan. Urusan keluarga. Dan apapun itu yang ingin kau lakukan..." Ia terhenti sebentar, menghela nafas, kemudian melanjutkan, "Aku juga mengerti tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Apakah kita akan bersama atau tidak. Bahkan selama ini hubungan kita juga naik turun..." Kirana menatap Rafael, "Tapi, aku ingin berada di sampingmu dan mendukungmu semampuku Raf. Sampai aku tidak bisa melakukannya lagi." Ia menegaskan.
Hati Rafael menghangat dan seolah luruh. Ia tahu perasaan Kirana terhadapnya sangat kuat, terlepas dari bagaimanapun bentuk hubungan mereka. Tapi, ia yang sekarang merasa tidak cukup pantas untuk kembali memeluk Kirana, perempuan istimewa yang selalu mendukungnya selama ini. Karena, Ia bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri dengan baik saat ini.
"Aku tahu." Jawab Rafael agak serak menahan rasa sedih yang membuatnya ingin menangis lagi, "Bahkan kalau aku melarangmu dan memintamu untuk tidak melakukannya, kau pasti tidak akan mendengarkanku." Katanya lagi sambil memaksakan tersenyum.
Kirana meminum es teh vanilanya, "Pasti akan ada panggilan pekerjaan dalam waktu dekat. Kau sudah berusaha dengan keras mengirim banyak lamaran." Ujarnya, "Aku juga akan mencari informasi di kantor. Ku dengar akan ada lowongan asisten Manager yang segera dibuka."
Rafael mengangguk, "Kalau tidak ada satupun yang tembus, mungkin aku akan belajar cara membuat Mie Ayam Bakso yang enak dan berdagang keliling. Karena aku tampan, mungkin akan jadi viral dan banyak pelanggan yang datang. Benarkan?! " Guraunya sekalian menghibur dirinya sendiri.
Kirana tertawa kemudian mencubit hidung Rafael, "Ide yang cukup bagus. Kalau butuh modal, kau selalu bisa mengandalkanku untuk mendapatkan pinjaman berbunga rendah." Sahutnya.
Rafael menggeleng pura pura terkejut, "Pinjaman berbunga rendah?!" Ia berseru, "Wah, untuk seseorang yang baru saja mendeklarasikan loyalitas dan perasaan yang begitu mendalam, seharusnya kau memberikan pinjaman tanpa bunga padaku."protesnya.
Kirana tergelak, "Love and Business, Sweetheart, is two very much different things!"
Rafael merapatkan kedua tangannya, "Tiba-tiba aku merasa kedinginan...so cold...You're so cold Nona Kirana..." godanya.
Kirana tertawa lepas sepasang mata coklat mudanya berbinar-binar, kemudian ia memeluk Rafael dengan manja dari belakang, "Aku akan menghangatkanmu seperti ini setiap kali kau merasa kedinginan." Ujarnya sambil mendekap Rafael lebih erat.
Rafael mengulurkan lengannya mengusap pipi Kirana sambil tersenyum, "Aku menyukainya..." lirihnya.
Hati Kirana menghangat, Oh betapa Kirana sangat menyukai saat-saat seperti ini. Ia menyukai keharuman lembut citrus dan lavender yang berpendar dari rambut dan tubuh Rafael yang membuatnya selalu betah untuk berlama-lama memeluknya. Dan betapa Ia sangat mencintai Rafael.
***
I am A Survivor. Rafael, kau pasti bisa melakukan ini. Hanya untuk semalam lagi. Anggap saja ini sebuah mimpi yang sekedar lewat. It should be fine. Pikirkan saja tentang uang untuk membayar sewa ruko dan berobat yang dibutuhkan mama. Biaya Pendidikan Miranda dan Tora. Dan juga uang untuk membayar sewa apartemen, melunasi hutang serta kebutuhan lainnya.
