Malam kelam telah berlalu dan berganti pagi. Sinar matahari menembus ke sela-sela jendela yang masih tertutup di mana nampak sesosok tubuh masih terbaring di atas ranjang dengan tubuh polos yang tertutupi selimut tebal. Tak berapa lama, muncullah seorang pria dari kamar mandi menggunakan handuk yang membelit tubuhnya yang kekar dengan rambut basah danbmasih menetes ke punggung. Pria itu melangkahkan kaki perlahan sambil menggosokkan handuk kecil di kepala dan nampak wajah tampan terlihat di sana. Langkahnya terhenti di dekat ranjang dengan mata menatap lurus di mana sosok wanita yang tak lain adalah Bella masih belum bangun. Sudut bibirnya terangkat dan tetap membiarkan Bella lelap dalam tidurnya. Ya, Alper membiarkan Bella yang sudah dibuatnya kelelahan semalam karena baru berhenti ketika sudah dini hari.
Selesai merapikan diri, Alper kembali mendekati ranjang dan berdiri sambil memandang wajah Bella yang masih tak terusik meski hari sudah siang. Lagi, senyum Alper terukir ketika melihat bibir tipis Bella yang semalam menjadi santapannya. Mengingat betapa ganasnya dia semalam menggagahi Bella, Alper terkekeh sesaat, lalu mengangkat tangan kanan yang dia daratkan di kepala Bella dan mengelusnya pelan.
"Semalam aku mengeluarkannya di dalam dan kuharap akan segera hadir Alper Cilik di rahimmu."
Setelah mengucapkan harapannya yang tentu tak didengar Bella, Alper mengayunkan langkah menuju pintu untuk menuju dapur tanpa menguncinya. Alper menuruni anak tangga sambil bersiul hingga menarik perhatian para pekerja rumah yang mendengarnya. Sadar jika siulannya menjadi pusat perhatian, Alper nampak cuek dan menuju dapur begitu saja.
"Den Alper mukanya seneng betul pagi ini. Ada apa, ya?" gumam seorang pekerja yang sedang membersihkan jendela dari debu dan menatap kepergian Alper hingga hilang dari jangkauannya.
Di dapur, Rumi yang tengah menyiapkan sarapan menoleh ketika mendengar suara siulan. Rumi hanya melirik sekilas dan kembali fokus pada pekerjaannya yang tengah membuat telor mata sapi.
'Kriiit'
Suara kursi yang ditarik Alper pun berdenyit dan masih saja siulan bahagia belum reda. Rumi hanya menggeleng sambil tangannya meletakkan dua ceplok telur ke piring. Rumi pun berjalan mendekati meja dan meletakkannya tak jauh dari Alper yang belum membalik piring. Melihat tingkah Alper yang aneh, tentu Rumi sangat penasaran sekiranya apa yang tengah terjadi pada pria itu.
"Den Alper kenapa? Kok mukanya seneng begitu? Habis menang tender, ya?" tebak Rumi mencairkan suasana dan memancing Alper untuk membagi cerita.
"Hahaha … biasa itu, Mbak. Ada hal lain yang lebih menyenangkan dan baru kudapati!" jawab Alper enteng sambil membalik piring dan mengambil buah-buahan yang sudah dipotong.
"Apaan, tuh, Den? Mbak jadi kepo. Siapa tahu bisa ikutan rasain!" sahut Rumi yang membuat Alper tersedak.
'Uhuk uhuk uhuk'
Alper langsung meraih segelas air dan meneguknya rakus. Rumi yang melihat tentu kaget dan sudah berdiri di sampingnya.
"Makannya pelan-pelan, Den. Macam gak makan saja!" cicit Rumi lagi yang membuat mata Alper melotot dan meletakkan gelas ke meja.
"Mbak yang buat aku kesedak tahu!" ujar Alper yang membuat Rumi berkerut kening.
"Lah, kok gitu, Den? Mbak gak suapi makan, kok! Kenapa jadi Mbak yang disalahin?" jawab Rumi yang memasang wajah bodoh seperti biasa.
Alper menghela nafas jengkel juga lelah. Dia kembali melanjutkan sarapannya dalam diam karena malas menjelaskan pada Rumi. Beberapa menit kemudian, selesailah Alper dengan sarapan dan diakhiri meneguk jus jeruk kesukaannya.
"Mbak, nanti bawakan sarapan ke kamarku untuk gadis yang datang bersamaku semalam. Aku ke kantor sebentar dan akan kembali saat jam makan siang!" tutur Alper tiba-tiba dan terdengar serius yang membuat Rumi kembali teringat akan apa yang dia lihat semalam.
