”Sudah terima saja lamaran Arka itu.. kurang apa dia.. orangnya ganteng idola para mahasiswi di jurusan kita.. kata mereka lebih cocok jadi model iklan atau aktor.. trus dari keluarga kaya.. maminya kan kamu tahu sendiri salah satu psikolog yang sudah punya nama yang sering riwa-riwi di acara talkshow salah satu stasiun televisi, papanya salah satu direktur di BUMN.. kalau orang di kampungku udah paten itu bibit bobot dan bebetnya… hehehe…” goda Lila pada Puput.
Malam ini Puput sengaja datang ke kamar Lila untuk curhat pertemuannya dengan Arka tadi siang.
”Issh.. kamu ini.. siapa yang bilang Arka melamarku?.. yang ada dia ngajakin ta’aruf” sebal Puput terlihat lucu dimata Lila
”Iya ngakunya ta’aruf.. alibi aja.. lagian udah saling kenal lama.. paling pagi ta’aruf.. siang lamaran.. sore ijab qobul.. hahaha… aduuh Puput.. sakit tahu.. ni anak cubitannya sakit banget..duuh..” kali ini ledekan Lila disertai tawa yang berderai dan diakhiri pekikan kesakitan dari Lila karena cubitan Puput yang semakin kesal dengan ledekan Lila.
”Biarin.. rasain.. lagian gadis perawan tidak elok kalau tawa ngakak seperti itu..” sungut Puput
”Iya.. iya.. kelepasan tadi ketawanya..” kata Lila sambil meringis keki merasa sedikit bersalah sudah berlebihan saat tertawa tadi.
”Eh tapi Put.. apa mungkin ada benarnya juga ya.. kalau Arka itu jodohmu..” kali ini Lila sedikit lebih serius.
“Lilaaaa.. udah deeh jangan mulai lagi.. aku lagi sumpek begini kamu godain mulu..” ujar Puput dengan kesal
“Lho.. lho.. siapa yang godain kamu kakak cantiiik.. aku serius.. coba kamu pikir dengan hati jernih dan jiwa yang lapang..” ucap Lila dengan muka jenaka
”Bicaramu Lil.. sok puitis..” potong Puput dengan cepat
”Issh tunggu aku selesai bicara napa...” gantian Lila yang mengomel
”Jadi gini.. selama ini kan Arka jelas-jelas menunjukkan dia suka padamu dari awal kita masih maba dulu.. sampai-sampai membuat Sherly musuhin kamu karena merasa lebih pantas disukai oleh Arka.. trus demi bisa deket dengan kamu dia bela-belain ikut-ikutan jadi anggota di kegiatan kajian agama mahasiswa.. dan sekarang setelah seolah kamu hampir berjodoh dengan Kak Fadhil tiba-tiba ia membatalkan lamarannya begitu saja..” ucap Lila terlihat lebih serius..
”Eh Put.. lagian kamu itu harusnya bangga lho.. Arka lebih memilih mendekatimu daripada meladeni si cantik ratu selegram Sherly yang agresif sekali deketin Arka, belum lagi si tuan puteri Cindy adik kelas kita yang papanya pengusaha itu juga sering tebar pesona pada Arka..” Lila kembali melanjutkan ucapannya karena melihat Puput diam saja.
”Lil.. kamu ini julid juga ya sama Arka..” celetuk Puput asal
”Lhah.. maksudnya?” Lila bertanya tidak mengerti
”Lha itu.. tahu dengan detail siapa-siapa yang lagi deketin Arka..” jawab Puput
”Yaah kamu.. itu kan sudah jadi rahasia umum Puput.. kamu aja yang jarang ngikutin gosip” Lila protes
”Jangan suka denger gosip.. belum tentu benar juga.. bisa-bisa fitnah atau jika benarpun jadi ghibah.. banyak mudhorotnya..“ ujar Puput dengan bijak.