Rafael berdiri di depan pintu ruangan yang berwarna gelap itu dan bergumam meyakinkan dirinya sendiri. Sayup-sayup suara musik berdentum dan celotehan riang beberapa perempuan di baliknya terdengar.
Kau hanya akan menemani mereka bernyanyi selama dua jam. Tidak akan ada hal yang aneh-aneh terjadi. Paling buruk mereka memintamu berjoget seperti yang sudah-sudah. Itu tidak akan terlalu susah. Just bare with it for 2-3 hours. Ini yang terakhir. Besok saat menerima pembayaran dari Dimas, semua akan selesai. Dan siapa tahu malam ini tipsnya akan besar. Tamu VIP biasanya sangat royal. Sedikit nakal dan terkadang agak liar tapi sangat sangat murah hati dalam memberi tips.
Rafael memantapkan hatinya, menarik nafas pendek, kemudian memutar knob pintu ruangan tersebut.It's a good payment Job, and it's not like I'm selling my body like a Gigo. Smile, Rafael!
"Selamat malam, Para nona Cantik!" Rafael menyapa para tamu perempuan di ruang karaoke tersebut dengan senyuman palsu yang manis dan lebar yang sudah dilatihnya selama berminggu-minggu. Dan seperti yang sudah-sudah ia alami dalam tiga bulan terakhir ini, tamu-tamunya pasti akan berteriak dengan histeris.
"Oh ya ampun mak Gantengnya!!!!!"
"Ini sih bukan ganteng lagi, tapi Ganteng banget!!"
"Kamu senyumannya, manis sekali sih!"
"Cakepnyaaaa...macam bintang film atau model ya... tinggi, atletis dan glowing banget ini gantengnya."
"Aduh hatiku...I lost it....I'm happy to lose my virginity for second time with you every night..."
"Tampannya kebangetan...emaknya ngidam apa coba, punya anak setampan ini?"
Rafael menebarkan senyumannya yang mempesona. Pujian-pujian dan gurauan genit semacam itu sudah menjadi semacam dengungan lebah yang berulang saja di telinga Rafael.
How he can end up in such place?
Hidup sangat penuh perjuangan di Jakarta dan Rafael sudah melamar ke berbagai tempat, mendapatkan beberapa kali wawancara tapi ia masih belum berhasil mendapatkan pekerjaan apapun. Dan kebutuhan hidup tidak akan berkompromi dengan rekening banknya yang makin menipis. Ia tidak bisa terus-terusan meminjam uang dari Kirana juga. Dan secara tidak sengaja ia kemudian bertemu dengan bekas teman kerjanya dulu, Dimas, saat mengantar Kirana berbelanja.
Dimas bercerita bahwa ia sekarang membuka bisnis Karaoke. Femme adalah Leisure Karaoke khusus perempuan. Kalau biasanya kaum pria yang menikmati jenis Karaoke ini dengan pendamping perempuan-perempuan cantik, ini kebalikannya. Dimas menawarkan Rafael untuk bergabung, dia memastikan bahwa tidak ada transaksi illegal, prostitusi dan kegiatan melanggar hukum lainnya.
It's a pure fun and sing till drop in Femme.
Banyak perempuan dengan kemampuan finansial yang mapan atau yang memang berasal dari keluarga kaya butuh hiburan yang seru dan Dimas melihat itu sebagai kesempatan berbisnis. Ia meyakinkan Rafael untuk tidak terlalu khawatir, terkadang ada pelanggan yang nakal, tapi tidak pernah ada yang melewati batas di Femme. Akhirnya Rafael memutuskan untuk mencoba selama tiga bulan and the rest is history.
Malam ini Rafael menjadi Host untuk acara ulang tahun salah satu tamu VIP. Biasanya ia tidak memegang tamu VIP, tapi karena Host yang seharusnya bertugas sakit, maka Dimas meminta Rafael menggantikannya. Ia dengan cekatan membantu memilihkan lagu, menuangkan minuman dan memesankan makanan. Ia juga menemani mereka bernyanyi dan menari. Dan Rafael termasuk pandai menari, jadi itu adalah momen histeria massa lainnya, saat para tamu melihatnya menggoyangkan tubuh dan menari dengan mereka. Dan malam ini tak terkecuali.
