Oh Morning Light, burn so bright...Oh Morning Light, Brings me some unexpected beautiful sight...
Mirip dengan penggalan syair lagu itu. Saat Ayura membuka mata, sinar matahari yang cukup terang membias masuk dari tirai jendela kamarnya dan Ia menemukan pemandangan yang tak terduga.
She laid down bare naked on the bed sementara baju dan pakaian dalamnya bertebaran di lantai. Reflek ia menoleh ke samping dan melihat seorang pria berbaring di sisinya. Ayura terpana dengan pesona sosok yang sedang tertidur nyenyak di hadapannya, he has a very fine feature, thick black hair, fair smooth skin, strong eye brow, fine jawline and beautiful carved lips. His beauty is so divine and almost inhuman...Is he somekind of angel? pikirnya melantur. Namun perasaan itu dengan cepat berubah menjadi horror karena Ayura tidak yakin apa yang sedang atau tepatnya sudah terjadi semalam.
Ayura mencoba mengingat-ingat, lalu menepuk keningnya. "Gosh, I'm such an i***t!" Ayura memaki dirinya sendiri. Ia ingat datang ke acara ulang tahun Dara, dan karena penat dengan urusan pekerjaan kantor, persiapan projek barunya di Bogor dan pressure dari ayahnya soal pernikahan, ia minum lebih dari lima gelas semalam. Ia pasti mabuk berat dan entah apa yang sudah dilakukannya. Ayura menoleh kembali ke arah pria yang berbaring di kasurnya. Ia mengenali pria ini sebagai Dean, si Host super tampan di acara ulang tahun Dara di Femme, kemudian beberapa siluet potongan kejadian semalam melintas satu per satu di kepalanya.
Ayura ingat ia memaksa Dean untuk menemaninya minum beberapa gelas, mengoceh tak karuan soal pria dan hubungan asmara itu hanya membuat masalah saja dan bahwa pria tampan seperti Dean adalah sumber kekacauan. Kemudian sepertinya Dara meminta Dean untuk mengantar Ayura pulang, karena Ia sudah terlalu mabuk. Samar-samar Ayura ingat ia menggodanya dan mengatakan Dean begitu mempesona, his angelic face is a crime for heart dan setelahnya ia tidak dapat mengingat dengan persis. Hal terakhir yang tersisa di memorinya adalah mereka berciuman dengan penuh gairah mulai dari ruang tamu sampai kamarnya setelah itu Ayura tidak ingat apa-apa.
Ayura menggeleng-gelengkan kepalanya dengan frustasi. Ya tuhan, ini kacau sekali!
Ia menutupi wajahnya dengan kedua jemarinya dan mengerang, menyesali kecerobohannya. How can I make a mess like this? keluhnya pada dirinya sendiri. Ia menoleh lagi pada pria yang masih tetap tertidur di kasurnya, dan hatinya seketika melumer mengkhianati akal sehatnya, Such a beautiful man... Ayura langsung menepuk pipinya, berupaya menyadarkan diri, Ok I need to get up and clean this mess and deal with him when he wakes up.
Ayura beringsut turun dari kasur, membuka laci bawah kasurnya, berharap menemukan sepotong kain untuk menutup tubuhnya terlebih dahulu. Setelah merogoh beberapa saat, ia menemukan kain batik dan segera melilitkan kain itu ke tubuhnya. Ayura mengambil pakaiannya yang berceceran di lantai dan memisahkan pakaian pria itu ke atas kasur. Ayura terkejut saat menemukan beberapa kancing kemejanya terlepas dan meringis, ingatan betapa bersemangatnya mereka b******u, membuatnya wajahnya memerah.Ia menghela nafas dan berdesah miris seberapa panas sebenarnya sesi mereka b******a semalam? Ia benar-benar tidak bisa mengingatnya.
