"Maaf, apa kau keluarga dari pasien ?" tanya salah seorang suster.
"Aku temannya" ucap Eunbi.
"Bisakah kau masuk ke dalam ? Pasien sudah sadarkan diri" ucap suster.
"Baiklah sebentar lagi aku akan masuk" ucap Eunbi.
"Memangnya KimSeo tidak punya keluarga ya ?" bisik Youra.
"Dia memang sudah tidak mempunyai orangtua, semua saudaranya tidak ada di sini, dan mungkin yang mengurus semua keperluan KimSeo di rumah sakit ini adalah orang terdekatnya. Lagipula bila aku tahu tentang ini, dari dulu aku sudah menemukan di mana KimSeo berada" ucap Eunbi.
"Ah begitu, kau benar. Ya sudah aku tunggu di luar, kau masuk saja" ucap Youra.
Eunbi pun menghelakan nafasnya sebelum memasuki ruangan Kimseo, karena tak bisa dipungkiri, ini menjadi kecanggungan untuk Eunbi setelah dia sudah mengetahui siapa KimSeo yang sebenarnya.
Perlahan Eunbi membuka pintu ruangan itu. Terdengar suara mesin yang berdetak pelan, dan di sanalah dia, lelaki yang selama ini dia cari, kini terbaring dengan mata yang terbuka menatap langit-langit ruangan.
"KimSeo ..." lirih Eunbi.
KimSeo menoleh perlahan. Matanya yang masih terlihat lemah itu membulat saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
"Eu-Eunbi ?" ucap KimSeo dengan suara yang sangat serak.
Eunbi tak bisa menahan air matanya lagi. Kakinya melangkah cepat menghampiri ranjang KimSeo, lalu dia berdiri di sana tanpa tahu harus melakukan apa.
"Bagaimana kau bisa ada di sini ? Bagaimana kau tahu aku ..." ucap KimSeo terbata.
"Aku mencarimu. Selama ini aku mencarimu" ucap Eunbi.
KimSeo terdiam. Dia mencoba mengangkat tangannya namun tangannya masih terlalu lemah untuk sekedar terangkat.
"Berapa lama ?" tanya KimSeo.
"Apa ?"
"Berapa lama aku tertidur di sini ?" tanya KimSeo lagi.
Eunbi menggigit bibirnya sesaat. Rasanya berat sekali mengucapkan angka itu.
"Lebih dari satu tahun" jawab Eunbi.
Mata KimSeo langsung berkaca-kaca. Dia menatap langit-langit kembali, seolah sedang menghitung sesuatu yang tak akan pernah bisa dia kembalikan.
"Satu tahun ..." gumam KimSeo.
"Dokter bilang kau beruntung. Katanya tak banyak orang yang bisa kembali setelah selama itu" ucap Eunbi mencoba menghangatkan suasana.
KimSeo hanya tersenyum tipis, senyum yang lebih terlihat seperti luka.
"Maaf" ucap KimSeo.
"Untuk apa ?"
"Untuk malam itu. Aku pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun kepadamu" ucap KimSeo.
Eunbi menunduk. Dia sudah menyiapkan ribuan kalimat marah untuk dilontarkan kepada lelaki ini bila suatu hari mereka bertemu kembali. Namun kini, saat lelaki itu benar-benar ada di depannya, semua kalimat itu hilang begitu saja.
"Sudahlah, itu bukan salahmu" ucap Eunbi.
"Han ..." tiba-tiba KimSeo bersuara.
Eunbi membeku.
"Han bersamaku malam itu. Dia yang menyetir. Di mana dia ? Apa dia baik-baik saja ? Apa dia juga dirawat di sini ?" tanya KimSeo dengan suara yang mulai terdengar panik.
Eunbi tak menjawab. Dia hanya menatap KimSeo, dan dari tatapan itu saja, KimSeo sepertinya sudah mengerti.
"Eunbi, jawab aku. Di mana Han ?" tanya KimSeo lagi.
