”Puput.. jangan mendekat!!!.. berbahaya.. mundur nak...”
Seru Ismiati sambil kedua tangannya berusaha menahan tubuh seorang gadis berjilbab syar’i.
Gadis itu berusaha berontak untuk bergerak menuju ke arah bekas deretan rumah yang sekarang berubah menjadi tanah datar akibat tertimbun longsoran dinding bukit yang sebelumnya berdiri tegak belakang deretan rumah.
”Tidak Bu Is.. Puput ingin bertemu bapak dan ibu.. tolong lepaskan Puput Bu Is.. ”
Gadis itu berontak untuk melepaskan pegangan Ismiati sambil menangis histeris.
”Istighfar nak.. Istighfar.. jangan nekat.. ini bisa berbahaya bagimu nak.. sabar..ya sabar.. istighfar..“
Ismiati berusaha menenangkan gadis yang bernama Puput dengan memeluknya dengan sayang layaknya pelukan ibu terhadap anaknya.
”Woi…itu yang berdua disana.. tolong segera mundur.. ayo mundur.. berbahaya.. potensi longsor susulan.. ayo mundur!!!.. kembali ke tempat mengungsi..”
Terdengar dari belakang seseorang berteriak memerintahkan kedua perempuan tua muda itu untuk mundur.
“Ayo nak.. kita kembali.. disini berbahaya.. dengar kan tadi kita disuruh kembali..” ajak Ismiati dengan lembut.
”Tapi bu.. Puput ingin melihat bapak dan ibu.. Puput yakin keduanya masih selamat.. mereka perlu bantuan kita bu..”
Puput merengek dan mengiba namun dibalas dengan gelengan lemah dari Ismiati, perempuan paruh baya yang seumuran dengan ibu Puput.
“Doakan keduanya agar baik-baik saja ya nak.. Puput yang sabar ya.. berdoa minta pertolongan sama Allah..”
Ujar Ismiati lalu kembali memeluk Puput yang membuatnya semakin tergugu dalam tangis pedihnya.
Satu dua tetes air yang turun dari langit kembali terasa mengenai kulit menandakan hujan akan kembali turun.
Meski hari sudah menjelang siang, namun mendung putih yang mengandung air hujan menghalangi sinar matahari menyapa para penghuni kampung di kaki Gunung Salak itu yang sekarang sebagian besar rumahnya telah rata dengan tanah.
Suasana menjadi terasa mencekam dan pilu oleh suara tangis orang-orang yang sedang takut dan kalut karena beberapa waktu lalu menjadi saksi bagaimana dinding bukit di belakang pemukiman mereka terbelah dan menggulung rumah-rumah yang ada dibawahnya, sementara yang lain menangis karena meratapi orang-orang yang mereka cintai turut terkubur oleh longsornya dinding bukit itu.
Puput yang saat itu berada di pasar membantu Ismiati berjualan selamat dari musibah longsor yang melanda kampungnya, sementara kedua orang tuanya masih belum jelas kabar beritanya karena orang-orang yang selamat belum berani mendekat ke lokasi bencana.
Selama liburan semester ketujuh ini, Puput membantu Ismiati berjualan di pasar, dan karena hari ini adalah hari Minggu pasar menjadi lebih ramai dari hari biasa.
Ismiati memang dekat dengan Puput, karena gadis itu dulu adalah teman karib dari anaknya yang menghilang entah kemana semenjak lulus dari bangku SMA.
Tidak juga menemukan keberadaan anaknya yang hilang, Jumadi, suami dari Ismiati menjadi sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia yang menjadikan Ismiati hidup sebatangkara dan mengandalkan jualan nasi di pasar kecamatan yang jaraknya kurang lebih 30 menit dari lokasi kampung mereka tinggal.
“Bu Is benarkah bapak dan ibu tidak bisa selamat?” untuk kesekian kalinya Puput bertanya dengan putus asa dan lemah.
Saat ini mereka berada di ruang kelas sebuah sekolah dasar yang berdiri bejejeran dengan masjid kampung di ujung jalan desa, hanya tersisa bangunan sekolah dan masjid serta tiga rumah dari amukan tanah longsor pagi tadi.