Ada empat orang wanita berusia sekitar pertengahan 30 sampai 40 tahunan di ruangan ini. Mereka memperkenalkan diri sebagai Clara, Amy, Sulan dan Dara. Semua berpenampilan menarik dan memakai barang-barang bermerek.Harga tas tangannya Rafael yakin lebih dari cukup untuk membayar sewa apartemennya sebulan. Selain Dara semuanya sudah mengenakan cincin kawin. Dara yang termuda sepertinya dan merupakan 'Queen of the Night" aka The Birthday Lady. Ia terus menerus bilang bahwa Ia masih single dan menempel pada Rafael.
Setelah sekitar 30 menit bersenang-senang menyanyi dan menari heboh,mereka beristirahat sebentar, tertawa senang sambil terus menggodanya dengan nakal dan menarik lengannya untuk duduk bersama.
"Sudah punya pacar belum sih? Siapa tadi Namanya?" Cecar Clara pada Rafael
"Dean." Jawab Rafael. Di Femme semua orang punya nama panggung. Dan Dimas memberikan nama itu padanya. "Every man in Femme is single." Lanjutnya bermanis-manis.
Para perempuan itu kompak berseru lagi dan makin instens menggodanya, "Pacaran sama aku yuk, Dean! Cuma aku loh yang masih lajang, tante tante ini semua sudah nikah" Rayu Dara.
"Sama aku aja, sayang. Nanti aku beliin mobil sport terbaru deh!" Goda Amy mengedipkan matanya.
"Kalau sama aku kita bakal sering travelling ke Luar Negeri loh!" bisik Sulan, "Tinggal bilang kamu mau kemana, Milan, Paris, London, Tokyo. You name it, I'll buy it!" tambahnya.
Just give me generous tips tonight sudah lebih dari cukup. Rafael membatin.
"Hey Party Beauties! Selamat Ulang tahun, Dara!" Rafael menoleh ke arah suara yang tiba-tiba datang dari depan ruangan. Seorang perempuan yang cantik, mengenakan blazer, rok hitam berenda yang feminine dan stiletto hitam, melenggang masuk. "Sorry telat." Lanjutnya, disambut dengan pelukan dan kehebohan dari teman-temannya yang lain.
"Kupikir kamu nggak bisa datang." Ujar Dara dengan suara yang sedikit manja dan agak mabuk.
Perempuan itu tersenyum, wajah tegasnya yang cantik terlihat sedikit lelah, "Nggak mungkinlah, It's your birthday! Lagian I need some fresh air and some fun!" Jawabnya kemudian membuka blazernya, memperlihatkan lekuk tubuh proporsionalnya yang indah.
"Sayang, pilihin lagu and have a drink with me sini!" Ujar Clara mengalihkan perhatian Rafael.
"Anda membuat keputusan yang tepat Madame Ayura!" Ujar Dara, kemudian ia meraih lengan Rafael yang sedang membantu memilihkan lagu untuk Clara.
"Dean Van Femme, Host Super Tampan kita akan menyanyi, menari dan menghibur kita semua sepanjang malam, Yeayyyy, lets have a super fun fearless femme night!!!" Celotehnya dengan riang.
Rafael berbalik dan menoleh ke arah keduanya, tersenyum ramah kepada tamu cantiknya yang baru datang itu kemudian bertanya, "Drink or Sing?" dan memamerkan killer smile-nya
Untuk sepersekian detik, tamu cantiknya itu terkesima, saat mereka bertatapan, tapi kemudian segera menjawab,"Drink!" sahut perempuan itu dengan cepat. "Plenty of it!" tambahnya menyibakkan rambutnya yang panjang bergelombang ke sisi lainnya memamerkan lehernya yang jenjang.
***