Sepeninggalnya Rangga dari halaman rumahnya Saskia di sambut dingin oleh suaminya, rupanya lelaki tukang kawin ini tidak mengintrogasi dirinya dengan siapa ia diantar pulang, mungkin suaminya berpikir lelaki itu adalah salah satu teman kuliahnya.
Saskia masuk ke dalam tanpa ingin menyapa suaminya yang asyik bermain dengan ponselnya, ia juga tidak tahu, apa yang dilihat oleh Dimas di ponsel miliknya. Dimas hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus dengan ponselnya.
setibanya di kamar Saskia kembali merebahkan tubuhnya yang terasa masih lelah, iya kemudian membayangi lagi wajah tampan dosennya Rangga dan mengingat lagi tubuh seksi dengan d**a bidang milik Rangga. Saskia tersenyum geli lalu berucap lirih.
"Ya Tuhan, ia tampan sekali, kapan aku bisa memiliki cowok setampan itu dan tunggu dulu?" apakah dia sangat kaya?" sampai ia tinggal di apartemen mewah dengan fasilitas yang tak ternilai dengan sepuluh jariku, apa lagi sekelas dosen memiliki mobil Lamborghini, apa nggak salah?" tanya Saskia menginterpretasikan kekayaan yang dimiliki oleh pak Rangga, dosen tampannya itu.
"Ah, apa urusanku, lagipula kenapa aku jadi mengkhayalkan tentang dirinya. Harusnya aku tidak berharap lebih dengan perasaanku ini, mengingat Rangga bukan apa-apaku. Biarlah seperti ini, supaya tidak terlalu sakit nantinya," ucapnya sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit.
"Sayang, bagaimana kabar ayahmu?" apakah dia ingat ibumu ini?" apakah dia masih ingat janjinya untuk menjemput kita?" apakah dia tahu kalau kamu ada dirahim ibu sekarang?" tanyanya lalu kembali menangis membenamkan wajahnya ke bantal.
Tok!...tok!"
Suara ketukan pintu kamarnya, menyadarkan Saskia dari lamunannya, dengan sedikit beringsut malas, ia menghampiri pintu itu dan membukanya. Tanpa di duga Saskia, Dimas sudah berdiri di depan pintu kamarnya, lalu mendorong tubuh Saskia lalu dihempaskanya ke atas kasur. Tanpa izin Saskia, Dimas, melucuti pakaian Saskia dengan sangat kasar, membuat Saskia sedikit berontak karena tidak ingin dirinya diperlakukan Dimas seperti w************n.
"Lepaskan aku, jangan perlakukan aku seperti ini!" teriak Saskia yang begitu ketakutan melihat sikap Dimas seperti harimau lapar yang ingin melahap tubuhnya.
"Apa katamu?" Melepaskanmu, bukankah kamu adalah istriku, yang siap melayaniku kapan saja, sekarang kamu malah ketakutan?" Tanya Dimas dengan mengunci tangan Saskia kebelakang, hingga d**a Saskia membusung indah memperlihatkan payu*aranya yang sekarang lebih membesar karena hormon kehamilannya.
Dalam sekejap, Dimas melumat buah d**a Saskia bak pepaya itu, memilin put*ngnya kasar untuk merangsang libido Saskia. Puas bermain-main dengan d**a Saskia kini ia beralih ke bagian bawah perut Saskia yang sudah mulai nampak basah, Dimas tersenyum mengejek, ia lalu melebarkan paha Saskia, hingga terlihat liang v****a gadis ini yang berwarna merah muda, lalu kembali melumat klit*is Nadia, bermain dengan dua bibir yang mengapit bibir kenyal itu dan setelah itu ia tinggalkan tubuh Saskia yang masih belum mencapai puncak kenikmatannya setelah va*ginanya di hisap oleh Dimas. Hal ini yang membuat Saskia sangat menderita karena Dimas hanya mempermaikan birahinya, bukan memuaskannya.
"Kenakan lagi bajumu, aku sudah puas menyiksamu, menggantungkan kenikmatan orgasmemu yang belum sempat kamu raih," ucapnya lalu terkekeh, memandang tubuh Saskia yang masih dalam keadaan bug*il.
"Mengapa kamu terus mempermalukan diriku seperti ini, apa yang kamu inginkan dari ku?" Tanya Saskia dengan wajah merenggut kesal menatap wajah Dimas.