"Han ... sudah pergi" jawab Eunbi pelan.
Ruangan itu menjadi begitu sunyi. Hanya suara mesin yang terus berdetak seolah tak peduli dengan apa yang baru saja terjadi di dalam ruangan itu.
"Tidak ..." lirih KimSeo.
"KimSeo ..."
"Kau bohong kan ? Kau tidak mengenal Han, bagaimana kau tahu tentang dia ?" ucap KimSeo dengan suara bergetar.
"Aku mengenalnya. Percayalah, aku mengenalnya. Nanti ... nanti akan aku ceritakan semuanya kepadamu, saat kau sudah lebih kuat" ucap Eunbi.
Air mata KimSeo jatuh menyamping membasahi bantalnya. Dia menangis tanpa suara, dan itu justru terlihat jauh lebih menyakitkan.
"Aku yang menyuruhnya untuk menyetir malam itu" ucap KimSeo.
"Jangan seperti itu"
"Bila aku tak menyuruhnya, dia pasti masih ada. Bila aku menolak ajakannya keluar malam itu, dia pasti masih ada" ucap KimSeo.
Eunbi akhirnya memberanikan diri untuk menyentuh punggung tangan KimSeo. Sentuhan itu membuat KimSeo menoleh kepadanya, dan entah mengapa, tangis KimSeo justru semakin pecah saat merasakan sentuhan itu.
"Dengarkan aku" ucap Eunbi.
"Han menitipkan pesan untukmu" sambungnya.
KimSeo menatap Eunbi dengan bingung, namun juga dengan mata yang penuh harap.
"Dia meminta maaf kepadamu, dan dia mengucapkan terima kasih karena kau telah menjadi sahabatnya selama ini" ucap Eunbi.
"Bagaimana bisa ... kapan dia mengatakan itu ?" tanya KimSeo.
"Nanti, aku janji akan menceritakannya. Yang jelas, itu benar keluar dari mulutnya sendiri, dan dia pergi dengan tersenyum. Percayalah kepadaku" ucap Eunbi.
KimSeo memejamkan matanya. Beberapa saat lamanya dia hanya diam, mencoba menampung semua yang baru saja dia dengar dengan tubuh yang bahkan belum mampu untuk duduk.
"Dasar bodoh ... bahkan saat pergi pun dia masih sempat banyak bicara" ucap KimSeo di sela tangisnya.
Eunbi tersenyum walau air matanya juga tak berhenti mengalir.
"Iya, dia memang banyak bicara" ucap Eunbi.
Beberapa saat kemudian seorang perawat masuk untuk memeriksa keadaan KimSeo, dan meminta Eunbi untuk tidak terlalu lama berada di dalam agar pasien bisa beristirahat. Eunbi pun mengangguk dan berjanji akan datang kembali keesokan harinya.
Di luar ruangan, Youra sudah menunggunya dengan dua kaleng minuman hangat di tangannya.
"Bagaimana ?" tanya Youra.
"Dia sudah tahu tentang temannya" jawab Eunbi.
"Ah ... pasti berat sekali untuknya" ucap Youra menyerahkan satu kaleng kepada Eunbi.
"Youra ... terima kasih sudah menemaniku selama ini. Termasuk saat aku sedang aneh-anehnya dulu" ucap Eunbi.
"Yak ! Mengapa kau tiba-tiba berterima kasih seperti itu ? Menjijikkan sekali" ucap Youra yang membuat mereka berdua akhirnya tertawa kecil di lorong rumah sakit itu.
--------------------------------
Hari demi hari berlalu. Keadaan KimSeo berangsur membaik, walau dia masih harus menjalani terapi untuk mengembalikan kekuatan otot-ototnya yang sudah terlalu lama tidak digunakan. Eunbi selalu datang, kadang bersama Youra, kadang juga sendirian. Dia membawakan bubur, membawakan buah, dan sesekali membawakan komik-komik yang bahkan tidak pernah KimSeo baca.