“Iya iya.. salah lagi.. duuh memang repot punya teman ustadzah begini.. ” gantian Lili yang mengomel
”Yee.. dibilangin malah sewot.. untuk sekedar mengingatkan berbuat baik.. tidak perlu jadi ustadzah… Lila” ujar Puput dengan gemas pada temannya itu.
”Lil.. masalah jodoh aku sepenuhnya memasrahkan pada Yang Maha Kuasa.. namun sebagai manusia yang juga seorang perempuan.. aku tidak bisa membohongi hatiku.. jika aku tidak ada perasaan apa-apa kepada Arka.. aku merasa dia bukan seseorang yang aku harapkan sebagai imam dan pemimpin keluargaku kelak.. yaa memang siih.. harus diakui dari segi fisik penampilan, lalu latar belakang keluarga dan juga attitude dia bisa menjadi laki-laki idaman wanita.. dan kamu kan tahu sendiri aku cenderung lebih mengutamakan laki-laki yang memiliki pemahaman agama yang lebih baik… yaa meskipun seseorang itu bisa menjadi lebih baik jika mau berubah dan belajar dengan sungguh-sungguh..” jelas Puput dengan panjang lebar.
”Iya siiih.. Kak Fadhil selain cakep juga lebih baik pemahaman dan pengamalan agamanya jika dibandingkan dengan Arka.. eh tapi sorry ya Put.. ngomong-ngomong tentang Kak Fadhil.. apa kalian sudah benar-benar lost contact?... emm maksudnya sudah nggak ada lagi saling kontak gitu” tanya Lila penasaran
”Huuffft.. ada siih dia hubungi aku.. lebih tepatnya kirim email..” jawab Puput dengan malas-malasan
“Email?.. resmi banget.. kek macam dikantor aja.. ada WA ada medsos, nggak pernah lagi telepon-teleponan?” tanya Lila heran
”Aku sudah meminta menghapus nomor kami masing-masing saat kami terkahir kali bertemu di kampungku setelah musibah itu.. karena aku tidak ingin malah nantinya kita seperti orang yang pacaran jarak jauh..” jawab Puput pelan
”Lha email itu?” tanya Lila penasaran
“Dia yang mengirimkan beberapa hari setelah kami berpisah.. itupun hanya sekali itu saja.. dan akupun tidak membalasnya..“ jawab Puput
*-**--***---****----
Hari Sabtu siang ini Puput sudah berada di depan pagar rumah Dhira, semalam ia menelpon beliau untuk meminta ijin datang berkunjung ke rumahnya selain untuk bertemu dengan Ismiati dan Dhira tentunya, Puput ingin sekedar merehatkan pikiran sejenak dari urusan skripsi yang ternyata tidak selancar yang dibayangkannya.
Dengan senang hati Dhira mempersilakan Puput untuk datang namun beliau berpesan jika siangnya beliau tidak ada dirumah karena medampingi Adnan hadir disebuah acara.
”Ibu sedang keluar bersama bapak, tapi beliau berpesan jika mbak datang dipersilakan masuk, Bu Ismi juga sudah diberitahu ibu kalau mbak mau datang… mbak bisa lewat teras samping untuk kebelakang.. silahkan mbak” ujar Abdi sekuriti yang siang ini berjaga di rumah Dhira dengan sopan, ia sepertinya masih ingat dengan Puput karena pernah bertemu sewaktu Puput pertama kali datang dirumah Dhira beberapa bulan lalu.
”Oh iya pak.. tadi malam sewaktu saya telepon ibu.. beliau sudah memberitahu saya kok pak.. baik pak kalau begitu saya langsung ke belakang.. terima kasih.. mari” kata Puput dengan sopan dibalas dengan anggukan dan senyum ramah dari Abdi.
Saat mencapai bagian belakang rumah yang disana ada taman belakang kemudian kolam renang lalu bangunan yang terdiri dari beberapa kamar asisten rumah tangga, langkah Puput terhenti demi melihat sesosok pria yang berdiri di seberang kolam renang dari posisi Puput berdiri.
