[”Mas.. ibu mohon dengan sangat sama Mas Fadhil… mas pikirkan lagi.. seperti permintaan simbah utimu.. tolong tunda pernikahan mas.. kembalikan lamaran ke Puput atau walinya.. mas ambil kesempatan kuliah di luar negeri.. daripada kami disini kurang ikhlas mas menikahi Puput.. lagipula pernikahan kalian bulan depan masih dalam masa berkabung.. kata nenek itu bakal tidak baik bagi masa depan pernikahan kalian..”]
“Bu.. Ibu jangan memohon seperti itu ke Fadhil.. itu membuat Fadhil semakin merasa bersalah jika tidak bisa memenuhi keinginan ibu..”
[”maafkan ibu nak.. Mas Fadhil kan tahu kalau dari awal saat mas mau melamar Puput.. utimu itu sudah tidak sreg dihatinya dengan pilihanmu dan.. beliau lebih suka kalau Mas Fadhil menikah dengan gadis dari sini.. lalu saat beliau tahu Mas Fadhil diterima S2 kemudian disusul musibah yang membuat kedua orang tua Puput meninggal.. menurut utimu itu isyarat kalian harus menunda atau membatalkan rencana kalian menikah..”]
”Bu.. ini sungguh berat bagi Fadhil bu.. Fadhil mencintai Puput.. tapi Fadhil juga sangat menyayangi ibu, simbah uti dan ayah yang telah banyak berkorban merawat dan mendidik Fadhil dengan penuh kasih sayang sampai Fadhil seperti sekarang ini.. melepaskan Puput demi melanjutkan S2 sepertinya tidak mungkin bisa Fadhil lakukan bu.. Fadhil lebih memilih menikahi Puput..”
[”Tapi nak.. itu akan mengecewakan simbah utimu.. dan ibu tidak ingin beliau kecewa.. ibu tidak ingin mengecewakan utimu sama seperti Mas Fadhil tidak ingin membuat ibu kecewa.. bagaimanapun juga beliau adalah ibunya ibu..”]
[”Mas Fadhil tolong pikirkan baik-baik ya..”]
Fadhil menjadi teringat perbicangan dengan ibunya melalui telepon beberapa hari yang lalu.
Ia tidak mengira simbah uti yang sering mengatakan ia adalah cucu kesayangan justru memintanya untuk melepaskan Puput begitu tahu ia diterima kuliah S2 di luar negeri dan mendengar ada musibah menimpa kedua orang tua calon istrinya yang bagi simbah uti itu pertanda kurang baik.
Yang lebih membuat Fadhil tertekan adalah ibu yang memanggilnya dengan sebutan ‘mas’ semenjak adik perempuan satu-satunya lahir itu juga memintanya untuk menuruti keinginan simbahnya itu, padahal selama ini ibu adalah sosok yang dekat dengan dirinya, selalu bersikap lembut kepadanya dan seingat Fadhil beliau bukanlah tipikal orang tua yang suka memaksakan keinginannya untuk selalu di turuti oleh anak-anaknya.
”Kak Fadhil?.. tolong jawab pertanyaan Puput.. bukan malah melamun kak” Puput terlihat gusar.
“I..itu.. la.. lamaran ka..kakak kemarin du..lu itu dibatalkan.. Puput.. sudah tidak.. tidak dalam ikatan dengan kakak.. ”.
”Kak.. kakak bercanda kan? tidak serius kan?” tanya Puput setengah tidak percaya.
Sayangnya gelengan kepala Fadhil memberikan penegasan jika Fadhil tidak sedang dalam suasana bercanda.
”Bagaimana mana bisa kak? Apa alasannya? Lalu bagaimana dengan kelanjutan rencana pernikahan kita?” genangan air mata mulai tampak di pelupuk mata Puput.
”Kakak minta maaf.. keluarga meminta kakak untuk fokus melanjutkan S2..” jawab Fadhil lirih.
”Bukankah kita tetap bisa menikah sementara kakak melanjutkan studi kakak..”.
”Put.. sekali lagi kakak mohon maaf.. menurut kakak ada benarnya keluarga kakak meminta untuk fokus ke S2 terlebih dahulu.. karena jika kita LDR setelah menikah fikiran kita mungkin tidak bisa fokus karena juga memikirkan pasangan yang berada jauh dari kita.. kakak berjanji secepat mungkin menyelesaikan S2 lalu kembali melamar Puput dan kita menikah.. jadi kakak mohon Puput bersabar dulu ya.. dua tahun tidak akan lama jika kita fokus ke kegiatan masing-masing dan saling menjaga hati kita..”
Fadhil mencoba untuk meluluhkan hati Puput meskipun dia tidak berani berkata jujur sepenuhnya jika ada alasan lain dari utinya yang keberatan jika Fadhil tetap menikahi Puput.
