Setelah hari bersejarah itu, KimSeo dan Eunbi selalu menjalani hari-hari mereka dengan penuh warna. Kebersamaan mereka pun tidak melulu diisi dengan keromantisan. Pertengkaran kecil di setiap harinya selalu saja mereka lewati, namun tak lama kemudian pasti akan ada salah satu dari mereka yang akan mengalah dan membuat suasana menjadi begitu manis.
Kehidupan Eunbi pun kini menjadi lebih berguna. Eunbi melanjutkan studinya ke salah satu universitas terbaik, karena tak dipungkiri sebenarnya Eunbi merupakan gadis yang sangat pintar dan cerdas. Dan untuk KimSeo, dia kembali bekerja di perusahaan yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Perusahaan dia pun semakin berkembang dibanding sebelumnya. Walaupun mereka berdua sama-sama sibuk, itu tidak sama sekali mengurangi kebersamaan mereka. Eunbi bahkan sering datang ke kantor KimSeo hanya untuk membawakan makan siang, dan KimSeo pun tak pernah absen menjemput Eunbi di kampusnya setiap kali dia sedang tidak ada rapat.
Youra dan Chul tentu saja menjadi dua orang yang paling ribut saat pertama kali mengetahui hubungan mereka berdua.
"Jadi selama ini lelaki yang membuatmu menangis setiap malam itu adalah dia ? Lelaki yang ini ?" ucap Youra menunjuk-nunjuk wajah KimSeo tanpa sopan santun sedikit pun.
"Yak ! Jangan menunjuk wajahnya seperti itu" ucap Eunbi menepis tangan Youra.
"Aish kau ini. Dulu kau menangis di bahuku sampai bajuku basah, sekarang kau membelanya ? Menyebalkan sekali" ucap Youra.
KimSeo hanya bisa tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Maafkan aku. Aku memang pantas dimarahi" ucap KimSeo.
"Nah kau dengar itu, Eunbi ? Dia saja mengaku" ucap Youra.
"Sudahlah Youra, kasihan dia baru sembuh" ucap Chul menahan bahu kekasihnya sambil tertawa.
Namun pada akhirnya, mereka berempat justru menjadi sangat dekat. Hampir setiap akhir pekan mereka menghabiskan waktu bersama, entah hanya makan di kedai pinggir jalan, atau menonton film sampai larut malam di rumah Eunbi.
Dan ada satu orang lagi yang perlahan masuk ke dalam lingkaran mereka.
Areum.
Awalnya Eunbi cukup ragu untuk mempertemukan Areum dengan KimSeo. Bagaimanapun, mobil yang menabrak Areum malam itu adalah mobil KimSeo, dan KimSeo sendiri berkali-kali mengatakan bahwa dia tak sanggup menatap wajah gadis yang harus kehilangan lebih dari satu tahun hidupnya karena kejadian itu.
"Aku ingin menemuinya" ucap KimSeo suatu hari.
"Kau yakin ?" tanya Eunbi.
"Aku tak akan pernah bisa tenang bila aku terus menghindarinya" jawab KimSeo.
Maka sore itu, mereka berdua akhirnya menemui Areum di taman dekat rumahnya. Areum yang tak tahu apa-apa hanya tersenyum lebar seperti biasa saat melihat Eunbi datang, sampai akhirnya KimSeo membungkukkan badannya dalam-dalam di depan gadis itu.
"Maafkan aku" ucap KimSeo.
Areum terlihat kebingungan dan langsung menatap Eunbi.
"Dia ... dia yang berada di dalam mobil malam itu" ucap Eunbi pelan.
Senyum Areum perlahan menghilang. Suasana menjadi sangat sunyi. Eunbi bahkan sudah bersiap untuk menerima kemarahan gadis itu, namun yang terjadi justru sebaliknya.
Areum berjalan mendekat, lalu menepuk pelan bahu KimSeo agar lelaki itu kembali berdiri tegak.
"Berdirilah. Aku tak suka melihat orang membungkuk seperti itu" ucap Areum.
"Tapi aku—"
"Kau juga terluka kan ? Bahkan kau tertidur lebih lama dariku" ucap Areum.
KimSeo terdiam menatap gadis itu.
"Aku sempat marah, sungguh. Saat aku sadar dan tahu bahwa aku kehilangan satu tahun hidupku, aku sangat marah kepada siapa pun yang menyebabkannya. Tapi ibuku selalu berkata, aku dikembalikan bukan untuk membenci seseorang. Jadi ... sudahlah. Aku sudah kembali, kau juga sudah kembali. Itu saja sudah cukup" ucap Areum.
Mendengar itu, KimSeo tak sanggup lagi menahan air matanya. Eunbi pun harus memalingkan wajahnya agar tak ikut menangis di depan mereka berdua.
Sejak hari itu, Areum menjadi bagian dari mereka. Gadis itu ternyata sangat cerewet dan gemar sekali menggoda Eunbi setiap kali KimSeo datang menjemput.
"Kau tahu, Eunbi ? Wajahmu itu selalu berubah menjadi seperti tomat setiap kali dia datang" ucap Areum.
"Yak ! Kau ini sama saja dengan Youra !" ucap Eunbi.
Ada juga satu kebiasaan baru yang tak pernah mereka lewatkan. Sebulan sekali, Eunbi dan KimSeo selalu menyempatkan diri untuk datang ke rumah Han.
Ibu Han selalu menyambut mereka dengan senyum, senyum yang dulu sempat hilang selama satu tahun lebih. Wanita itu kini sudah kembali berjualan di pasar bersama tetangganya, dan kakak Han pun sudah kembali bekerja seperti biasa.