Sesaat kemudian pria itu mengalihkan pandangannya ke arah puput yang meski dalam jarak sekitar dua puluh meter dan dibatasi kolam dari tempatnya berdiri Puput dapat dengan jelas melihat tatapan dingin pria diseberang kolam renang itu dan seketika itu juga Puput merasakan tubuhnya sesaat seolah membeku.
Cepat-cepat Puput beranjak dari posisinya setelah sebelumnya menganggukkan kepala dengan sopan kepada pria tersebut sebagai tanda memberikan sapaan.
“Assalamualaikum Bu Is..” ucap Puput ketika pintu kamar Ismiati terbuka.
”Waalaikumsalam.. eh Puput sudah datang.. ayo masuk dulu!” balas Ismiati begitu pintu terbuka.
”Bagaimana kabar Bu Is? sehat? perasaan tambah gemukan ya?” tanya Puput sambil memeluk dengan senyum lebar.
“Lhoo.. iya kah?.. pantes ibu merasa badan ini tambah berat.. padahal ya… setiap hari mengerjakan pekerjaan rumah..” jawab Ismiati sambil mengurai pelukan
“Heheh.. mungkin sudah betah dan nyaman tinggal dan bekerja di rumah ini..” goda Puput
”Bisa aja kamu Put.. tapi ibu juga senang melihatmu sudah bisa ceria begini..” senyum Ismiati mengembang melihat Puput seperti sudah kembali ke Puput yang biasanya.
”Hehe iya bu..” timpat Puput kembali dengan senyum lepasnya.
”Gimana skripsimu.. lancar?” tanya Isimiati
”Yaa.. begitulah bu.. diawal Alhamdulillah lancar.. namun sekarang agak tersendat.. perlu beberapa data pendukung lagi.. doakan saja Bu semoga dimudahkan dan dilancarkan..” jawab Puput sedikit sedih.
”Yang sabar.. jangan patah semangat.. aku akan terus bantu doa..” Ismiati menyemangati Puput sambil mengelus-elus punggung Puput yang tertutup jilbab lebarnya.
Ini membuat Puput cukup terharu dan terkenang perlakuan almarhumah ibunya semasa masih hidup ketika sedang menyemangati atau menasehati Puput.
”…. eh Bu Is.. tadi saat sampai didekat kolam renang.. Puput sempat melihat seorang pria yang berdiri di seberang kolam.. itu siapa ya bu?” tanya Puput penasaran.
”Oh itu Mas Reyhan.. putra bungsu Bu Dhira.. adiknya Mbak Hania.. Mas Reyhan itu kuliah dan kerja di Inggris.. pulang sekitar satu bulan yang lalu.. ada apa?” tanya Ismiati
”Tidak ada apa-apa kok bu.. Puput heran saja.. ekspresi orang itu dingin sekali” jawab Puput
”Eemm.. memang Mas Rey itu tidak banyak bicara dan ibu pun merasa dia seperti sedang dalam suasana yang tidak baik.. tapi selama sebulan ini dirumah… Mas Rey tidak pernah terlihat marah-marah.. hanya ya itu tadi tidak banyak bicara dan sering ibu lihat ia betah berlama-lama berdiri sambil menatap lama ke satu titik.. kadang ke arah kolam.. kadang kearah bunga-bunga di taman belakang atau yang lain” jelas Ismiati
”O begitu ya.. apa mungkin dia sedang ada masalah ya bu?” tebak Puput asal
“Ah.. aku juga kurang tahu.. Bu Dhira juga tidak bercerita apa-apa ke kami para ART, hanya pesan beliau.. saat beliau tidak ada dirumah.. minta Mas Rey diperhatikan dan diingatkan jika sudah tiba waktu makan dan juga sholatnya.. ” jelas Ismiati.
“...menurutku.. sebagai orang luar sebaiknya kita tidak perlu ikut-ikut apa yang terjadi dengan Bu Dhira dan keluarganya..” tutur Ismiati dengan bijak
“Betul itu bu..”
*******************************************************