"Karena kamu telah menipuku, mengapa kamu tidak jujur dari awal jika kamu sudah tidak perawan lagi, ketika keluargaku datang melamarmu?" Tanya Dimas yang masih dendam pada Saskia yang menipunya dari pertunangan mereka.
"Jika aku terus terang padamu tentang tubuhku yang sudah dimiliki oleh orang lain, apakah kamu akan menganggap hutang orangtuaku lunas oleh ayahmu itu?" Tanya Saskia dengan nada sengit.
"Tentu saja, kami akan pertimbangkan kembali apa yang menjadi pilihan yang terbaik untuk keluargaku, dari pada aku mendapatkan buah yang kelihatan manis dan segar dari luar tapi sudah busuk bercampur ulat didalamnya." Ucap Dimas sinis.
"Sekarang kamu sudah tahu keadaanku yang sudah hamil diawal pernikahan kita, mengapa kamu tidak langsung mengembalikan aku ke rumah orangtuaku agar pernikahan ini batal demi hukum." Ucap Saskia dengan bertolak pinggang di hadapan suaminya.
"Mengembalikanmu dan menganggap lunas hutang orangtuamu, apa kamu kira itu mudah bagimu?" Lantas apa yang terjadi dengan perut yang semakin hari semakin membesar, bukankah orang tuamu lebih menderita. Sudah banyak hutang, ditambah memiliki putri seperti pela**r." Timpal Dimas makin membuat Saskia berang.
"Sekarang, mau kamu apa?" Apa yang kamu inginkan dariku, supaya hutang orangtuaku dianggap lunas olehmu?" Tanya Saskia yang ingin tahu, apa rencana licik, lelaki yang sudah beristri tiga ini.
"Aku ingin membuat perjanjian denganmu."
"Katakan!" Jika itu bisa membebaskan diriku dari cengkramanmu."
"Baiklah, aku akan mengatakannya sementara ini dengan lisanku tapi, aku juga akan membuat perjanjian tertulis denganmu hitam diatas putih." Ucap Dimas yang tidak ingin menyebutkan perjanjian yang langsung pada intinya.
"Mengapa kamu terlalu berbelit-belit dalam menyampaikan tujuanmu?" Sampaikan saja langsung kepada intinya tanpa membuatku gelisah menanti kelanjutannya." Ucap Saskia kesal.
"Kamu sangat penasaran rupanya, baiklah kalau begitu aku ingin anak yang kamu kandung itu, jika nanti anak itu lahir perempuan, aku akan menceraikanmu dengan begitu aku tidak menuntut apa-apa dan aku akan memberikan uang kompensasi ketika kita sudah bercerai. Tapi jika anakmu lahir laki-laki, aku akan menjadikan dia putraku dan dia adalah pewarisku karena adanya dia aku bisa mendapatkan harta warisan dari kakekku. Bagaimana adil bukan?" Ucap Dimas dengan tersenyum lebar menatap wajah Saskia seakan sedang berpikir keras tentang perjanjian konyol dari Dimas.
andai ia bisa meminta dia ingin melahirkan seorang putri bukan seorang putra, tapi sampai saat ini, ia belum sempat memeriksakan kehamilannya ke dokter, karena ia tidak mau ditemani oleh Dimas.
"Baiklah, aku menyetujui perjanjian itu, walaupun ia aku sangsi apakah kamu benar-benar memenuhi persyaratan itu atau tidak." Ujar Saskia yang merasa Dimas yang hanya memanfaatkan dirinya untuk bisa memberikannya seorang putra bukan seorang anak
Sepeninggalnya Rangga dari halaman rumahnya Saskia di sambut dingin oleh suaminya, rupanya lelaki tukang kawin ini tidak mengintrogasi dirinya dengan siapa ia diantar pulang, mungkin suaminya berpikir lelaki itu adalah salah satu teman kuliahnya.
Saskia masuk ke dalam tanpa ingin menyapa suaminya yang asyik bermain dengan ponselnya, ia juga tidak tahu, apa yang dilihat oleh Dimas di ponsel miliknya. Dimas hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus dengan ponselnya.
setibanya di kamar Saskia kembali merebahkan tubuhnya yang terasa masih lelah, iya kemudian membayangi lagi wajah tampan dosennya Rangga dan mengingat lagi tubuh seksi dengan d**a bidang milik Rangga. Saskia tersenyum geli lalu berucap lirih.
