"KimSeo?? Yak! Mengapa kau melamun??" tanya Eunbi melambaikan tangannya di depan wajah KimSeo.
"Ah, i-iya, tidak... aku hanya sedang mengingat kejadian sebelum aku kecelakaan" jawab KimSeo.
Eunbi pun hanya menatap wajah KimSeo.
"Eunbi... dulu apa kau menungguku malam itu?" sambung KimSeo.
"Hmm, bahkan beberapa bulan selanjutnya aku masih menunggumu di sana" jawab Eunbi.
"Eunbi... maaf ..." ucap KimSeo.
"Bila kau mengenalkanku pada kehidupanmu, aku pasti tidak akan menunggumu seperti itu. Tapi selama ini, kau bahkan tak pernah menceritakan di mana rumahmu, di mana tempat kerjamu, atau apapun itu yang berhubungan denganmu, jadi saat kau hilang, aku sangat bingung mencarimu" ucap Eunbi.
"Bukan begitu. Jujur saja, dulu aku begitu karena aku malu kepadamu. Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku beberapa bulan sebelum aku mengenalmu" ucap KimSeo.
Eunbi terdiam menatap lelaki di depannya.
"Setelah mereka pergi, aku meninggalkan semuanya. Perusahaan yang mereka tinggalkan pun aku serahkan begitu saja kepada orang lain, aku tak mau menyentuhnya sedikit pun. Setiap hari aku hanya pulang ke rumah yang kosong, aku bahkan sering tidak pulang sama sekali" ucap KimSeo.
"Lalu ... apa hubungannya dengan aku ?" tanya Eunbi.
"Karena saat itu aku sedang menjadi orang yang paling tidak ingin aku perlihatkan kepada siapapun, terlebih kepadamu. Kau selalu bercerita tentang harimu dengan sangat bersemangat, kau bercerita tentang komik yang kau baca, tentang temanmu yang bernama Youra dan Chul, tentang makanan yang kau makan siang itu. Kau selalu terlihat hidup, sedangkan aku ? Aku hanya lelaki yang sedang menunggu waktu berjalan" ucap KimSeo.
Eunbi menunduk. Sekarang dia paham mengapa lelaki itu tak pernah mau menceritakan apapun tentang dirinya.
"Aku malu bila kau tahu keadaanku saat itu. Aku takut kau akan mengasihaniku, dan aku sama sekali tak ingin dikasihani olehmu" sambung KimSeo.
"Bodoh" ucap Eunbi.
"Apa ?"
"Kau bodoh sekali. Aku tak pernah meminta kau menjadi orang yang hebat. Aku hanya ingin tahu tentangmu, itu saja" ucap Eunbi dengan mata yang mulai memerah.
KimSeo tersenyum getir lalu menundukkan kepalanya.
"Aku tahu. Aku menyadari itu terlambat sekali" ucap KimSeo.
"Lalu malam itu ?" tanya Eunbi.
"Malam itu ..." KimSeo menarik napasnya dalam.
"Malam itu sebenarnya aku sudah memutuskan untuk mengatakan semuanya kepadamu. Aku sudah berjanji akan menemuimu di sana, dan aku berencana membawamu ke rumahku, memperlihatkan foto kedua orang tuaku, menceritakan siapa aku sebenarnya, semuanya. Namun sore harinya Han tiba-tiba pulang dari luar negeri dan langsung datang ke rumahku. Dia memaksaku untuk keluar sebentar, katanya dia rindu kepadaku" ucap KimSeo.
"Aku pikir aku masih punya waktu. Aku pikir aku hanya akan pergi satu atau dua jam lalu aku bisa menemuimu tepat waktu" sambungnya.
Eunbi menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Jadi selama ini, di malam saat dia berdiri sendirian sambil menahan dingin dan menahan kesal, lelaki ini sedang terbaring di antara pecahan kaca di pinggir jalan.
"Maaf" ucap KimSeo lagi.
"Sudah, jangan meminta maaf terus. Aku bosan mendengarnya" ucap Eunbi mengusap air matanya dengan kasar.
KimSeo tertawa kecil melihat tingkah gadis itu.
"Sekarang giliranmu" ucap KimSeo.
"Giliran apa ?"
"Kau selalu mengatakan nanti. Ini sudah nanti, kan ? Ceritakan bagaimana kau bisa tahu tentang Han, dan bagaimana kau bisa menemukanku di sini" ucap KimSeo.
Eunbi menatap KimSeo lama sekali. Dia tahu cepat atau lambat dia harus menceritakannya, walaupun dia sendiri tak yakin lelaki itu akan mempercayainya.
"Kau harus berjanji tidak akan menganggapku gila" ucap Eunbi.
"Aku tak akan berjanji" ucap KimSeo.
"Yak !"
"Baiklah baiklah, aku berjanji" ucap KimSeo terkekeh.
Dan mulailah Eunbi bercerita. Dari awal, dari hari saat dia berteduh di depan sebuah toko karena hujan yang turun terlalu lebat, saat tiba-tiba ada yang mencubit pipinya padahal tak ada siapapun di sampingnya. Tentang makhluk yang mengikutinya sampai ke rumah, tentang makhluk yang tak bisa dia lihat namun bisa dia sentuh dan bisa dia dengar suaranya. Tentang nama Hyun Su yang dia berikan begitu saja. Tentang malam-malam saat makhluk itu tidur di sampingnya. Tentang Han dan Areum yang datang membawa semua kebenaran itu.
Dan tentang siapa Hyun sebenarnya.
KimSeo mendengarkan semuanya tanpa memotong sedikit pun. Wajahnya berubah beberapa kali, dari bingung, tidak percaya, sampai akhirnya hanya diam menatap tangannya sendiri.
"Jadi ... rohku ... selama ini bersamamu ?" tanya KimSeo pelan.
