“Gimana skripsimu nak?”
Tanya Dhira ketika malam harinya beliau meminta Puput untuk menemani mengobrol di ruang tengah selepas kegiatan makan malam keluarga.
Dengan sungkan dan ragu Puput pada akhirnya mau menemai Dhira, meski dengan hati was-was akan bertemu lagi dengan tatapan mata dingin dari Reyhan.
“Alhamdulillah sudah mencapai setengah lebih bu..” jawab Puput dengan sopan.
“Alhamdulillah.. lancar berarti? bisa lulus semester ini dong?”
”Mo..mohon doanya saja bu..”
Jawab Puput berusaha tersenyum meski didalam hati sebenarnya sedang tersenyum kecut membayangkan masih banyak data-data pendukung yang harus ia dapatkan.
Dulu saat diawal-awal persiapan proposal skripsi dirinya banyak dibantu oleh Fadhil dengan memperoleh banyak data dari tempat Fadhil bekerja.
Karena kedekatan ini pula Fadhil menjadi berani untuk mengutarakan keinginan untuk menikahi Puput dan gayung bersambut ternyata Puput selama ini juga mengagumi dalam diam sosok seniornya itu karena sama-sama aktif di kegiatan kemahasiswaan yang sama.
Semua rencana, awalnya tampak sempurna setelah keduanya saling berta’aruf ditambah lagi seminar proposal skripsi Puput diterima dan bisa berlanjut ke proyek skripsi keduanya memutuskan untuk menikah untuk menghindari fitnah.
Fadhil yang begitu lulus kuliah langsung mendapatkan pekerjaan ditempat yang bagus, rencananya akan mengejar beasiswa S2 sambil menyelesaikan kontrak tahun pertama sementara Puput yang sedang memasuki semester kedelapan rencananya akan menyelesaikan skripsi dan lulus di semester itu.
Dengan menikah, Fadhil berharap akan bisa dengan leluasa membantu Puput menyelesaikan skripsi termasuk jika harus begadang untuk menyelesaikan laporan-laporan penelitian data-data yang sudah ia bantu dapatkan itu.
Dalam bayangan mereka itu adalah sebuah impian yang bagus dan akan sangat sempurna jika itu menjadi kenyataan.
”Puput?.. nak?.. melamun?.. kamu baik-baik saja kan?”
Dhira tampak sedikit cemas ketika melihat gadis didepannya itu tiba-tiba sesaat seperti hanyut dalam pikirannya.
”Oh.. eh.. ma..maaf Bu Dhira.. saya baik-baik saja.. hanya tadi sempat teringat tentang skripsi saya..” jawab Puput malu-malu karena sudah mengabaikan Dhira dengan sempat-sempatnya melamun didepannya.
”Lhoo ada masalah?.. tadi Puput bilang sudah sampai setengah lebih..”
“Eh.. tidak kok bu.. hanya ada perlu beberapa data tambahan untuk melengkapi.. sementara tempat saya memperoleh data sebelumnya saya sudah tidak punya akses kesana..”
”Oo itu.. emm memang data seperti apa yang kamu perlukan?.. emm.. aha mungkin bapak atau Reyhan bisa bantu kamu..” tiba-tiba Dhira memberikan ide yang mengejutkan bagi Puput terutama mendengar nama seseorang yang di sebut terakhir.
“Eh.. tidak perlu Bu Dhira.. Puput merasa sungkan kalau harus sampai merepotkan bapak atau Mas Reyhan” ucap Puput.
Jujur Puput tidak ingin merepotkan keluarga Dhira terutama dengan sosok pria dingin yang membuat Puput segan padanya.
“Aahh.. tidak perlu sungkan dan malu.. nah kebetulan keduanya tadi sedang mengobrol diatas setelah makan malam selesai.. yuk kesana”
Tiba-tiba Dhira menyeret Puput naik ke lantai atas, dengan langkah terpaksa dan hati berdebar-debar karena was-was Puput mengekor langkah Dhira.
*-**--***---****----
Sampai lantai atas Dhira langsung mengarah ke satu ruangan yang ada di ujung yang saat itu sedang terbuka.
Begitu masuk Dhira langsung menginterupsi obrolan dua lelaki kesayangannya yang saat itu sedang duduk santai dideretan shofa disalah satu sudut ruangan dengan memperkenalkan Puput.
Adnan menyambut dengan ramah namun tidak dengan Reyhan, tatapan dingin nan tajam kembali Puput dapatkan dari Reyhan dan meski sesaat tatapan itu cukup membuat ciut nyali Puput, selanjutnya Reyhan berpindah tempat ke kursi yang berada didalam susunan meja kerja yang membentuk huruf L lalu menyibukkan diri dengan tablet yang tadi tergeletak di atas meja.
Dhira lalu mengatakan ke semua kalau Puput perlu bantuan data-data untuk menyelesaikan skripsinya, dan menunjuk ke arah Reyhan untuk membantunya.
Lagi sekilas Reyhan menatap Puput lalu kembali ia berkonsentrasi pada tabletnya, sementara Puput menjadi merasa canggung dan semakin was-was karena ia kuatir semua pria yang ada diruangan itu menjadi salah sangka jika ia yang berinisiatif meminta bantuan padahal itu kan dari Dhira sendiri, namun Puput tidak punya keberanian untuk menjelaskan kecuali hanya bisa pasrah.