"Kau semakin gemuk. Bagus, dulu kau sangat kurus" ucap ibu Han sambil mencubit lengan KimSeo.
"Bu, aku bukan anak kecil lagi" ucap KimSeo.
"Bagiku kau tetap anak nakal yang selalu datang ke rumah ini untuk mencuri lauk" ucap ibu Han yang membuat Eunbi tertawa keras.
Dan setiap kali pulang dari sana, KimSeo selalu diam sepanjang perjalanan, lalu tersenyum sendiri tanpa sebab.
Malam itu mereka berkumpul di halaman belakang rumah Eunbi. KimSeo sedang sibuk membakar daging bersama Chul, sementara Youra sibuk mengomeli keduanya karena dagingnya hampir gosong. Eunbi dan Areum duduk agak jauh dari mereka, di atas kursi kayu panjang sambil menengadah menatap langit.
Malam itu langitnya sangat cerah, sama cerahnya dengan malam saat mereka pertama kali berbicara di taman rumah sakit.
"Itu, bintangku masih di sana" ucap Areum menunjuk satu titik paling terang di langit.
Eunbi ikut menatap ke arah yang ditunjuk Areum.
"Kau masih berbicara dengannya setiap malam ?" tanya Eunbi.
"Tentu saja. Aku selalu menceritakan hariku kepadanya. Kau tahu, rasanya aneh sekali. Setiap kali aku berbicara kepadanya, dadaku terasa hangat dan tenang, seolah dia benar-benar mendengarkanku dari sana" ucap Areum.
Eunbi hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Eunbi ..." ucap Areum tiba-tiba.
"Hm ?"
"Boleh aku menceritakan sesuatu ? Tapi kau jangan menganggapku aneh" ucap Areum.
"Katakan saja" ucap Eunbi.
Areum menurunkan pandangannya sesaat, lalu kembali menatap langit.
"Belakangan ini aku selalu bermimpi tentang seorang lelaki" ucap Areum.
Eunbi menoleh cepat.
"Lelaki ?"
"Iya. Aku tak pernah bisa melihat wajahnya, sekeras apapun aku mencoba. Yang aku ingat hanya suaranya. Dia selalu memanggil namaku, dan setiap kali aku hendak menghampirinya, dia justru menyuruhku untuk pergi" ucap Areum.
Jantung Eunbi berdetak lebih cepat.
"Lalu ?" tanya Eunbi.
"Lalu sebelum aku terbangun, dia selalu mengatakan satu hal yang sama" ucap Areum.
"Apa yang dia katakan ?" tanya Eunbi dengan suara yang mulai bergetar.
Areum menoleh kepada Eunbi, dan untuk pertama kalinya Eunbi melihat gadis itu meneteskan air mata tanpa dia sendiri sadari.
"Dia bilang, bila kita memang harus bersama, kita pasti akan bersama di mana pun itu" ucap Areum.
Eunbi menutup mulutnya rapat-rapat.
Itu kalimat yang sama. Kalimat yang persis diucapkan Han di rumah sakit malam itu, saat tubuh Areum perlahan menghilang dari dimensi mereka.
"Aneh sekali kan ? Aku bahkan tak tahu siapa dia. Tapi setiap kali aku terbangun, aku selalu menangis, dan aku merindukan seseorang yang bahkan tak pernah aku kenal" ucap Areum lalu tertawa kecil untuk menutupi wajahnya yang basah.
"Eunbi, apa menurutmu aku sedang tidak waras ?" tanya Areum.
Eunbi menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Tidak. Kau sama sekali tidak seperti itu" jawab Eunbi.
"Lalu menurutmu, siapa dia ?" tanya Areum.
Eunbi menatap gadis di depannya, lalu perlahan kembali mengangkat wajahnya ke arah langit, ke arah bintang yang paling terang itu.
Ada begitu banyak jawaban yang ingin dia katakan malam itu. Tentang seorang lelaki yang rela menghilang agar keluarganya bisa kembali tersenyum. Tentang seorang lelaki yang memilih melepaskan perempuan yang dicintainya agar perempuan itu bisa kembali hidup. Tentang sebuah cinta yang tak pernah tercatat di dimensi manapun, namun benar-benar pernah ada.
Namun Eunbi juga ingat pesan lelaki itu. Jangan paksakan itu.
"Eunbi ? Kau kenapa diam saja ?" ucap Areum.
"Areum" ucap Eunbi akhirnya.
"Hm ?"
"Lain kali, saat kau bermimpi tentangnya lagi ... cobalah untuk tidak pergi" ucap Eunbi.
Areum mengerutkan keningnya.
"Maksudmu ?"
"Bila dia menyuruhmu pergi, jangan menurut. Berdirilah di sana, panggil namanya, dan bertanyalah siapa dia sebenarnya" ucap Eunbi.
Areum menatap Eunbi lama sekali, lalu perlahan dia mengangguk walau jelas dia masih belum mengerti.
"Baiklah, akan aku coba" ucap Areum.
Dari kejauhan terdengar suara Youra yang berteriak memanggil mereka karena dagingnya sudah matang, disusul suara KimSeo yang mengeluh karena tangannya terkena percikan minyak. Areum langsung berdiri dan berlari kecil menghampiri mereka sambil tertawa.
Eunbi tidak langsung beranjak. Dia masih duduk di sana, menatap satu titik paling terang di langit malam itu.
"Han ... apa itu kau ?" ucap Eunbi lirih.
Angin malam tiba-tiba berhembus cukup kencang, menerbangkan ujung rambut Eunbi, persis seperti angin yang dulu berhembus di dalam kamar Han sebelum lelaki itu menghilang dengan senyuman termanisnya.