Di dalam kamar, Bella sedang duduk di ranjang sambil menggosok tubuhnya dengan ujung selimut hingga membuatnya nampak kemerahan. Bella merasa jijik pada dirinya sendiri karena terdapat banyak bercak merah yang ditinggalkan oleh Alper semalam. Tidak hanya dua atau tiga, melainkan banyak sekali. Bahkan, ada juga bekasnya di area kedua paha. Melihat dirinya dengan kondisi seperti itu saat bangun, Bella tentu merasakan sedih dan jijik akan dirinya yang sudah dikotori oleh Alper dan tentu sangat dibenci. Ya, Bella tentu ingat jelas dengan kejadian semalam karena dia dalam keadaan sadar.
“Dia manusia atau siluman sudah membuat tubuhku seperti ini!” gerutu Bella sambil terus menggosok ujung selimut ke seluruh tubuhnya bergantian.
“Ini kenapa tak bisa hilang, sih! Pria itu … arrrrggghhh!” geram Bella kesal dengan wajah memerah karena emosi dan sesekali mengacak rambutnya yang sudah berantakan seperti tikus jatuh ke selokan.
Di tengah kekesalannya, tiba-tiba pintu terbuka dan membuat Bella mendongak serta menatap pintu yang jaraknya tentu lumayan jauh dari ranjang karena kamar tersebut sangat besar melebihi kamar miliknya di rumah. Tenggorokan Bella seketika tercekat karena menyangka bahwa yang membuka pintu adalah pria jahat dan sangat dia benci. Tanpa berkedip, Bella menunggu sosok yang membuka pintu dan belum terlihat. Dia menunggu dengan nafas tertahan dan siap memaki jika yang datang benar sosok Alper. Namun, ketika sosok lain yang muncul dari balik dinding yang berada antara pintu dan kamar tidur, Bella menghela nafas lega dan tertunduk lemah. Di luar dugaan, tiba-tiba terdengar suara kaget yang membuat Bella sontak mendongak kembali.
“ASTAGA!” Rumi berteriak kaget ketika mata sucinya melihat apa yang ada di atas ranjang dan tak disangka olehnya.
“A-ada apa?” ujar Bella panik karena mendengar teriakan, sedangkan Rumi melepas sebuah paperbag hingga jatuh ke lantai dan berjalan mendekat pada Bella yang sedang duduk mematung karena bingung.
Setelah berada di samping ranjang, Rumi langsung duduk dengan mata tak berkedip. Hal itu membuat Bella kian bingung dan bergeser ke kepala ranjang karena Rumi memasang wajah sedikit menakutkan bagi Bella.
“Tidak! Tidak mungkin kali ini aku akan dinodai oleh wanita ini. Tidak, Tuhan! Aku tak mau dikotori dua jenis manusia!” suara hati Bella yang mendadak berburuk sangka terhadap Rumi yang terus menatap tak berkedip ke arahnya yang sudah tersudut di kepala ranjang sambil memegang selimut dengan kuat.
“Astagaaaaa … aku tak menyangka kalau Den Alper bisa melukis sebagus ini. Ya ampuuuuun … pria galak itu ternyata punya bakat terpendam rupanya, hahaha ….” Maka, mengkerutlah kedua alis Bella seolah ingin menyatu. Sedikit takut, Bella balas menatap pada Rumi yang tersenyum lebar dan sesekali menutup mulut agar tawanya tak keluar bebas.
“M-maksudnya apa?” tanya Bella memberanikan diri dan heran akan ucapan Rumi yang aneh.
Rumi tersadar setelah mendengar lontaran kalimat yang keluar dari bibir mungil Bella. Dia langsung menghentikan tawa dan berdehem beberapa kali. Tenggorokannya bergerak beberapa kali sebelum mengeluarkan kalimat yang semoga tak membuat Bella bingung.
“Maaf, Neng. Mbak Rum keceplosan saking bahagianya!” jawab Rumi dan membuat mulut Bella terbuka seolah ingin jatuh.
Perlahan wajah Bella yang bingung berubah menatap tak suka pada Rumi. Bahkan, Bella menatapnya dengan sorot tajam dan penuh selidik. Mendapat respon seperti itu, tentu Rumi sadar jika tawa dan ucapannya menyinggung perasaan Bella.