"Ya Tuhan, ia tampan sekali, kapan aku bisa memiliki cowok setampan itu dan tunggu dulu?" apakah dia sangat kaya?" sampai ia tinggal di apartemen mewah dengan fasilitas yang tak ternilai dengan sepuluh jariku, apa lagi sekelas dosen memiliki mobil Lamborghini, apa nggak salah?" tanya Saskia menginterpretasikan kekayaan yang dimiliki oleh pak Rangga, dosen tampannya itu.
"Ah, apa urusanku, lagipula kenapa aku jadi mengkhayalkan tentang dirinya. Harusnya aku tidak berharap lebih dengan perasaanku ini, mengingat Rangga bukan apa-apaku. Biarlah seperti ini, supaya tidak terlalu sakit nantinya," ucapnya sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit.
"Sayang, bagaimana kabar ayahmu?" apakah dia ingat ibumu ini?" apakah dia masih ingat janjinya untuk menjemput kita?" apakah dia tahu kalau kamu ada dirahim ibu sekarang?" tanyanya lalu kembali menangis membenamkan wajahnya ke bantal.
Tok!...tok!"
Suara ketukan pintu kamarnya, menyadarkan Saskia dari lamunannya, dengan sedikit beringsut malas, ia menghampiri pintu itu dan membukanya. Tanpa di duga Saskia, Dimas sudah berdiri di depan pintu kamarnya, lalu mendorong tubuh Saskia lalu dihempaskanya ke atas kasur. Tanpa izin Saskia, Dimas, melucuti pakaian Saskia dengan sangat kasar, membuat Saskia sedikit berontak karena tidak ingin dirinya diperlakukan Dimas seperti w************n.
"Lepaskan aku, jangan perlakukan aku seperti ini!" teriak Saskia yang begitu ketakutan melihat sikap Dimas seperti harimau lapar yang ingin melahap tubuhnya.
"Apa katamu?" Melepaskanmu, bukankah kamu adalah istriku, yang siap melayaniku kapan saja, sekarang kamu malah ketakutan?" Tanya Dimas dengan mengunci tangan Saskia kebelakang, hingga d**a Saskia membusung indah memperlihatkan payu*aranya yang sekarang lebih membesar karena hormon kehamilannya.
Dalam sekejap, Dimas melumat buah d**a Saskia bak pepaya itu, memilin put*ngnya kasar untuk merangsang libido Saskia. Puas bermain-main dengan d**a Saskia kini ia beralih ke bagian bawah perut Saskia yang sudah mulai nampak basah, Dimas tersenyum mengejek, ia lalu melebarkan paha Saskia, hingga terlihat liang v****a gadis ini yang berwarna merah muda, lalu kembali melumat klit*is Nadia, bermain dengan dua bibir yang mengapit bibir kenyal itu dan setelah itu ia tinggalkan tubuh Saskia yang masih belum mencapai puncak kenikmatannya setelah va*ginanya di hisap oleh Dimas. Hal ini yang membuat Saskia sangat menderita karena Dimas hanya mempermaikan birahinya, bukan memuaskannya.
"Kenakan lagi bajumu, aku sudah puas menyiksamu, menggantungkan kenikmatan orgasmemu yang belum sempat kamu raih," ucapnya lalu terkekeh, memandang tubuh Saskia yang masih dalam keadaan bug*il.
"Mengapa kamu terus mempermalukan diriku seperti ini, apa yang kamu inginkan dari ku?" Tanya Saskia dengan wajah merenggut kesal menatap wajah Dimas.
"Karena kamu telah menipuku, mengapa kamu tidak jujur dari awal jika kamu sudah tidak perawan lagi, ketika keluargaku datang melamarmu?" Tanya Dimas yang masih dendam pada Saskia yang menipunya dari pertunangan mereka.
"Jika aku terus terang padamu tentang tubuhku yang sudah dimiliki oleh orang lain, apakah kamu akan menganggap hutang orangtuaku lunas oleh ayahmu itu?" Tanya Saskia dengan nada sengit.
"Tentu saja, kami akan pertimbangkan kembali apa yang menjadi pilihan yang terbaik untuk keluargaku, dari pada aku mendapatkan buah yang kelihatan manis dan segar dari luar tapi sudah busuk bercampur ulat didalamnya." Ucap Dimas sinis.