Semua warga yang selamat untuk sementara di kumpulkan di bangunan sekolah dan masjid sambil menunggu bantuan datang.
“Nak.. kita jangan putus berdoa.. doakan semoga keduanya selamat dan baik-baik saja”
”bapak.. ibu.. Ya Allah berikanlah keselamatan bagi kedua orang tua hamba Ya Allah..” rintih Puput dalam tangis lirihnya.
Menjelang sore bantuan dari SAR badan penanggulangan bencana, beberapa ormas serta bantuan dari aparat dan pemerintah daerah setempat berdatangan.
Setelah memastikan kondisi area aman untuk proses pencarian dan evakuasi aman, mereka mulai melakukan pencarian korban yang mungkin tertimbun tanah longsor.
Tidak berapa lama, malam tiba dan membuat proses evakuasi di hentikan sementara dan akan di lanjut esok harinya.
Ini yang membuat beberapa orang yang anggota keluarga dan kerabatnya diduga tertimbun menjadi semakin kalut dan kuatir namun mereka tidak bisa melakukan apa-apa kecuali pasrah dan banyak-banyak berdoa.
Sepanjang malam Puput tidak bisa tidur dan karena beban pikiran hanya beberapa suap makanan yang bisa masuk kedalam perutnya, itupun setelah dipaksa-paksa oleh Ismiati.
”Nak.. makanlah.. kasihan tubuhmu.. tadi malam sedikit sekali makanan yang masuk.. kamu perlu tenaga untuk terus mendoakan dan menanti bapak ibumu.. yuk makan ”
Ismiati kembali memaksa Puput untuk makan pagi ini, namun hanya gelengan lemah yang di tampilkan olehnya.
Raut mukanya masih diliputi kesedihan, kelopak matanya nampak bengkak akibat dari hampir sepanjang malam larut dalam tangisan kesedihan.
Menjelang siang hari kedua pasca bencana, jalan masuk menuju kampung itu menjadi ramai.
Bukan oleh orang yang mau membantu tapi oleh orang yang menonton, tidak sedikit yang menjadikan sebagai objek untuk membuat konten.
Keributan kecil beberapa kali terjadi karena warga kampung yang selamat menjadi marah atas ulah beberapa orang yang hanya menjadikan musibah ini sebagai ajang membuat konten medsos.
Bagi Puput, ia tidak peduli dengan semua itu, saat ini yang ia inginkan hanya satu, bapak ibunya ditemukan dengan selamat dan beberapa bulan lagi saat Puput sudah lulus nanti keduanya bisa menghadiri wisuda anak semata wayang mereka itu.
”Bu.. padahal dua minggu yang lalu kami begitu sangat bahagia disaat Kak Fadhil dan kedua orang tuanya datang melamarku..lalu setelah aku lulus akhir semester depan kami akan menikah.. tapi kenapa hari ini semua kebahagiaan itu seolah lenyap tertelan oleh tanah bukit..”
Puput berkata dengan sedih sambil pandangan nanar menatap bukit yang tinggal separuh dari jendela kelas tempatnya duduk pagi ini.
“Nak.. semua itu sudah suratan takdir dari Allah.. kita sebagai manuasia hanya bisa menerima.. seminggu yang lalu kalian diberikan kebahagiaan lalu tiba-tiba hari ini kamu diberikan cobaan.. pada hakikatnya keduanya juga cobaan bagi kita untuk terus sadar bahwa ada Allah yang maha mengatur segalanya..”
Kata Bu Is dengan lembut sambil membelai punggung Puput seolah gadis itu anak kandungnya.
*-**--***---****----
Di hari ketiga, jasad kedua orang tua Puput ditemukan dalam keadaan meninggal, warga mengenalinya dari wajah jenazah yang masih utuh.
Puput sempat jatuh pingsan saat mendengar kedua orang tuanya ditemukan dalam keadaan meninggal, dan sesaat sempat menangis histeris ketika tersadar dari pingsannya.