Lalu Dhira berbisik kepada Adnan dan dengan sedikit memaksa mengajak suaminya itu keluar ruangan, Adnan yang belum mengerti sepenuhnya maksud Dhira dengan patuh mengikuti ajakan istrinya tercinta itu.
Puput yang menyadari situasi yang tidak menguntungkannya itu sempat akan protes namun gerakan mulutnya untuk mengeluarkan suara kalah cepat dengan gerakan Dhira membawa kabur suaminya dari ruang kerja.
Setelah ruangan menjadi hening untuk waktu yang tidak sebentar..
”Jadi namamu Puput?” tanya Reyhan dengan acuh tak acuh.
Matanya terus menatap kearah tablet yang dipegangnya dengan tangan kiri sambil di letakkan diatas pangkuannya, sementara telunjuk tangan kanannya sedang menari-nari diatasnya, kadang menggeser kadang menekan cepat dan sesekali kombinasi jari telunjuk dengan ibu jari seperti sedang mencubit permukaan layar tablet.
”I..iya mas.. sa..saya Puput..” jawab Puput dengan gugup.
“Kenapa kamu berdiri saja.. duduk.. didepanmu ada kursi kan..” ketus Reyhan.
Untuk mengurangi rasa gugup, Puput mencoba menarik nafas dan mengeluarkan dengan halus, lalu sesekali mencuri-curi pandang ke seisi ruangan.
“Kenapa dengan nafas kamu? Kamu punya asma?” selidik Reyhan dengan mata memicing kearah Puput.
”Ti..tidak mas.. maaf saya a..agak gu..gup”
“Huff” hanya hembusan nafas berat yang terdengar dari Reyhan.
”Cepat katakan data apa yang perlu dibantu.. tunggu.. kamu ambil kuliah apa? dimana?.. skripsi tentang apa?” Reyhan memberondong Puput.
Dengan gugup Puput menyebutkan jenis data yang ia perlukan, juga universitas tempat ia kuliah lengkap dengan jurusan lalu juga skripsi yang ia ambil
Reyhan cukup terkejut mengetahui gadis didepannya itu ternyata berkuliah di salah satu universitas negeri terkemuka di tanah air dengan mengambil salah satu jurusan favorit.
”Ooh.. anak pintar juga kamu bisa kuliah di tempat itu dan juga di salah satu jurusan favorit.. sorry aku tadi sempat underestimate sama kamu..” senyum tipis dari bibir Reyhan untuk pertama kali terbit sekian detik.
Sekian detik itu membuat Puput mengucap Subhanallah karena pertama kalinya melihat Reyhan tersenyum meski sangat tipis kedua naluri kewanitaan dan juga manusianya mengakui pria didepannya itu memiliki wajah yang rupawan dan paripurna.
Buru-buru Puput menundukkan pandangan dan wajahnya untuk menghindari godaan yang lebih buruk.
”Kenapa menunduk.. mukaku jelek?” tanya Reyhan dengan ketus
Itu sukses menenggelamkan kembali Puput ke dalam bumi setelah tadi sempat mengira Reyhan berubah menjadi ramah.
”Ti..tidak mas.. maaf”.
“Mohon maaf mas sebelumnya.. sebenarnya saya tadi tidak bermaksud mengganggu atau merepotkan mas dan bapak dengan meminta bantuan data, maaf tadi sebenarnya inisiatif Bu Dhira untuk membantu saya dengan meminta bantuan pada mas dan bapak....”
“Oo jadi kamu bermaksud mengadu domba aku dan papa dengan mama?” potong Reyhan.
“Bu..bukan mas.. bukan maksud Puput mengadu domba Bu Dhira dengan mas atau bapak.. benar mas saya tidak bermaksud mengadu domba” Puput panik dan kuatir dituduh yang tidak-tidak oleh Reyhan
Saat Puput mengangkat wajahnya, ekspresi ketakutan dan panik itu justru membuat Reyhan sesaat terhipnotis, didepannya ada seraut wajah polos menawan nan cantik dan lembut alami tertutup hijab lebar, warna kuning langsat khas perempuan Indonesia.
Fitur wajah yang mampu menyurutkan tatapan tajam yang tadi memancar dari mata elang Reyhan.
Dan kali ini justru Reyhan yang buru-buru mengalihkan pandangan ke arah samping.
”Iya.. iya kali ini aku percaya.. sudah katakan data apa yang bisa aku bantu..” kata Reyhan terdengar melunak.
”Eh itu.. mas..” justru Puput yang sekarang menjadi kebingungan dengan ekspresi Reyhan yang tiba-tiba berubah lebih lunak.
Namun buru-buru Puput menutupi ekspresi kebingungannya dengan menyebutkan secara cukup detail mengenai data yang ia perlukan dan alasan kenapa perlu data itu.
Puput sama sekali tidak mengatakan tentang Fadhil yang diawal-awal persiapan proposal skripsi membantu memperoleh data-data awal yang kemudian saat ini sudah tidak mungkin lagi meminta bantuan karena adanya kisah diantara keduanya, Puput sama sekali tidak menceritakan itu.
“Jadi kamu tidak bisa lagi memperoleh data-data tambahan dari tempat awal kamu mengambil data?” tanya Reyhan dengan datar.
“Iya mas..”.
”Hmm.. baiklah coba aku usahakan bantu.. nanti aku hubungi orang kepercayaannya papa di kantor.. tapi aku tidak janji datanya akan persis seperti yang kamu minta..”.
”Te..terima kasih mas”
”Hmmm…”
*******************************************************