"Sekarang kamu sudah tahu keadaanku yang sudah hamil diawal pernikahan kita, mengapa kamu tidak langsung mengembalikan aku ke rumah orangtuaku agar pernikahan ini batal demi hukum." Ucap Saskia dengan bertolak pinggang di hadapan suaminya.
"Mengembalikanmu dan menganggap lunas hutang orangtuamu, apa kamu kira itu mudah bagimu?" Lantas apa yang terjadi dengan perut yang semakin hari semakin membesar, bukankah orang tuamu lebih menderita. Sudah banyak hutang, ditambah memiliki putri seperti pela**r." Timpal Dimas makin membuat Saskia berang.
"Sekarang, mau kamu apa?" Apa yang kamu inginkan dariku, supaya hutang orangtuaku dianggap lunas olehmu?" Tanya Saskia yang ingin tahu, apa rencana licik, lelaki yang sudah beristri tiga ini.
"Aku ingin membuat perjanjian denganmu."
"Katakan!" Jika itu bisa membebaskan diriku dari cengkramanmu."
"Baiklah, aku akan mengatakannya sementara ini dengan lisanku tapi, aku juga akan membuat perjanjian tertulis denganmu hitam diatas putih." Ucap Dimas yang tidak ingin menyebutkan perjanjian yang langsung pada intinya.
"Mengapa kamu terlalu berbelit-belit dalam menyampaikan tujuanmu?" Sampaikan saja langsung kepada intinya tanpa membuatku gelisah menanti kelanjutannya." Ucap Saskia kesal.
"Kamu sangat penasaran rupanya, baiklah kalau begitu aku ingin anak yang kamu kandung itu, jika nanti anak itu lahir perempuan, aku akan menceraikanmu dengan begitu aku tidak menuntut apa-apa dan aku akan memberikan uang kompensasi ketika kita sudah bercerai. Tapi jika anakmu lahir laki-laki, aku akan menjadikan dia putraku dan dia adalah pewarisku karena adanya dia aku bisa mendapatkan harta warisan dari kakekku. Bagaimana adil bukan?" Ucap Dimas dengan tersenyum lebar menatap wajah Saskia seakan sedang berpikir keras tentang perjanjian konyol dari Dimas.
andai ia bisa meminta dia ingin melahirkan seorang putri bukan seorang putra, tapi sampai saat ini, ia belum sempat memeriksakan kehamilannya ke dokter, karena ia tidak mau ditemani oleh Dimas.
"Baiklah, aku menyetujui perjanjian itu, walaupun ia aku sangsi apakah kamu benar-benar memenuhi persyaratan itu atau tidak." Ujar Saskia yang merasa Dimas yang hanya memanfaatkan dirinya untuk bisa memberikannya seorang putra bukan seorang anak
Sepeninggalnya Rangga dari halaman rumahnya Saskia di sambut dingin oleh suaminya, rupanya lelaki tukang kawin ini tidak mengintrogasi dirinya dengan siapa ia diantar pulang, mungkin suaminya berpikir lelaki itu adalah salah satu teman kuliahnya.
Saskia masuk ke dalam tanpa ingin menyapa suaminya yang asyik bermain dengan ponselnya, ia juga tidak tahu, apa yang dilihat oleh Dimas di ponsel miliknya. Dimas hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus dengan ponselnya.
setibanya di kamar Saskia kembali merebahkan tubuhnya yang terasa masih lelah, iya kemudian membayangi lagi wajah tampan dosennya Rangga dan mengingat lagi tubuh seksi dengan d**a bidang milik Rangga. Saskia tersenyum geli lalu berucap lirih.
"Ya Tuhan, ia tampan sekali, kapan aku bisa memiliki cowok setampan itu dan tunggu dulu?" apakah dia sangat kaya?" sampai ia tinggal di apartemen mewah dengan fasilitas yang tak ternilai dengan sepuluh jariku, apa lagi sekelas dosen memiliki mobil Lamborghini, apa nggak salah?" tanya Saskia menginterpretasikan kekayaan yang dimiliki oleh pak Rangga, dosen tampannya itu.
"Ah, apa urusanku, lagipula kenapa aku jadi mengkhayalkan tentang dirinya. Harusnya aku tidak berharap lebih dengan perasaanku ini, mengingat Rangga bukan apa-apaku. Biarlah seperti ini, supaya tidak terlalu sakit nantinya," ucapnya sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit.
