”Put.. aku salut dan kagum sama kamu”
Kata Lila teman satu kos dan satu tingkat Puput yang kebetulan di semester ini juga sama-sama sedang mengerjakan skripsi.
”Kenapa memang?”
Tanya Puput sambil tetap fokus menatap layar monitor laptopnya sambil kesepuluh jari jemarinya menari di atas keyboard.
”Ya itu.. kamu bisa setegar ini menghadapi musibah yang datang dua kali.. pertama kedua orang tua meninggal.. eh maaf ya kalau aku membuat ingatanmu kepada kedua almarhumah kembali...”
Lila tersadar jika ia mungkin membuat Puput kembali teringat kepada kedua orang tuanya.
”Eh tidak apa-apa.. trus yang kedua?”
Puput sejenak memalingkan wajahnya pada Lila sambil menyunggingkan senyumnya, Lila saat itu sedang duduk dikasur lipat Puput sementara si empunya kamar sedang duduk di lantai sambil mengerjakan makalah skripsi didalam kamar kos nya.
“Emm.. itu.. yang kedua kamu tidak jadi menikah dengan Kak Fadhil..”
Jawab Lila dengan lirih namun cukup terdengar oleh Puput.
Puput tidak berkata apa-apa, ia menghentikan kegiatan mengetiknya namun matanya tetap melihat kearah layar laptop, namun terlihat ia tidak sedang fokus kepada tampilan yang ada di layar monitor.
”Ma..maaf.. ” Lila merasa bersalah karena telah mengungkit kedua hal yang ia yakin itu menyakitkan bagi Puput.
Didalam hati Lila merutuki diri sendiri kenapa tadi membahas musibah dan kegagalan pernikahan Puput dengan kakak tingkatnya itu.
Sudah hampir satu bulan ini Puput kembali beraktifikas di kampus, dan kembalinya Puput disambut dengan gembira oleh teman dan juga sahabatnya.
Mereka semua dibuat salut dengan ketegaran Puput menghadapi musibah meninggalnya kedua orang tuanya.
Dan hanya segelintir sahabat dekat saja yang mengetahui rencana pernikahan Puput yang akhirnya berunjung batalnya rencana pernikahan itu, dan Lila adalah satu satunya.
”Yaa.. namanya belum jodoh Lil.. kan banyak yang bilang jodoh dan maut itu ada ditangan yang Maha Kuasa.. jadi yaa.. sebagai hamba.. kita hanya bisa menerima dan menjalaninya..” Puput mencoba tersenyum kearah Lila.
”Oh my dear.. you are trully resillient girl.. give me your hug my bestie..” tiba-tiba gadis tetangga kamar Puput itu memeluk erat Puput dari samping..
“Iihh Lila.. apaan siih.. iihh..” Puput meronta menghindar dari pelukan Lila yang membuat Lila bertambah gemas.
”Lil udah ah.. skripsiku enggak kelar-kelar nanti.. kamu ini gak mau bantuin malah bikin rusuh aja..” protes Puput
”Yee.. ini aja lagi stuck aku nya... kamu tuuh harusnya bantuin aku.. si mantan calon misua kan dulu udah bantuain banyak.. jangan-jangan tinggal nulis kesimpulan dan saran doank.. hehehe.. aduuh… sakit Puput sayaang…”
Ledekan Lila berubah jadi protes kesakitan karena cubitan dari Puput.
”Rasain tuh.. enak aja nuduh tinggal nulis kesimpulan dan saran.. lagian bahasamu Lil, mantan-calon misua.. dulu dia cuma bantuin ngumpulin data survey, yang ngolah juga tetap aku.. ini aja aku lagi pusing bikin analisanya..” sungut Puput.
”…hehe kirain.. eh tapi kamu tetap pada judul semula kan.. yang ngebahas hubungan antara tingkat stress di lingkungan kerja dengan produktifitas atau ganti judul lagi?” tanya Lila penasaran.