Ismiati dengan sabar berusaha menyadarkan Puput dengan memelukkan dan terus menerus membisikkan kata-kata yang menguatkan Puput dan memintanya untuk bersabar serta disertai kalimah dzikir.
“Nak.. sudah waktunya kita kembali.. hayuk.. hari sudah mulai gelap.. sepertinya hujan akan turun lagi malam ini..”
Suara lembut Ismiati kepada Puput untuk mengajaknya beranjak dari gundukan tanah yang baru satu jam yang lalu jasad Anwar dan Sofiatun, kedua orang tua Puput, dibaringkan dan dikebumikan dibawahnya.
“Yang kuat dan ikhlas ya nak.. ada ibu yang anggap saja sebagai pengganti ibumu.. doakan keduanya disetiap selesai sholatmu agar keduanya mendapatkan kelapangan di kuburnya..” kembali Ismiati memberikan nasehat-nasehat untuk menguatkan Puput.
Sekali lagi keduanya berpelukan..
“Sudah jangan menangis lagi.. biar kubur kedua orangtuamu menjadi lapang dan terang ya nak.. ”
Ucap Ismiati dan dibalas anggukan lemah dari Puput sambil berusaha menahan tangisnya agar tidak kembali pecah.
*-**--***---****----
”Nak Puput.. ini Bu Dhira.. dan Bu Dhira ini Puput putrinya almarhumah Sofiatun”
Ismiati memperkenalkan Puput dengan seseorang wanita yang masih terlihat cantih dan glowing di usia paruh bayanya dan dari situ cukup menunjukkan ia dari golongan orang berada meskipun saat itu hanya mengenakan setelah baju kurung muslimah hitam minimalis dengan kerudung yang menutupi rambutnya.
“Saya Puput Bu Dhira..” ucap Puput pelan dengan berusaha tersenyum
”Yang kuat dan tabah ya nak.. saya dan keluarga turut berbela sungkawa.. Insha Allah kedua orang tuamu husnul khotimah.. diterima semua amal ibadah keduanya..“ kata Dhira dengan lembut.
“Iya bu.. terima kasih doanya”.
”Jadi Nak.. beliau dulu adalah majikanku dan juga ibumu.. dulu saat masih gadis ibumu dan aku menjadi pembantu dirumah beliau, sementara bapakmu dulu adalah sopir keluarga.. saat ibumu dan bapakmu menikah, keluarga kalian pindah kesini karena bapakmu diterima bekerja di perusahaan yang dirintis Pak Adnan suami dari Bu Dhira.. lalu selang beberapa bulan aku dikenalkan dengan teman kerja bapakmu dan kami saling suka lalu menikah.. akhirnya kami sama-sama pindah ke kampung ini..” terang Ismiati.
”Jadi Bu Dhira ini pemilik IndiFarm Industri tempat bapak bekerja.. mohon maaf bu saya tidak tahu..”
Puput terkejut saat mengetahui jika wanita cantik yang ada didepannya adalah bos dari ayahnya.
Kemarin tepat 5 hari setelah musibah, beberapa teman kerja serta perwakilan manajemen kantor tempat mendiang ayahnya dulu bekerja juga datang dan mengucapkan bela sungkawa serta membawakan beberapa bantuan yang membuat Puput terharu dengan perhatian rekan-rekan kerja bapaknya.
”Tidak apa-apa.. jangan sungkan.. “ senyum bu Dhira terlihat ramah.
“Karena itu kedatangan saya kemari selain mewakili suami saya untuk mengucapkan bela sungkawa.. kebetulan beliaunya sedang di ada perjalanan bisnis.. serta sekaligus bersilaturahmi dengan kalian karena sudah sangat lama kita tidak saling bertemu ya.. terakhir kali mungkin saat Puput masih kecil entah kamu masih ingat atau tidak..”.
Lalu mengalirlah cerita-cerita tentang masa lalu Ismiati dan Sofiatun ketika bekerja di rumah Dhira, keduanya bekerja kurang lebih lima tahun jadi cukup banyak cerita nostalgia yang lucu dan menghibur yang membuat Puput sejenak melupakan kesediahannya.