***
Hal pertama yang membangunkannya adalah smell of coffee. Tapi, Rafael masih enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya yang terasa sangat nyaman ini. Rafael menarik selimutnya lagi, ia merasakan sinar matahari menembus lembut dari balik tirai jendela, dengan mata yang masih setengah terbuka, ia membatin vas bunga berisi mawar merah muda dimeja putih klasik itu terlihat sangat indah.
Vas Mawar? Meja klasik? Tirai Jendela? Tempat tidur lebar dan bed cover putih tebal? Aroma kopi?? Rafael tersentak, hampir terbangun melompat, mendadak tersadar bahwa ini bukanlah apartemennya. Ia lebih syok lagi menyadari bahwa ia tak memakai sehelai bajupun di balik selimut tebalnya. Rafael mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan itu berusaha mengingat apa yang terjadi, ia mengerjapkan matanya, dan merasakan kepanikan menyergap.
"Sudah bangun?" suara seorang perempuan mengejutkannya. "tidurmu nyenyak?" ujarnya lagi.
Rafael menatapnya mencoba mengingat-ingat dan saat berhasil mengumpulkan sedikit sisa ingatannya, Rafael mengerih. Semalam ia mengantarkan salah satu tamu VIPnya pulang dan ia setengah mabuk juga dan perempuan itu merayunya dan ia terlihat sangat menawan dan sexy. Ya tuhan, seumur hidupnya Rafael tidak pernah melakukan one night stand, memikirkannya pun tidak dan seperti hanya membalikkan telapak tangan, semalam Ia...tergoda. Dan bam! semua menjadi tak terkendali secepat itu. Rafael merasa sangat kacau dan bersalah dan semua perasaanya bercampur jadi satu. Kepalanya terasa agak pusing.
"Aku akan berangkat kerja sekitar 45 menit lagi." Perempuan itu memberitahu. Nada suaranya sangat teratur, agak dingin malah, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Rafael tidak tahu harus menjawab apa, ia melihat baju yang dikenakannya semalam di ujung tempat tidur dan mengambilnya.
"Ini!" Perempuan itu berdiri di hadapannya sambil mengulurkan jas mandi. "Kau bisa menggunakan shower di sebelah kiri ruangan lalu sarapan sebelum pergi." Ujarnya lagi, kemudian meninggalkan Rafael yang masih termangu di kasurnya.
Rafael memakai jas mandi berwarna hitam yang terasa lembut dan mewah itu. Ia menoleh ke arah Perempuan itu yang sudah sibuk dengan gadget-nya di meja makan. Ia terlihat sangat berkelas, dan Rafael masih bisa mencium jejak parfumnya yang menebarkan sweet honey scent yang lembut. Bayangan kebersamaan mereka semalam kembali melintas, tatapan matanya dan sentuhannya begitu menggairahkan, Rafael segera mengenyahkan pikiran itu dan buru-buru bangun untuk mandi.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, Rafael melangkah menuju meja makan dengan agak gugup. Apa yang harus dikatakannya, apakah akan terlihat aneh kalau dia meminta maaf dan menjelaskan bahwa ia tidak biasanya begini dan ini karena semalam ia minum lebih banyak dari biasanya...ia tidak pernah mabuk sebelumnya juga. Tapi, perempuan itu terlihat baik-baik saja. Bagaimana kalau ia nanti ditertawakan dan malah dianggap konyol. Pikiran Rafael mendadak terasa ruwet.
Mendengar Langkah Rafael, perempuan itu berbalik ke arahnya. Ia mengamati Rafael beberapa saat, sorot matanya menatap Rafael begitu tegas, makin membuat Rafael merasa seperti bocah kecil yang akan mendapatkan hukuman karena telah melakukan kesalahan besar.
"Aku tidak punya waktu banyak. Ada urusan mendadak di kantor. Sepertinya kau tidak bisa sarapan disini. I've got to go now!" tandasnya sambil mengambil tas kerjanya dari meja.
Rafael ingin mengatakan sesuatu tapi yang keluar dari mulutnya hanya, "Ah, Ok, tentu saja, tidak apa-apa!" kemudian tersenyum dengan canggung. "I'll take my stuff!" lanjutnya.