”Ya tetaplah.. kan udah selesai sempro aku nya.. bisa-bisa semester ini gagal lulus kalau aku ganti judul..” balas Puput dengan cepat.
“Benar juga kamu..”
*-**--***---****----
“Assalamualaikum Put..”
“Wa.. Walaikumsalam.. eh Arka.. ada..ada kuliah kamu hari ini?”
Tanya Puput pada cowok putih tinggi ganteng berambut ikal yang juga teman satu angkatan namun semester ini sudah jarang bareng satu kelas.
“Ada.. kuliah psikologi kerja lanjutan.. bukannya kamu juga ambil itu?” tanya Arka
”Eh i..iya ya...” Puput tergagap canggung
”Hehe nope..” ucap Arka santai sambil mengambil duduk di depan Puput yang terhalang meja bundar kayu, saat ini mereka berada di halaman depan ruang kuliah dengan beberapa mahasiswa tampaknya juga sedang menunggu jadwal kuliah mereka di mulai.
“Mencari seseorang?..”
Tanya Arka tiba-tiba, setelah dari beberapa saat tadi tidak pembicaraan diantara mereka namun yang Arka lihat Puput seperti sedang gelisah karena beberapa kali ia melihat sekeliling.
Arka sebenarnya menyadari kalau Puput kurang nyaman dengan kehadirannya dan langsung mengambil duduk di tempat yang sama dengan Puput yang menjadikan mereka seolah sedang ngobrol berdua saja.
Arka paham, gadis berjilbab lebar di depannya itu memang sangat menjaga jarak dengan lawan jenis, namun saat ia mengingat tidak banyak momen kesempatan yang ia punya untuk bisa mengobrol berdua dengan Puput karena biasanya Puput akan selalu menempel pada Lila atau Asti yang mereka bertiga itu adalah sahabat satu frekuensi yang sama-sama aktif di kegiatan dakwah kampus, jadi untuk kali ini Arka menyakinkan dirinya untuk mengabaikan perasaan tidak nyaman Puput.
“Eh tidak.. eh iya” jawab Puput gugup.
“Siapa?” tanya Arka seolah tidak tahu siapa yang Puput cari, padahal siapa lagi kalau bukan Lila ya Asti.
“Eh tidak kok Ka.. eemm maaf aku cari Lila dulu..” dengan gugup Puput berusaha mencari alasan untuk menghindar,
”Lhah kok mau pergi.. bentar lagi dosennya datang.. lagian pas aku kesini tadi aku lihat Lila kayak buru-buru ke arah luar gedung ini..”.
”Lho kemana dia.. Lila kan ada kuliah yang dengan kita..”
Gumam Puput kaget sambil buru-buru melakukan panggilan ke Lila melalui ponselnya.
”Telepon Lila? tidak diangkat?”
Penasaran Arka bertanya kepada Puput setelah melihatnya tidak berhasil melakukan panggilan yang lalu di jawab Puput dengan anggukan samar.
”Sudah tunggu disini aja..”
Ujar Arka dengan santai lalu sementara Puput tidak bereaksi apa-apa selain diam di tempat duduknya.
Agar tidak terlibat percakapan lebih dengan Arka, Puput seolah menyibukkan diri dengan membuka-buka catatan materi perkuliahan dan seperti tidak menghiraukan adanya Arka yang duduk di seberang mejanya.
”Put.. sorry.. aku ingin bertanya sesuatu”
Tanya Arka tiba-tiba serius setelah beberapa menit dia merasa Puput mengabaikannya,
”Tanya apa?”
Tanya Puput cepat membalas perkataan Arka, meski tampak acuh dengan keberadaan Arka, namun sebenarnya fokus Puput adalah kepada keberadaan Arka di depannya.
“...kamu…. tidak jadi menikah dengan Mas Fadhil?”.
“Da..dari mana kamu tahu?”.