"Kau pikir aku anak kecil ?" ucap KimSeo saat Eunbi meletakkan setumpuk komik di meja sebelah ranjangnya.
"Daripada kau hanya menatap langit-langit terus. Kau bisa gila nanti" ucap Eunbi.
Suatu siang, saat KimSeo mulai berlatih menggerakkan jari-jarinya di atas selimut, dia tiba-tiba bertanya.
"Eunbi, sebenarnya bagaimana kau bisa menemukanku di rumah sakit ini ?" tanya KimSeo.
Eunbi yang sedang mengupas apel itu langsung berhenti sesaat.
"Kenapa ? Apa kau tak senang aku menemukanmu ?" ucap Eunbi.
"Bukan begitu. Hanya saja rumah sakit ini jauh dari tempat kita biasa bertemu dulu. Bahkan aku pun tak pernah memberitahumu apapun tentang diriku" ucap KimSeo.
"Ada seseorang yang memberitahuku" jawab Eunbi.
"Siapa ?"
"Nanti akan aku ceritakan" ucap Eunbi lalu menyodorkan potongan apel ke mulut KimSeo agar lelaki itu berhenti bertanya.
KimSeo pun akhirnya hanya menerima apel itu dengan wajah yang masih penasaran.
"Kau ini selalu saja mengatakan nanti" gerutu KimSeo.
"Karena memang belum saatnya" ucap Eunbi.
Di hari yang lain, Eunbi juga menyempatkan diri untuk menemui Areum di ruang perawatannya. Gadis itu kini sudah bisa berjalan pelan sambil berpegangan pada tangan ibunya, dan setiap kali melihat Eunbi datang, Areum selalu tersenyum lebar seolah mereka memang sudah lama berteman.
"Eunbi ! Kau datang lagi ?" ucap Areum.
"Tentu saja, aku kan sudah berjanji akan sering menemuimu" ucap Eunbi.
"Kau tahu, semalam aku berbicara lagi dengan bintangku. Aku menceritakan semua tentang hariku, dan anehnya ... aku merasa dia benar-benar mendengarkanku" ucap Areum.
Eunbi hanya tersenyum, lalu diam-diam menatap ke arah jendela.
"Dia memang mendengarkanmu" ucap Eunbi dalam hati.
Dan begitulah hari-hari mereka. Sedikit demi sedikit kecanggungan itu memudar, walau ada satu hal yang tak pernah berani Eunbi tanyakan.
Apakah kau mengingat sesuatu ?
Apakah kau mengingat malam-malam saat kau tidur di sampingku tanpa wujud ? Apakah kau mengingat saat kau mengatakan bahwa kau mencintaiku ?
Setiap kali pertanyaan itu hampir keluar, Eunbi selalu menelannya kembali. Dia takut. Dia takut jawabannya adalah tidak, dan dia lebih takut lagi bila ternyata perasaan KimSeo memang tak pernah sama dengan perasaan Hyun kepadanya.
Youra bahkan sempat menggodanya saat mereka pulang bersama dari rumah sakit.
"Kau itu sekarang seperti perawat pribadinya. Kau tak lelah bolak-balik ke sini setiap hari ?" ucap Youra.
"Aku hanya takut dia merasa sendirian di sini. Dia sudah tak punya siapa-siapa lagi sekarang" ucap Eunbi.
"Hanya itu alasannya ?" ucap Youra menaikkan sebelah alisnya.
Eunbi tak menjawab dan hanya mempercepat langkahnya, membuat Youra tertawa keras di belakangnya.
Sampai suatu sore, saat KimSeo sudah diperbolehkan duduk di kursi roda dan Eunbi mendorongnya menuju taman rumah sakit, Eunbi melihat lelaki itu hanya diam menatap satu titik yang bahkan tak ada apa-apa di sana. Angin sore menerbangkan beberapa helai daun di depan mereka, namun KimSeo sama sekali tak bergeming.