'Degg'
"Gadis? Oh, iya, Den Alper semalam bawa gadis cantik pulang ke rumah. Sampai lupa aku tentangnya," gumam Rumi dalam hati dan tertegun disibukkan dengan pikiran sendiri hingga abaikan Alper yang menatapnya datar.
"Mbak? Dengar aku bicara gak?" ujar Alper lagi tanpa senyum dan membuat Rumi kembali pada kesadarannya.
"Eh, iya. Ada apa, Den?" sahut Rumi mengerjap dan memasang wajah menyebalkan bagi Alper yang menghela nafas kasar.
"Yeeee … kebiasaan kalau diajak bicara cowok ganteng suka ngelamun. Paham gak apa yang kubilang barusan?" kata Alper yang sudah sewot.
"Iya, Den. Mbak dengar, kok. Anter sarapan ke kamar buat si Neng cantik, iyakan?" ulang Rumi memasang senyum dan membuat Alper mengangguk lega karena Rumi tak setuli yang dia pikirkan.
"Sekarang dia masih tidur, jadi antarnya nanti saja sekitar jam 9. Aku sudah meminta orang untuk antarkan pakaian dan sebentar lagi akan datang. Saat kupulang, dia harus sudah rapi dan wangi!" tutur Alper panjang lebar hingga membuat kening Rumi berkerut!
"Kayak bayi saja, Den. Gak sekalian pakai minyak telon juga biar sedep!" timpal Rumi yang sontak membuat mata Alper mendelik dan mengangkat tangan kanan seolah ingin menimpuk sesuatu ke Rumi yang justru terkekeh.
"Serahmu, Mbak. Aku berangkat dulu dan awas kalau gadis itu sampai kabur, kukurung Mbak selama 10 tahun tak boleh pulang kampung. Ingat itu!" ancam Alper dengan suara bariton dan mampu membuat tenggorokkan Rumi tercekat serta hilang tawa di wajahnya.
Alper pun mengayunkan kaki meninggalkan ruang makan serta Rumi yang mematung tanpa menjawab lagi. Di tengah kekagetannya, muncullah wanita lain sambil membawa kemoceng yang baru saja selesai bersih-bersih di ruang tamu. Dia mendekat pada rumi yang masih berdiri sambil mengelus dadanya seolah menguatkan diri untuk bersabar.
"Ada apa, Mbak? Sakit jantung?" tebak Romi yang tak lain adalah adik dari Rumi.
"Aku baru saja dapat ancaman dari Den Alper, Rom!" ujar Rumi lesu.
"Hah? Ancaman apa, Mbak? Kok bisa begitu?" sahut Romi tak percaya akan ucapannya.
"Kamu ingatkan kalau semalam Den Alper bawa gadis cantik?" kata Rumi mengingatkan kembali dan diangguki olehnya.
"Den Alper berpesan kalau gadis itu sampai kabur, Mbak gak boleh pulang kampung selama 10 tahun. Tega bangetkan Den Alper sama Mbak, Rom?" terang Rumi merajuk dengan wajah menggeleng.
Romi berkerut alis, tapi selang beberapa detik, senyum aneh terukir di bibirnya yang selalu merah sepanjang hari. Hal itu membuat Rumi bingung karena Romi seperti tak iba padanya.
"Kok kamu malah tawa, sih? Mbak kesusahan malah seneng banget dan bukannya bantuin!" omel Rumi jengkel dan meraih piring kosong bekas Alper yang langsung dia bawa ke tempat cuci piring.
"Santai saja, sih, Mbak. Kalau Den Alper larang pulang kampung, tinggal orang kampung saja yang suruh datang berkunjung ke sini. Repot amat cuma begituan doang!" beber Romi santai dan menarik kursi untuk dia duduki.
Ucapan sederhana Romi membuat dia berpikir ada benarnya. Dia pun mengulas senyum pada Romi yang tengah meneguk air. Keduanya pun berbincang ringan membicarakan siapa gerangan gadis yang dibawa Alper sambil Rumi menyiapkan sarapan bagi Bella. Setengah jam kemudian, datanglah seorang wanita yang mengantarkan pesanan Alper dan diterima oleh Romi. Melihat jam dinding sudah hampir pukul 9, Rumi pun bergegas menuju kamar Alper dan setibanya di dalam, mata Rumi melotot sempurna ketika mendapati apa yang ada di hadapannya.
"ASTAGA!"