Fadhil setidaknya untuk saat ini berusaha memenuhi keinginan uti dan ibunya sambil tetap berusaha untuk tidak kehilangan Puput sepenuhnya, karena ia yakin dua tahun lagi saat sudah berhasil memperoleh gelar S2 nya ia juga akan bisa meluluhkan hati uti dan ibunya.
”Put.. kok diam saja? Puput bersedia kan menunggu kakak?” tanya Fadhil lagi
Puput hanya diam menutup mulut sambil menunduk, sesekali jari-jari lentiknya mengusap kedua pelupuk matanya, Fadhil tahu Puput sedang menahan tangis dan itu membuatnya sangat sedih dan merasa bersalah, namun dia sadar diri tidak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan Puput, mereka berdua belum halal dan sekarang malah sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.
“Maaf kak, Puput tidak bisa berjanji apa-apa kepada kakak…”
“Kenapa? apakah karena Puput marah sama kakak yang telah memutuskan lamaran kakak?”
“Bu.. bukan karena itu kak.. jujur Puput akui, tadi memang sempat muncul perasaan marah pada kakak.. tapi sedikit berkurang saat kakak berjanji akan kembali kepada Puput dan kita menikah.. yang itu Puput anggap bahwa kakak masih serius denganku.. namun sekali lagi Puput mohon maaf.. kita jangan lagi saling berjanji jika itu masih perlu waktu lama untuk membuktikan janji itu.. dua tahun bukan waktu yang sebentar.. segala bisa terjadi.. bukankan kakak yang belum lama ini sudah berjanji menikahi Puput dan sudah melamar pada akhirnya itu urung terjadi.. jika memang kita berjodoh Insya Allah kita nanti akan di pertemukan kembali sebagai jodoh…”
Jawaban Puput yang tegas terasa sebuah sembilu yang menusuk ulu hati Fadhil, selain karena Fadhil merasa tersindir juga ia tahu makna dari ucapan Puput yang tidak mau berjanji untuknya pun ia diminta untuk tidak berjanji untuk Puput.
Puput ingin tidak ada beban janji yang bisa membuat keduanya seolah berada dalam suatu ikatan imajiner yang tidak pasti.
*-**--***---****
Tepat satu bulan semenjak peristiwa bencana alam yang merenggut nyawa kedua orang tuanya akhirnya Puput menerima tawaran dari Dhira.
Sebenarnya kebersediaan Puput untuk menerima tawaran Dhira adalah agar Ismiati mau bekerja dan tinggal di rumah Dhira, karena Puput tahu Ismi sudah kehilangan segala harta bendanya dan memerlukan pekerjaan untuk memulai hidup baru.
Sementara jika tetap memilih tinggal dikampung mereka yang terkena bencana itu, mereka berdua akan tinggal di barak penampungan sampai batas waktu yang tidak ditentukan karena tidak tahu kapan rumah mereka akan dibangun kembali seperti yang pernah di janjikan oleh pemerintah daerah setempat.
Sedangkan bagi Puput tidak terlalu menjadi masalah jika harus keluar dari desa mereka karena Puput bisa tinggal di tempat kos yang ia tempati selama kuliah dan mengenai biaya kuliah dia tidak terlalu khawatir karena dia punya tabungan yang bisa ia gunakan untuk menyelesaikan kuliah yang tinggal satu semester, karena selama ini selain disibukkan kuliah Puput juga menjadi salah satu tentor di sebuah lembaga bimbingan belajar semenjak dari semester tiga beberapa tahun lalu yang honornya biasa ia simpan.
”Alhamdulillah… akhirnya kalian bersedia menerima tawaranku.. terima kasih lho ya…” senyum merekah dari Dhira ketika menyambut kedatangan Ismiati dan Puput di ruang tamu rumahnya yang megah.
”Justru kami yang seharusnya berterima kasih banyak pada Bu Dhira karena sudah membantu dan menerima kami.. kami hanya bisa berdoa semoga Allah membalas semua kebaikan ibu..” jawab Puput merendah
”Amiin.. terima kasih doanya.. yuk ibu antar ke kamar kalian..”
Ajak Dhira sambil beranjak dari ruang tamu diikuti oleh Puput dan juga Ismiati
Tadi Puput sempat terpaku ketika turun dari mobil yang menjemputnya dan berhenti tepat didepan teras rumah, dihadapannya sekarang berdiri megah rumah dua lantai dominan berwarna gading berarsitektur klasik dengan pilar pilar besar yang menjulang tinggi dibagian depan.