"Sayang, bagaimana kabar ayahmu?" apakah dia ingat ibumu ini?" apakah dia masih ingat janjinya untuk menjemput kita?" apakah dia tahu kalau kamu ada dirahim ibu sekarang?" tanyanya lalu kembali menangis membenamkan wajahnya ke bantal.
Tok!...tok!"
Suara ketukan pintu kamarnya, menyadarkan Saskia dari lamunannya, dengan sedikit beringsut malas, ia menghampiri pintu itu dan membukanya. Tanpa di duga Saskia, Dimas sudah berdiri di depan pintu kamarnya, lalu mendorong tubuh Saskia lalu dihempaskanya ke atas kasur. Tanpa izin Saskia, Dimas, melucuti pakaian Saskia dengan sangat kasar, membuat Saskia sedikit berontak karena tidak ingin dirinya diperlakukan Dimas seperti w************n.
"Lepaskan aku, jangan perlakukan aku seperti ini!" teriak Saskia yang begitu ketakutan melihat sikap Dimas seperti harimau lapar yang ingin melahap tubuhnya.
"Apa katamu?" Melepaskanmu, bukankah kamu adalah istriku, yang siap melayaniku kapan saja, sekarang kamu malah ketakutan?" Tanya Dimas dengan mengunci tangan Saskia kebelakang, hingga d**a Saskia membusung indah memperlihatkan payu*aranya yang sekarang lebih membesar karena hormon kehamilannya.
Dalam sekejap, Dimas melumat buah d**a Saskia bak pepaya itu, memilin put*ngnya kasar untuk merangsang libido Saskia. Puas bermain-main dengan d**a Saskia kini ia beralih ke bagian bawah perut Saskia yang sudah mulai nampak basah, Dimas tersenyum mengejek, ia lalu melebarkan paha Saskia, hingga terlihat liang v****a gadis ini yang berwarna merah muda, lalu kembali melumat klit*is Nadia, bermain dengan dua bibir yang mengapit bibir kenyal itu dan setelah itu ia tinggalkan tubuh Saskia yang masih belum mencapai puncak kenikmatannya setelah va*ginanya di hisap oleh Dimas. Hal ini yang membuat Saskia sangat menderita karena Dimas hanya mempermaikan birahinya, bukan memuaskannya.
"Kenakan lagi bajumu, aku sudah puas menyiksamu, menggantungkan kenikmatan orgasmemu yang belum sempat kamu raih," ucapnya lalu terkekeh, memandang tubuh Saskia yang masih dalam keadaan bug*il.
"Mengapa kamu terus mempermalukan diriku seperti ini, apa yang kamu inginkan dari ku?" Tanya Saskia dengan wajah merenggut kesal menatap wajah Dimas.
"Karena kamu telah menipuku, mengapa kamu tidak jujur dari awal jika kamu sudah tidak perawan lagi, ketika keluargaku datang melamarmu?" Tanya Dimas yang masih dendam pada Saskia yang menipunya dari pertunangan mereka.
"Jika aku terus terang padamu tentang tubuhku yang sudah dimiliki oleh orang lain, apakah kamu akan menganggap hutang orangtuaku lunas oleh ayahmu itu?" Tanya Saskia dengan nada sengit.
"Tentu saja, kami akan pertimbangkan kembali apa yang menjadi pilihan yang terbaik untuk keluargaku, dari pada aku mendapatkan buah yang kelihatan manis dan segar dari luar tapi sudah busuk bercampur ulat didalamnya." Ucap Dimas sinis.
"Sekarang kamu sudah tahu keadaanku yang sudah hamil diawal pernikahan kita, mengapa kamu tidak langsung mengembalikan aku ke rumah orangtuaku agar pernikahan ini batal demi hukum." Ucap Saskia dengan bertolak pinggang di hadapan suaminya.
"Mengembalikanmu dan menganggap lunas hutang orangtuamu, apa kamu kira itu mudah bagimu?" Lantas apa yang terjadi dengan perut yang semakin hari semakin membesar, bukankah orang tuamu lebih menderita. Sudah banyak hutang, ditambah memiliki putri seperti pela**r." Timpal Dimas makin membuat Saskia berang.