Rafael kembali ke arah ruang tidur untuk mengambil dompet dan Hpnya, tapi kemudian tidak menemukannya. Rafael teringat bahwa sepertinya ia meninggalkan barang-barang itu di locker Femme. Ia belum sempat mengambilnya saat mengantarkan tamunya pulang karena mabuk parah dan tidak bisa menyetir mobilnya sendiri.
"Ada Apa? why are you still standing there?" tanya perempuan itu dengan nada sedikit tidak sabaran.
Rafael menoleh ke arahnya dengan risau, "Dompet dan HPku tidak ada..." Jawabnya.
Perempuan itu menggeleng terlihat kesal lalu tergelak sinis, "Aku tidak percaya ini!" Ujarnya kemudian dengan jengkel. Sorot matanya mengeras, "Such angelic innocent puppy face with devil intention."
"Maaf?" Rafael agak terhenyak dengan kata-kata sinis tersebut.
Perempuan itu menyilangkan lengan ke d**a, "Apa ini cara terbaru untuk meminta bayaran?" cibirnya.
Rafael terkejut bukan main dan berusaha mencerna apa yang baru saja di dengarnya, "Bayaran...aku.."
Perempuan itu segera memotong perkataan Rafael, "Fine, kau sudah mengantarkanku kembali dengan selamat dan kurasa kita memiliki sesi b******a yang luar biasa panas semalam, you made me lose my shirt buttons, jadi aku akan membayar semua servis mu. Berapa? 2 juta? 3 juta?" tukasnya cepat.
Rafael makin terperangah. Paid service? Apa dipikirnya aku ini Gigolo?Batin Rafael. Tiba-tiba rasa bersalahnya berganti dengan rasa marah dan terhina. Ia menatap perempuan di hadapannya dengan kesal, "Aku kehilangan dompet dan Hpku jadi..." belum sempat Rafael menyelesaikan ucapannya untuk menjelaskan situasi sebenarnya, perempuan itu merogoh tasnya dan melemparkan sebuah amplop putih ke hadapannya.
"That's all extra cash I have. Ambil semuanya. Kurasa itu lebih dari cukup untuk pelayananmu dan mengganti HP dan dompetmu yang hilang." Ia menekankan ucapannya seolah Rafael membuat skenario bohong tentang HP dan dompetnya.
Rafael menatapnya dengan gusar, "Orang kaya seperti kalian is a disgrace! bahkan saat kalian memberi sesuatu, you don't have a slight manner!" sahutnya dengan marah.
Perempuan itu tidak menggubrisnya dan berjalan menuju pintu lalu membukanya, "Kurasa kau tidak pada posisi untuk bicara soal manner." Ujarnya. "Silahkan keluar." perintahnya dengan dingin.
Karena memang tidak punya uang sama sekali, Rafael mengambil amplop itu dan berjalan menuju pintu keluar, sebelum pergi ia menatap perempuan itu sekali lagi dan berkata, "Aku pasti akan mengembalikannya. Semua yang ada di amplop ini, akan ku kembalikan padamu. Every penny on it."
Rafael segera meninggalkan apartemen dan naik taksi menuju tempat kerjanya. Sesampainya di Femme ia segera mengambil dompet serta HPnya di loker. Ini adalah hari terakhirnya di Femme, Jadi ia juga mengemasi barang-barangnya yang lain dan mengucapkan salam perpisahan dan terima kasih kepada rekan-rekan kerjanya. Dimas langsung mentransfer pembayaran ke rekeningnya dan masih mencoba membujuk Rafael untuk bekerja di Femme. Rafael sudah menjadi magnet bagi para pelanggan wanita di Femme. Tapi, Rafael menolak dengan halus dan menjelaskan bahwa Ia sudah mendapatkan tawaran pekerjaan dan setuju untuk mengambilnya. Dimas berpesan kepadanya bahwa pintu Femme akan selalu terbuka untuk Rafael.