“Aku menemui Mas Fadhil….”
“Kamu ketemu Kak Fadhil? kapan? dimana? ngapain?..”
Tanya Puput beruntun dengan gusar memotong kalimat Arka yang belum selesai di ucapkan seluruhnya.
”Neng.. bisa nggak nanya satu-satu.. lagian udah macam debt collector aja nanya nya..”
Celetukan Arka cukup membuat muka Puput sedikit memerah malu namun berhasil ia sembunyikan dengan cepat-cepat menundukkan muka.
”Jadi itu benar? kamu tidak jadi menikah dengan Mas Fadhil?”
”Jawab dulu pertanyaanku”
Kata Puput tanpa mengarahkan pandangannya pada posisi Arka duduk melainkan pada catatan kuliah yang ada didepannya.
”Yaah kamu Put.. ditanyaain malah balik tanya” gerutu Arka.
”Aku serius Arka..”
Kali ini Puput mengarahkan pandangan tajamnya kearah Arka yang kali ini cukup membuat Arka suprise, Puput yang seperti biasa enggan diajak beradu kontak pandangan dengan lawan jenis kali ini justru menatap dengan berani kearahnya, Arka merasakan desiran halus muncul tiba-tiba didalam hatinya melihat wajah cantik, manis dan lembut Puput dari jarak kurang dari dua meter.
”Aku.. aku.. memang menemuinya….”
Giliran Arka yang terbata, sepertinya karena terkena pesona sihir gadis yang sejak mereka maba sudah menempati satu ruang istimewa di hatinya.
”Lalu?”
Tanya Puput setelah Arka kesulitan melanjutkan kalimatnya, buru-buru Puput menundukkan pandangannya setelah menyadari sikapnya yang terlalu berani.
”..jadi… mendengar kabar Mas Fadhil sudah meminangmu aku berusaha untuk memastikan itu kepada Mas Fadhil, namun aku kesulitan untuk menemuinya karena permintaanku bertemu dengannya lewat pesan WA tidak di balasnya, teleponku juga diabaikan.. jujur saat itu aku kalut sekali.. ingin bertemu dan bertanya kepadamu langsung aku tidak punya cukup keberanian.. yaa.. setelah beberapa kali ajakan ta’aruf dariku tidak berhasil meluluhkan hatimu.. dan selalu dengan alasan…”
”Arka.. lagi dan lagi aku mohon maaf… mungkin kita tidak berjodoh dan kamu pasti akan menemukan seorang gadis yang lebih baik dariku sebagai jodohmu kelak..”
Puput dengan cepat dan tegas memotong perkataan Arka..
”Ya.. ya.. dan selalu itu alasan yang kamu ucapkan untuk menolakku..”
Ucap Arka dengan senyum kecut
“Tapi Put.. demi mendengar langsung dari Mas Fadhil kalau kalian tidak jadi menikah.. mungkin terdengar jahat.. tapi jujur hatiku merasa lega.. setidaknya aku masih bisa memupuk harapan dan melangitkan doa agar hatimu luluh menerimaku.. aku minta maaf.. bukannya ingin berbahagia diatas luka hatimu.. namun aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hatimu.. dan mungkin kita berjodoh..”
Ujar Arka dengan tenang dan terdengar yakin namun justru membuat hati Puput semakin gusar dengan tekad dan keyakinan dari Arka.
“Eh.. maar Ka.. kita udahan dulu ngobrolnya.. sepertinya dosen udah datang” buru-buru Puput beranjak dari tempat duduknya, didalam hati dia bersyukur diselamatkan oleh kehadiran dosennya yang terlihat berjalan tegas di selasar depan ruang kelas.
“Raisa Putri Khairunnisa… aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hatimu..”
Gumam Arka dengan mantap sambil menatap sosok gadis yang telah berhasil mencuri hatinya itu berjalan cepat menjauh.
**********************************************************