“Maaf, Neng. Mbak Rum keceplosan terus. Hmmm … Mbak ke sini mau antar pakaian ganti dan sarapan. Kalau Si Eneng masih lemas, Mbak bisa bantu mandikan jika mau. Bagaimana?” tutur Rumi tanpa dosa dan sontak membuat mata Bella mendelik.
“Bahagia? Apa maksudnya dia merasa bahagia? Mana ada orang bahagia lihat orang dianiaya. Apa semua orang di rumah ini tak waras lagi?” gumam hati Bella menebak dengan mata terus menatap kesal pada Rumi dan justru memamerkan giginya yang berbaris rapi serta memiliki gingsul.
Rumi masih bergeming karena menunggu jawaban dari Bella, hingga tak lama berselang, terdengar suara orang yang datang karena memanggil nama Rumi beberapa kali. Keduanya menoleh ke arah datangnya suara yang sontak membuat kaget karena suara Romi begitu kencang dan kian aneh ketika melihat untuk mendekat ke arah ranjang di mana Bella berada.
“Ya Tuhan! Kok bisa merah-merah begitu badannya. Masa, sih, ada kecoa di kamar Den Alper?” ujar Romi yang kaget sambil menyentuh tubuh Bella untuk memeriksanya. Bella yang diperlakukan demikian hanya menghela nafas lelah. Lelah karena harus bertemu dengan dua wanita yang super aneh dan baru ditemui.
Kesal dengan keadaan dan situasi, Bella akhirnya menangis karena tak ada satu orang pun yang mengerti perasaannya dan justru bahagia di atas penderitaan yang dia alami. Keduanya sontak kebingungan di mana Romi langsung menarik tangannya dari tubuh Bella yang bergetar karena tangis dan duduk perlahan di tepi ranjang.
“Kenapa nangis, Neng? Sakit, ya, gigitannya?” tanya Rumi dengan bodohnya dan tak dijawab Bella.
“Rom, cepat ambil obat sana. Kasihan si Eneng, pasti sakit dan linu karena gigitan kecoa sebanyak ini!” lanjut Rumi polos dan memancing tangisan Bella kian terdengar. Keduanya semakin panik dan bingung harus berbuat apa, hingga dengan berurai air mata, Bella mengangkat wajah dan menatap mereka bergantian yang memasang wajah aneh.
“INI BUKAN ULAH KECOA, TAPI ULAH MAJIKAN KALIAN YANG SUDAH … HIKS … YANG SUDAH … MAJIKAN KALIAN SUDAH GIGIT AKU SEMALAMAN!” teriak Bella akhirnya dengan suara terbatah menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.
Keduanya bergeming dengan mata melotot serta d**a yang nampak bergerak tak beraturan. Mereka saling pandang dan menatap saksama tubuh Bella. Bahkan, tanpa permisi Rumi langsung menyibak selimut dan melihat tubuh Bella hingga mata keduanya melotot, terutama ketika melihat bercak darah di seprei.
“D-den Alper ….” Romi terbatah dan tak sanggup meneruskan kalimatnya setelah tahu apa yang menimpa Bella dan sedang menangis di hadapannya.
Rumi menarik nafas panjang. Dia menatap iba kini pada Bella yang sedang menangis dan menekuk tubuhnya di dekat kepala ranjang. Rumi menarik selimut yang tadi disibaknya dan menutupi kembali tubuh Bella yang dipenuhi bercak merah akibat ulah Alper yang membuat Rumi geleng kepala.
“Maafkan, Mbak Rum, ya, Neng. Mbak salah duga dan bicara. Maafkan Mbak yang justru tertawa di atas kesedihan orang lain,” ujar Rumi minta maaf dan menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan posisi Bella yang masih tergugu.
Permintaan maaf pun terlontar dari Romi. Nampak wajahnya begitu menyesal karena bertingkah aneh ketika melihat sesama wanita sedang terluka dan menjadi korban yang tak lain ulah majikan mereka sendiri.
“Tolong aku, Mbak, hiks ….”