"Sekarang, mau kamu apa?" Apa yang kamu inginkan dariku, supaya hutang orangtuaku dianggap lunas olehmu?" Tanya Saskia yang ingin tahu, apa rencana licik, lelaki yang sudah beristri tiga ini.
"Aku ingin membuat perjanjian denganmu."
"Katakan!" Jika itu bisa membebaskan diriku dari cengkramanmu."
"Baiklah, aku akan mengatakannya sementara ini dengan lisanku tapi, aku juga akan membuat perjanjian tertulis denganmu hitam diatas putih." Ucap Dimas yang tidak ingin menyebutkan perjanjian yang langsung pada intinya.
"Mengapa kamu terlalu berbelit-belit dalam menyampaikan tujuanmu?" Sampaikan saja langsung kepada intinya tanpa membuatku gelisah menanti kelanjutannya." Ucap Saskia kesal.
"Kamu sangat penasaran rupanya, baiklah kalau begitu aku ingin anak yang kamu kandung itu, jika nanti anak itu lahir perempuan, aku akan menceraikanmu dengan begitu aku tidak akan menuntut apa-apa darimu juga keluargamu dan aku akan memberikan uang kompensasi ketika kita sudah bercerai. Tapi jika anakmu lahir laki-laki, aku akan menjadikan dia putraku dan dia adalah pewarisku, karena adanya dia aku bisa mendapatkan harta warisan dari kakekku. Bagaimana adil bukan?" Ucap Dimas dengan tersenyum lebar menatap wajah Saskia seakan sedang berpikir keras tentang perjanjian konyol dari Dimas.
Andai ia bisa meminta, dia ingin melahirkan seorang putri bukan seorang putra, tapi sampai saat ini, ia belum sempat memeriksakan kehamilannya ke dokter, karena ia tidak mau ditemani oleh Dimas.
"Baiklah, aku menyetujui perjanjian itu, walaupun ia aku sangsi apakah kamu benar-benar memenuhi persyaratan itu atau tidak." Ujar Saskia dalam hatinya, yang merasa Dimas hanya memanfaatkan dirinya untuk bisa memberikannya seorang putra bukan seorang anak.
"Baiklah, aku akan menerima persyaratan itu, asalkan kamu bisa menempati janjimu, aku tidak mau jika anak ini lahir berjenis kelamin perempuan, kamu masih mempertahankan diriku untuk tetap terikat pernikahan denganmu." sahut Saskia yang berharap Dimas tidak akan berkhianat kepadanya.
"Aku selalu memegang janjiku Saskia, tidak seperti dirimu yang menusukku dari belakang demi melunaskan hutang orangtuamu." ucap Dimas sarkas pada Nadia.
"Semua sudah terjadi, aku pun tidak bisa membela diriku karena tidak ingin menikah denganmu, tapi aku tidak berdaya menolakmu, apalagi mengatakan hal yang sebenarnya padamu jika aku sudah tidak suci lagi untuk kamu nikahi.
"Cukup Saskia!" pernikahan kita hanya sebuah kesepakatan saat ini, bukan lagi harapan untuk saling mencintai dalam hubungan sebagai suami istri, jika kamu sudah tidur dengan lelaki lain sebelum diriku, berarti secara tidak langsung kamu tidak menginginkan diriku menjadi suamimu. Jika anak itu lahir perempuan, aku akan membebaskan dirimu, aku tidak ingin menghabiskan hidupku dengan seorang gadis yang mencintai lelaki lain dalam kehidupan rumah tangga kita dan itu sangat menyakitkan bagiku. Aku tidak akan membatasi aktivitasmu selama itu adalah kebaikan untuk dirimu, gapailah cita-citamu untuk bisa menghidupi dirimu suatu saat nanti." ucap Dimas dengan penuh bijak hingga membuat Saskia merasa tidak percaya pada lelaki yang terkenal dengan tukang kawin ini.
Setelah berkata-kata kepada Saskia, Dimas meninggalkan Saskia dikamarnya tanpa ingin menatap lagi wajah sedih Saskia yang membuatnya sedikit sesak. Ia sulit memaafkan Saskia yang mengkhianati cintanya walaupun ia tahu Saskia tidak mencintainya.
Entah senang atau sedih yang dirasakan saat ini oleh Saskia ketika mengetahui Dimas akan menceraikannya, jika ia benar-benar melahirkan seorang putri dan akan terbebas dari belenggu pernikahan yang tidak ingin lagi ia pertahankan.