Setibanya di apartemen, Rafael meletakkan kotak barang-barangnya, meminum air dingin dari kulkas untuk meredam panas Jakarta dan menyandarkan punggungnya di sofa. Ia mengambil remote AC menyalakannya kemudian menutup matanya, kata-kata tajam perempuan itu kembali terngiang di telinganya, aku akan membayar semua servis mu. Berapa? 2 juta? 3 juta?. Kurasa kau tidak pada posisi untuk bicara soal manner. Silahkan keluar.
Hati Rafael terasa sakit, emosinya bergolak kemudian ia merasa sangat sedih. Matanya terasa panas, berkaca-kaca dan air matanya pun menetes. Memangnya, apa kesalahan yang telah ia lakukan sampai ia harus dihina seperti itu? Rafael menghela nafas dalam-dalam. Kesalahannya adalah ia mabuk. Ia tidak seharusnya melewati batas kemampuan minumnya. Ia harusnya selalu sadar dan awas seperti biasanya. Hanya karena itu malam terakhirnya, he loosen up a bit, berpikir bahwa semua akan baik-baik saja dan akhirnya malah berujung tidak hanya kehilangan kendali tapi juga harga dirinya.
Rafael menarik nafas panjang lagi, mengambil ponselnya yang sudah mati dari dalam saku celananya dan mengecharge-nya. Rafael menghidupkannya dan beberapa saat kemudian ia melihat pesan dari Kirana.
"Apa kau sudah memeriksa emailmu? Salah satu temanku di HR departemen bilang bahwa kau mendapatkan slot wawancara di sini. Mereka mengirimkan pemberitahuannya kemarin. Wawancaranya jam 3 sore ini. Goodluck, Raf!"
Rafael terkesiap, ia merasa senang sekali. Walaupun sudah mendapatkan tawaran dari tempat lain tapi Rafael sangat tertarik dengan posisi yang sedang dibuka di perusahaan tempat Kirana bekerja. Rafael melirik jam dindingnya yang menunjukkan pukul 11 siang. Ia masih mempunyai cukup banyak waktu untuk bersiap-siap.
***
Aku pasti akan mengembalikannya. Semua yang ada di amplop ini, akan kukembalikan padamu. Every penny on it.
Ishh untuk apa dia bicara seperti itu? Pasti itu karna dia sangat malu karena Ayura mengetahui maksud liciknya . Memeras seorang wanita hanya karena ia sudah tidur bersamanya, dengan wajah sepolos dan semanis itu, oh ya tuhan tidak dapat dipercaya, dunia sudah benar-benar gila. Ayura menggeleng dan menghela nafasnya. Tapi, Ia sendiri juga sudah sangat gila.
Bagaimana ia bisa kehilangan kendali minum sebanyak itu? tidak peduli sesuntuk apapun kondisinya, seharusnya ia bisa mengendalikan diri seperti biasanya. Dan ya ampun sejak kapan ia menjadi begitu agresif merayu laki-laki, kemudian b******u habis-habisan seperti kehilangan akal.
Tak pernah terbesit dalam pikirannya untuk one night stand with some random guy seperti itu. Ayura adalah orang yang biasanya tenang dan jauh dari kata sembrono apalagi v****r. Entah apa yang merasukinya semalam. Was it simply because of the drink? Or was it because the fact that pria yang semalam bersamanya adalah pria ter...tampan...tidak...tampan tidak cukup benar untuk mendeskripsikannya...Maha adalah pria yang tampan. Maskulin dan tampan. Tapi pria semalam itu, bagaimana ya ia menyebutnya, manis...menggemaskan...sensual...Indah?
Ayura menghembuskan nafasnya dengan keras, kenapa aku malah memikirkan tentang anak anjing yang licik itu sih, Ia menepiskan pikirannya tentang pria itu, melihat ke arah jam di meja kerjanya. It's lunch time already. Ayura meraih telponnya kemudian menelpon sahabatnya Yuna.