“Jadi gimana apa kalian mau tinggal di rumah saya.. Ismi kalau mau bisa menggantikan salah satu asisten rumaha yang mengundurkan diri karena diminta anaknya pulang… sedangkan Puput karena kamu masih kuliah dan tinggal sebentar lagi selesai, ibu mau bantu kamu meneruskan kuliahmu dan kalau libur kuliah kamu bisa pulang kerumah ibu, setelah lulus terserah kamu mau kerja dimana..”
Diakhir obrolan Dhira menawarkan kepada Puput dan Ismiati untuk tinggal dirumahnya.
“Kalau saya terserah Puput saja bu.. saya sudah tidak punya siapa-siapa disini jadi mungkin bisa pulang kampung.. masih ada rumah di desa.. sedangkan Puput kan harus selesai kuliah sesuai dengan cita-cita kedua orang tuanya yang pernah saya dengar sewaktu keduanya masih ada” kata Ismiati dengan bijak.
”Puput bagaimana?“.
”Ma..maaf bu.. saya belum bisa memutuskan.. tapi saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas tawaran dari Bu Dhira.. tapi sekali lagi maaf.. saya belum bisa memutuskan” jawab Puput dengan sopan.
”Oh tidak apa-apa.. tidak harus sekarang Puput jawab.. sewaktu-waktu kamu sudah memutuskan nanti kabari ibu ya.. ini nomornya.. kamu masih ada ponsel kan?”.
”Iya bu masih.. terima kasih”
*-**--***---****----
”Put.. kakak turut berduka cita atas meninggalnya bapak dan ibu.. semoga Allah menerima amal ibadah beliau berdoa.. diberikan kelapangan dalam kuburnya.. dan semoga Puput tetap diberikan ketabahan dan keikhlasan..” ujar Fadhil dengan lembut kepada calon istrinya itu.
”Terima kasih kak..”
Balas Puput, kedatangan calon suaminya itu setidaknya mampu membuat Puput tersenyum ditengan kesedihan hati karena ditinggal kedua orang tuanya untuk selama lamanya.
Siang ini sehari setelah kedatangan Dhira, bertempat di salah satu sudut kamp penampungan korban bencana alam, Puput menemani Fadhil calon suaminya yang hari ini baru bisa berkunjung ke lokasi bencana.
”Kakak mohon maaf baru bisa datang hari ini, karena sudah satu mingguan ini kakak sibuk dengan pekerjaan dan mengurusi administrasi persyaratan untuk kuliah di Taiwan.. maaf kakak juga belum kasih tahu Puput kalau pengajuan beasiswa kakak di terima..kebetulan waktunya bersamaan dengan musibah kemarin itu..” kata Fadhil merasa bersalah.
”Oh.. tidak apa-apa kak.. eh alhamdulillah ya Allah.. jadi kakak diterima S2.. selamat ya kak.. cita-cita kakak untuk kuliah di luar negeri terwujud akhirnya.. alhamdulillah.. emm.. lalu kontrak kerja kakak yang baru berjalan beberapa bulan ini bagaimana? ”
Wajah Puput yang tadi muram mendadak berbinar cerah dan antusias.
“Terima kasih doanya.. ya mau bagimana lagi… terpaksa kakak mengajukan resign dan mungkin terkena pinalti.. ”.
”Sayang sekali ya kak jika harus terkena pinalti..”.
“Yaa… itu bagian dari konsekuensi.. tapi bukan itu yang memberatkan hati dan fikiran kakak.. “ ujar Fadhil dengan raut tiba-tiba berubah sedih.
”Kakak ada masalah? a..apa yang bisa Puput bantu?”.
”Ne..nenekku dan juga i.. ibu.. meminta kakak untuk mengembalikan lamaran kakak kepada Puput…” jawab Fadhil dengan gugup.
”A..apa maksud kakak dengan mengembalikan lamaran?”
************************************************