"Iya" jawab Eunbi.
"Dan aku memanggil namamu, aku tidur di sampingmu, aku ... aku mengatakan hal-hal itu kepadamu ?"
"Iya" jawab Eunbi semakin pelan.
KimSeo mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku sama sekali tak mengingat apapun. Yang aku ingat hanya suara benturan, lalu setelah itu semuanya gelap sampai aku membuka mata di ruangan ini" ucap KimSeo.
Eunbi mengangguk. Inilah jawaban yang sebenarnya sudah dia siapkan sejak lama, namun tetap saja terasa menyakitkan saat benar-benar mendengarnya.
"Tidak apa-apa. Aku sudah menduganya" ucap Eunbi berusaha tersenyum.
"Areum pun tidak mengingat apapun, jadi wajar bila kau juga tidak" sambungnya.
"Lalu gadis yang kau sebut Areum tadi, siapa dia sebenarnya ?" tanya KimSeo.
"Dia gadis yang tertabrak malam itu" jawab Eunbi.
Wajah KimSeo langsung berubah.
"Dia selamat. Dia sudah sadar, bahkan sekarang dia sudah bisa berjalan lagi" ucap Eunbi cepat sebelum lelaki itu kembali menyalahkan dirinya sendiri.
"Syukurlah ..." lirih KimSeo.
"Dan kau harus tahu satu hal lagi. Selama menjadi roh, Han dan Areum saling jatuh cinta" ucap Eunbi.
"Apa ?" KimSeo mengerutkan keningnya.
"Sungguh. Mereka saling mencintai di dimensi itu. Namun saat Areum kembali ke tubuhnya, dia tidak mengingat apapun tentang Han, sama sekali" ucap Eunbi.
KimSeo terdiam cukup lama.
"Dasar Han. Bahkan dalam keadaan seperti itu pun dia masih sempat jatuh cinta" ucap KimSeo tersenyum walau matanya kembali berkaca-kaca.
"Han menitipkan Areum kepadaku. Jadi mulai sekarang aku akan sering menemuinya" ucap Eunbi.
"Kalau begitu aku ikut" ucap KimSeo.
Eunbi lalu berdiri dan membereskan kotak makanan yang tadi dia bawa.
"Sudah malam, aku pulang dulu. Besok kau akan mulai terapi berjalan kan ? Jangan terlalu memaksakan diri" ucap Eunbi.
Namun saat Eunbi hendak melangkah, tangan KimSeo menahan pergelangan tangannya.
"Hujan" ucap KimSeo.
Eunbi menoleh dengan bingung.
"Apa ?"
"Hujan ... dan sebuah toko" ucap KimSeo menatap kosong ke depan.
Eunbi membeku di tempatnya.
"Aku tak tahu ini apa. Aku tak bisa mengingatnya sebagai sebuah kejadian. Tapi sejak aku sadar, ada satu hal yang terus berputar di kepalaku, dan aku pikir itu hanya mimpi" ucap KimSeo.
"Hal apa ?" tanya Eunbi dengan suara yang nyaris hilang.
"Aku merasa pernah sangat ingin mencubit pipi seseorang" ucap KimSeo.
Air mata Eunbi langsung jatuh begitu saja.
--------------------------------
Dua minggu kemudian, KimSeo akhirnya diperbolehkan pulang. Dia masih harus berjalan pelan dan sesekali berpegangan, namun setidaknya dia sudah bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri.
Namun bukan ke rumahnya KimSeo meminta diantar hari itu.
"Kau yakin ingin ke sini ? Bukankah kau harus beristirahat ?" tanya Eunbi.
KimSeo tidak menjawab. Dia hanya berjalan perlahan menuju tempat itu, tempat di mana dulu Eunbi berdiri sendirian sepanjang malam sambil menunggu seseorang yang tak pernah datang.
"Jadi kau menungguku di sini ?" tanya KimSeo.
"Iya, di sini" jawab Eunbi.
"Berapa lama ?"
"Sudah kubilang, beberapa bulan. Hampir setiap malam aku ke sini" ucap Eunbi.
KimSeo memejamkan matanya sesaat, lalu dia berbalik menghadap Eunbi.
"Eunbi" ucap KimSeo.
"Hm ?"
"Aku tak bisa mengingat apa yang dikatakan Hyun kepadamu. Aku tak bisa mengingat bagaimana dia memelukmu, atau apa yang dia janjikan kepadamu" ucap KimSeo.
Eunbi menunduk.
"Tapi ada satu hal yang bisa aku pastikan" sambung KimSeo.
Eunbi kembali mengangkat wajahnya.
"Aku sudah mencintaimu jauh sebelum aku menjadi roh itu. Aku mencintaimu sejak aku masih berwujud manusia yang pengecut dan tak berani mengatakannya. Jadi apapun yang dia katakan kepadamu dulu, itu bukan perasaan yang berbeda. Itu perasaan yang sama, hanya saja dia jauh lebih berani dariku" ucap KimSeo.
Eunbi tak sanggup berkata apa-apa.
"Maka dari itu ... maukah kau menungguku sekali lagi ? Kali ini bukan di tempat ini, tapi di sisiku. Aku berjanji tak akan menghilang lagi" ucap KimSeo mengulurkan tangannya.
Eunbi menatap tangan itu, tangan yang dulu pernah dia genggam tanpa pernah bisa dia lihat.
Lalu perlahan, dia menyambutnya.
"Bila kau menghilang lagi, aku benar-benar akan membencimu" ucap Eunbi.
"Aku tak akan menghilang" ucap KimSeo lalu menarik Eunbi ke dalam pelukannya.
Dan malam itu, di tempat yang sama, di bawah langit yang sama, seorang gadis akhirnya berhenti menunggu.