"Aku mau ke restaurant. Lagi disana nggak?" tanyanya
"Be there in 10 minutes. Ini masih di perjalanan. Mau makan apa? Nanti biar aku telpon Chef untuk menyiapkan. Jadi kamu nggak perlu nunggu lama-lama." Sahut Yuna.
Ayura tersenyum senang, Yuna memang sangat mengenal sifatnya. "Nasi goreng smoked chicken dan jeruk peras tanpa gula." Jawabnya.
"Siap Nyonya besar. It will be ready when you come, see you around soon." Sahutnya.
Yura berdiri dari kursinya dan mengambil tasnya, "Aku jalan sekarang, Ciao!" ujarnya kemudian keluar dari ruang kerjanya.
Saat menutup pintu ruangannya, Heidi, stafnya menghampiri, "Bu, ini dokumen untuk sore nanti, maaf baru selesai di print, tadi mesin printernya agak bermasalah." Heidi menjelaskan dengan agak takut-takut. Ayura memang dikenal perfeksionis baik soal waktu atau kerjaan.
"Saya mau makan siang sekarang dan ada meeting juga nanti sampai sekitar jam dua. Tolong letakkan saja berkasnya di meja. Lain kali kamu siapkan dokumen saya lebih pagi jadi saya punya cukup waktu untuk membaca." Perintahnya.
Heidi mengangguk, "Baik, bu." Jawabnya.
"Anyway thanks." Ucap Ayura, "Oh ya, Heidi, tolong pindahkan jadwal wawancara saya dengan green coastal jadi besok pagi sekitar jam 8 ya. Kalau mereka tidak bisa, saya kosong besok jam 5. Kalau tidak bisa juga coba kamu cek jadwal saya di hari lain dan lihat mana yang cocok dengan mereka." Ayura memberikan arahan sebelum pergi.
***
Ayura memiliki meja spesial di sudut restaurant Yuna. Ia sangat suka duduk di situ sambil menikmati pemandangan berdesain taman jepang minimalis dengan air terjun kecil dan kolam ikan yang membuatnya seperti little oase di hiruk pikuk Jakarta.
"Jadi what's the story?" Yuna bertanya, senyumnya penuh semangat seolah akan mendengar gossip of the century dan tatapan matanya menyelidik .
Ayura menatap sahabatnya selama 20 tahun itu dan memasang tampang sedikit kesal, "Nothing much sebenarnya. Cuma, ayah sedang berulah beberapa minggu terakhir ini."
Yuna tersenyum simpul, "Is it about marriage stuff?" tebaknya.
Ayura mengangguk, "Spot on!" jawabnya. "Tiba-tiba ia mengundang anak seorang koleganya ke acara makan malam keluarga beberapa waktu yang lalu. His name is Maha..."
Yuna menyela, "Uhh..name that sounds like a strong masculine Man."
"You bet, he damn is!" Sahut Ayura. "Ayahku dan ayahnya menjodohkan kami."
"Jackpot! Show me his picture!" Ujar Yuna bersemangat.
Ayura membuka ponselnya dan menunjukkan foto Maha. Yuna terkesiap, "Wuhh, goodness me.." kemudian menatap Ayura lagi, "Jadi, gadis bodoh, aku tidak mengerti kenapa kau malah jadi upset dengan calon suami sekeren ini hah? So, ungrateful!" sindirnya.
"Calon Suami apaan?!" Ayura menampik ucapan Yuna dengan kesal, "I never be interested with anything related to marriage, you know that!" lanjutnya dengan bersungut-sungut kemudian memakan nasi goreng di hadapannya.
Yuna melihat Ayura dengan tatapan antara kasihan dan gemas. Kasihan karena dia paham kenapa Ayura jadi sedingin itu kalau terkait dengan percintaan. Dan gemas karena seharusnya Ayura paham bahwa masih ada banyak pria baik didunia ini. Dan bahwa hubungan percintaan yang sehat itu adalah hal yang sangat mungkin.