Lalu lebih membuatnya berdecak kagum ketika dipersilahkan untuk duduk menunggu Dhira di ruang tamu, dilihatnya banyak furniture dan dekorasi mahal yang menghiasi ruang tamu yang cukup luas itu lalu di sempurnakan oleh lampu kristal mewah yang menggantung di langit-langit ruang tamu.
Puput yang biasanya hanya bisa melihat model rumah seperti ini di layar sinetron yang kerap di tonton oleh almarhumah ibunya kali ini benar-benar melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Saat Puput ditawari untuk menempati salah satu kamar tamu yang tepat berada diantara ruang tamu dan ruang tengah dengah halus Puput menolaknya karena merasa tidak pantas karena bukan tamu dan juga merasa tidak enak dengan Ismiati yang menempati salah satu kamar tidur yang disediakan untuk para asisten rumah tangga.
Puput dengan sopan meminta ijin kepada Dhira dan juga Ismiati untuk berada satu kamar dengan Ismiati karena kebetulan hanya tersisa satu kamar untuk asisten rumah tangga yang kosong semenjak ditinggal oleh salah satu asisten rumah tangga yang mengundurkan diri.
”Kamu yakin mau satu kamar dengan Ismi disini Put? Kamarnya tidak telalu besar dan mungkin ranjangnya hanya cukup untuk satu orang lho..” tanya Dhira dengan nada kurang yakin.
”Iya bu tidak apa-apa.. bagi saya ini sudah cukup luas, lebih luas dari kamar kos saya malah.. nanti saya bisa tidur dibawah dikarpet atau tikar.. mungkin saya disini hanya diakhir pekan ketika saya sedang tidak kuliah.. Bu Ismi juga malah senang saya menemami beliau dikamar ini..” jawab Puput dengan sopan.
”Iya Bu Dhira.. tidak apa-apa Puput satu kamar dengan saya.. sepertinya tempat tidurnya masih cukup untuk kami berdua” ujar Ismiati memperkuat jawaban Puput
”Baiklah kalau kalian inginnya seperti itu.. nanti saya suruh Mang Kardi untuk membelikan kasur lipat..”.
”terima kasih bu..” kata Puput tetap dengan sopan
”Ya sudah saya tinggal dulu.. kalian istirahat dulu.. nanti malam Ismi mulai bantu-bantu ya..”.
“Baik Bu siap..” kata Ismiati dengan mengangguk hormat.
*-**--***---****----
”Oo ini yang namanya Puput itu.. Assalamualaikum nak.. bagaimana kabarmu?”
Sapa Adnan kepada Puput dengan ramah.
Malam harinya Dhira memanggil Puput dan Ismiati untuk bertemu dengan Adnan yang baru pulang dari kantor sebelum rutinitas makan malam keluarga di mulai.
“Waalaikumsalam.. iya pak saya Puput..”
Balas Puput dengan penuh hormat sambil sedikit membungkuk dan menangkupkan kedua telapak tangannya sebatas d**a.
“..saya ikut berbela sungkawa atas meninggalnya kedua orang tuamu.. maaf saya tidak bisa datang kesana waktu itu..” ucap Adnan
“Iya pak.. tidak apa-apa.. kedatangan Bu Dhira waktu itu sudah merupakan kehormatan bagi kami.. ” kata Puput tetap dengan sikap sopan.
”.. ya.. ya.. waktu itu saya sedang bertemu salah satu calon investor yang mengajak bekerjasama mengembangkan bisnis kami..”.
”.. emm.. kata ibu.. kuliahmu sebentar lagi selesai, benar itu?” tanya Adnan lagi.
”Iya pak.. saya sedang menempuh semester akhir.. sedang menyusun skripsi.. seharusnya sudah mulai masuk perkuliahan dari dua minggu lalu.. tapi saya mengajukan ijin tidak mengikuti perkuliahan karena ada musibah itu.. Insya Allah minggu depan sudah mulai masuk kuliah..” jelas Puput.
”Lho sudah mulai kuliah lagi ya? saya kira kamu bakal lama disini sebelum masuk kuliah lagi?” tanya Dhira sedikit kaget.
”Iya bu maaf.. saya ingin secepatnya menyelesaikan kuliah saya” jawab Puput merasa tidak enak dengan Dhira
”Ya sudah tidak apa-apa.. semoga kuliahmu diberikan kelancaran dan bisa lulus semenster ini.. saya salut dan kagum kamu bisa setegar ini dan segera bangkit.. yang semangat ya..” ucap Dhira memberikan semangat pada Puput.
”Saya juga mendoakan yang sama.. semoga diberikan kemudahan dan kelancaran” kali ini Adnan yang mendoakan Puput
”Terima kasih Pak Adnan dan Bu Dhira atas doa dan dorongan semangatnya..”
*************************************************