"Mungkin sudah waktunya kau mencoba. Memberi kesempatan untuk cinta dan dirimu sendiri. Love is a bless when you are with a right person. Tapi, kalau kamu tidak pernah membuka diri, you might as well never find him." Yuna menasehati.
Ayura meminum air jeruknya, "Aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang." Katanya. "Pernikahan dan apalagi menikah dengan pria seperti Maha sepertinya hanya akan mengundang masalah-masalah baru yang tidak kuperlukan." Kilahnya.
"Jadi, apa kau lebih memilih jenis hubungan selain pernikahan? Samenleven? Friend with benefit? One night stand?" Goda Yuna terkekeh.
One night stand. Mendengar kalimat itu, Ayura mendadak tersedak dan terbatuk-batuk kemudian Yuna dengan sedikit panik menepuk punggung sahabatnya. Ingatan Ayura otomatis melayang kembali ke wajah pria itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Yuna was-was.
Ayura mengangguk kemudian mengambil minum dan mengatur nafasnya. "Actually, i did it last night.." Kata Ayura enggan.
"Apa?" tanya Yuna bingung
"I slept with someone..." akunya
Sepasang mata hitam Yuna yang besar dan indah membelalak, "Sungguh? Serius?"
"Bukannya aku berniat seperti itu...semuanya terjadi di luar kendali...aku minum terlalu banyak...lalu mabuk dan...pria itu.." Ayura kembali teringat tatapan mata s*****l pria itu yang seolah menjelajahi every inch of her skin dan hatinya lagi lagi mencelos.
"Ceritakan semuanya kepadaku!" desak Yuna. "Semuanya." Ia menambahkan.
Ayura menceritakan soal kesuntukannya, pesta ulang tahun Dara dan kegilaan semalam serta peristiwa pagi ini. Yuna menyimak dengan seksama. Setelah ia selesai bercerita sahabatnya itu menggelengkan kepalanya tak percaya dan mengambil minumannya.
"Kau benar-benar tidak ingat apapun saat terbangun?" Yuna memincingkan matanya memastikan, "You lose your shirt buttons and don't even remember sedikitpun bagaimana kalian b******a semalam?" tanyanya dengan raut wajah usil.
Ayura menggeleng. Yuna tergelak. "Wah sayang sekali, mungkin kau harus mengulanginya."
"Hehh lupakan saja, sudahlah aku tidak mau membicarakan soal anak anjing licik itu lagi." Sahutnya dengan sewot. Bayangan wajah pria itu entah kenapa membuat hatinya jadi gusar dan berdesir pada saat bersamaan.
"Anak anjing?" Yuna mengerjapkan matanya kemudian tertawa lagi, "Oh ya ampun, tante! You avoid an established man dan malah bermain-main dengan anak anjing." Ejeknya.
"Yunaa..." Ayura melayangkan tatapan protes kepada sahabatnya.
Yuna mesem, kemudian menatap sahabatnya dengan rasa sayang, "Kau dan pria-pria dalam hidupmu..." ia menghela nafas panjang , "Sudahlah lupakan saja. Semua orang pernah khilaf. " Katanya menenangkan.
"Aku tahu." Sahut Ayura pendek.
Yuna menatapnya serius, "Menurutku, Maha kelihatanya pria yang baik. Biar bagaimanapun dan walau kau tidak menyukai ayahmu, dia tetap ayahmu. Beliau pasti tidak akan sembarangan menjodohkanmu dengan seseorang." Ucapnya dengan lembut.
"Aku tahu." Ujar Ayura lagi sambil mengaduk-aduk sisa nasi di piringnya.
"Dan anak anjing itu juga sepertinya tidak jahat. Dia bilang akan mengembalikan uangmu kan?" Celoteh Yuna.
Ayura mengangguk-angguk, 'Aku tahu." Jawabnya. Tapi kemudian tersentak dan menatap Yuna yang cekikikan di depannya, "Ishh! Kamu ini ya! Anak anjing itu licik...licik...memiliki wajah seperti malaikat tapi mata duitan!" omelnya.
Tawa Yuna mereda kemudian berkata, "Aku penasaran seperti apa anak anjing licik kesayanganmu ini..."
"Kesayangan apa?" Sergah Ayura, "Dia itu seperti persilangan buaya empang dan anjing pug ok?!" bantahnya sambil menepiskan bayangan wajah pria itu dan sepasang mata syahdunya lagi.
***
Rafael datang setengah jam lebih cepat. Di ruang tunggu ada beberapa kandidat selain dirinya. Ia kembali membaca beberapa materi di website tentang perusahaan ini dan kegiatan kegiatan mereka yang terkait dengan posisi yang dilamarnya. Selama dua tahun Rafael berpengalaman melakukan monitoring dan evaluasi untuk projek projek pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di divisi Corporate Social Responsibility perusahaannya yang lama. Jadi ia cukup yakin akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam wawancara ini, walaupun tentu saja Enchantee Corp adalah perusahaan besar berskala internasional di bidang kosmetik, perawatan kulit dan parfum, berbeda dengan perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya di industri footwear lokal.
Rafael mengerjakan beberapa tes tertulis dan menyelesaikannya dengan cukup cepat. Setelah menunggu beberapa saat, Rafael diberi tahu bahwa gilirannya untuk wawancara akan tertunda sekitar 30 menit karena senior manager yang akan mewawancarainya harus menghadiri pertemuan mendadak.
Ia kembali menunggu. Beberapa karyawan perempuan yang melintas ruang tunggunya berbisik-bisik sambil tertawa kecil. Rafael sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Bahkan sejak ia di sekolah, ia memang selalu menarik perhatian perempuan sekaligus menjadi sasaran kecemburuan para siswa priayang merasa Rafael telah merebut pacar mereka padahal ia tidak pernah melakukan apa-apa. Dan, Kirana adalah orang yang selalu membelanya. Kirana selalu mendukungnya. Bahkan kesempatan wawancara inipun ada karena Kirana memberikan informasi padanya tentang lowongan di perusahaannya.
Ponselnya bergetar. Rafael membukanya dan ada pesan masuk dari Kirana.
"Semoga berhasil, stay confidence and slay it!" tulis Kirana.
"I will." Jawab Rafael dan mengirimkan emoji tersenyum percaya diri.
Rafael tersenyum, ia akan melakukan yang terbaik. Untuk masa depannya. Untuk Kirana. Dan untuk membayar hutang keluarganya. Tiba-tiba Rafael teringat kejadian pagi tadi, Oh dan itu juga, ia membatin. Ia akan melunasi hutangnya kepada wanita itu. Entah kenapa Rafael teringat betapa mempesonanya wanita itu semalam saat mengatakan,dekap aku malam ini, hati Rafael berdesir kencang. Ia buru-buru mengenyahkan bayangan wanita itu. Kau sudah gila Rafael, ia menganggapmu Gigolo, melemparkan uang dan menyuruhmu pergi dengan sangat dingin.Rafael mengingatkan dirinya.
Tepat pukul setengah empat Rafael akhirnya dipanggil menuju ruang wawancara. Ia melangkah dengan aantusias dan penuh percaya diri.
Rafael membuka pintu ruangan itu, "Selamat Sore." Ucap Rafael bersemangat.
Kemudian Senior Manager itu menyebut namanya " Silahkan duduk. Arcandra Rafael."
Dunia terasa berhenti berputar selama beberapa detik. Rafael memperhatikan sosok perempuan yang duduk di hadapannya. Sepasang mata hitam yang terbingkai dengan tegas, rambut coklat karamel yang tergerai indah dan bibirnya yang tipis.
It was her. Perempuan yang b******a begitu panas dengannya semalam dan mengusirnya dengan sangat dingin pagi ini.
***